| Time | | Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880 |
| | | [ASIA] One Who Waits Before Destiny | |
| |
| Author | Message |
|---|
Li Lian Jie

Posts: 346 Pemilik: LLJ Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 14
 | Subject: Re: [ASIA] One Who Waits Before Destiny 17th April 2010, 21:35 | |
| OOC: Setelah melalui pemikiran panjang antara saya dan Eun Su, juga katanya Eun Su tanya2 sama staf, mari pakai sistem undian dadu biasa saja ==" Toh hanya pertarungan latihan tanpa inno, jadi tanding hoki pun tak masalah =))
Ganjil=meleset/ditangkis; genap=kena/ditangkap; angka 6=kena telak. credit to yang pertama kali mbuat ini aturan *nggak ngerti siapa* *digeplak*
"Tapi perlu kalian ingat," suara sang sang guru terdengar seusai Lian Jie dan teman seperguruannya itu menyampaikan jawabannya. "Kekuatan tidak hanya berasal dari fisik yang kuat, tapi dari pikiran, dan tentu saja..." Jie memandang sosok pria itu menepuk dadanya, "Hati."
Sebuah petuah yang amat berharga, mengena di hati. Benar-benar seorang 'guru'. Samar, Lian Jie mengulaskan senyum tipis di bibirnya yang dengan segera menghilang lagi.
Hati... ya? Kalau ingin kuat, maka hatinya juga harus kuat... ya? Tapi... bagaimana cara membuat hatinya kuat?
Sesampainya Lian Jie kecil di arena yang telah dipilihnya untuk berlatih tanding singkat, Song Eun Su muda pun menyusulnya. Jarak umur mereka kelihatannya tidak beda jauh.
“Saya siap kapan saja,” begitu katanya.
Lian Jie mengangguk. Tapi dia tidak melakukan apa-apa. Hanya berdiri diam, mengawasi gerakan apa yang akan dibuat oleh Eun Su.
Oh ya, Lian Jie tak pernah memulai suatu pertarungan. Dia cenderung menunggu datangnya serangan.
Jadi sekarang, serangan macam apa yang ingin diperlihatkan oleh murid lain asuhan Jenderal Jeong Hu itu? Lian Jie menunggu dengan teramat sabar dan teliti. |
|  | | Song Eun Su

Posts: 103 Umur: 19 Pemilik: Al2SiO5
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 16
 | Subject: Re: [ASIA] One Who Waits Before Destiny 20th April 2010, 19:26 | |
| Oot: TCT-nya Eun Su bisa buat 3x dadu ya~ Eun Su gak akan ragu menghajar seniornya *dibacok*
Rupanya sang senior lebih memilih untuk menanti datangnya serangan daripada serangan secara langsung. Seberanya niat awal Eun Su adalah bertahan daripada menyerang, tapi tak apa. Toh salah satu di antara mereka berdua harus memulainya. Atau tak akan berlangsung selamanya. Mata cokelat Eun Su mengawasi gerak gerik Lian Jie dengan seksama. Pikirkan strateginya, jangan sampai terdistraksi di tengah-tengah serangannya. Bisa-bisa Eun Su malah kena serangan dari si bocah. ”Fuuh.” Eun Su menarik nafas perlahan dan langsung melesat ke arah sang senior yang lebih muda darinya itu. Sekarang serangan apa yang harus dikerahkannya? Kaki depannya menghentak tanah dan otot daerah paha Eun Su memperkeras kuda-kuda yang dilakukan, diikuti gerakan kedua tangannya; mendorong daerah ulu hati Lian Jie. Kemudian kuda-kudanya merenggang dan kekuatannya diberikan pada kaki kanannya yang digunakan sebagai tumpuan dan melakukan tendangan memutar dengan kaki kirinya yang bebas. Seolah belum cukup menyerang, kaki kiri yang melayang dengan cepat kembali ke tanah dan kembali menguatkan kuda-kudanya. Tangan kirinya mengibas dengan cepat ke arah leher Lian Jie. Sepasang mata cokelat Eun Su tetap siaga, apa yang akan dilakukan Lian Jie? Sejauh ini Eun Su belum pernah melihat gaya tarungnya sekali pun.
urutan : Dorong-Tendang-Chop | This dice is not existing. | |
|
|  | | Li Lian Jie

Posts: 346 Pemilik: LLJ Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 14
 | Subject: Re: [ASIA] One Who Waits Before Destiny 20th April 2010, 20:20 | |
| OOT: LJ cuma bisa 2 kali. << Ceritanya, ngingetin diri sendiri untuk post ke depannya nanti *plak*
Ada banyak macam teknik bertarung yang sudah dipelajarinya selama masa pelatihannya. Baik dari buku, maupun tantangan yang dilayangkan dari sembarang orang yang tujuan akhirnya pasti hanya ingin menyapa bocah kecil ini. Tapi itu jauh disukai Lian Jie daripada hanya menegurnya dengan sapaan "Hai, Li" atau semacamnya. Teknik pertama adalah teknik yang paling banyak diketahui, yaitu menyerang. Lalu ada bertahan. Tapi Lian Jie bukan penganut kedua teknik itu. Dia lebih suka untuk menjadi petarung tipe ketiga. Apa itu? Kelihatannya saja bocah kecil ini mengamati lawan tandingnya, namun dia menambahkan indera pendengaran yang mendeteksi sebuah nafas dari Eun Su. Saat itu pulalah, sebuah genderang perang ditabuhkan di dalam alam imajinasi Li Lian Jie. Datang!Serangan pertama dorongan menuju ulu hatinya. Awal yang bagus, tapi juga ganas. Satu serangan ini kalau kena, bisa mengempaskan tubuh kecil Lian Jie. Tapi Lian Jie bisa berkelit menghindarinya dengan mengambil satu langkah ke samping kiri... oh, tapi langsung berhadapan dengan tendangan, ya? Tanpa membuat ekspresi kekagetan atau berminat pada gaya bertarung teman seperguruannya ini, Lian Jie mem-blok tendangan itu dengan kedua tangannya, yang diperkuat dengan kuda-kudanya. Serangan terakhir yang ditujukan pada lehernya juga dia hadang dengan tangan kosongnya yang tadi berfungsi sebagai pendukung tangkisan. Sudah semua? Gilirannya sekarang. Mata Lian Jie terbuka lebar-lebar, menyatakan bahwa ia telah membuat perencanaan yang untuk saat ini dinilainya cukup... untuk menguji, barangkali? Melangkah maju, menyusupi tubuh Eun Su, Lian Jie melancarkan satu sodokan dengan lutut kanannya ke bagian perut pemuda itu. Tak berhenti sampai di situ, Lian Jie melanjutkan lagi bersamaan dengan jungkir baliknya ke arah belakang (menjauhi Eun Su), ujung sepatunya digunakan untuk menendang dagu lawannya.
urutan: tendangan sodok-tendangan ke dagu dari bawah | This dice is not existing. | |
|
|  | | Song Eun Su

Posts: 103 Umur: 19 Pemilik: Al2SiO5
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 16
 | Subject: Re: [ASIA] One Who Waits Before Destiny 25th April 2010, 08:09 | |
| Tak terduga, Lian Jie memblok seranganannya tadi. Apa mungkin ia menahan diri karena usia lawannya masih muda? Tidak, itu tidak boleh Eun Su. Tetap konsentrasi dan tinggalkan rasa cemas. Toh ini juga sebagai pembuktian untuk gurunya yang sedang mengamati pertarungan ini. Kelopak Eun Su mulai menutupi bola matanya. Tarik nafas, hembuskan. Pusatkan pikiran dan liat gerakan lawan. Lian Jie datang! Eun Su mengencangkan lagi kuda-kudanya yang tadi sempat melemah dan bersiap menanti serangan pertama si bocah. Melihat ancang-ancangnya, Lian Jie akan melakukan tendangan ke arah perut, dan benar saja, tendangan cepat itu melesat nyaris mengenai perutnya. Sensasi panas dari gesekan kaki dan perut Eun SU mulai terasa, membuat Eun Su sedikit lengah dan... DUAK!! ”Urgh,” gumam Eun Su. Tendangan ke atas Lian Jie telak mengenai dagu Eun Su. Eun Su tersentak ke belakang, kakinya mulai kehilangan keseimbangan. Serangan ke dagu itu sangat fatal. Lihat saja kaki Eun Su yang mulai melemas. Eun Su tetap mempertahankan konsentrasinya sambil berusaha memperkuat lagi kuda-kudanya. Setelah cukup siap, pemuda Korea itu langsung melaju ke arah Lian Jie dan melakukan pukulan uppercut ke arah dagu Lian Jie. Dengan cepat kaki kanannya menyusul ke arah dada Lian Jie; melakukan tendangan tendangan sodokan yang mirip dengan jurus Lian Jie tadi. Bagaimana?
uppercut-tendangan | This dice is not existing. | |
|
|  | | Lim Jeong Hu

Posts: 172 Pemilik: Cairy Poin RP: 100
Biodata Posisi: General Cabang: Asia Umur: 33 tahun
 | Subject: Re: [ASIA] One Who Waits Before Destiny 25th April 2010, 14:23 | |
| Jeong Hu menyingkir dari arena latihan ke pinggir, hanya untuk sekedar menonton sambil membawa Gayageum yang dititipkan oleh Eun Su. Bersandari di pinggirna sambil menekuk kedua lengannya saling berangkulan di depan dada. Membiarkan kesibukan mata untuk memerhatikan tindak-tanduk kedua murid yang kini tengah memerlihatkan kemampuan bertarung mereka dengan tangan kosong.
Hanya mengedipkan mata sesekali setelah ada gerakan-gerakan tertentu yang pertama kali dihunuskan Eun Su pada seniornya. Oh itu bagus, ia memiliki keberanian untuk memulai pertarungan terlebih dahulu. Sedangkan Lian Jie, seperti biasa selalu menunggu adanya sedangan, mengingat egonya yang agak tinggi juga.
Tidak bisa melakukan hal lebih banyak, yang pasti saat itu pikirannya sibuk menilai. Gerakan yang dilakukan keduanya agaknya... cepat namun masih kurang cepat untuk serangan tangan kosong. Sementara keduanya nampak memiliki gerak reflek yang sama, dan tentu tangguh.
Segurat senyum tersirat. Akan puas dengan kedua muridnya ini. Selain karena mereka tangguh, memiliki motivasi kuat, lainnya adalah keduanya memiliki dasar yang cukup untuk mengembangkan potensi.
Selebihnya, Jeong Hu hanya bisa menikmati pertarungan yang ada, melihat dengan seksama. Sebenarnya berpikir juga bahwa akan lebih enak jika ia bisa duduk tenang sambil menghirup secangkir teh hangat. Inginnya. |
|  | | Li Lian Jie

Posts: 346 Pemilik: LLJ Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 14
 | Subject: Re: [ASIA] One Who Waits Before Destiny 25th April 2010, 20:18 | |
| Selesai melakukan tendangan yang diladeninya sambil berjungkir balik, Lian Jie menegakkan badannya, tanpa sekalipun mengurangi kewaspadaan. Dia tahu serangannya barusan berhasil. Tapi itu tidak berarti dia sukses melemahkan Eun Su. Junior? Senior? Tidak ada bedanya bagi bocah yang usianya masih tiga belas tahun ini. Siapa yang lebih tua? Siapa yang lebih muda? Siapa yang lebih dulu menjadi murid Lim Jeong Hu? Siapa yang berikutnya menyusul? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu sama sekali tidak dipikirkannya. Hanya ada satu saja yang sedari tadi mengganggunya: mana yang lebih kuat di antara mereka? Cukup itu. Song Eun Su, yang masih sanggup mempertahankan diri di atas arena, melancarkan sebuah pukulan yang pasti akan menghantam dagu Lian Jie kalau anak ini tidak mengelak. Pukulan dari bawah bisa saja fatal buatnya, menilik perbedaan tinggi badan di antara keduanya. DAgunya akan cepat terserang daripada yang diduga atau bisa saja salah sasaran dan mengenai hidung. Berkelit dengan lincah tanpa menyisakan jarak yang berarti, Lian Jie menyusupi kaki Eun Su yang berikutnya terangkat untuk menendangnya. Merunduk, membiarkan angin kecil menyapu rambutnya, sembari berjongkok, ia menjulurkan satu kakinya untuk menyapu kaki Eun Su yang menjadi penopang tubuhnya. Dikerutkannya dahinya secara tak sadar ketika ia menyalurkan sejumlah tenaga untuk menjatuhkan lawan tandingnya itu.
tendangan sapu~ | This dice is not existing. | |
|
|  | | Song Eun Su

Posts: 103 Umur: 19 Pemilik: Al2SiO5
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 16
 | Subject: Re: [ASIA] One Who Waits Before Destiny 26th April 2010, 08:20 | |
| Eun Su kaget saat kaki si bocah menysuup ke antara kakinya dan dengan cepat Lian Jie menyapu kakinya. Eun Su terjatuh keras ke tanah, menimbulkan suara yang cukup keras. Eun Su meringis, rasa sakit di tubuhnya mulai menjalar. Sungguh tak terduga dari bocah yang beberapa tahun lebih muda darinya. ”Ugh, anda hebat,” ujarnya lirih sambil berusaha berdiri lagi. Nafasnya memburu, dua serangan telak dari seniornya membawa dampak besar bagi Eun Su. Baginya saat ini cukup sulit untuk berkonsentrasi. ”Tapi saya belum selesai,” ucapnya lagi sambil menguatkan kuda-kudanya lagi. Dengan cepat tangan kirinya melakukan chop menuju leher seperti yang gagal di serangan pertamanya. Lalu sikunya melesat cepat ke arah ulu hati Lian Jie, menusuk seperti sengatan lebah. ’Masih belum!’ serunya dalam hati, menyemangati dirinya sendiri. Eun Su mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang dan melompat untuk melakukan tendangan menukik ke arah dada Lian Jie. Eun Su kembali mundur untuk istirahat sejenak, membuat nafasnya stabil kembali. Tubuhnya masih sedikit bergetar pelan. Ini cukup hebat, Eun Su merasakan sedikit kegembiraan yang jarang dirasakannya. Semangat untuk berjuang. Apa hal yang seperti ini akan terus berlanjut selama Lian Jie, Eun Su dan Jeong Hu bersama? Entahlah, masa depan bisa berubah dengan sangat mudah, tidak seperti masa lalu yang tetap diam dan tak akan berubah untuk selamanya.
chop-siku-tendangan | This dice is not existing. | |
|
|  | | Li Lian Jie

Posts: 346 Pemilik: LLJ Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 14
 | Subject: Re: [ASIA] One Who Waits Before Destiny 26th April 2010, 14:20 | |
| Nah, jatuh kan? Memang, kalau ingin lebih cepat mengakhiri suatu pertarungan, seranglah bagian tubuh lawan yang tugasnya mendukung kekokohan serangan. Lian Jie belum bisa menemukan kelemahan dari lelaki yang sedang dijajalnya itu secara pertarungan. Tapi dia bisa menyimpulkan kalau Song Eun Su suka sekali membuat serangan tusukan ke daerah vital tubuhnya. Serangannya memiliki pola. Satu pujian dari Eun Su yang terengah hanya membuat bocah kecil ini mengejap biasa. Bahkan tak ada gerakan alis yang menyatakan ia tersanjung atau berterima kasih. Hanya membalas sosok lelaki di hadapannya itu dengan pandangannya yang kelihatan kosong. Seperti melamun, tapi tidak juga. Kedua serangan tebasan dan tusukan dihindarinya dengan pewaktuan sempurna. Pada detik Eun Su mengambil jarak sebelum melakukan tendangan, Lian Jie melejit mendekatinya sambil berlari. Tadi, dia bilang minta temani 'pendinginan' kan? Raut mukanya sekarang penuh kekesalan: kedua alisnya bertautan dan bibirnya tertekuk ngambek. Satu tendangan tusukan dari Eun Su, lagi-lagi bentuk tusukan, mengenai sedikit lengan Lian Jie yang melindungi dadanya. Tapi bocah ini dengan lincah segera mengubah haluan: membuat step mundur unruk mengurangi tenaga serangan Eun Su yang menohok, kemudian berputar masuk ke area pertahanan atau serangan Eun Su (terserah yang mana), kemudian melancarkan satu serangan terakhir darinya. Tinju di perut. Soalnya kalau dihitung dari perbedaan ukuran tinggi badan, memang tangannya Lian Jie cuma bisa sampai di sana. Kena tidak kena, Lian Jie tidak peduli. Bocah ini cuma ingin 'pendinginan', bukannya malah membuatnya makin berkeringat sehabis latihan seperti ini. Yah, salahnya sendiri karena keasyukan juga sih. Setelah memutuskan duel di antara mereka sudah cukup, Lian Jie berdiri tegak dan mengatur napasnya selama sejenak. "Kau baru saja sampai di sini, kan?" Lian Jie menyapu keringat di bawah hidungnya dengan punggung tangannya. Kemudian ia mengulaskan senyum yang amat samar pada wajahnya, "Selamat datang di Black Order Asia," berhenti sejenak untuk mencari-cari sebuah kata yang dibacanya beberapa waktu lalu di buku pelajaran bahasa Korea, "... Hyung."Kemudian melengos pergi begitu saja ke pinggir lapangan, mencari barang-barangnya.
Serangan terakhir: blok-tinju | This dice is not existing. | |
|
|  | | Lim Jeong Hu

Posts: 172 Pemilik: Cairy Poin RP: 100
Biodata Posisi: General Cabang: Asia Umur: 33 tahun
 | Subject: Re: [ASIA] One Who Waits Before Destiny 26th April 2010, 19:03 | |
| Pertandingan selesai, begitukah?
Jeong Hu menyaksikan dengan seksama bagaimana tadi kedua muridnya ini melesat, saling menghantamkan serangan, menghindar, dan kena telak. Apapun itu, usaha keduanya sudah cukup pantas untu mendapatkan sebuah tepukan tangan dari sang guru. Tidak peduli siapa yang menang, namun ia cukup menyukai cara Lian Jie memberi salam pada rekan barunya.
Menyunggingkan senyum dari jauh. Kemudian melangkah ke tengah arena, mendekati Eun Su yang nampak tersungkur karena sudah habis-habisan melawan Lian Jie yang hanya berdecak meninggalkan arena latihan mengambil barang-barangnya. Jeong Hu hanya bisa melirik, sudah kenal kelakuan anak muridnya yang satu itu.
Mendekati Eun Su, "Selamat datang di Black Order Asia," berkata sembari mengulurkan tangan (menawarkan bantuan) tentu dengan senyum ala-nya.
"Setelah ini mungkin kita harus ke infirmari dulu," bergumam melirik Lian Jie seakan berkata bahwa ia harus ikut juga. "Sebelum berkeliling markas untuk memerkenalkan tempat-tempat di sini pada Eun Su," lanjutnya mengerling, menatap sang murid satu-persatu. |
|  | | Song Eun Su

Posts: 103 Umur: 19 Pemilik: Al2SiO5
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 16
 | Subject: Re: [ASIA] One Who Waits Before Destiny 31st May 2010, 19:47 | |
| Oot: Holy Sheep itu apaan dobel angka 6
Bahkan saking asyiknya, seorang Eun Su yang terkenal kalem dan bisa mengendalikan diri malah lupa kalau ini adalah sesi pendinginan. Semua yang dilakukannya bukanlah pendinginan, bahkan untuk pemanasan pun sepertinya agak berlebihan. Uh, Eun Su agak menyesal ia agak terlalu serius tadi. Kalau ia bisa mengendalikan diri pastinya ia tak akan bonyok seperti sekarang.
Walau begitu, Eun Su akui kemampuan tarung tangan kosong Lian Jie tidak boleh diremehkan. Entah berapa kali Eun Su kena telak serangan Lian Jie. Lagipula tangan kosong memang bukan keahlian Eun Su. Agak bagus bukan berarti ahli, eh?
Setelah merapikan dirinya dan seragamnya yang agak kotor, Eun Su dapat mendengar sambutan dari rekan dan gurunya. Walaupun terlihat agak...jaim pada awalnya, Lian Jie sampai memanggilnya Hyung –sesuatu yang baru pertama kali ini ia dengar semasa hidupnya. Terharu? Entahlah, wajah Eun Su tetap datar seperti biasanya.
“Terima kasih,” jawabnya singkat ditambah senyum hormat untuk kedua Exorcist yang lebih berpengalaman di depannya.
...Dan mungkin karena melihat luka-luka di tubuh murid-muridnya, Jendral Lin Jeong Hu langsung mengajak mereka kedua ke Infirmari. Aigoo, lukanya tak separah itu kok. “Baik, Jeong Hu-nim.” Biar bagaimanapun, Eun Su tetap menuruti titah gurunya untuk pergi ke tempat berbau obat itu. Kalau dipikir baik-baik, tidak ada salahnya juga merawat sedikit lukanya di sana. Kalau infeksi lebih bahaya kan?
Setelah semua siap – gayageum sudah diikat lagi di punggung, seragam sedikit lebi bersih — Eun Su menoleh ke arah Lian Jie. “Anda juga ikut?” tanyanya sopan pada si bocah. Ia juga punya beberapa luka dari “pendinginan” tadi kan? |
|  | | Li Lian Jie

Posts: 346 Pemilik: LLJ Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 14
 | Subject: Re: [ASIA] One Who Waits Before Destiny 2nd June 2010, 17:56 | |
| OOC: maap ya~ dobel 6 mwahahah! *dilempar*
Berjalan ke tepi ruangan berukuran amat besar itu, Lian Jie membungkuk dan menyambar baju Exorcist-nya seraya membentangkannya dan memakainya. Tak berbeda dengan Exorcist lainnya--hitam dan beraksen perak. Hanya bentuknya saja yang didisain sesuai dengan seleranya sendiri. Tidak suka hal yang merepotkan. Makanya bajunya juga yang tidak merepotkan. Sama seperti pakaian tradisional masyarakat China pada umumnya. Dipakai dengan cara menumpuk helai pakaian depan, yang kanan yang di bawah, lalu mengikatnya dengan sabuk kain. Sederhana, kan? Tapi sudah menunjukkan jati dirinya sebagai Exorcist dengan jelas. Usai berpakaian dengan agak rapi, ia membungkuk lagi dan mengambil sebotol susu sapi murni dan menegak isinya sampai habis saat itu juga. Susu bagus untuk pertumbuhan tulang, kan? Apalagi bagi pengguna tipe parasit sepertinya. jangan lupa, Innocence miliknya adalah tulang. Menghapus bekas susu di bibirnya, ia mendengar sang guru mengajaknya ke Infirmary. Tak salah tuh? Dirinya kan tidak terluka sama sekali. Paling hanya kelelahan setelah berlatih terus-terusan selama sekian jam. Bahkan bisa dibilang lumayan sering sampai mengikis waktu tidurnya. Lian Jie menghela napas Ketika ia juga mendengar ajakan dari Song Eun Su. Sekadar melirik sedikit bagian dari tubuhnya sebagai respon dan sebuah gumaman, "Mm."Toh ia sudah menunda cek kesehatan sejak seminggu yang lalu.Dan ia pun berjalan mendahului. Sambil menenteng botol susunya yang telah kosong. Sambil menahan keletihan yang tak pernah bosan dibawanya ke mana-mana. Apatis? |
|  | | Lim Jeong Hu

Posts: 172 Pemilik: Cairy Poin RP: 100
Biodata Posisi: General Cabang: Asia Umur: 33 tahun
 | Subject: Re: [ASIA] One Who Waits Before Destiny 2nd June 2010, 18:26 | |
| Memberikan senyumnya lagi. Terkadang bingung juga bagaimana cara terbaik untuk menghadapi para disciple selain dengan memberi mereka perintah. Oh, pendidik bukan tukang suruh, kalau gurunya dulu pasti bilang begitu, dan sedikit-sedikit Jeong Hu hanya bisa mencontek cara sang guru yang dikaguminya itu untuk diterapkannya kini. Akan tetapi hasilnya tidak sebagus, ia bahkan sering merasa kehilangan respektasi dari orang-orang di sekitarnya. Ehm, baiklah mungkin karena Jeong Hu bukan orang yang ambisius, ia datar-datar saja dan itu tampak tidak menyenangkan.
Satu-dua sekarang, dua orang anak yang harus dididiknya. Diberinya pengetahuan dari pengalamannya. Sulit. Ya sulit. Keduanya bahkan terkesan tidak akan bisa akrab dalam waktu yang singkat. Melihatnya saja merasa lucu.
Menepuk bahu Eun Su, ia mungkin merasa aneh ya dengan sikap orang-orang di sini, gurunya, rekannya, lingkungan baru? Itu biasa terjadi. "Ayo," membuat ajakan, kemudian melirik Lian Jie yang sudah duluan bergerak di depan, kelakuannya itu. Berbalik pada Eun Su lagi, "Tenang saja, ia pasti menyusul. Lagipula anak itu tahu di mana infirmari kok," hanya meyakinkan Eun Su bahwa Lian Jie, mungkin atau pasti akan mengikuti mereka.
...
"Nah, dari ruang latihan ini memang paling dekat ke infirmari. Mungkin karena didesain agar yang terluka saat latihan bisa langsung diberi pertolongan," bergumam panjang. Berjalan keluar, sesekali melirik ke belakang memastikan Eun Su mengikutinya, dan kemudian melirik ke depan agak Lian Jie tidak kabur darinya. Jeong Hu benar-benar... berada di tengah-tengah.
Ia tidak bisa memulai percakapan yang bagus memang. |
|  | | | | [ASIA] One Who Waits Before Destiny | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
|
|