An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» [AMERICA] Unusual Training
by Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
by Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
by Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
by Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13

» [AMERICA] Tea Late at Night
by Felicia Miles 30th January 2011, 09:13


Share | 
 

 [AFRICA] The Date

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2
AuthorMessage
Abiel Nathanieth



Posts: 43
Pemilik: *nbla

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 22

PostSubject: Re: [AFRICA] The Date   3rd June 2010, 20:50

Vanya, tatapannya yang biasa tidak pernah terlihat sekelabut yang sekarang ini. Biasanya sorotnya paling cemerlang—kalau dibandingkan di antara dia sendiri dan Mario, kedua laki-laki yang 'aura gelapnya' juga hampir sama begitu. Lautnya terhampar sampai kelihatan ke ujung batas horizon, dan kalau diibaratkan langit lebih tepatnya mirip dengan korden pagi tak bercelah. Dengan milik Abiel pada sisinya yang lebih gelap. Sesuatu yang tidak disukainya, karena kalau hanya melihat dari aspek tersebut orang-orang tidak akan menyangka Abiel dan Jeannica itu saudara kandung—milik kakaknya tersebut lebih bercahaya. Menawan, sendu. Sorotnya teduh melingkupi semuanya.

Dan memang tidak sepantasnya dia menyamakan antara Vanya dan Jean hanya leat satu aspek tersebut.

Ia mengaduk mezgitnya tertahan, mengumpulkan napas tepat setelah menghabiskan nyaris separuh air bening isi gelasnya. Matanya terbuka tapi dia merasa seolah buta. Hitam, dengan pirang. Agaknya kontras bahkan dalam sebuah foto hitam putih sekalipun. Tanpa 'agaknya'. Itu berarti tandanya Abiel juga coba memperbandingkan kriteria yang satu dengan yang lainnya juga. Kedengaran lebih mirip mengusik kriteria calon itri, no? Abiel tak mengelak akan anggapan bahwa dirinya terdengar konyol hanya karena satu ini.

"Kalau kubilang tidak enak, berarti secara tidak langsung aku mencela seleramu, eh?" Mengambil sendok kelabu itu sekali lagi, mengambil sesendok sup dari dalam mangkuk putihnya—berpindah lagi ke dalam mulutnya sendiri. "Bercanda. Enak kok, sunguh."

Apalagi mengingat fakta kalau dirinya sendiri lebih sering makan yang sederhana-sederhana' akhir-akhir ini. Buah karyanya sendiri tidak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang istimewa. Dan makanan kantin, setiap haripun juga banyak, eh? Dan mereka lebih seringnya menyajikan makanan yang bisa diterima selera pekerja umum alih-alih sesuatu yang khusus layaknya masakan Turki. Dia bukan orang yang sepenuhnya menikmati kuliner 'macam-macam', biasanya. Tapi dalam beberapa kasus agaknya ia mulai menerima dan mentolerirnya.

Tersenyum lirih dalam sela kunyahannya, menyesapnya dengan tenang dalam hitungan tiga ronder sebelum merasa (lagi-lagi, dan entah kesekian kalinya pula dia mengacuhkan fakta ini) tidak enak hati harus menikmati semua ini sendirian. Ia mendorong pelan sepiring boregi, menyodorkannya langsung tepat ke depan ruang lingkup pandang Vanya.

"Ambil itu bagianmu juga, terserah berapa banyak."

όχι, wanita tidak akan menolak apapun kalau sudah disodorkan sambil separuh memohon. Alasannya karena tidak enak hati—padahal sebetulnya karena 'lapar' juga. Oh, well. Abiel kedengaran terlalu banyak mengoceh hari ini.

"Dibilang 'ingin' rasanya juga tidak—tidak ada yang suka menerima makanan gratis, makanya aku tak bohong—tapi daripada dibilang memanfaatkan kantong wanita... Yah... Apa boleh buat."

Smirk. Mengepinggirkan mangkuk bekas mezgitnya yang telah kosong sambil menarik sepiring Kasarli Tabuk pula bersamaan. Ah, rakus.

"Oke, aku yang bayar semua. Asal kalu bisa menjanjiikan seluruh kegiatan kita sampai seharian ini selesai bisa berlangsung dengan menarik—deal?"
Back to top Go down
View user profile
Vanya Muller



Posts: 58
Pemilik: masamune11

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 23 tahun

PostSubject: Re: [AFRICA] The Date   4th June 2010, 00:55

"Deal."

Ambil hikmah baik dari kehidupan yang berjalan untukmu, begitulah kira-kira kata-kata yang disampaikan ayahnya sebelum ia pergi. Kata-kata tersebut mengiang beberapa lama setelah kematian Leon--beberapa saat ketika ia meninggalkan ayahnya untuk mendapatkan pelatihan menjadi seorang Finder. Bila dalam kasus ini, ambil hikmah kenyataan bahwa pria yang duduk dan menyantap Mezgit-nya adalah... pria yang akan membayarkan makan siang mereka berdua.

Dengan kata lain, ini traktiran.

Senyum memang terpampang pada wajah belia tersebut, namun mata masih berusaha menghindari tatapan Abiel. Batinnya berteriak bahwa hal ini tidak sopan; bukankah Abiel sudah membuat deal bahwa ia lah yang akan membayar semua ini? Vanya, seharusnya sebagai tanda terima kasih atau respek, sebaiknya menengadah dan mulai menatap lawan bicaranya.

Kontak mata itu penting, namun apa ia akan mengorbankan rasa hormatnya pada pemuda ini dengan menganggap pemuda itu sebagai mendiang kekasihnya?

Gadis itu tidak bisa, karena itulah ia meraih Kasarli Tavuk yang ada di dekatnya, menyendoknya sekali sebelum menyantapnya perlahan. Bola mata biru miliknya meniti tekstur keju mozarella yang menyelimuti daging ayam, seakan curiga bila ada sesuatu yang mencurigakan di sana. Tentu saja tidak ada; ia pernah makan di sini dan puas dengan pelayanan yang disediakan, mengapa harus curiga sekarang?

"...Aku kehilangan nafsu makan."

Lugas; sebuah keluhan lugas. Siapa yang bisa menyangkal pernyataan itu, hm? Bahkan Vanya Muller pun bisa kehilangan nafsu makan, andaikan ada saja yang bisa mengganggunya setengah hidup. Misalkan, makan tanpa bertatap mata dengan lawan bicara untuk membicarakan sesuatu.

Mungkin ia tidak lapar karena kebutuhan biologis, namun lapar... karena tidak mampu menatap Abiel dan menganggapnya sebagai orang yang berbeda, bukan Leon. In denial.

Vanya menyerah dan menengadah, berharap untuk menemukan sepasang mata biru di seberang meja sana menatapnya balik. Pada saat itu, juga mungkin Vanya akan mengujarkan nama Abiel Nathanieth--

"Leon..."

Gadis ini menggigit bibir. Ia harus memberitahukannya, cepat atau lambat... baik itu dengan cara terbaik, ataupun terburuk.
Back to top Go down
View user profile
Abiel Nathanieth



Posts: 43
Pemilik: *nbla

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 22

PostSubject: Re: [AFRICA] The Date   4th June 2010, 17:07

Ia mengangguk lagi, lalu merasa tidaklah sopan berbicara sebelum menghabiskan makanannya. Bahkan tidak di sela-sela kegiatannya sekalipun; yang barusan itu memang kesalahannya, well. Potongan makanan dalam piringnya ia tuntaskan kembali dalam diam, pandangannya tidak beralih dari Vanya sembari menunggu kalau wanita itu barangkali ingin mengatakan sesuatu lagi. Menngunyah dan merasa sesapan rasa daging asap tercincang halusnya, dan berpikir ulang bahwa rasanya memang tidak etis untuk menyantap makanan seenak ini sendirian dan tanpa kontribusi tertentu atasnya. Salah satu alasannya untuk menyetujui tawaran Vanya untuk mentraktirnya (Vanya memang tidak memintanya secara langsung untuk membayarkannya, tapi dia sendiri yang bilang bahwa ia tak akan menolak untuk itu kan) adalah itu. Daripada salah-salah ia terlihat seperti laki-laki tanpa penghasilan. Nah, mau jadi kepala keluarga macam apa dia.

Lagipula sesekali (nyatanya memang baru sekali dari beberapa kesempatan terakhir) mentraktir orang terdekat... Tidak ada salahnya, well, kan. Ditambah sepaket jaminan bahwa seharian ini tak akan berlangsung membosankan pula—berhubung Vanya memang bisa diandalkan untuk beberapa urusan seperti ini, maka dari itulah Abiel memilih percaya.

Tapi kalau pada akhirnya semua menu itu dipesan atas nama Abiel sendiri, sementara Vanya justru tidak minta apa-apa... Apa itu namanya masih bisa disebut 'traktiran' juga?

"Kupikir sebaiknya kamu... Memesan satu bagian khusus untukmu juga, Vanya?"

Sesaat tidak ada jawaban, melirik sesaat ke arah wanita yang masih menyantap seporsi Kasarli Tavuk-nya dengan kening berkerut. Makanannya tidak enak? Abiel tak mengatakannya 'tidak mungkin', mengingat ia sendiri juga sudah memutuskannya memberi pada Vanya bahkan sebelum laki-laki itu sendiri sempat mencicipinya lebih dahulu. Kesalahannya seorang, kalau begitu. Bukan hanya bodyguard atau pasukan penjaga tuan putri saja yang bertugas mencicipi makanan sebelum memastikan itu bebas dari racun atau tidak.

"Pelan-pelan sekali. Kupikir sepantasnya kau tidak perlu diet lagi atau bagaimana—"

"...Aku kehilangan nafsu makan."

...

Apa boleh buat, kalau begitu. Abiel Nathanieth mengangguk, mengangkat sikunya dari sudut meja sebelum memakluminya kembali. Ia bukan seseorang yang bisa seenaknya menyuruh wanita dan memaksa mereka untuk makan. ...Kecuali Jean, yeah, mungkin. Wanita itu punya penyakit lambung akut yang akan langsung mencederainya begitu kakaknya tersebut terlambat makan beberapa kali saja. Tapi, kan, tidak bisa seenaknya diterapkan pada Vanya begitu juga.

Belum sempat pemuda kebangsaan Yunani tersebut buka mulut kembali, rekan finder-nya tersebut sudah bicara lebih dahulu. Menggumamkan sesuatu meskipun tidak kedengaran seberapa jelas. Menunggu keadaan sekitar sekilas kembali sunyi (suara bara penggorengannya barusan keras sekali) sebelum balik mencernanya. Satu kata, tidak panjang. Pendek, malah. Sesuatu. Sebuah objek, atau nama?

"...Ya, terus?"

Lalu ia memilih mendengarkan terusannya hingga selesai terlebih dahulu sebelum memutuskan berkomentar lebih lanjut. Dan Abiel refleks pula menghentikan aktivitas makannya.
Back to top Go down
View user profile
Vanya Muller



Posts: 58
Pemilik: masamune11

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 23 tahun

PostSubject: Re: [AFRICA] The Date   5th June 2010, 01:07

Abiel menjawab. Nada suaranya tercengang dan bingung, mungkin karena kata-katanya sendiri lebih bisa dinilai sebagai bisikan batin dan pikiran daripada

Apa ini pertanda bahwa dunia akan berakhir? Sudah cukup dengan pemuda yang sebenarnya tampak observatif ini; tidak, Abiel bahkan tidak seobservatif itu. Berani jamin, bila ia tidak memberitahukan mengapa ia (Vanya) makan perlahan, Abiel takkan pernah tahu bahwa orang yang menjadi teman jalannya hari ini memang tidak nafsu makan karena banyaknya beban pikiran karena bersama dengannya. Intinya, Abiel Nathanieth adalah akar masalah dari kurangnya nafsu makan Vanya Muller.

Lalu apa? Seakan ada konsekuensi karena itu, hm? Mungkin bukan konsekuensi bagi Vanya, namun karma... karena telah membawa gambaran orang yang sudah lama mati dan menempelkannya pada figur lain yang memiliki kemiripan 99.9%.

Sempurna. Kacau dengan sempurna.

Mata biru yang sempat bertemu dengan pasangannya segera berpaling, menghindari pindaian dalam jenis apapun untuk bisa membaca pikirannya. Ia tidak tahu Abiel, sama seperti Abiel tidak mengetahuinya; Abiel bukanlah Leon, mendiang kekasihnya yang sudah lama meninggal dan mengetahui seluk beluk kehidupan dan sikap-sikap yang diwarisi ayah-ibunya, namun tetap tidak mengubah sikapnya sendiri.

Abiel masih hidup, sementara Leon sudah mati. Mati. Apa orang mati senang dengan kekasihnya yang menempelkan gambaran yang bersangkutan pada ia yang masih hidup? Apa seorang teman yang ia kenal melalui berbagai macam misi dan latihan menjadi Finder menerima bila sebuah gambaran orang mati menempel pada brandingnya, kemana pun ia pergi?

Tidak. Mana mungkin, hei?

"...bagaimana perasaanmu..." Vanya menggigit bibir lagi; mungkin bila lebih keras, gadis ini akan melukai bibirnya sendiri. "...jika seseorang melihatmu seakan kamu adalah orang lain, Abiel?"

'Terutama, bila orang tersebut sudah tewas.' Batinnya keras.
Back to top Go down
View user profile
Abiel Nathanieth



Posts: 43
Pemilik: *nbla

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 22

PostSubject: Re: [AFRICA] The Date   16th June 2010, 13:15

Kalau melihat dari gelagatnya, agaknya Vanya akan bicara panjang.

Atau sesuatu yang sulit; ilmu psikologikal bisa membaca sebuah pertanda yang akan muncul tak kala orang tak kunjung-kunjung mulai bicaranya padahal mulutnya sudah terbuka lebih dahulu. Merasa perlu untuk menyusun ulang kata-kata—padahal kalau biasanya mereka ingin bicara, ya, bicara langsung saja. Kalaupun yang terlontar bukan sesuatu yang sesuai dengan maksud, lawan bicaranya juga pasti mengerti bahwa itu bukan sesuatu yang dimaksudkan secara sengaja—privilage khusus atas sebuah keterikatan bernama teman. Kalau begini terus, jangan-jangan merenungnya akan jadi lebih lama daripada bicaranya.

Dalam situasi normal pun, Abiel tak pernah mengharapkan Vanya untuk bisa bicara banyak dan panjang lebar—karena itu sama saja mengharapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan tabiat wanita itu. Vanya yang tidak biasa; karena seringnya pun 'tak biasa' dipresepsikan sebagai pengganti kata halus dari 'aneh'. Juga kalau begitu, komunikasi dua arah yang normal tak akan bisa tercapai. Juga tidak sesuai dengan Jean.

...(yah, sebetulnya dalam hati Abiel juga berpikir sampai kapan ia 'begitu' terus. Membayangkan Jean, dalam wujud Vanya secara tidak langsung membuat jiwanya jadi sedikit tidak tenang juga)

Tapi sebelumnya pun, Abiel tidak pernah membayangkan Vanya menjadi sesunyi ini. Apa ini, tren baru?

Dan seharusnya, akan lebih mudah juga bagi Abiel untuk menerima jika ia memisahkan diri yang satu dengan yang lain. Kehidupan yang satu dengan yang lain. Dimensi waktu yang sebelumnya dengan yang lain. Atau alam yang satu, dengan alam yang lain.

...Oke, agar lebih mudahnya untuk bisa dibayangkan. Coba andai-andaikan jika history dan present saling bercampur.

Sulit, ya? Sama. Tapi bagi dunia, tidak ada apapun yang sulit jika memang sudah dikehendaki. Karena ujung-ujungnya pasti akan sampai ke akhir jalan takdir itu juga. Abiel sendiri juga, contohnya. Yang menjalani hidup dengan cara amat lazim dan menganggap hidup bisa dijalani semudah bernapas seandainya semua kulit tubuh kita bisa digunakan untuk berdifusi. Untuknya, hampir tidak ada yang sulit.

Hampir. Ada satu. Menghentikannya.

Pandangnya terbelalak sedikit selepas menyimak Vanya Muller menyelesaikan pertanyaannya.

"Aku takkan kenapa-kenapa."

Dukk, suara lemah gelas diletakkan dan bersentuhan dengan alas meja.

"Karena itu bukan salahku juga. Itu salah orang itu... Yang hidup, tapi terus menyangkal kalau 'proses hidup' analoginya amat dekat dengan 'waktu'." Menjawabnya dengan sederhana, mudah. Semudah bercermin. "Emm yah, maksudku, jika mereka sudah bersama denganku seiring waktu, seharusnya mereka juga akan terbiasa sendiri untuk melihatku sebagai 'Abiel' daripada sebagai orang lain."

....Err, yah. Maaf.

"Kupikir aku juga mau mendengar jawabanmu soal pertanyaan ini juga."
Back to top Go down
View user profile
Vanya Muller



Posts: 58
Pemilik: masamune11

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 23 tahun

PostSubject: Re: [AFRICA] The Date   19th June 2010, 19:45

Ada sesuatu dalam diri Vanya yang menggeliat tidak nyaman, sesuatu yang mungkin adalah ular yang bersarang pada perutnya kemudian membuat segala sesuatu persepsi dirinya akan Leon pada pemuda ini berubah. Ketika mulut itu membuka dan mengutarakan kata-kata yang ada pada pikiran muda tersebut. Mungkin yang menggeliat itu... rasa penasaran yang bercampur aduk dengan takut?

Itu mungkin.

Ketika suara Abiel keluar kemudian menegaskan pendapatnya, perasaan tersebut hilang seketika. Sesuatu dalam dirinya berdiam diri, sebelum akhirnya bergejolak. Pada saat yang sama, tenggorokannya terasa kering; asam lambung perlahan naik. Ini rasa penyesalan--juga rasa bersalah.

Vanya telah melakukan kesalahan, karena nuraninya berkata demikian.

"Jadi--" gadis berambut hitam ini meraih cangkir kecil berisi teh hangat pesanannya, meneguknya sekali dengan perlahan sebelum kembali berbicara lagi, "--itu semua semata karena kesalahan yang melihat? Kesalahan si pengamat?"

'Bukan karena salahmu yang terlalu mirip dengan dia?'

Cangkir tersebut berdenting ketika dasarnya bertemu dengan piring kecil yang menjadi tatakan. Keramaian dari pasar mengalahkan dentingan, dan Vanya sadar bahwa pasar menjadi lebih ramai, meskipun tidak separah pada waktu musim semi. Mata biru tersebut tidak terarah pada Abiel--ia terarah apda gerombolan pembeli yang hilir mudik berjalan, melakukan transaksi dengan ruko dan toko yang ada di tempat.

Gadis dari keluarga Muller ini menghela napas panjang sekali lagi, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk menatap dalam-dalam mata sang pemuda. Biru, langit lepas, seakan tidak tersentuh; divine.

Ia tidak melihat Leon di sana.

"Mungkin jika aku mengetahuinya..." senyum lemah, "...aku akan sangat kesal sekali. Aku bukan orang yang dimaksud itu bukan, sebagaimanapun aku mencoba?"

'Tapi aku tetap melakukannya. Inikah yang disebut dosa?'
Back to top Go down
View user profile
Abiel Nathanieth



Posts: 43
Pemilik: *nbla

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 22

PostSubject: Re: [AFRICA] The Date   24th June 2010, 17:20

Setidaknya, kalau dia bisa mendengar jawaban Vanya akan ini ia jadi bisa membandingkannya. Lalu mempertimbangkannya kalau-kalau ini tidak boleh dilakukannya lagi dalam masa kemudian. Dan kalau dari jawabannya yag terdengar tersebut Vanya malah kedengaran seperti membencinya, malah bagus! Karena kadang orang-orang perlu dibujuk secara paksa mengenai boleh atau tidaknya sesuatu dikerjakan. Dan mendapati Vanya membencinya, itu berarti cara terkeras yang bisa dilakukan seseorang terhadapnya.

Biarpun seandainya dia sendiri belum tentu akan menyukainya.

Sesuatu yang tidak perlu ditambahkan embel-embel 'seandainya', eh? Mengingat jawabannya sudah cukup jelas—dan ia sedang tidak amat berminat untuk menegaskannya ulang terhadap siapapun itu. Dia menelan ludah. Serta semerta-merta melanjutkan kegiatan makannya—mengambil segelas air yang tidak jauh dari genggamannya (entah lah kalau itu rupanya milik Vanya; laki-laki gentlemen akan lantas mengakui kesalahannya dan meminta maaf—nada ditegaskan—setelah ini). Menenangkan dirinya sendiri. sebetulnya lebih karena ia menyesal telah mengajukan pertanyaan mengenai sesuatu tersebut, di samping bahwa ia juga menyesal harus siap mendengar jawabannya-apapun-itu. Siapa tahu rupanya Vanya tidak menyukainya.

Abiel mendengar suara mayoritas. Mengenai kebanyakan orang yang tidak menyukai sikap dan perilaku tersebut. Ia sendiri hanya... Mengikuti jawaban mayoritas tersebut; karena sendirinya juga tidak tahu harus bersikap bagaimana dalam menanggapi sesuatu itu.

"Yaa... Kira-kira begitu. Banyak orang-orang yang mirip di dunia ini, kan. Tapi tak semuanya kita anggap sebagai 'orang lain' itu. Kalau begitu, itu berarti hanya perasaan kita saja kan,"

Penyakit hati. Konon menyembuhkannya lebih susah daripada yang timbul di fisik.

"...Menuruku sih begitu ya."

Melanjutkan dengan enteng, sembari menatap lagi lawan bicaranya. Dan entah perasaannya saja atau bagaimana, baru kali ini ia merasa bisa melihat ke dalam mata Vanya dengan lebih leluasa. Mudah, kali ini sang rekan Finder tersebut tidak menghindari hujaman langsung matanya tersebut—tapi tetap saja agak sulit untuk tidak mengasosiasikannya dengan milik Jean.

Diam lagi, disambut dengan jawaban berikutnya. Tadinya ia tengah bersikap seolah-olah tidak mendengarnya, tapi—

"...Oh? I... Ya. Aku setuju."

Harus jawab yang bagaimana lagi, memangnya? Ia terkekeh lemah. Penuntas basa-basi. "Hng, memangnya kenapa tiba-tiba kepikiran tentang itu?"

"Well yah, aku juga pernah sih. Setelah kakak perempuanku meninggal, aku selalu merasa setiap wanita yang berambut pirang mirip dengan dia. Tapi cuma sebatas itu saja, memang... Hmm?"

Menggaruk kepala.

Yang terakhir itu, kentara sekali berbohongnya—kalau memang diperhatikan baik-baik.
Back to top Go down
View user profile
Vanya Muller



Posts: 58
Pemilik: masamune11

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 23 tahun

PostSubject: Re: [AFRICA] The Date   30th June 2010, 23:12

Mata mereka bertemu, dan Vanya bisa melihat bagaimana orang itu menatapnya dengan segala kebiasaan yang ada di dunia ini--segalanya yang bukan Leon. Ia menatapnya tanpa memberikan afeksi yang ia harapkan--sebuah pertanda bahwa dirinya disayang, tidak sendirian di tengah arus kekejaman dunia. Bahwa Leon belum mati, namun Abiel menghancurkan segala pengharapan kecil yang terkubur dibalik lubuk hatinya yang terdalam. Hancur tak berkira, hingga ia dipaksa untuk mengakui pemuda yang tengah menyantap makanannya sebagai orang lain. Bukan Leon von Konigswalde, tapi Abiel Nathanieth.

Semuanya hanya karena kontak mata. Biru itu tidak menyayanginya seperti apa yang ada di memorinya; biru itu... hanyalah sebuah tanda bahwa mereka sebatas teman--tidak lebih.

...

"Kakakmu juga berambut pirang?"

Setidaknya ada bahan pembicaraan yang terdengar bodoh di telinga para saintis zaman sekarang; tentu saja sang kakak memiliki kemungkinan besar untuk memeliki rambut pirang, toh adiknya sendiri berambut pirang kotor. Vanya mungkin tengah mempermalukan dirinya sendiri, atau justru agak terlewat heran denagn asosiasi visual Abiel yang cenderung... terlalu luas.

Kurang lebih, begitu.

Tangannya meraih cangkir teh miliknya, meneguknya perlahan hingga tak ada setetes pun yang tersisa. Abiel setidaknya sedikit menyadarkan bahwa ia adalah dirinya--bukan Leon. Makan siang yang sebenarnya bagian dari kencan ini pada nyatanya memang telah membuatnya sengsara secara mental.

Vanya tahu, bahwa jauh di dalam lubuk hatinya, ada bagian yang masih menganggap pemuda yang di depannya itu Leon--

"...kakakmu, seperti apa?"

Tangannya kini menyatu, menahan beban dagu yang disenderkan pada kedua tangan. Mata birunya tidak melepas kontak; apakah Abiel akan berkomentar jauh dari apa mendiangnya, tentang seorang kakak yang tidak pantas menjadi panutan adiknya? Atau mungkin Abiel akan berkomentar lebih bijaksana dan mencoba menolong adik-adiknya secara kontinu?

Vanya masih menatap si pemuda.
Back to top Go down
View user profile
 

[AFRICA] The Date

View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 2Goto page : Previous  1, 2

 Similar topics

-
» BBC-Lost Tribes of Africa
» Date with Rosalin (private)
» The Date to Begin Roleplaying is Announced
» Ex-South Africa rugby star 'murders at least three people with an axe in revenge for gang-rape of his daughter'
» SOUTH AFRICA GENERAL SERVICE MEDAL 1877-79

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Black Order Archives :: Incomplete Tales-
Free forum | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Free forums