Malam di musim dingin ini terasa begitu panjang. Alasannya sudah jelas, seri curahan hati dua orang Exorcist mengenai masa lalu mereka yang kelam. Ingatan tentang kematian orang tua mereka dan keputusasaan sempat memenuhi malam, mengguncang hati keduanya hingga mata mereka tak ragu lagi menitikkan air mata. Seperti yang sudah Song Eun Su kira, pembicaraan jujur akan melegakan hati dan meringankan sedikit beban.
Bahkan cahaya bulan pun jadi terasa begitu sendu, mengisi kamar milik Heidrich Kohler dan Song Eun Su. Semuanya mungkin terasa ebgitu dramatis, bukan? Dua orang itu punya jabatan yang sama, masa lalu yang mirip, dan luka hati yang serupa. Kebetulan? Takdir? Eun Su tak ambil pusing. Otaknya sudah terlalu lelah karena menahan kantuk dan terus mencoba meyakinkan Heidrich bahwa dirinya masih bisa berharap untuk lepas dari masa lalunya.
Mungkin keduanya jadi lebih dewasa malam ini? Siapa tahu.
Eun Su sadar Heidrich sudah menarik dirinya dan kembali ke tampatnya semula, sesuai sarannya barusan. Heidrich mengambil selimutnya dan langsung berbaring. Sesaat pemuda Korea itu tahu, bocah itu terkuras energinya malam ini.
"Guten Schlaf, Yunsu. Möge Gott Sie segnen."
...?
Eun Su sama sekali tak mengerti apa yang diucapkan si bocah dari tempat tidurnya. Bahasa Jerman? Jangankan itu, kemampuan bahasa Inggris Eun Su saja cukup parah. Tapi Eun Su bisa sedikit menebak, mungkin itu ucapan selamat malam. Tentunya Eun Su sadar Heidrich salah mengucapkan namanya, tapi itu tak masalah. Nama khusus tak berarti apapun untuk Eun Su.
"Istirahatlah, hari esok masih menunggu," ujarnya sambil tersenyum. Eun Su mencoba sekuat tenaga menutup matanya dan melepas kesadarannya. Hari esok akan segera tiba dan baik Eun Su maupun Heidrich masih harus berusaha untuk menghadapinya.
Tiba-tiba saja, entah mimpi atau apa, Eun Su dapat melihat bayangan ibunya. Wanita itu tersenyum lembut padanya, seolah-olah senang anak satu-satunya ini menjadi orang yang cukup baik.
Omoni, aku akan berjuang...
[FIN]