| Time | | Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880 |
| | |
| Author | Message |
|---|
Heidrich Kohler

Posts: 50 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 12 tahun
 | Subject: Re: [ASIA] Stained Memories 3rd February 2010, 18:10 | |
| Namanya dipanggil, lagi.
Sungguh, ia sangat berharap kalau nada suara dari pemuda tersebut milik dari ayahnya; dengan demikian, bocah ini pasti tahu dalam beberapa lama tangisnya akan berhenti--ayahnya selalu tahu apa yang harus ia lakukan ketika satu-satunya peninggalan ibunya bertingkah, baik itu karena sedih atau karena usil.
Hanya saja, suara tersebut bukan milik ayahnya.
"Semua ada waktunya. Awalnya memang sulit, tapi teruslah berharap, Heidrich,"
Bocah ini menggeleng lagi. Ingin ia berteriak, membuat pemuda itu sadar bahwa apa yang sudah ia lakukan itu tidak mungkin bisa dimaafkan. Sebodo apa pemuda ini tahu atau tidak--ia ingin berteriak di depan mukanya bahwa hal itu mustahil.
"Hei. Kenapa Heidrich tidak cerita saja padaku? Lumayan ampuh, kukira,"
Tubuh bocah ini terdiam; otak sebentar-sebentar menimang opsi yang diajukan pemuda tersebut, sampai akhirnya jawaban jelas menggema dalam pikirannya. Sebuah jawaban yang masuk akal bila dipikirkan kembali, karena Heidrich masih seorang bocah.
Bagaimana mungkin ia bisa menerima kenyataan.. bahwa apa yang terjadi pada dirinya memang sudah ditoreh pada batu; tidak bisa diubah dan diganggu gugat?
Kepala berambut coklat itu menggeleng kecil. Ia tidak mau bercerita--rasanya sama saja seperti mencambuk dirinya sendiri. |
|  | | Song Eun Su

Posts: 103 Umur: 19 Pemilik: Al2SiO5
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 16
 | Subject: Re: [ASIA] Stained Memories 5th February 2010, 16:34 | |
| Eun Su sedikit tertegun saat Heidrich diam dan menggelengkan kepala mungilnya. Bukankah itu pertanyaan yang cukup bodoh? Yah, mungkin anak itu memang belum siap untuk menceritakannya pada Eun Su. Respon baliknya, Eun Su mengusap-usap ubun-ubun Heidrich lembut. "Kalau begitu, tidak apa-apa," ucapnya lembut. Perlahan Eun Su melepaskan pelukannya dari tubuh sang rekan yang sedang menangis. "Omoni--ibuku--dulu pernah bilang, saat kita sedih pun, kita harus tetap tersenyum," lanjutnya datar, menceritakan sedikit kenangan manis dengan ibunya. Ya, Eun Su bisa sepenuhnya mengingat saat dirinya dalam versi anak-anak menangis tak karuan karena terjatuh di pasar saat sedang berbelanja dengan ibunya. Dengan tenang, ibunya tersenyum lembut dan menyanyikan sebuah lagu ceria. '하더라도 당신의 마음 슬픈 미소 짓고...' Eun Su tersenyum kecil mengingatnya. Kata-kata itu terus tengiang-ngiang di dalam hatinya. Mungkin bagi beberapa orang, ucapan ibunya itu tidak terlalu berarti. Tapi baginya, itu adalah sedikit kenang-kenangan manis. "Hidup ini seperti musik, bersenandung dengan lembut..." Sebuah senandung terdengar dari mulut pemuda asal Korea. Tanpa meminta izin dari rekannya--yang mungkin saja keberatan atau apa--Eun Su langsung menyanyikannya. "Bahkan ketika sedih, aku menari,
Hapus air matamu dengan senyum,
Semua orang begitu baik, mari bermimpi,
Masa depan kita telah terhubung,
Ayo kemari, datang dan saling menyayangi..."Sebuah senyum lembut terpasang di muka pemuda Korea. Sebuah senyuman dan nyanyian yang tulus dari hatinya.
하더라도 당신의 마음 슬픈 미소 짓고 = Kalaupun hatimu sedih, tetaplah tersenyum Lagu di atas adalah : FT Island - Life Is Like a Musical Maaf translatenya abalan, nanti kalo ketemu yang lebih bagus (translatannya) saya langsung ganti |
|  | | Heidrich Kohler

Posts: 50 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 12 tahun
 | Subject: Re: [ASIA] Stained Memories 23rd February 2010, 14:33 | |
| "Omoni--ibuku--dulu pernah bilang, saat kita sedih pun, kita harus tetap tersenyum,"
Tersenyum katanya? Sungguh, bocah ini tidak mengerti. Maksudnya, sejauh yang bisa ia pahami, ia tersenyum karena memang ia lupa akan kesedihannya, meskipun beberapa saat. Tentu saja Heidrich sedikit-sedikit sadar akan hal ini (bagaimana mungkin ia bisa tidak tersenyum bila melihat eksekusi rencana usilnya berhasil?).
Dan pemuda yang lebih tua di hadapannya ini menyanyi, lagi--setidaknya bocah berumur 12 tahun ini tahu bahwa nada yang dibawakan Eun Su tidaklah sumbang. Sebuah nada lagu yang... bisa dibilang cukup gembira?
Hm? Otot pipinya menegang? Selucu itukah keadaan mereka berdua hingga mulutnya menyunggingkan senyum?
"Meh, kalau memang sedih masa' harus tersenyum juga?" Ekspresi wajah cukup tenang sempat muncul beberapa saat segera hilang digantikan ekspresi masam. Mata kuning kecoklatannya kini berhadapan dengan mata hitam, meminta penjelasan mengapa hal itu harus demikian. |
|  | | Song Eun Su

Posts: 103 Umur: 19 Pemilik: Al2SiO5
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 16
 | Subject: Re: [ASIA] Stained Memories 24th February 2010, 13:57 | |
| Melihat sebuah senyuman kecil di muka Heidrich membuat Eun Su manjadi bertambah senang. Senyum tipisnya melebar. Kegalauannya tadi sirna begitu saja, seperti sinar bulan yang ditutupi oleh awan tadi. Walau Eun Su tidak yakin kapan awan kelabu itu pergi dan menimbulkan perasaan tidak enak seperti tadi. Yah, untuk sekarang, ada baiknya untuk ceria sedikit.
"Meh, kalau memang sedih masa' harus tersenyum juga?"
"Kalau begitu kenapa tidak Heidrich coba saja sendiri?" ujar Eun Su.
Sekali lagi Eun Su mengusap rambut anak di sebelahnya. "Ayo cobalah, aku ingin melihatnya," ucap Eun Su santai. Kemudian kedua mata cokelatnya menatap lurus-lurus wajah Heidrich. Eun Su tersenyum lembut sambil menanti datangnya senyuman.
Yah, itupun kalau Heidrich benar-benar mau... |
|  | | Heidrich Kohler

Posts: 50 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 12 tahun
 | Subject: Re: [ASIA] Stained Memories 27th February 2010, 19:18 | |
| "Kalau begitu kenapa tidak Heidrich coba saja sendiri?"
Permintaan yang mudah, sebenarnya. Lagipula, siapa pula yang tidak bisa tersenyum ketika seseorang memintanya untuk tersenyum? Hei, bocah yang satu ini malah lebih sering terlihat tersenyum ganas (karena beerniat untuk mengusil) atau mengikik dengan penuh tanda tanya (karena baru saja menyelesaikan leluconnya yang paling berdampak). Tentunya, sebuah senyum simpul kecila bukanlah masalah bukan?
Lalu, mengapa ujung bibirnya tidak meregang; mengapa bibirnya tidak menunjukkan senyum?
"Ayo cobalah, aku ingin melihatnya,"
"....Ich will nicht schmunzeln." Bocah ini berbisik. Ada yang mengganjal kerongkongannya saat kata-kata tersebut meluncur dari mulut, dan bocah ini tahu lebih dari siapapun bahwa matanya pasti berkaca-kaca, lagi. Otaknya merumuskan beberapa kata serapah--hanya beberapa yang pernah ia pelajari dari staf dapur.
"...Eun Su baik ya. Ibumu pasti senang di atas. Kalau aku..."
Dan kata-kata tersebut terhenti, bersamaan dam yang segera hancur--air mata Heidrich bahkan sudah turun sebelum bocah ini berusaha mengelapnya lagi. Kenapa ia menjadi cengeng begini? Bodoh baginya--apa kata ayahnya nanti? Apa Tuhan sejahat itu hingga sepertinya jalan terbaik baginya adalah... mengumbar segalanya?
...Mungkin lebih baik?
"...ibuku tidak mungkin senang." Satu senyum; agak janggal mengingat diri bocah tersebut belum bebas dari tangis yang membasahi pipinya. "Aku yang mengirimnya ke atas... Mana mungkin ibu senang?"
Suaranya bergetar. |
|  | | Song Eun Su

Posts: 103 Umur: 19 Pemilik: Al2SiO5
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 16
 | Subject: Re: [ASIA] Stained Memories 19th March 2010, 13:49 | |
| "....Ich will nicht schmunzeln."Sebuah tanda tanya besar muncul di benak pemuda asal Korea itu. Baiklah, faktanya ia sama sekali tidak bisa bahasa Jerman, bahkan bahasa Inggris saja ia masih harus belajar banyak. Dan kali ini bocah di depannya bergumam dalam bahasa ibunya, mana Eun Su mengerti? "...Eun Su baik ya. Ibumu pasti senang di atas. Kalau aku..."Oh, ia mulai lagi. Eun Su menyiapkan kedua telinganya untuk mendengar apa yang akan diucapkan Heidrich selanjutnya. "...ibuku tidak mungkin senang." Bodoh... "Aku yang mengirimnya ke atas... Mana mungkin ibu senang?"Eun Su mengusap lembut air mata di pipi Heidrich. Lalu telunjuknya ditaruh di depan bibir Heidrich perlahan, menyuruhnya berhenti. Mungkin semua ini terlalu berat untuk ditanggung anak seumurannya. Beban batin yang bahkan orang dewasa sekalipun belum tentu bisa menanggungnya. Lihat saja Eun Su sendiri! Tak ada alasan lain air matanya selalu keluar di tengah malam selain karena menyesal. "Sebelum memaafkan orang lain..." ucap Eun Su tenang, tangannya yang bebas mengusap rambut Heidrich sekali lagi. "Kau harus bisa memaafkan dirimu terlebih dahulu. Kukira ibu kita akan berpikir hal yang sama di sana," lanjut Eun Su dengan suara agak bergetar. Eottae, eomma? Apakah benar seperti itu? |
|  | | Heidrich Kohler

Posts: 50 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 12 tahun
 | Subject: Re: [ASIA] Stained Memories 19th March 2010, 23:51 | |
| "Sebelum memaafkan orang lain... Kau harus bisa memaafkan dirimu terlebih dahulu. Kukira ibu kita akan berpikir hal yang sama di sana,"
Heidrich menggigit bibir. Tangannya menyeka air mata yang terus turun tidak berhenti. Di saat seperti ini, ketika memang ada orang yang mengatakan hal tersebut padanya (seakan ada yang mengatakan hal tersebut padanya? Meh--sama sekali tidak ada, setidaknya di cabang Asia), di dalam kepalanya segera terbayang wajah ayahnya--bagaimana ayahnya memeluknya, tidak mengusap-usap kepalanya seperti saat ketika dirinya jatuh dari tangga dan melukai lututnya atau ketika ia melakukan kesalahan aneh di depan orang-orang.
Ayahnya tidak mengusapnya, ketika beliau terpaksa membunuh ibunya untuk kedua kalinya.
"Nggak bisa.. Dosaku terlalu besar, dan aku pasti masuk neraka.." Bocah tersebut terisak lagi, setengahnya adalah karena ia memang bersalah. Setengahnya lagi karena ia tahu pasti dirinya dikirim ke neraka--bagi bocah seperti dirinya, dua-duanya memacu perasaaan bersalahnya.
Kali ini, senyum janggal yang sempat mewarnai wajahnya kini hilang dimakan ekspresi pahit dan sedih. Bocah ini benar-benar menangis, tidak hanya menahan ekspresinya agar tetap kelihatan solid--tidak hancur, hanya ceria. |
|  | | Song Eun Su

Posts: 103 Umur: 19 Pemilik: Al2SiO5
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 16
 | Subject: Re: [ASIA] Stained Memories 26th March 2010, 14:56 | |
| “Kukira…” Eun Su sedikit menambahkan ucapan yang tadi belum sempat ia katakan pada bocah di hadapannya, dengan senyum lembut –yang entah kenapa ia tak bisa menjadi pemuda tanpa emosi seperti biasa di hadapan Heidrich–, pemuda Korea itu berkata, “Kau terlalu memikirkannya, padahal semua pemikiran itu kupikir belum tentu benar.”
”Nggak bisa.. Dosaku terlalu besar, dan aku pasti masuk neraka..”
Bocah itu tersenyum janggal, mungkin persis ketika tadi saat ia berusaha menutupi kesedihannya. Tidak, rasanya terlalu banyak kesamaan dalam masa lalu mereka. Walau untungnya ayah Heidrich masih hidup sehat di Inggris sana. Perlahan Eun Su mulai mengerti kesedihan Heidrich.
...Namun tetap saja ia agak gemas dengan ucapan terakhir bocah itu.
”Cukup Heidrich,” ucap Eun Su yang sedikit menaikkan nada ucapannya itu –jadi setengah marah, atau begitulah– dan kemudian mencubit kedua pipi Heidrich yang basah karena air mata. Apakah tak ada sedikit pun cahaya harapan dalam sosok bocah yang biasanya usil ini? Itu membuat Eun Su sedikit terkejut. ””Tak seorang pun mengetahui dunia mana yang akan dimasuki oleh kita kelak, selain Tuhan. Kumohon, sedikit berharaplah. Walau yang sudah meninggal tak akan kembali, setidaknya kita bisa menerimanya dengan lapang dada,” bisiknya lembut. Eun Su perlahan menghela nafasnya.
Yah, setidaknya itulah yang selalu Eun Su pikirkan saat dirinya kembali menyalahkan diri sendiri...
Bahkan kotak pandora yang berisi kejahatan itu menyisakan sebuah batu harapan di dasarnya, dan Eun Su yakin Heidrich pun seperti itu. Benar kan? |
|  | | Heidrich Kohler

Posts: 50 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 12 tahun
 | Subject: Re: [ASIA] Stained Memories 26th March 2010, 15:09 | |
| Ah, belum pernah ada yang sebaik ini.
Maksudnya, tentu ayahnya memang baik; selalu melindunginya dari marabahaya, menyayanginya bahkan setelah apa yang ia lakukan. Namun, ini pertama kalinya Heidrich mendapat perhatian orang lain, setidaknya dalam hal ini. Yah, bila ia tidak menghitung gurunya sendiri, mungkin Eun Su menjadi orang pertama agar mulutnya terbuka untuk mengutarakan pikirannya.
Terisak sebentar, tangannya mengusap-usap pipi yang dicubit; tidak sakit, namun masih terasa tanda bahwa tekanan telah diberikan pada sisi tersebut. Itu membuatnya cukup merasa tidak nyaman.
"Aku nggak tahu, Eun Su.." terisak lagi, tangannya menyapu air mata yang masih jatuh. "Tuhan tidak mungkin memaafkan anak yang menjadikan ibunya... hik.. hik..."
Ada perasaan antara mau tak mau; Heidrich berhenti di tengah menyelesaikan kata-katanya. Ia akan merasa sangat malu, seakan tak dimaafkan, kalau satu kata tersebut keluar dari mulutnya.
"...Ak.. Akuma kan....?" Mulutnya merapat, giginya menabrak, sementara Heidrich ingin dirinya tenggelam saja dalam tidur--lolongan ibunya terdengar menyakitkan. |
|  | | Song Eun Su

Posts: 103 Umur: 19 Pemilik: Al2SiO5
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 16
 | Subject: Re: [ASIA] Stained Memories 29th March 2010, 05:00 | |
| "Tuhan tidak mungkin memaafkan anak yang menjadikan ibunya... hik.. hik......Ak.. Akuma kan....?"
Deg. Mendadak saja hatinya terasa berat setelah mendengar ucapan bocah berambut cokelat itu. Tuhan, kenapa anak ini mendapat ujian yang sangat keras? Satu potong kalimat itu menyingkap semua kabut penyebab kotak pandora milik Heidrich belum juga mengeluarkan cahaya harapan. Akuma. Mengapa selalu makhluk kejam itu yang menyebabkan penderitaan?
Tiba-tiba saja perutnya terasa mual. Ia bisa membayangkan kejadian itu, tentunya akan menimbulkan penyesalan yang sangat mendalam.
Tangan Eun Su merangkul daerah kepala Heidrich dan menyenderkannya di dadanya. Tetes air mata kembali terbit dari matanya. Tetes air mata iba itu tidak sederas air mata yang pertama dikeluarkannya malam itu. Rasa empati yang mendalam merasuk ke dalam hati Eun Su.
”Heidrich..” ucapnya lembut, seakan takut bocah yang rapuh itu akan pecah, sambil sesekali mengusap rambut kecokelatan yang menutupi ubun-ubunnya. Banyak kata yang ingin ia ucapkan pada Heidrich, namun rasanya agak sulit merangkainya saat otaknya sedang seperti ini. Namun ia harus tetap mencoba memancing benih harapan dalam hati Heidrich perlahan dengan kail beruoa ucapan-ucapan yang menenangkan. Setidaknya harapan Eun Su begitu, ia tak berharap lebih. Ia hanya ingin Heidrich menyadarinya.
”Dengarkan aku, nasi sudah menjadi bubur, dosa sudah tercatat, kesedihan sudah tercipta. Renungilah apa yang sudah kau lakukan, seberapa besarnya dosa itu. Masa lalu tak akan pernah bisa diubah, namun masa depan masih belum tercipta,” ujarnya tenang. Eun Su menghembuskan nafas perlahan. ”Kita lupakan saja masa lalu, dan melakukan yang terbaik untuk hari ini dan nanti. Bagaimana?” tanyanya sambil menghapus air mata yang sekali lagi menetes di pipinya.
”Mungkin saja dengan begitu, Tuhan akan memaafkan kita...” Eun Su melonggarkan rangkulannya dan menggenggam tangan Heidrich.
Oot : Woah, lama-lama si Eun Su alih fungsi jadi Priest ini *plak* |
|  | | Heidrich Kohler

Posts: 50 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 12 tahun
 | Subject: Re: [ASIA] Stained Memories 2nd April 2010, 01:38 | |
| Heidrich hanya mendekapkan dirinya pada Eun Su. Sungguh, mengapa malam tersebut mulutnya harus terbuka, matanya harus menitikkan air, dan memorinya kembali memainkan hal yang tidak ingin ia ingat? Perlu ia ingatkan bahwa ini akibat Eun Su juga; jika ia tidaksedang bersedih hati saat itu, mungkin segalanya tidak akan menjadi seperti ini. Mungkin saja, ia akan merasa lebih tenang; tidak akan teringat dengan masa lalunya kemudian segera terlelap tidur.
Mungkin.
Heidrich tidak memberanikan diri berbicara. Napasnya tersumbat; isak tangisnya tidak bisa berhenti. Pada saat ini, ia teringat ayahnya yang akan memeluknya, seperti apa yang dilakukan Eun Su sekarang,
Ah, ya; pantas dirinya tidak banyak berulah. Rasa nyaman ini mirip dengan rasa nyaman yang diberikan ayahnya.
Bocah ini tidak berani mengangguk; meninggalkan masa lalu, katanya? Berarti... melupakan bahwa ia bersalah? Berarti...
"...Bu-bukankah itu artinya... melupakan bahwa... kita pernah berdosa?" Tangannya mengepal, dan Heidrich gemetar takut. "...Bukankah itu.. tidak dibolehkan?" |
|  | | Song Eun Su

Posts: 103 Umur: 19 Pemilik: Al2SiO5
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 16
 | Subject: Re: [ASIA] Stained Memories 16th April 2010, 16:41 | |
| Entah sudah berapa kali Exorcist muda bernama Heidrich Kohler mengatakan hal-hal yang sulit. Eun Su tak tahu apa yang membuat bocah di depannya ini begitu berat. Eun Su tak tahu apa lagi yang harus diucapkannya, kehabisan kata-kata. Eun Su hanya tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan selain mengusap perlahan ubun-ubun Heidrich, memberinya setidaknya sedikit rasa nyaman.
Diam, setidaknya untuk beberapa saat Eun Su merasanya nyaman atas kesunyian yang mereka ciptakan.
“Begini,” mulai Eun Su lagi, dengan senyum di wajahnya, “Dulu guruku pernah bercerita, tentang seekor kawanan elang. Kau pernah dengar?” tanyanya pada si bocah. Barangkali saja dia tau banyak cerita-cerita hewan, malah mungkin mengalahkan pengetahuan Eun Su.
Sedikit menarik nafas dan menghembuskannya lagi ke alam bebas, Eun Su lanjut bercerita, ”Konon anak-anak elang yang baru ditetaskan tinggal di atas gunung yang tinggi bersama induknya. Saat anak-anak elang sudah siap untuk melangkah ke dunia luar, mereka tak ragu untuk coba mengepakkan sayap yang belum pernah mereka gunakan dan berusaha untuk terbang, tak peduli seberapa jauh jarak dari sarang mereka ke tanah, tak peduli seberapa sakit mereka jika jatuh...
Karena anak-anak elang itu tahu, jika mereka terus diam di sarang, mereka tak akan bisa melangkah ke tahap kehidupan yang selanjutnya. Lagipula tak mungkin sang induk diam saja melihat salah satu anaknya terjatuh dan mati.”
Eun Su diam sebentar untuk mengistirahatkan pipinya yang agak pegal. Jarang-jarang ia bicara banyak seperti malam ini. Benar kan?
[color=silver] “Sekarang kita bayangkan jika anak elang itu adalah Heidrich dan aku,” lanjutnya lagi setelah cukup beristirahat. “Dan anggaplah ketinggian sarang sebagai banyaknya dosa yang telah kita perbuat. Baik Heidrich maupun aku, tak boleh terus berdiam di sarang karena takut akan dosa-dosa yang terdahulu. Kita harus terus mencoba untuk terbang. Di langit sana ada Xiao Ling-nim dan Jeong Hu-nim, selalu berjaga-jaga di saat kita oleng dan kehilangan keseimbangan. Kita tak kan pernah sendirian di tengah markas Black Order cabang Asia ini.”
“Tapi sebelum itu, kaki mungil kita harus terlebih dahulu melangkah ke luar sarang. Kita harus jadi berani karena keberanian mengalahkan rasa takut sekalipun,” ujarnya lagi sambil menggenggam tangan mungil Heidrich, memberinya sedikit rasa hangat di tengah malam yang dingin ini.
oot: nonsense? emang *rofl* semuanya hasil karangan saya waktu stuck kemaren u_u |
|  | | Heidrich Kohler

Posts: 50 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 12 tahun
 | Subject: Re: [ASIA] Stained Memories 27th April 2010, 22:14 | |
| Masih terisak, bocah ini tidak tahu harus bagaimana lagi. Mendengar kata-kata Eun Su mungkin sempat membuatnya sedikit merasa tenang, namun itu tidak mengusir kenyataan. Ya, ia yang telah menyebabkan kematian kedua ibunya. Itu fakta yang tidak bisa dibantah, bahkan oleh ayahnya sekalipun. Faktanya, ia sendiri. Namun, cerita Eun Su seakan memberinya harapan--bahwa ia tidak sendiri, bahwa ia masih pantas untuk disayangi bahkan setelah membunuh ibunya sendiri, bahwa Eun Su masih bersedia menemani seorang anak durhaka pada ibunya sendiri. Ia tidak sendiri. Mungkin. Sesenggukan, bocah ini hanya mengangguk pasrah. Sebodo; ia aman sekarang, tidak disalahkan oleh rasa bersalahnya sendiri. Ia lelah, dan butuh seseorang untuk menenangkannya. Sebodo; mungkin Eun Su bisa sedikit menenangkan outrage ini. Jujur saja, ia tidak bisa berpikir--apa Eun Su sengaja mengatakan ini hanya untuk ketenangan sesaat? Tangan kecilanya menggenggam erat, mulut mecoba mencegah kata-kata lain keluar--setidaknya yang tidak diinginkan.
|
|  | | Song Eun Su

Posts: 103 Umur: 19 Pemilik: Al2SiO5
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 16
 | Subject: Re: [ASIA] Stained Memories 7th May 2010, 08:14 | |
| Jujur saja, Song Eun Su merasa tubuhnya sudah capek malam ini. Bicara, menangis, dan lainnya membuat energinya yang sudah cukup minim itu surut. Tapi tak apalah, semuanya berakhir dengan cukup baik. Siapa tahu saja Eun Su dan Heidrich bisa lebih akrab ke depannya. Itu hal yang sangat baik kan?
"Bagaimana, merasa lebih baik?" tanyanya lembut pada si bocah yang masih sesenggukan sambil sesekali mengusap ubun-ubun Exorcist yang lebih muda itu. Entah berapa kali tangan Eun Su menyentuh kepala Heidrich malam ini. Semoga saja ia tak marah nanti kalau Eun Su mengusapnya lagi.
Lagipula, entah sudah berapa lama Eun Su tidak merasakan sensasi lembut di rambut hitamnya. Sentuhan yang hangat dan menyenangkan...
Eun Su menguap pelan padahal ia sudah berusaha menahannya. Bagaimana pun juga ini sudah tengah malam; waktu tidurnya sudah lewat. Apalagi untuk Heidrich, seharusnya ia tidur lebih cepat.
"Tidurlah, untuk memperbaiki perasaan dan memulihkan tubuh," ujarnya sambil tersenyum tipis.
oot : tamatkan? |
|  | | Heidrich Kohler

Posts: 50 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 12 tahun
 | Subject: Re: [ASIA] Stained Memories 2nd June 2010, 01:33 | |
| Heidrich hanya bisa mengangguk. Apa kuasanya, coba daftarkan, setelah ia berhasil menangis semalaman, mempermalukan dirinya sendiri di depan seorang disciple daripada guru yang lain? Apa kata gurunya pula nanti? Perlukan ia malu?
Heidrich masih memiliki banyak waktu untuk belajar malu; untuk sekarang, ia hanya ingin disayang--tidak, mungkin lebih tepatnya, merasa bahwa ada orang lain yang tahu masalahnya dan bisa memberikan sebuah pencerahan; membuat hatinya merasa lebih ringan, meskipun kait-kait penyesalan masih mengikatnya dari paradigma dosa.
Heidrich tidak berkata-kata lebih. Bocah tersebut hanya memberikan gestur sederhana yang dimengerti segala jenis umat: pertanda kesetujuan. Ia keburu menarik diri, membisu dalam perhentiannya menuju tempat tidur dan mengambil selimutnya yang tergeletak di lantai. Dingin; kehangatan tubuh manusia kadang menjadi sesuatu yang bisa menepis kejamnya malam--selimut tidak sehangat dna semanis itu.
Namun, entah mengapa, mungkin ia masih bisa tidur dengan itu.
Ketika bocah tersebut membaringkan dirinya, mata kuning-kecoklatan sempat menatap kosong langit-langit. Ingin berpikir, namun otaknya sudah lelah. Matanya perlahan menutup, sementara mulut hanya membisikannya sebuah salam selamat--
"Guten Schlaf,*) Yunsu. Möge Gott Sie segnen.**)"
--dan doa, dalam bahasa Jerman. Doa, karena Heidrich sudah terlalu lelah untuk berkomentar hal lain. Tidur menjemputnya dalam selang waktu beberapa menit, setelah dirinya terbaring.
OOC: *) Selamat tidur. **) May God bless you.
...Ang yeah, Heidrich memanggilnya Yunsu. |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
|
|