| Time | | Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880 |
| | |
| Author | Message |
|---|
Vanya Muller

Posts: 58 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 23 tahun
 | Subject: [AFRICA] The Date 15th April 2010, 08:18 | |
| 24 Januari 1880 Salah satu taman di Beyoğlu, Istanbul
Wake up, leave your hesitation Wake up, Time for us to realize Taman. Bagi gadis berkebangsaan Jerman ini, taman merupakan sebuah tempat yang sakral. Rumah-rumah yang ada di kediamannya dulu terlampau kecil untuk bisa menampung taman. Karena itu, jaringan hijau penuh bunga dan pohon rindang hanyalah sebuah impian kanak-kanak miliknya, seorang gadis dari keluarga pemungut (dan pendaur) sampah. Vanya Muller jarang melihat taman. Mungkin, daripada taman, ia lebih sering melihat bagaimana pepohonan berjajar di sepanjang jalan. Setiap musim gugur, ia lah yang harus membersihkan dedaunan coklat yang berjatuhan. Satu hal minor yang sebenarnya tidak ia suka dari taman, sungguh; selain dari itu, ia cukup senang untuk bernaung di bawah pepohonan rindang di tengah musim panas (meskipun musim panas di daerahnya tidak jauh berbeda dengan musim dingin, mungkin karena situasi yang berangin). Rindangnya pohon saat itu selalu mengingatkannya pad ataman di luar rumah seorang calon Baron yang ia cintai, bahkan dahulu ketika ia masih merindukannya. Oh, ia masih merindukan pemuda itu sampai sekarang, bahkan setelah ia kehilangan haknya untuk terus hidup. Alasan mengapa ia kini duduk di sebuah kursi taman di pinggiran jalan daerah Beyoğlu sebenarnya cukup sederhana—dirinya ada janji. Mata birunya sudah berkali-kali menyortir daerah yang ada—taman yang kosong dan putih bersih karena salju, matahari yang masih setengah terbit, namun mungkin akan segera terbenam lagi. Siang memang pendek, setidaknya bagi daerah percumbuan antara Asia Barat dengan daratan Eropa. Gadis ini menghela napas panjang, tangannya segera memangku dagu. Jaket tebal yang ia gunakan seakan membalutnya seperti mumi kedinginan. Belum lagi wajahnya yang mulai merah karena suhu yang makin turun, setiap detik yang ia pakai untuk duduk di tempat tersebut. Di sisi kirinya (tempat kosong di mana seharusnya satu orang lagi bisa duduk) tergeletak sebuah payung tradisional dari kayu, ala Turki. Tidak perlu dideskripsikan pun, wajah Vanya mengatakan segalanya; ia bosan menunggu—menunggu agar pria tersebut muncul di hadapannya, kemudian mengutarakan apa yang ada di pikirannya mengenai pemuda tersebut. Mata birunya menyortir taman sekitarnya sekali lagi, melihat bagaimana kosongnya taman tersebut. Tidak ada tanda-tanda Leon—bukan, Abiel Nathanieth. Gadis tersebut menggeleng; Abiel selalu diasosiasikan dengan kekasihnya yang telah lama meninggal, dan ia sudah bertekad untuk mengubah hal itu. Setidaknya, mungkin dirinya akan menjadi lebih lega… atau mungkin, Abiel akan merasa lebih maklum dengan apa yang ia lakukan ke depan. Wake up, Show appreciation Wake up, Time for us to realize Sudah waktunya ia melihat seseorang atas apa adanya, bukan karena kemiripannya dengan orang lain.
OOT: - Thread ini closed. Hanya untuk yang diundang m(_ _)m
- Timeline sekitar pukul 14.00 waktu setempat.
- Credits to Leah, lirik diambil dari lagu “Calling”—salah satu OST dari “The World Ends with You”
Last edited by Shreizag E. Halverson on 19th April 2010, 18:10; edited 1 time in total (Reason for editing : Membetulkan Tag menjadi [AFRICA]) |
|  | | Abiel Nathanieth

Posts: 43 Pemilik: *nbla
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 22
 | Subject: Re: [AFRICA] The Date 16th April 2010, 14:46 | |
| Terlambat
?
Sepatunya dikenakan agak tergesa. Rambut kecoklatan itu dirapikannya dengan hanya seadanya, seprti biasa. Belum lagi sempat untuk memicingkan matanya, tidak jika hanya untuk memastikan bercak hitam di bawah matanya. Akhir-akhir ini insomnianya makin akut. Tidur di atas jam malam, dan bangun lagi ketika matahari terbit. Bersyukur tidak ada tugas akhir-akhir ini, tidak mempedulikanny sebagai bentuk contoh makan gaji buta. Langkahnya separuh sempoyongan; siang hari dan yang mengisi perutnya sejak tadi hanya segelas kopi. Separuh sebenarnya; dia tak pernah suka kopi dari dulu.
Walau Jean suka, tidak lantas Abiel juga menikmatinya.
Kalau Vanya?
Langkahnya menderap makin cepat. Jaketnya dieratkan, menyusul hawa udara bulan Januari yang tergolong masih cukup menusuk. Anginnya cukup membuatnya berdiri beku di luar. Tanah lembab becek. Awannya kelabu. Siang hari sebagaimana semestinya di sebuah daerah kota yang padat akan aktivitas, meskipun tetap saja sekitaran taman tergolong cukup lengang pada hari itu. Tidak tahu juga. Abiel sendiri cenderung tidak membandingkannya dengan hari-hari biasanya, dimana ia lebih suka untuk berdiam diri di dalam ruang headquarter daripada keluar. Jalan-jalannya yang kali ini saja juga hanya sekadar menepati janji dengan Vanya—konsekuensinya atas kekalahan dalam permainan speed yang terakhir. Bukan dikategorikan sebagai konsekuensi juga sebenarnya, mengingat Abiel sendiri juga sepantasnya jika menikmati.
Lagipula bisa menghabiskan waktu setengah hari bersama Vanya... Bukannya malah menarik?
"Hng."
Abiel Nathanieth menaikkan tangannya agak lebih dekat ke arah pundak, merapikan helaian syal yang terajut di atasnya hingga nyaris menutupi mulut. Tidak mau memperlihatkan dengan jelas bagaimana kepulan asap yang mampu dihasilkannya hari ini, apalagi jika hanya untuk pamer atau meminta belas pertolongan—ia sendiri tak pernah suka dikasihani bahkan sekalipun oleh... Oleh... Ah, kakaknya tapi-bukan-Jean sendiri.
Menilik lebih lanjut, kondisi wanita itu juga sesungguhnya sama. Kadang mengamati sisi 'lemah' dari seorang wanita paling tangguh pun bisa membuat hatinya sendiri terenyuh.
"Maaf. Terlambat."
Matanya balas mengamati milik rekan bicaranya tersebut. Jean tidak pernah montolerir keterlambatan, apalagi jika urusannya berkaitan dengan kegiatan yang dianggapnya mengulur-ulur waktu. ...Tapi itu Jean. Vanya sendiri?
"Tidak berdiri? Kalau hanya diam-diam ddi sini kita bisa diam beku."
Senyum. ...Tidak. Dia tidak keberatan, kan?
Bukan untuk tidak memandang rasa hormat; tapi ingatannya malah berlangsung ke arah masa 5 tahun yang lalu di tempat berlatar hampir sama. Hanya saja settingnya Yunani. |
|  | | Vanya Muller

Posts: 58 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 23 tahun
 | Subject: Re: [AFRICA] The Date 16th April 2010, 17:38 | |
| Vanya menunggu. Ia baik dalam menunggu. Leon Königswalde sering sekali terlambat dalam berbagai macam pertemuan. Bukannya itu berarti bahwa ia tidak menghormatinya, namun ia tahu jelas mengapa ia kesulitan menepati janjinya tepat waktu. Kadang kala, hambatan terbesar dalam menepati janji adalah keluarga sendiri—begitulah kasus dari kekasihnya yang telah lama meninggal.
Karena itu, ketika ia melihat Abiel muncul dari kejauhan, wajahnya tidak menampilkan ekspresi senang atau gembira. Gadis berkebangsaan Jerman tersebut lebih terlihat sedih... entah karena fakta bahwa keduanya terlalu mirip hingga detail terkecil sekalipun, atau karena dirinya yang—
"Maaf. Terlambat."
Vanya hanya mengangguk, tahu jelas bahwa pemuda berambut pirang tersebut memang berlaku demikian. Namun ia sempat bertanya-tanya: alasan apa yang akan diungkapkan oleh pemuda berambut pirang ini? Mungkinkah ada sesuatu yang menghalanginya di tengah jalan? Atau justru ia ada masalah dengan apapun yang ada di kamarnya, hingga akhirnya ia harus membetulkannya dulu? Yang manapun juga, alasan milik pemuda ini tidak mungkin sama dengan alasan dari mantan kekasihnya dahulu kala, bukan?
Oh, ia bisa melihat bagaimana napas Abiel terengah-engah, sungguh. Hasil dari berlari? Vanya menggeleng. Tentunya Abiel sadar bukan bahwa berlari di tengah musim dingin seperti ini sama saja dengan membuang-buang energi. Sementara itu, mereka masih harus berjalan-jalan di sekeliling taman untuk membicarakan apa yang ingin ia bicarakan. Hei, dirinya yang menang—dirinya berhak menentukan topik, bukan?
“Abiel, tidak seharusnya kau berlari-lari di musim dingin! Bagaimana jadinya nanti bila kau keburu kecapaian duluan?” Vanya menukas cepat. Sepintas, mungkin terdengar seperti ibu-ibu yang khawatir terhadap keselamatan anaknya. Namun, alasan Vanya memang masuk akal. Kata-kata selanjutnya dari Abiel pun juga ia indahkan; setidaknya, ia tidak keras kepala untuk terus bergantung pada pendapatnya sendiri.
Karena itu, ia berdiri.
“...tertarik untuk jalan-jalan mengelilingi taman? Aku tahu tidak banyak yang bisa dilihat di musim dingin ini, namun...” Vanya terdiam sebentar. “Ada yang perlu ku...” Gadis tersebut berhenti bicara, kemudian menggigit bibir.
Bagaimana caranya agar pemuda tersebut tidak merasa sakit hati dengan pertanyaannya? |
|  | | Abiel Nathanieth

Posts: 43 Pemilik: *nbla
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 22
 | Subject: Re: [AFRICA] The Date 18th April 2010, 15:07 | |
| Jeannica Nathanieth dahulu paling suka musim dingin. Staminanya tergolong baik, ia juga bukan tipikal gadis manja yang tidak pernah tahan jika berada dalam kondisi dingin bahkan di dalam ruangan sekalipun ataupun menganggap musim dingin hanya sekadar ajang pamer coat atau setelan pakaian baru. Ia sudah pernah bilang belum jika Jean selalu melihat apapun pada sisi yang lebih dalam? Sudah, rasanya. Berkali-kali pula. Jalan-jalan di waktu musim dingin adalah sesuatu yang paling disukai orang itu, bahkan tak jarang pula melibatkan Abiel—pada akhirnya justru membuatnya dimarahi ayah lantaran mengajak seorang adik bermain keluar dalam kondisi asma. Sesuatu yang tidak berubah bahkan sejak kematian kedua orang mereka, malah semakin menjadi-jadi mengingat kali ini Jean dapat melakukannya dengan lebih bebas. Abiel tidak pernah keberatan, pun. Sungguh.
Pasalnya ia sendiri menganggap paduan pirang pucat dan salju monokrom tersebut sebagai sesuatu yang menarik.
“Abiel, tidak seharusnya kau berlari-lari di musim dingin! Bagaimana jadinya nanti bila kau keburu kecapaian duluan?”
...
Sekarang yang tersisa di hidupnya sebagai bahan membuat kenangan sebanyak-banyaknya tinggallah seorang gadis, masih dengan sorot mata yang hampir sama. hanya saja yang sekarang rambutnya sewarna arang.
"Kenapa harus kecapekan?"
Tukasnya kembali dengan cepat.
Baru saja ia hendak mengambil tempat duduk di sisi kosong sebelah gadis itu, sosok yang bersangkutan sudah berdiri lebih dahulu. Ia tidak pernah mengharapkan Vanya Muller untuk menaruh semacam kepedulian padanya (tampak luar gadis itu terlihat sebagai tipikal yang tidak merasa perlu capek-capek untuk memperhatikan orang lain melebihi dirinya sendiri, IHO). Pemuda itu, usianya 22 tahun sekarang. Sudah bisa menapaki tanah dengan dua buah kaki. Lalu berpijak pada realita dan melihat dengan mata jernih bahwa Jeannica dan vanya bukanlah sosok yang sama. Singkat kata baginya wajar bagi Vanya untuk tetap bersikap acuh, karena bagaimanapun toh dia memang bukan kakaknya.
Tapi tetap saja... Selalu... Vanya memberikan lebih banyak daripada apa yang pernah ia harapkan.
"Sudah biasa kok, rutinitas sehari-hari juga."
Matanya terpejam sesaat seiring tubuhnya menggigil tak kentara. Pemuda itu memang bukan tipikal yang tahan akan dingin. Tapi tetap saja posisinya sebagai laki-laki membuatnya tidak pantas dikasihani sedemikian rupa begitu, kan? Tak peduli bahwa ia memiliki seorang kakak yang dapat menggantikan kodratinya tersebut. Sayangnya tidak lagi.
Abiel Nathanieth, mengatur nafasnya kembali hingga terdengar jauh lebih normal. Lalu berdiri menghadap partner bicaranya dengan tegar. Berjalan-jalan kemanapun tak masalah. Duduk boleh, jungkir balik mungkin juga akan ia jabanin selama pemberi kuasanya adalah Vanya.
"...Ayo."
Menjawab seiring ucapan yang sebelumnya menggantung begitu saja. Daripada kelamaan menunggu terusannya, hei. |
|  | | Vanya Muller

Posts: 58 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 23 tahun
 | Subject: Re: [AFRICA] The Date 19th April 2010, 21:27 | |
| "Kenapa harus kecapekan?"
Mengapa katanya? Pertanyaan itu sebenarnya lebih pantas merujuk pada dirinya sendiri. Mengapa ia menanyakan hal ini kepada sang pemuda? Bukankah Abiel juga teman seperjuangan; mereka dalam divisi kesatuan Finder juga, bukan? Tentunya, ia lebih tahu dari staf manapun bagaimana kondisi dari Abiel yang sebenarnya--atau selbih tepatanya, kondisi standar seorang finder.
Mangapa ia perlu khawatir?
Kata-kata tersebut melayang-layang dalam relung pikirannya. Tangan-tangan pengertian tidak kunjung hinggap pada kata-kata tersebut, membuntukan pikirannya pada satu pertanyaan itu: mengapa? Lantas, apa yang perlu ia jawab?
Mulutnya sempat membuka (dan menutup) sekali, sebelum akhirnya mata biru tersebut mendelik pada Abiel. Mulutnya pun kembali terbuka, kali ini bersama dengan partikel udara yang bergetar karena resonansi pita suaranya.
"Karena ini musim salju, Abiel! Kau bisa saja terkena hipotermia kalau kau--"
"Sudah biasa kok, rutinitas sehari-hari juga."
Mulutnya segera menutup, lagi, hanya karena beberapa patah kata balasan dari pemuda tersebut. Biasa katanya; satu hal yang menandakan bahwa kegiatan seperti ini--berjalan-jalan di tengah dinginnya udara--merupakan hal yang standar. Kali ini, Vanyalah yang merasa bodoh; mengapa ia harus panik? Bukankah pemuda ini bisa menjaga dirinya sendiri? Apa karena ia melihat Leon--dengan kecerobohannyan yang luar biasa besar--dalam diri pemuda ini?
Yah, Abiel memang mirip Leon, dalam berbagai macam aspek.
"...Ayo."
Tentu saja ia akan menurut; Vanya yang memenangkan pertarungan speed yang telah lalu itu... setidaknya, secara de jure, ia berhak untuk menyuruh-nyuruh Abiel setidaknya selama sehari ini.
"Te..." Napasnya tercekat sedikit, melihat bagaimana pemuda tersebut turut berdiri, kedinginan. Kekurangan bahan penghangat, mungkin. Ia sendiri sebenarnya menggigil--entah apa sang pemuda menyadari hal ini. "Tentu. Ayo."
Tangannya segera menggandeng tangan Abiel--satu hal yang cukup dapat diprediksikan. Hei, mereka memang dalam date, bukan? Bila tidak sebagai pacar, maka sebagai teman saja. Date merupakan sebuah agenda di mana dua pihak bertemu untuk membicarakan sesuatu--kebetulan, topik yang ia ingin angkat memang berhubungan dengan hal ini. Karena itu, ya, ini adalah date.
Tangannya menyentuh tangan Abiel, namun jari-jarinya tidak dapat merasakan hangat tangan yang bersangkutan; sarung tangan wol miliknya menghalanginya. Vanya menarik Abiel, menuruni sebuah jalan setapak yang dihiasi tumpukan salju, membisu.
Mata birunya sudah memindai area di dekatnya beberapa kali, memastikan tak ada masalah yang muncul merintangi mereka. |
|  | | Abiel Nathanieth

Posts: 43 Pemilik: *nbla
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 22
 | Subject: Re: [AFRICA] The Date 25th April 2010, 20:47 | |
| "Hipotermia?" Tergelak sedikit. "Kau pikir ini di mana, Vanya? Kutub utara?"
Abaikanlah sejenak bahwa ilmu buminya tidak sebaik sains dan ilmu makhluk hidupnya; tapi menurut logikanya saja cukup kalau Turki lebih hangat hanya karena letaknya yang lebih condong ke khatulistiwa. Faktanya toh kan bukan cuma sekali-dua kali ini saja dia merasakan yang namanya musim dingin. Hampir 23 tahun, ingat? Ah, sungguh. Lama-lama kau makin mirip Jean saja kalau terus-terusan mengkhawatirkanku dengan cara seperti itu. Bersyukurlah bahwa Abiel sendiri tiada merasakan keberatan di dalamnya sedikitpun. Bahkan kalau boleh terkatakan, ia menikmatinya. Kehilangan kasih sayang seorang kakak selama 3 tahun setelah hampir 17 tahun bergantung padanya seumur hidup ini membuatnya sadar benar bahwa ia tidak boleh menyia-nyiakannya sekali lagi. Kalau memang yang namanya kesempatan kedua itu benar.
Kalau orang-orang bilang, tak ada rotan, akar pun jadi. Biarpun tetap saja kebagusan kalau akar disamakan dengan Vanya—acuhkan peribahasanya. Yang penting intinya sudah bisa terbayangkan.
Tapi meskipun ia menyatakan nada penyangkalan dalam ucapannya barusan... Bukan berart fisiknya harus ikut-ikutan berbohong, kan? Tetap saja ia menggigil dari tadi. Setiap beberapa detik sekali.
Ia mengangguk. Vanya pun mengiyakan dalam pernyatan langsungnya. Tangannya hendak beringsut untuk meraih lengan Vanya—kebiasaannya ketika jalan-jalan dengan Jean juga, karena kalau tidak begitu biasanya Abiel otomatis langsung tertinggal dan tersesat di belakangnya—sebelum si gadis akhirnya mengambil inisiatif untuk melakukannya duluan. Genggaman tangannya di balik sarung tangan wol itu terasa hangat. Yah, sama seperti tangannya yang juga terbungkus sarung tangan juga barangkali. Dan bukan karena perasaan khusus apa-apa. Dagunya tertunduk sedikit.
Bahkan cara mereka berjalan dan menggenggam tangannya itu sama.
...Atau hanya kebetulan terasa sama saja.
"Sudah makan siang?"
Mengambil inisitiaf untuk memecahkan sunyi.
"Kalaupun memang sudah, yah... Temani saja. Aku belum soalnya."
Lebih baik mengaku terang-terangan saja. Pasalnya akan jadi makin sulit kalau tahu-tahu sakitnya kambuh hanya karena terlambat makan. |
|  | | Vanya Muller

Posts: 58 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 23 tahun
 | Subject: Re: [AFRICA] The Date 28th April 2010, 21:08 | |
| "Hipotermia? Kau pikir ini di mana, Vanya? Kutub utara?"
Ia tidak suka dengan jawaban semacam itu, sungguh. Maksudnya, bahkan nada dari suara tersebut terdengar... menyepelekan. Gadis ini sudah terbiasa berhadapan dengan hipotermia (setidaknya ada beberapa kasus di sekitar rumahnya) dan bersedih, bahkan hanya karena gejalanya. Sekarang, pemuda ini terdengar menyepelekan hal tersebut?
Gadis berambut hitam ini mengencangkan genggamannya pada tangan Abiel, sedikit menoleh ke arahnya dan memberikan delikan tajam. 'Jangan bercanda kau', mungkin adalah kata-kata yang tak pernah sampai secara verbal, namun tersirat pada setiap gerakan yang ia lakukan. Kepalanya kembali menatap ke depan jalan, tangannya masih menggenggam tangan Abiel dengan erat.
"Sudah makan siang?"
Pertanyaan simpel dan penuh inisiatif dari seorang pemuda yang memiliki fisik 99.9% dari mantan pacarnya. Pertanyaan simpel yang ditujukan padanya untuk memulai sebuah pembicaraan, di tengah jalanan sepi nan kosong. Ya, Vanya bisa menjawab pertanyaan standar macam ini tanpa harus membayangkan Leon berdiri di sepatu Abiel. Ya, karena mata biru gadis ini tidak berpaling pada figur yang terlalu mirip dengan mendiang kekasihnya. Gadis ini sebatas mendengar, bukan melihat.
Suara mereka berbeda.
"Kalaupun memang sudah, yah... Temani saja. Aku belum soalnya."
Genggamannya tidak melemah, namun ia menarik Abiel ke salah satu jalan yang kosong--menuju pasar--sedikit menoleh dan emnyunggingkan sebuah senyum kecil. Bukan, bukannya ia tidak suka, namun bila lebih lebar, Vanya takut bahwa senyumannya bukan ia tujukan pada sang pemuda, melainkan pada pria yang sudah mati beberapa tahun lalu.
Ia tidak mau.
"Tentu. Aku sendiri belum makan."
Menggigit bibir bukan berarti bahwa ia lapar. |
|  | | Abiel Nathanieth

Posts: 43 Pemilik: *nbla
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 22
 | Subject: Re: [AFRICA] The Date 1st May 2010, 18:15 | |
| Pandangannya berpaling lagi, ke arah Vanya yang kini berada selangkah lebih di depannya seiring gamitan tangannya masih belum juga merenggang. Pandangan sewarna biru laut itu berpindah-pindah beberapa kali, tidak pernah konsen di tempat. Saljunya yang putih ada di bawah setiap langkahnya. Balutan setelan musim dingin yang serasi. Serentak ia ingin mencari tatapan tajam gadis tersebut; ya, yang itu, yang sebetulnya kesan galak akibat itu dapat diluluhkan hanya dengan sedikit senyumnya; namun tak ditemukannya. Apa salahnya melirik ke arah orang lain ketika berbicara sih? Abiel; jujur saja; tidak suka jika diacuhkan. Sedingin apapun hari ini, tetap saja ia tak akan lepas dari kebutuhannya akan sepasang mata yang menatapnya dengan teduh tersebut.
Karena dari sebagian besar fisik mereka, hanya sepasang indera itu yang menjaga ikatan antar keduanya. Vanya dan Jean.
Mendengus sekilas ketika ia yakin tak ada yang memperhatikan. Langkah mereka berpindah kembali, lebih mengarah ke arah sebuah jalan yang lebih kecil. Tanda Vanya menyetujui ajakannya untuk mampir sejenak makan siang; jalan-jalan di tempat seperti ini eh? Harusnya Abiel tinggal minta saja dari tadi, toh selama ini antara ia dan Jean juga tidak ada gengsi-gengsian. ...Ya kan? Abiel ingin menganggap Vanya adalah Jean-nya (Jeannica nathanieth, dengan mengacuhkan siapapun-itu-nama-belakang-suaminya). Tapi tetap saja rasanya sulit. Tapi di saat ia berhasil, ia tidak sepenuhnya yakin bahwa vanya akan menyukai posisi pengangkatan sebagai kakak secara sepihak tersebut. Makanya kelanjutannya jadi seperti sekarang.
Kalau kau bilang gantung mungkin tepat. Tak berkesudahan apa lagi. Complicated. Nah.
"Oke, baguslah."
Pandangannya berpindah beberapa kali mencari lokasi pemenuhan pangan yang sesuai (yang bersih, tidak dingin karena tepat baru disajikan... Ia tidak mau kalau Vanya lantas jadi dapat penyakit baru lagi gara-gara itu). Membalas satu senyum yang baru saja terlontar tersebut. Murni senyum. Karena kata Jean seringai adiknya tersebut aneh.
"Karena aku yang kalah, jadi kurasa aku yang harus mentraktirmu makan juga, eh? Nevermind... Vanya, kau suka makan apa, ngomong-ngomong?"
...Abiel bahkan belum tahu soal jjawaban akan pertanyaan remeh itu. |
|  | | Vanya Muller

Posts: 58 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 23 tahun
 | Subject: Re: [AFRICA] The Date 2nd May 2010, 16:31 | |
| Mereka berjalan. Tak ada yang melihat, karena taman memang sepi pengunjung. Para pelanggannya mungkin lebih tenang tidur di rumah masing-maisng, berselimut tebal dengan sajian coklat panas di meja. Baiklah, bila coklat terlalu mahal dibeli karea pedagang Belanda sana lagi-lagi menjualnya dengan harga tinggi, maka teh mungkin melepaskan hawa dingin yang menyelimuti mereka. Teh, daunnya berasal jauh dari tanah Inggris, di India tempat orang-orang malas bekerja. Tidak ada teh dan coklat panas di tempat kosong seperti ini, bukan? Vanya tidak menoleh pada Abiel, bahkan ketika pemuda tersebut berkomentar lebih. Tidak, ia tidak ingin. Lucu ceritanya bila ia menyaut pada Abiel, sambil menggumamkan nama Leon. Lucu, setidaknya bagi setan yang tengah menonton, melihat bagaimana gadis ini sakit hati... Atau mungkin, pemuda tersebut juga akan merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan. Satu kata cukup membuat segalanya menjadi serba salah. Karena itu ia bergerak, menyusuri jalanan kosong, tidak untuk sekedar teh atau kopi panas, tidak untuk sekedar makan siang yang mungkin akan dibayarkan oleh Abiel dengan kedok kemenangannya dalam Speed, tidak untuk sekedar keengganan untuk melihat Abiel sebagai dirinya... Ia bergerak untuk dirinya sendiri. Egois? Tapi memang harus demikian. "Pasar." Ujarnya pendek. Mata biru mengerling pada kios berjajar yang biasa buka dari pagi hingga sore, namun tutup pada saat matahari mencumbu bumi. Pasar tersebut menjual berbagai macam barang, mulai dari keperluan pribadi hingga makanan--makan siang, lebih tepatnya. Kebetulan; sebuah kafe kecil ala Turki. Mungkin ia akan memesan kebab di sana, bersama dengan secangkir teh, bila mereka menjual. Tangannya meremas pelan tangan Abiel, kemudian ia berjalan lagi menuju kafe yang masuk dalam pandangannya. Kafe tersebut secara garis besar dibuat dari kayu ornamentalis (mungkin satu-satunya bangunan tetap yang ada di pasar tersebut), dengan beberapa kursi kayu simplistik penuh ukiran. Mengangguk sekali, mungkin menyetujui pilihannya sendiri, gadis ini menarik Abiel, kemudian duduk di salah satu kursi. Mata biru segera memindai meja, melihat beberapa lembar kertas tergeletak di atasnya-- menu. Tangan segera menarik satu, melirik menu makanan yang disediakan kafe tersebut.... atau lebih tepatnya, restoran. "Pesananmu, Abiel?" Bertanya lebih dulu. |
|  | | Abiel Nathanieth

Posts: 43 Pemilik: *nbla
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 22
 | Subject: Re: [AFRICA] The Date 5th May 2010, 21:35 | |
| Pasar, well?
Tidak, Abiel bukannya tidak suka. Ia justru menikmati keadaan seperti ini. Dimana Jean tidak sibuk menasehatinya untuk tidak sembarangan jajan di pasar agar tidak sakit perut. Lalu harus diakuinya kalau wanita tersebut banyak mengekang kebebasannya selama ini, meskipun Abiel memang tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu masalah. Dan ia juga tidak bisa dikatakan menikmati hidupnya yang sekarang jauh melebihi hidupnya yang sebelum ini. Kebalikannya, malah. Kalau diibaratkan sekarang dia hanya bisa melihat abu-abu--perbandingan yang kurang mendasar, sebenarnya. Tapi kau mau yang bagaimana memangnya? Kalau tidak ada Vanya mungkin Abiel cuma bisa melihat hitam, malah. Namun jadinya, justru makin lama makin terang.
Delightful monochrome.
Mendecak sedikit, menyadari apa saja yang sudah membuatnya melamun sejak tadi. Lebih banyak yang tidak jelasnya, sebenarnya. Sama sekali tidak seperti Abiel yang biasa. Otaknya seperti tercampur aduk--dan bukan sama sekai karena genggaman vanya tidak lepas sama sekali. Bagaimana mengatakannya, ya. Tapi kalau memang mau jujur.... Ia tidak merasakan sesuatu yang berbeda. Maksudnya, memangnya kau merasakan sesuatu pada kakakmu sendiri?
Sesuatu pada wanita non-keluarga, adalah berbeda dengan sesuatu pada orang yang dikasihi sejak lama itu. Paham?
....Oh tidak. Kau tidak akan mengerti seperti dirinya. Ha.
Lalu duduk. Mengistirahatkan tubuhnya, padahal yang tidak melakukan sesuatu yang berarti sejak tadi. Selemah apapun fisik seseorang, tetap saja tidak akan langsung capek dipakai jalan singkat begini kan? Terlebih--oh ya, dia laki-laki. Melirik perlahan ke arah seluruh penjuru ruangan--restoran kecil di pasar yang terlihat paling menarik diantara yang lainnya; dan oph bukan; tentunya dia yang membiarkan Vanya untuk memilih restoran yang ini--lalu kembali ke arah sang rekan kencan seharinya. Sadar bahwa tak ada wanita yang akan suka diacuhkan saat tengah berdua begini. Wanita, meskipun kelihatannya penurut, bukan tidak mungkin sebagian diri mereka menginginkan kekuasaan lebih di ata para laki-laki. Wajar. Apalagi dengan keseharian Vanya yang sekilas lebih ke arah feminis itu.
...Dia memikirkan apa sih...
"Ladies first."
Tepat bersamaan dengan sebuah daftar menu disodorkan padanya. Berikutnya terserah saja. Lebih baik dia mendahulukan Vanya memberitahukan pesanannya, lalu Abiel tinggal [i]manut] 'pesan yang sama dengan itu sebuah lagi, then', dan...
Hng, tidak. Ia hanya ingin Vanya memulai pembicaraan saja. Obrolan santai di tengah siang hari yang sejuk ini. |
|  | | Vanya Muller

Posts: 58 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 23 tahun
 | Subject: Re: [AFRICA] The Date 13th May 2010, 13:54 | |
| Tersenyum kecil.
Gadis ini memang terbiasa dengan perlakuan yang diberikan Abiel, meskipun yang biasa mengatakannya hanyalah orang mati. Leon von Konigswalde mengutamakan wanita; sebuah prinsip yang sudah mendarah daging pada keluarga baron Jerman. Sepertinya Abiel Nathanieth juga tahu beberapa predikat demikian.
"Terserah." Tangannya dengan cepat membuka menu, secepat dirinya melemparkan pisau-pisau yang menjadi senjatanya apabila keadaan menjadi geting. Refleks seorang Finder tentunya berbeda dari orang biasa. Abiel tentu tahu, karena keduanya juga berasal dari satu grup yang sama. Keduanya Finder, pernah berlatih bersama, pernah didorong pada titik kematian di waktu yang sama, pernah tahu rasanya ketika seseorang mati di hadapan mereka.
Katanya.
"Satu Sigara Boregi, satu Mezgit Corbasi, satu Kasarli Tavuk untuk pemuda ini--" Kata-kata Vanya dengan cepat mengalir ketika seorang pelayan datang tanpa suara, mendekati tempat mereka berdua duduk. Gadis ini memang menyadari keberadaan pelayan tersebut, namun tidak pernah tahu bahwa yang bersangkutan telah medekat, mencatat hal-hal yang ingin mereka pesan.
Yah, yang ingin dia pesan, lebih tepatnya. Bila dirinya benar, maka Abiel--seperti Leon--tidak akan memesan hingga akhirnya Vanya memaksanya memakan sesuatu dari salah satu restoran yang ada. Gadis ini menggeleng; ia tidak ingin membandingkan pemuda itu dengan mantan pacarnya bukan? Sebaiknya ia mulai berlaku demikian.
"--dan dua teh, satu Camomile dan satu Earl Grey." Tangannya menutup menu, senyum masih terpampang pada wajahnya. Pelayan yang dimaksud mengangguk ramah (seorang pria kira-kira berumur 18 tahun), namun tidak berkata apa-apa. Mungkin seorang yang sedang kerja paruh-waktu? Vanya tak tahu--ataupun berusaha untuk bertanya--karena pemuda yang dimaksud sudah keburu pergi mengantarkan pesanan ke dapur.
Mata birunya kembali menyortir keadaan--ramai, namun bukan dalam satu taraf yang tidak bsia ia tolerir. Keramaian membuatnya lebih bersemangat dalam beberapa dosis, namun ia lebih merindukan kesendirian.
...mungkin karena fakta bahwa dirinya memang sendiri sejak kematian Leon, atau sejak dirinya menolak pertolongan yang ditawarkan oleh suami dari tantenya, Ravel Kohler.
"Kuharap kau tidak keberatan dengan pilihan makananku untukmu juga, Abiel." Seyum berubah menjadi sengiran usil. Biarlah, dirinya juga ingin memesankan pemuda itu sesuatu. Siapa tahu Abiel memang tidak pernah merasakan makanan khas Turki.
Mata biru diam-diam bersembunyi di balik pelupuk matanya, ingin menghindar dari sorot mata dan wajah yang terlalu mirip dengan Leon. |
|  | | Abiel Nathanieth

Posts: 43 Pemilik: *nbla
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 22
 | Subject: Re: [AFRICA] The Date 15th May 2010, 23:12 | |
| "Satu Sigara Boregi, satu Mezgit Corbasi, satu Kasarli Tavuk untuk pemuda ini--"
"Memangnya kau tidak makan?"
Ujar si pemuda, refleksif, tepat setelah sang pelayan mencatat pesanan mereka dan meninggalkan meja. Vanya menutup buku menunya. Ditraktir sebanyak ini tidak enak juga rasanya entah mengapa, apalagi kalau hanya untuk dinikmati diri sendiri. Memangnya Vanya bisa gendut? Setahunya Jean saja makan sama banyakanya, tapi ukuran pinggangnya tak pernah bergeser di atas angka rata-rata milik wanita normal. Hu. Sudah agak siang, wajar kalau waktu makan kebanyakan orang sudah lewat. Abiel juga hanya bisa maklum saat Vanya menyatakan hanya memesan segelas teh.
"Ah ya... aku lupa kamu suka teh. Nanti kapan-kapan biar aku yang traktir untuk itu."
Lalu Vanya diam lagi. Abiel lantas balik bingung. Biar bagaimanapun, dia juga bukan tipe yang biasa memecah keheningan dengan bicara agak banyak. Tepatnya dia juga butuh sebuah penyeimbang. Setahunya Vanya yang selama ini wawasannya tergolong luas dan paling mahir diajak konversasi tersebut cocok dalam kategori itu. Mungkin hanya kecapekan... atau tidak biasa. Maklum karena selama ini mereka tidak pernah pergi ke luar markas hanya berdua saja--paling tidak sesama rekan finder lainnya atau Mario. Bukan sesuatu yang mengejutkan bagi Abiel; ia tahu Vanya Muller juga tipikal perempuan tulen, kan? Jadi seharusnya wajar saja.
Sementara Abiel sendiri... Well. Jangan tanya apakah dia yakin atau tidak--karena ia juga belum tentu bisa menjawabnya dengan 'yes' or 'no' saja. Katakanlah dia memang plinplan dalam beberapa urusan. Tapi kali ini apa yang sedang dia rasakan tidak seperti perasaan seorang laki-laki yang tengah mengajak kencan rekan wanitanya; Nina Demetri misalnya. Oh, Abiel tidak tengah membahas tentang Nina. Apalagi Jean.
It's all? Just enough.
"Yaah... Aku juga bukan tipe pemilih makanan."
Senyum tipis, selanjutnya memampang seringai lebih bebas di wajahnya. Sebelah sikunya menempel permukaan meja, menunggu masakan Turki (yang lebih banyak yang Abiel tidak kenal namanya; padahal mungkin sudah sering mereka makan dalam keseharian, misalnya) yang mereka pesan terhidang di atas meja. Praktis seleranya juga timbul.
"Aku yakin pilihanmu pasti bagus."
Woman instinct?
Sekilas ia mengira keadaan mulai mencair; meskipun belakangan semangatnya memudar tak kala mata birunya tidak berhasil menemukan pantulan yang sama. Jangankan bersirobok, bahkan untuk bisa melihatnya sekilas pun Abiel merasa... Sulit? Seolah Vanya menjaga agar matanya jangan dilihat-lihat olehnya--padahal kalaupun dilihat juga tidak ada ruginya. Tsche. |
|  | | Vanya Muller

Posts: 58 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 23 tahun
 | Subject: Re: [AFRICA] The Date 28th May 2010, 18:54 | |
| Vanya tertawa kecil.
Abiel Nathanieth tampaknya tidak sadar bahwa makanan yang baru ia pesankan bukan untuk dirinya sendiri, bukan? Tiga makanan tersebut memang tidak memenuhi prasayarat sebuah makan malam grandeur dengan segala macam aturan Inggris yang luar biasa belibet. Tidak, tiga makanan tersebut bisa disimplifikasikan sebagai makan siang utama--tidak pakai ribet, tidak pakai aturan njelimet, hanya makan siang yang kasual layaknya teman dengan teman.
"Ayolah, kau tidak berpikir itu semua untukmu bukan?" Tersenyum kecil, tangan kanan yang sempat tergeletak di meja melambai perlahan; 'santai saja', mungkin itu adalah maksud dari gestur tubuh yang cepat. Ketika mata biru gadis ini bertemu dengan wajah Abiel kembali, gadis ini berpaling--apapun yang bisa mengalihkan perhatiannya pada pemuda tersebut mungkin lebih baik untuk sementara waktu ini.
Meksipun itu mustahil. Nanti juga, ia harus berbicara dengan Abiel, mengatakan bahwa dirinya selalu melihat orang lain--bahwa Leon von Konigswalde masih hidup dalam bayangan pemuda tersebut, dan Vanya melihatnya setiap kali kedua mata mereka bertemu.
Titik mati rasa percaya Abiel padanya, mungkin.
Menghela napas panjang; pemuda itu memang tidak memujinya secara langsung. Baiklah, mungkin pernyataannya bisa dikatakan sebuah bentuk sanjungan yang bisa membuat wanita manapun tunduk. Hei, siapa yang tidak akan tunduk pada seorang bangsawan dengan latar belakang keluarga yang luar biasa tua--
--oh, salah orang. Orang itu sudah mati. Kebetulan saja Abiel mengatakan komentar yang sama pada Vanya, di suatu titik bahagia dalam lini hidup miliknya.
"Aku pernah mencoba makanan di sini sekali. Wisata kulinernya lain kali sajalah; kadang rasa baru bisa membuat orang kaget rasa." Sebuah jawaban standar yang diberikan oleh pasangan kencan bukan? Salah, justru saat kencan begini, harusnya mereka mencoba hal-hal baru, bukan hal yang pernah mereka coba salah satu.
"Hei, Abiel."
Mata biru sudah lelah melihat sekeliling, kini ia menghampirkan padangannya pada meja--menatapnya seakan itu hal paling penting yang ada di dunia. Padahal, dibalik mata itu, ia berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan tenaga dan keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya, setidaknya sebelum segalanya terlambat.
Mungkin dengan begini, ia bisa melihat Abiel sebagai Abiel, bukan?
Giginya menggigit mulut, tangannya mengepal di atas meja--pertanda gugup. Kepalanya bahkan belum menengadah agar mata biru terkunci pada fitur milik pemuda tersebut.
Tidak berani melanjutkan kata-kata. Abiel harus mengambil inisiatif, bila begini terus--kecuali bila ia memang ingin keheningan menguasai suasana. Vanya sendiri? Tidak, ia tidak mau merasakan keheningan, namun tak mampu untuk 'memecahkan gelasnya'.
Biar ramai. Sampah. |
|  | | Abiel Nathanieth

Posts: 43 Pemilik: *nbla
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 22
 | Subject: Re: [AFRICA] The Date 30th May 2010, 10:56 | |
| Lalu senyum. Bentuk hidung. Gestur. Cara ia menatapnya.
Hanya tuna-netra yang barangkali tidak tahu bagaimana aspek-aspek tersebut bisa diperbandingkan dengan mudah diantara keduanya, tanpa persamaan mencolok yang barangkali akan mempersulit prosesnya.
"Tidak."
Senyum, menaikkan sebelah alis.
"Yah, aku tahu kau memang semurah hati ini biasanya, Vanya, tapi kalau hanya untukku sendiri saja... Rasanya agak berlebihan—"
Dalam hati menyangkal. Kalau hanya beberapa porsi makanan santai, tidak mungkin juga itu terkesan berlebihan oleh pihak yang mentraktir. Bolehlah ia merasa sebagai pihak yang bermurah hati, Vanya itu. Tapi (dalam hati Abiel berpikir) memangnya wanita itu tidak lapar? Hei, dia sendiri juga tahu bagaimana cara orang-orang barangkali akan menatapnya—sebagai seorang gentlemen yang membiarkan pihak wanitanya berkoar sendiri di hadapan sampai air liur kering sementara ia ongkang-angking kaki makan seenaknya. Mungkin dia memang tidak mencolok, sampai sepantas itu untuk diperhatikan oleh orang lain, yea. Siapa tahu saja.
Bukan masalah itu saja. Karena... Yeah, kau tahu apa.
"—perhatianmu itu. ...Oh, ya sudah, cuek saja."
Karena semakin baik Vanya memperlakukannya, memberikannya perhatian, semakin tidak enaklah perasaannya sendiri. Maklum kalau pada akhirnya ia justru menganggap diri sendiri sebagai orang tamak. Setiap orang melakukan sesuatu dengan caranya sendiri, maksud dan tujuannya sendiri. Vanya pasti juga—hanya Abiel saja yang salah menafsirkannya sebagai wujud kasih sayang seorang saudara perempuan.
Mendapatkan, tapi tak memberi balasan yang sama.
Taruhan. Tidak ada yang suka diperbandingkan dengan orang lain, apalagi dengan orang lain yang sudah tidak ada. Karena mereka lahir untuk jadi dirinya sendiri—berbaik hati menggantikan kedudukan orang lain, eh? Campakkan.
—Dukk. Sebuah hentakan keras di atas meja mereka ketika satu persatu piring mulai diantarkan.
Ah, lupakanlah kalau tanggapannya barusan dianggap terlalu keras. Hanya buah pikirnya sendiri yang tak kunjung tersalurkan, tahu lah. Tata komunikasi verbalnya terhadap wanita makin kacau sejak dia tidak punya 'teman berbagi' lagi. Daripada salah-salah berbicara, lebih baik dia diam saja. Maka dari itu. Tapi—
"—tak keberatan kan jika aku makan duluan?"
"—Abiel."'
Mezgit cobasi-nya nyaris melepuhi lidahnya sendiri.
Hanya lewat satu nama itu, mereka bisa terdengar sebagai satu sosok yang sama.
"Hmm ya?"
Abiel memang bukan kaum perempuan, mereka yang hatinya paling mudah untuk bisa didapatkan hanya lewat satu perhatian khusus saja, tapi katakanlah ia tersanjung. Hanya dengan satu tajuk cara mereka menyebut namanya.
Hanya karena satu itu. Mungkin kau akan menganggapnya sulit dipercaya. |
|  | | Vanya Muller

Posts: 58 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 23 tahun
 | Subject: Re: [AFRICA] The Date 30th May 2010, 17:29 | |
| Abiel menjawab.
Tidak butuh dua detik agar gadis ini sadar bahwa pemuda yang manjadi teman kencannya sekarang menjawab pertanyaannya. Mata birunya melihat kok bagaimana mulut pemuda tersebut terbuka sebelum mencoba Mezgit Corbasi, namun akhirnya tidak sempat masuk. Abiel sudah keburu menatapnya, menjawab.
Demi Tuhan, memangnya mata Abiel pernah sebiru itu; sebiru apa yang dimiliki Leon?
Tercengang beberapa detik cukup membuatnya lupa akan apa yang harus ia ucapkan. Apa tadi? Apa ia mau langsung mengatakan begitu saja? Mengenai Abiel yang terlalu mirip dengan pacarnya hingga ia harus mengakui bahwa terkadang Vanya melihat Leon, bukan Abiel Nathanieth?
Bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal tersebut, karena itulah ia butuh sebuah... distraksi--pengalih perhatian--atau topik yang lebih pantas dibicarakan untuk makan siang.
"--ah." Mengatup dan terdiam beberapa detik, sebelum mulut tersebut mulai berbicara kembali. "Ba-bagaimana Mezgit-nya?"
Kepalanya sendiri segera lunglai menatap makanannya. Tangannya mengambil selembar tisu, sementara mata hitam hanya menatap Sigara Boregi yang ada di atas meja; makanan pembuka sekaligus makan siang, karena Vanya yakin kalori yang dikandung makanan ini cukup untuk hari ini.
...
Nuraninya langsung menolak pemikiran tersebut; musim dingin tidak mengenal ampun. Makanan yang berkalori tinggi justru menjadi sahabat untuk musim ini.
Agak perlahan dan segan, gadis berambut hitam ini mengambil makanannya--memperlakukannya seperti pisang--sebelum mulai menyantapnya, itu juga masih perlahan.
Vanya tidak mendongak.
"Bila kau yang ingin membayar semuanya aku sangat tidak keberatan, Abiel. Itu jika bila."
Pada kenyataannya, Vanya bukan tidak mendongak karena ia malu atau bersalah, namun untuk menyembunyikan senyum usil yang mulai merayap muncul di wajahnya. Gadis tersebut melanjutkan makan siangnya tanpa hambatan. |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
|
|