An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» [AMERICA] Unusual Training
by Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
by Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
by Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
by Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13

» [AMERICA] Tea Late at Night
by Felicia Miles 30th January 2011, 09:13


Share | 
 

 [CENTRAL] Just a Stupidity

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2
AuthorMessage
Shion R. Herleifursdóttir



Posts: 85
Umur: 16

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 16 y/o

PostSubject: Re: [CENTRAL] Just a Stupidity   26th December 2009, 14:15

Langkah mendekat, yang sontak membuatnya tanpa sadar melangkah mundur, atau kalau dari posisinya dikatakan maju. Entah kenapa ia merasa takut, jika tubuh mereka kembali menciptakan jarak pandangnya untuk menangkap obsidian kemarahan itu. Takut atas tamparan tadi? Bukan juga. Ia sudah belajar gara tidak trauma karena hal sepele walau tubuhnya terbakar sekalipun, meskibun begitu tetap saja ia melangkahkan kakinya perlahan, makin lama sengaja dicepatkan seiring dengan irama Lio untuk mendekati tubuhnya juga, sengaja dilakukan untuk mempertahankan jarak di antara mereka.

Terlambat.

Jenjang kaki Lio lebih cepat dan lebih panjang untuk mengurungnya sekarang di dalam jalinan kedua tangannya. Merasakan arus dorongan untuk tak maju lagi, Shion berhenti, merasakan kehangatan tubuh di selosor bagian punggung tubuhnya. Ingin bergerak tapi tak ada perubahan berarti dalam sikapnya, hanya diam ketika pemuda itu berkata bahwa kesedihanlah yang akan ia alami jika Shion tidak ada.

Benarkah?
Apa itu sebuah dusta.
Hanya untuk membuat hatinya tenang?

Ia tak tahu dan tidak mau memikirkan sejauh jawaban tersebut dapat membuatnya tak lagi merasakan kesendirian sekarang. Jawaban palsu pun tak masalah jika itu bisa membuatnya merasakan kehangatan ini. Perlahan kedua tangan menyentuh lembut jalinan yang melingkupi tubuhnya. Suara tenor ramah itu seakan menghilangkan segala kemarahan yang sempat membuatnya syok tadi. Samar merasakan rasa nyaman, jika bisa ingin waktu berhenti sekarang juga.

"Jika begitu apakah aku.."

--masih boleh berada di sisimu?

Ingin mengucapkan kata itu, tapi hanya suara kosong tak berarti yang terlontar keluar. Apa Lio mengerti maksudnya? Entahlah. Kembali, perlahan tangan membuka jalinan tersebut, melepaskannya. Sebenarnya tidak ingin, hanya saja ia tak pantas untuk pemuda itu, masih ada Allegra bukan? Dan yang lain yang lebih baik darinya, Shion yakin Lio akan menemukannya.

"Terimakasih--Lio"

Mendongak, menatap obsidian itu.

Tersenyum lemah.

Rasa sakit masih ia rasakan, tapi tak seperti tadi.
Back to top Go down
View user profile
Lioret I. Shirogane



Posts: 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

PostSubject: Re: [CENTRAL] Just a Stupidity   26th December 2009, 14:53

"Jika begitu apakah aku.."

Menegekan kepalanya—bukan tubuhnya—masih tersenyum kecil dengan mata yang nyaris tertutup. “Hm?” menunggu kelanjutan kalimat Shion yang terputus. Shion lebih muda 2 tahun darinya, sudah ia anggap sebagai adik sendiri maka ia menyayanginya, lebih dari siapapun di Black Order, termasuk Masternya dan teman-temannya. Kalau Lio tidak bersedih saat gadis itu menghilang dan tidak kembali lagi, seperti keluarganya dulu, bahkan ia ragu apa ia bisa melanjutkan jalannya sebagai seorang Exorcist? Dendam memang tidak baik, ia tahu itu. Tapi apa yang bisa membebaskan orang dari dendamnya?

Lanjutan kalimat yang ia harapkan tidak kunjung keluar, justru gadis itu perlahan melepaskan tangan yang melingkupi tubuh kecilnya, sekarang berbalik menghadapnya. Pemuda itu mendesah saat aquamarine di depannya mulai hidup, tidak kosong. Begitukah manusia? Mereka rumit dan tidak mudah dimengerti. Juga—sekarang justru menatap heran—tidak konsisten.

Tidak ada satupun kalimat yang keluar dari mulutnya untuk menanggapi rasa terima kasih yang dilontarkan gadis itu, bahkan ia juga tidak berniat untuk bertanya balik.

“Aku tidak akan meminta maaf soal ini,” masih tersenyum tipis, tangan kanannya terangkat mengelus bagian pipi yang memerah bekas ditampar. “Tapi kumaafkan perkataanmu tadi.”
Back to top Go down
View user profile
Shion R. Herleifursdóttir



Posts: 85
Umur: 16

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 16 y/o

PostSubject: Re: [CENTRAL] Just a Stupidity   26th December 2009, 15:32

Ingin dapat mengatakan kalimat selanjutnya, tapi--

Akankah pemuda ini menerimanya?

"--apakah aku masih boleh berada di sisimu?"

Terkatakan. Jawaban apapun semoga itu masih dapat membuatnya tenang. Tangan lembut ia rasakan menyentuh pipinya yang terasa sakit, sempat terkejut karena takut akan menerima balasan kasar kembali, bengkak-kah? Sepertinya tidak, kalau iya mungkin akan terlihat lucu wajahnya sekarang. Terlihat sedikit menyedihkan dengan sempat memejamkan mata, gemetar ketika tangan itu mendekati wajahnya tadi, mungkin secara tidak langsung takut pada kejadian yang akan menimpanya kembali.

Tangan kanan putih tak berbalutkan apapun miliknya pun menyentuh sentuhan lembut itu. Apa sentuhan ini akan menghilang darinya nanti? Tidak mau. Tapi suatu saat pasti akan menjadi milik gadis lain, pemuda yang memberikan kehangatan keluarga, beda dua tahun sudah cukup membuatnya berpikir andaikan Lio adalah kakak kandungnya, ia tidak akan mengalami mental selabil ini selama ini. Perlahan mendekatkan tangan berbalutkan kain hitam tersebut ke bagian bibirnya, menciumnya lembut.

Tanda kehormatan? Masalahnya, dia tidak pernah memberikan tanda serupa pada sang Mestre yang dihormatinya. Jadi tanda apa? Tidak tahu.

"Syukurlah kalau begitu"

--walau dirinya tak pernah meminta akan dimaafkan.

Atas semua kejadian keterlaluan ini.
Back to top Go down
View user profile
Lioret I. Shirogane



Posts: 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

PostSubject: Re: [CENTRAL] Just a Stupidity   26th December 2009, 17:17

Kelanjutan kalimat yang sejak tadi ia tunggu, sebuah pertanyaan. Senyum pemuda itu sempat hilang sebelum akhirnya kembali lagi, “tentu saja, kau kan adikku.” Untuk sekarang hanya sebagai adik, tidak lebih dari sahabat—lebih sedikit sih—dan rekan kerja sesama Disciple yang bisa mengoreknya sampai sedemikian rupa, membantingnya dari marah menjadi—sayang.

Figur itu tampak bergetar saat tangannya mendekat. Sejenak senyumnya menghilang meskipun tangannya masih berada di tempatnya, di pipi kemerahan gadis itu, mengelusnya lembut seolah hal itu bisa menyembuhkannya. Apa yang ia lakukan tadi justru membuat gadis ini menjauh darinya? Menghela nafas, kembali mempertanyakan; Shion tidak selemah itu, bukan? Dan jawaban yang ia yakini adalah ya—dengan keyakinan itu juga ia berani menampar, kan?

“Kalau sakit sebaiknya kau periksakan ke infirmari,” ia merasa seperti seorang kakak sekarang, gimana sih, duh. Tapi bukan berarti ia merasa bersalah, hanya khawatir toh wajar. Kulit putih—yang anehnya tidak kasar padahal Exorcist—itu menyentuh tangannya, sentuhan lembut dan lemah, khas seorang gadis remaja tanpa tenaga; sesuatu yang feminim dan sudah kodratnya untuk dimiliki para gadis. Serta sebuah..ciuman lembut pada sarung tangan hitamnya yang entah kenapa menjalar sampai ke kulitnya. Tidak ada rasa dingin seperti pada kulit gadis ini, tapi hangat. Sekali lagi, perasaan senang ini, perasaan melunjak yang agak....nyaman tapi memalukan, malu untuk mengakuinya.
Back to top Go down
View user profile
Shion R. Herleifursdóttir



Posts: 85
Umur: 16

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 16 y/o

PostSubject: Re: [CENTRAL] Just a Stupidity   26th December 2009, 17:28

Senyum mengembang.

Senyum polos yang tak pernah diperlihatkannya. Rasa senang bagaikan anak kecil mendapatkan hadiah istimewa dari kakak tersayangnya. Tentunya senyumnya selama ini hanyalah sebuah kepalsuan kan? Sekadar formalitas belaka untuk memberikan kesan bahwa dia adalah gadis yang ramah. Terkadang membuatnya muak dan lelah. Kepribadian lain yang ia miliki, yang bahkan ia sendiri tak pernah sadari apakah hal tersebut benar ada padanya. Ia hanya mengikuti arus emosinya, sebagai seorang manusia yang masih memiliki ego.

Akhirnya ada yang menemaninya. Dalam kesendirian ini, sebuah pertolongan dari sang pemuda yang sudah sah bahkan memanggilnya dengan sebutan adik. Setidaknya ia masih mempunyai tujuan hidup lain selain balas dendam. Alasan untuknya tetap hidup pada saat misi berat sedang ia jalani sekalipun. Dan itu berarti berlaku sama dengan Lio, yang tidak boleh meninggalkannya terlebih dahulu. Tahukah kau rasanya ditinggalkan? Tidak, tidak ingin lagi merasakan hal yang sama.

"Kalau begitu kau mau pergi menemaniku kesana?"

Masih merasakan kehangatan lengan itu di wajahnya. Memejamkan mata, tertunduk, sebelum lalu membuka kembali kelopak matanya, memperlihatkan dasar aquamarine bersih polos di dalamnya. Menunggu jawaban darinya, kalau tidak mau mungkin ia akan melangkah sendiri, lagi. Berharap 'kakak' barunya mau mendampinginya bersama pergi ke tempat yang dikatakan.




OOC: Sori pendek ato ngga jelas, buru" di HP:((
Back to top Go down
View user profile
Lioret I. Shirogane



Posts: 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

PostSubject: Re: [CENTRAL] Just a Stupidity   26th December 2009, 19:49

So?

Ya begitulah.

Pemuda itu, berasal dari Prancis, usia 18 tahun, 8 tahun di Black Order, sekarang wajahnya memerah. Kenapa? Karena fenomena mengerikan yang muncul di depannya. Entah kenapa suasana menjadi hangat—gloomy di sekelilingnya, entah memang saat itu hangat, percakapan mereka, wajahnya, atau justru hatinya? Shion Herleifursdóttir, tidak pernah menunjukan sebuah senyum tulus, senyum asli yang berasal dari kebahagiaannya. Termasuk padanya sesama rekan Disciple yang jelas ia tanggapi dengan biasa saja—toh ia sudah terbiasa dengan topeng senyumnya, gadis itu kuat dan berusaha kuat, tidak membiarkan dirinya terlihat rapuh begitu saja. Tapi senyum yang terlalu..jujur...membuatnya malah serasa seperti..

(blush)

Meracau, biasa.

Otaknya berpikir keras saat Shion meminta Lio menemaninya ke infirmary. Lio. Belum. Siap. Menerima. Resiko. Oh. Tuhan. Tidak. Plis. Gimana. Atuh. Yes, enough. Menggigit bibir bawahnya, sebenarnya ya..sebenarnya apa yang perlu ia khawatirkan? Takut dimarahi staff medis—atau diejek—karena luka bekas tamparan di wajah gadis itu? Sebagai pihak lelaki yang selalu mengambil langkah awal dan langkah akhir sekaligus mengambil damagenya, jelas ia duluan yang disalahkan, tapi ayolah, ini bukan salahnya. Sebenarnya lagi sih—tergantung juga si staff berpikir apa nanti.

Mendengus sebal pada kemungkinan pertama. “Yah... Terserah kamu saja,” tangan kiri menepuk dahi.
Back to top Go down
View user profile
Shion R. Herleifursdóttir



Posts: 85
Umur: 16

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 16 y/o

PostSubject: Re: [CENTRAL] Just a Stupidity   26th December 2009, 20:40

Padahal umurnya sudah menginjak tahun ke-enam belas selama hidupnya, tapi sikapnya tak pernah berubah, layaknya anak kecil dengan permainan berbahaya yang ia lakukan. Merasa bahwa sifat kekanak-kanakkan justru akan membantunya mengatasi masalah yang ada dibandingkan dengan mengalami stress konyol hanya karena sebuah permasalahan. Bukankah anak kecil itu sudah terbiasa tak membawa beban pikiran? Itulah yang terjadi dengannya, karena beban hanya akan membuatmu terus berpikiran aneh, di luar logika yang bekerja.

Hum?

Menelengkan kepalanya heran melihat rona merah di wajah pemuda, kakaknya tersayang. Kenapa? Apa Lio sakit? Mendongak lebih dekat untuk mengamati raut wajahnya, merasakan aluran nafas yang terbilang normal untuk ukuran seseorang yang sehat walau ada perasaan aneh di antar sela irama nafas Lio. Tinggi mereka jauh berbeda memang, maka dari itu ia menarik bahu Lio untuk menunduk sedikit, membuat dahinya bersentuhan dengan dahi milik pemuda tersebut. Hal yang biasa dilakukan Gelvanekennari untuk mengecek suhu tubuh dirinya yang jika terkena penyakit.

"Kau sakit Lio?"

Pertanyaan polos.

Sama sekali tak berpikiran apa-apa. Tapi tidak panas, lalu kenapa? Menurunkan kembali jinjitan kaki yang ia lakukan tadi, tangan juga kembali menurun, tak lagi menyentuh bahu yang tentunya berpostur berbeda dengannya. Aquamarine masih jelas menatap obdisidian di depannya dengan penuh tanda tanya, sudah selayaknya sikapnya saat ini sangatlah berbeda dengan yang biasa ia tunjukkan, pura-pura dewasa. Sekali ia mengeluarkan perasaannya kepada orang yang ia percayai, semua kepolosan akan mengalir, itulah dirinya yang sebenarnya, yang mungkin hanya Kohler Mestre dan pemuda ini, berkat kejadian tadi yang mengetahuinya.

"Kau.. tidak mau?"

Mendapatkan dengus kesal entah kenapa darinya. Mungkin merasa direpotkan, padahal Shion juga sudah membuatnya marah tadi.

"Tidak masalah, mungkin aku kesana saja sendiri"

Menunduk.

Berbalik untuk mulai berjalan. Setidaknya daripada menyusahkan lebih baik tidak usah. Padahal biasanya ia tak begini, memaksa akan tetap dilakukannya jika bisa menyeret seseorang untuk menemaninya. Sudahlah, sepertinya hari ini ia memang sedikit bermasalah, besok tidak akan ada apa-apa, ya tidak apa-apa, karena dia harus tegar.

Tak boleh sembarang cengeng.




OOC: Mencium bau godmood, maaf ya *sembah sujud* nih acara kapan selese sih
Back to top Go down
View user profile
Lioret I. Shirogane



Posts: 89

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 18 y.o.

PostSubject: Re: [CENTRAL] Just a Stupidity   26th December 2009, 21:22

Kalau tadi gadis itu yang bertingkah aneh—dan seingatnya beberapa minggu lalu ia jga menanyakan hal yang sama—sekarang dia yang bertingkah aneh. Tangan terlepas dari pipi, kembali ke posisi awalnya saat lengan yang terkesan rapuh itu menarik bahunya. Tinggi mereka memang berbeda jauh—20cm itu jauh—dan setidaknya yang lebih pendek harus berjinjit atau yang lebih tinggi harus sedikit menunduk jika ingin—memeriksa suhu. Dahi mereka bersentuhan, kontan wajahnya tambah memerah dan mengambil jarak sepersekian langkah ke belakang.

“Ti—tidak, sehat, sangat baik,” jawabnya, masih bisa merasakan sesuatu yang dingin di kulitnya, terutama bagian dahi. Kulit gadis itu dingin sedingin musim dingin dan sedingin Innocence-nya, mungkin hanya Lio yang merasakannya karena organ tubuhnya justru seakan memanas.

"Kau.. tidak mau?"

Rona di wajahnya menghilang drastis, pernyataan yang setengah-setengah bisa diartikan negatif, ternyata. "Tidak masalah, mungkin aku kesana saja sendiri" Alamak. Bukan itu maksudnya. Ergh. Tapi kau tadi salah bicara, idiot. Astaga.

Menggenggam tangan Shion yang—lagi-lagi—berniat pergi duluan ke infirmary, Lio tahu gadis ini agak kecewa. Dan entah untuk alasan apa, ingin sekali Lio ikut, tampaknya. Jadi? Lioret Ifrit Shirogane ini justru menyambut tangan Shion dan menuntunnya ke infirmary. Cukup?

[OUT]

Out w/ Shion Wink) PUH-LEASE, SAIA BUKAN PEDO =)) *tampar beberapa oknum*
Back to top Go down
View user profile
 

[CENTRAL] Just a Stupidity

View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 2Goto page : Previous  1, 2

 Similar topics

-
» Ichiru's OC Central
» Redsill, engineering central
» [CENTRAL] Just a Stupidity
» A fight to the end of Stupidity! [Nasa, Nono, Sou, Kaji - Pm to Join]
» Demographics of the Central African Republic

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Black Order Archives :: Incomplete Tales-
Free forum | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Free forums