| Time | | Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880 |
| | | [AFRICA]Of Cards, Bets, and Speed | |
| |
| Author | Message |
|---|
Vanya Muller

Posts: 58 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 23 tahun
 | Subject: Re: [AFRICA]Of Cards, Bets, and Speed 19th January 2010, 20:52 | |
| | Quote: | Poin yang diterima: 5*13 + 6*7 = 65 + 42 = 107 Selisih Poin: 107 - 66 = 41 Jumlah kartu yang dapat ditumpuk: 41/10 = 4 Jumlah card-in-posession: 3 Jumlah kartu sisa: 3 - 4 = 0 sekilas memang matematika ngawur |
Tangan tersebut tidak terlihat begitu tangkas di mata gadis berambut hitam ini. Baiklah, salah; matanya mengikuti pergerakan dari tangan tersebut, sementara otaknya menilai bahwa Abiel Nathanieth cukup tangkas dalam bermain game semacam ini.
"...Kupikir tak sepantasnya kau pantas berbuat yang 'keji-keji' begitu pada... ku. Vanya yang kukenal selama ini berhati keibuan dan tidak pernah menyusahkan orang lain hanya demi mendapatkan tujuannya."
Matanya menerawang pada tumpukan kartu yang ada di hadapannya, sementara telinga menangkap setiap kata yang keluar dari bibir sang pemuda. Oh, ia mendengarkan; gadis seperti dirinya harus bisa multi-tasking. Mantan dealer harusnya bisa melakukan hal ini, bukan?
"Kau ini--" Tangan Vanya menarik selembar kartu, menaruhnya setelah Abiel selesai menaruh lembar kartu miliknya. Tangannya segera mengambil kembali selembar, lalu kedua tangannya menghentakkan dua kartu sisa miliknya. Senyum Vanya yang awalnya dipaksakan kini lepas, tidak terlindungi oleh kartu tangan yang sudah melayang ke tumpukan.
Habis.
"--aku tidak pernah sebaik itu, apalagi kepadamu, Leo--"
Mulutnya berhenti menggumamkan kata-kata. Mata biru yang masih terpaku pada kartu, kemudian naik menatap wajah pemuda yang sudah kelihatan bosan setengah mati. Dalam beberapa detik, senyum tersebut sempat hilang dari pandangan--berubah menjadi sebuah garis tipis.
"...Abiel." Satu senyum paksaan, lagi, yang kemudian segera hilang karena teringat akan kemenangannya setelah tanding kartu.
"Aku menang." Tambahnya pendek, kini menambah sengiran iseng pada wajahnya. "Mau mendengarkan permintaanku sekarang, atau nanti?"
Last edited by Vanya Muller on 19th January 2010, 21:22; edited 1 time in total |
|  | | Chief Supervisor Admin
Posts: 418
 | Subject: Re: [AFRICA]Of Cards, Bets, and Speed 19th January 2010, 20:52 | |
| The member ' Vanya Muller' has done the following action : Roll a die'6-sided Die' : Result :  _________________ Name? My name is not important. My job is.
|
|  | | Abiel Nathanieth

Posts: 43 Pemilik: *nbla
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 22
 | Subject: Re: [AFRICA]Of Cards, Bets, and Speed 20th January 2010, 20:19 | |
| Satu senyum saja, satu senyum yang dipaksakan keluar dari bibir laki-laki itu--susah, mengingat yang ia inginkan sekarang hanyalah menggeramkan kefrustasian... Dan kenyarisannya ia tak kala bersisian sekali lagi dengan ujung maut bernama kekalahan. Laki-laki, selayaknya ia seorang Abiel, adalah orang berperilaku ambisius. Tidak suka dijadikan nomor dua, tidak terima angka satu koma, kecuali dalam angka bulat digit angka pertama. Digit angka pertama, yag hanya beda tipis dengan nol.
Nol yang berarti kosong, sama saja dengan tidak ada. Kekalahan.
Toh batas antara nomor satu dan tidak jadi apa-apa itu adalah sangat tipis keberadaanya. Jadi seharusnya ia tak perlu kecewa, apalagi karena sudah berusaha lebih dahulu. Naif, itu jalan pikiran orang-orang polos dan optimis. Hidup ini idealis, tak sepantasnya kita mengharapkan dapat yang enak-enak terus... Begitu kan?
Jadi kalau saat ini ia akan kalah, ia sudah siap.
...
Oh, memang nyatanya dia kalah. Barusan sekali.
Wanita itu balik tersenyum. Satu tangan ia letakkan di kepala, dengan gerakan menyibakkan rambut bagian depan dan sebuah senyum tipis--menandakan ia sudah seolah-olah bersikap lapang dada atas semua takdir permainan.
"--aku tidak pernah sebaik itu, apalagi kepadamu, Le--"
"Selamat."
Senyum--sudah sepenuhnya rela. Satu cetukan ke atas meja.
"Dan katakan langsung saja apa permintaanmu sekarang... Nona. [i]Akan kuusahakan semampuku."
Lirikan lagi ke arah Vanya, kali ini tatapan setengah memelas ala puppy eyes--berharap wanita itu luluh dan menurunkan level permintaannya. Abiel juga manusia, nona. Ia tidak sesempurna itu atas semua hal. |
|  | | Vanya Muller

Posts: 58 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 23 tahun
 | Subject: Re: [AFRICA]Of Cards, Bets, and Speed 20th January 2010, 20:47 | |
| "Permintaanku..."
Gadis ini masih menyisakan senyum usilnya yang khas, sementara kedua tangannya mulai mengumpulkan kartu-kartu yang menumpuk di depannya. Mata birunya yang tadi sempat bertemu dengan mata biru Abiel kini terfokus pada kartu-kartu yang ada.
Bila begini terus, Vanya tidak akan bisa menatap Abiel kemudian mengucapkan namanya dengan benar. Bila ada kalanya ia tidak sengaja memanggil Abiel dengan nama mendiang pacarnya, ia tidak akan tahu bagaimana harus menjelaskan hal tersebut pada pemuda berambut pirang tersebut.
Lebih baik diumbar, bukan?
"Aku ingin... satu kencan. Yah... not exactly date, anyway... Intinya, jalan-jalan yang membuat segar." Muka Vanya memerah sesaat, sebelum dirinya memasukkan tumpukan kartu kembali pada kantong lusuhnya. "Tapi kau yang membayar pengeluarannya!"
Gadis ini berdiri, mukanya masih sedikit merah sementara tangannya beberapa helai rambut hitamnya sekali lagi. Matanya teralih dari mata biru Abiel, namun mulutnya menggumamkan beberapa kata, lagi. "Empat hari dari sekarang; tidak kurang, tidak lebih."
Vanya sudah membalikkan badan, sehingga Abiel hanya bisa melihat punggungnya. Sebelum pemuda tersebut bisa berkata-kata lebih jauh, Vanya sudah membuka pintu ruang rekreasi dan hilang dari pandangan...
...bersama dengan beberapa renungan yang perlu ia sortir. |
|  | | Abiel Nathanieth

Posts: 43 Pemilik: *nbla
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 22
 | Subject: Re: [AFRICA]Of Cards, Bets, and Speed 20th January 2010, 21:23 | |
| Kelereng biru itu bergulir lagi, menghela napas seolah-olah dia baru saja melakukan pekerjaan yang begitu berat. Bukan sesuatu juga sebenarnya, katakanlah permainan speed yang satu ini sudah lama tidak dilakoninya, sehingga sempat membuat tangannya agak kau, konsentrasinya juga sempat berkali-kali terpecah, sehingga... Euh, kebiasaannya mencari-cari masalah muncul lagi. Pantas dimaklumi bahwa seorang laki-laki tidak akan terima jika harga dirinya ditaklukkan begitu saja, apalagi hanya oleh seorang perempuan. ...Tapi kalau dipikir-pikir oleh akal sehat lagi, memangnya permainan kartu biasa bisa langsung menjatuhkan harga dirinya? "Yah, silahkan saja." Setidaknya bersyukurlah karena kali ini mereka bukan bertaruh atas uang--kantungnya cukup tipis saat ini; menyedihkan bahwa ia memang nyaris tak punya kebanggaan apapun saat ini, tidak juga kekayaannya. Vanya saja mungkin bisaa lebih cepat kaya kalau ia memanfaatkan potensinya untuk berjudi sana-sini. Meskipun memang tidak wajar jika dilakukan oleh wanita itu, ia juga tidak yakin akan bisa menerima kalau Jean pergi berjudi... ...maka dari itu, seharusnya Vanya juga jangan. Wajah itu pias kembali. Mungkin gadis itu akan minta ia untuk menjadi babu selama seminggu. Menyemir sepatunya setiap pagi, menggosok jubahnya selepas dicuci. Atau membayar penuh makan siangnya selama sebulan. "Aku ingin... satu kencan." Jelas--sama sekali beda dari apa yang pernah dibayangkannya. "Kencan--" batuk, disamarkan menjadi sebuah deheman. "Kau yakin? Nanti kalau pacarmu--atau siapapun yang bersikap posesif padamu marah bagaimana?" Tapi kalau ditebak bahwa respon Abiel adalah menolak--maka semuanya salah. Pemuda itu tak bisa megelak bahwa ia akan menerima senang hati akan ajakan itu, lepas dari kewajibannya sebagai pihak yang kalah dan harus memenuhi segala tuntuannya. Juga lepas dari keinginan bahwa di sisi itu ia juga ingin mengenal Vanya lebih dekat. Setidaknya setelah itu ia akan tahu bahwa Vanya dan Jean adalah sosok orang yang jelas-jelas beda, apalagi jika dilihat dengan tidak hanya sepintas mata seperti biasanya. Laki-laki itu mengangguk, dramatis. "Tapi kau yang membayar pengeluarannya!"Ah, memangnya dia bisa menolaknya? Dan memangnya dia mau untuk menolaknya? Lagi-lagi, ini bukan semata cari-cari kesempatan saja. Terlambat untuk menyadari ketika wanita itu sudah berpindah keluar dari ruangan itu, mungkin mencari waktu untuk sendiri lagi sambil makan siang--belum sempat lagi mengeluarkan respon apapun ketika mata itu kembali berputar arah tak karuan di tempatnya, entah melihat ke arah yang mana. Satu hal yang sering ia lakukan tak kala sedang berpikir. Oh ya, kalau saja ia tidak memperhatikan wajah Vanya ketika mengatakannya, mungkin ia akan menganggap semuanya sebagai semata-mata gurauan. _________________ sipp, finished. See you in the next match \m/ |
|  | | | | [AFRICA]Of Cards, Bets, and Speed | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
|
|