| Time | | Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880 |
| | |
| Author | Message |
|---|
Bianca Corda

Posts: 121 Pemilik: Agito
Biodata Posisi: Exorcist Cabang: Eropa Umur: 25
 | Subject: Re: [CENTRAL]The Burdened 9th January 2010, 17:11 | |
| Bohong besar kalau permainan General tersebut mengganggu. Yang ada permainannya tadilah yang mengganggu. Sebuah lagu kembali dimainkan, dan sekali lagi ia tidak berani untuk mengangkat biolanya. Bukan tempatnya untuk mengganggu permainan siapapun. Bukan tempatnya untuk mengganggu emosi siapapun.
“Génial. Menurutmu?”
Pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan. Jawabannya sudah pasti. "Luar biasa..." bisiknya pelan. Melodi yang dimainkan sekilas terdengar timpang, namun kalau didengarkan lagi dengan seksama, memang permainan nadanya seperti itu. Seperti perasaan manusia yang terkadang timpang, namun tetap indah dengan caranya sendiri.
"Sepertinya... sebaiknya saya segera mohon diri. Saya sudah tidak ada kepentingan di sini lagi," katanya pelan. Pernyataan tersebut sebenarnya salah, karena sejak awal ia memang tidak punya kepentingan di sana. Dengan gerakan pelan, ia mengembalikan biolanya ke dalam kotaknya, lalu menyampirkannya di bahunya.
"Saya permisi dulu. Terima kasih," ucapnya pelan dan penuh hormat sambil menunduk pelan untuk menunjukkan rasa terima kasihnya. Ia lalu melangkah keluar dari kapel itu, kembali ke kamarnya dengan perasaan yang terasa lebih ringan.
[OUT] |
|  | | Ravel Kohler Vatican Central

Posts: 150 Umur: 20 Pemilik: masamune11 Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 36
 | Subject: Re: [CENTRAL]The Burdened 14th March 2010, 11:21 | |
| Ia mendengar decit pintu tertutup.
Ravel Kohler pun segera membuka mata. Jemarinya berhenti mengetukkan tuts piano, sementara mata kuning kecoklatannya hanya bisa menangkap hitam putih tuts-tuts piano. Lupa di mana dirinya berada, namun pria ini segera sadar bahwa dirinya masih berada di dalam markas, tepatnya di kapel. Sementara itu, dirinya memang tengah memainkan piano--lagu yang sering dimainkannya berdua bersama dengan Nicola--
--tangan Ravel hanya memijit kepalanya beberapa saat. Bagaimana bisa ia membawa-bawa mendiang istrinya sekarang? Beliau memang ada untuk dikenang, namun hanya dengan satu lagu yang bisa menyeretnya ke tepi melankoli...
Pria ini menyeka beberapa helai pirang yang menjuntai. Sedingin apapun keadaan, sepertinya bermain piano dengan tenaga yang luar biasa cukup membuat orang dapat mengeluarkan keringat berlebih (setidaknya dari kepala). Dirinya harus berganti pakaian, sebelum ia mulai terkena gejala-gejala hipotermia karena telah berbasah-basahan.
...Ah, tadi siapa yang sudah keluar?
Kepalanya bepaling. Pandangan segera terarah pada pemuda yang menjadi anak didiknya; Lioret Ifrit Shirogane, pemuda yang cukup handal dalam bermain alat musik. Melihatnya berdiri di sana--tepat di tempat duduk yang ada di kapel--membuatnya sedikit menebak apakah ia di sana untuk berdoa... atau justru tertarik mendengar alunan lagu yang tidak sengaja dirinya tumpahkan. Pria ini hanya menarik senyum tipis--tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena ia tidak pernah bermain lagu untuk ditonton.
Lagipula, setelah satu lagu yang dibawa pemuda itu--pemuda yang sepertinya sudah pergi meninggalkan ruangan duluan--tangannya seakan ingin bermain sendiri. Ia hanya bermain karena ia mau--atau lebih tepatnya, karena jari-jarinya mau.
"Jujur saja, itu lagu yang pahit."
Satu pernyataan yang sebenarnya tidak terlalu bermakna besar--dirinya tahu jelas bahwa lagu-lagu yang ia bawakan merupakan lagu-lagu yang biasa ia mainkan bersama degan Nicola. Sebelum lidahnya mulai berdosa karena mengatakan kebohongan, lebih baik ia menyatakan hal tersebut--sekecil apapun--sekarang.
Mata kuningnya melirik ke arah pintu ruangan untuk beberapa saat, kemudian ke fitur Lioret. Ia menunggu komentar; bukan kali pertama Lioret mendengar gurunya bermain piano, namun baru kali ini ia memperdengarkan lagu yang biasa dibawakan bersama istrinya. Tentunya, tak salah bukan bila ia ingin mendengar pendapat anak didiknya tentang hal ini?
Ah, andai saja Shion juga mendengarnya; ia ingin komentar juga dari anak tersebut. Yang jujur tentunya. _________________ "Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors." "Oh, Ravel... You and your words..." "You know it's true, even more than I do." "Perhaps."The Original ID of masamune11, The Contemplative General |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL]The Burdened 19th March 2010, 15:20 | |
| Senyum tipis sedikit tertarik di kedua ujung bibirnya. Menatap pemuda di sebelahnya dengan tatapan jujur yang dalam artiannya "setuju" sebelum ia melambai sedikit kepada sosok yang kemudian meninggalkan kapel. Seandainya ia bisa bertemu chief supervisor Black Order ini, palingan ia mengusulkan membentuk grup orkestra anggota Black Order. Konyol. Tapi, well--mungkin ia ada benarnya juga.
Mungkin ia memang banyak mendengar permainan piano Master-nya. Sejak 8 tahun lalu hingga sekarang--bahkan tidak perlu ditanya bagaimana, ia agak hafal dengan gaya permainannya. Familiar? Itu wajar. Dan komentarnya selalu sama. Perlukah ia berkomentar kali ini? Bersikap acuh, mendudukan dirinya lagi pada kursi kapel, dan jelas ekspresinya datar--menunjukan ketidaksetujuannya.
"Kalau pahit kenapa dimainkan?" sesuatu yang tidak bisa dihubungkan dengan logika dan ego, mungkin gerak reflek. Kalau Master-nya bertanya balik, ia tidak akan menyangkal.
Sori aneh. Feel nyerodot. |
|  | | Ravel Kohler Vatican Central

Posts: 150 Umur: 20 Pemilik: masamune11 Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 36
 | Subject: Re: [CENTRAL]The Burdened 24th March 2010, 07:54 | |
| Mendengus.
Bukan, pria ini tidak mendengus karena tidak suka dengan pertanyaan anak didiknya sendiri. Mungkin daripada mendengus, gestur tubuh yang diberikan pria ini cenderung lebih... chuckling? Entah, Ravel Kohler sepertinya terjepit antara heran dan kaget.
"Siapa yang menetapkan bila lagu-lagu yang perlu dimainkan harus bersifat menyenangkan? Ah, atau hangat? Tidak ada bukan?" Sebuah senyum--sedikit mirip sengiran bila dibandingkan dengan wajah Ravel Kohler pada umumnya--menghiasi fitur wajahnya. Pada akhirnya pria ini memang hanya bermain sesuai dengan perasaannya--kebetulan saja Lioret sedang mendengarkan sisinya yang memang sedang ingin meringis karena takdir yang ia jalani.
Tangan mengelus tuts-tuts piano. "Kejeniusan Mozart tidak hanya terletak pada lagunya yang cenderung upbeat, namun juga pada nada-nada melankolis yang dihasilkan oleh jarinya pada selembar kertas. Jadi... kukira tak ada salahnya memainkan lagu-lagu bernada melankolis seperti tadi." _________________ "Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors." "Oh, Ravel... You and your words..." "You know it's true, even more than I do." "Perhaps."The Original ID of masamune11, The Contemplative General |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL]The Burdened 27th March 2010, 22:40 | |
| "Pemainnya, dong. Kan dia yang merencanakan mau memainkan lagu apa," ujarnya, nyaris terbahak dengan jari telunjuk mengetuk-ngetuk pelipis kanan langsung ke bagian otak. Lio hanya agak geli, sebuah pernyataan serius dari sang Master keluar begitu saja dan tentunya ia tidak berniat menanggapi lebih selain satu kalimat itu.
Larinya ke Mozart. That mozarella guy yang lalu menyangkut nada melankoli. Ia tersenyum simpul, mengangguk samar tampak ingin mengeluarkan statement selanjutnya; "menurutku bermain musik sama dengan menumpahkan suasana hati," yang artinya lagu yang dimainkan menggambarkan suasana hati. Secara normal, kecuali orang itu dipaksa bermain.
Tapi gak tau juga deh ya, dia kan pemula. Wakakakak. |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
|
|