| Time | | Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880 |
| | | [CENTRAL] Sweet Panic Room | |
| |
| Author | Message |
|---|
Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 4th December 2009, 18:55 | |
| “Siapa yang jelek, dasar beri—blep!” bantal bulu menutupi pandangannya—wajahnya—mendorongnya terjatuh di atas ranjang penuh bantal bulu itu. Tangan Shion menekan keras bantal di wajahnya seakan kasur di bawahnya akan masuk ke tanah—untungnya tidak. Spontan memberontak, mencari udara segar yang bisa menjamin kelangsungan hidupnya saat itu. Akhirnya saat tekanan itu mengendur, Lio mendorong bantal itu ke atas dan mengembalikan ke tempatnya. Selang beberapa detik, kepalanya kembali menangkap 3 buah syal yang terbang ke arahnya. Bah. Kesal, menyingkirkan syal-syal itu ke atas ranjang. Sementara ia sendiri duduk di pinggiran ranjang, sedikit terlena dengan keempukan ranjang yang ia duduki sekarang.
Tersenyum kecil melihat kue vanilla-nya dimakan. Hal yang cukup membuatnya senang—karena itu pemberiannya—tanpa ia sadari sudah menatap gadis itu cukup lama. Masih seperti anak kecil, walaupun menganggap dirinya dewasa. Gadis yang berusia 16 tahun itu—dengan rambut pendeknya yang baru—tampak lebih manis dibandingkan dengan dulu. Bagaimana juga caranya dia merawat rambut yang tidak dipotong sekian tahun dan bulan itu?
Tersenyum timpang. Kembali ia mengingat jawaban Allegra—yang sekarang berbicara dengan Glau—mengenai coklat yang ditunjukan. Coklat..pahit, memang cocok untuk yang tidak suka manis—bukan dia—tapi rasanya memang sangat pahit. Sekali ia mencoba, dulu, sukses ia muntahkan. Rasanya sama sekali bukan coklat dan saat itu ia tidak dapat merasakan adanya pemanis susu atau gula di dalamnya. Heran juga membayangkan coklat yang manisnya kelas satu itu dibuat dari benda pahit dengan banyak dosa.
“Jangan makan itu, Glau,” tangan terlipat di depan dada, “rasa pahitnya seperti akan melemparmu ke neraka.” Hei, dia serius. Tapi—segelnya sudah dibuka, sayang. Makan sajalah sana.
Menoleh ke pintu kamar, tempat seorang gadis berambut hitam—tampak canggung—berdiri dengan ragu. Di tangannya terdapat sebuah bungkusan yang entah berisi apa dan untuk siapa. Tidak kenal, yang jelas teman Shion—karena Shion menyapanya—dan mungkin teman Allegra juga. Pelan, gadis itu memanggil nama Glau, membawanya pada definisi hanya-ia-yang-tidak-kenal. Atau lupa nama?
Lio bergerak mendekat, sampai cukup untuknya menangkap harum dari dalam bungkusan itu. Berpikir sebentar, merasai rasa manis coklat yang masih tertinggal di lidahnya dan menebak apa rasanya sama. “Itu—sesuatu yang manis?” ya jelas, bodoh. |
|  | | A. Růžena Mlynarikova

Posts: 120 Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 20
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 5th December 2009, 15:33 | |
| “Puff~” Sang gadis Ceko tersenyum geli melihat ekspresi sang pria berambut abu dan pergulatan kecil yang dilakukan dua temannya—ya ia mengganggap begitu—di atas kasurnya. Jangan sampai isi bantal itu keluar semua ya. Dan, hei, apa sudah ada yang mengatakan kalau Glau terlihat menggemaskan saat itu? Belum ada tampaknya, dan seusil-usilnya Allegra ia rasa ia tak perlu mengatakannya sekarang.
Walaupun ia cukup penasaran akan perubahan rona wajah sang pria Italia jika ia nekat mengatakannya.
Tak selang berapa lama ia menolehkan paras manisnya ke daun pintu begitu mendengar suara lemah dari arah pintu, sesosok gadis dengan ekspresi malu berdiri dengan canggung, yang kemudian dihampiri oleh Shion. Iris mata Allegra melebar, berusaha mengingat nama gadis berambut pendek yang tampaknya sudah pernah ia temui... di infirmary?
"Kau membawa apa Gaby?"
Oh ya, Gaby.
Ngomong-ngomong memang apa yang dibawa gadis itu? Kalau dilihat sih tampaknya Gaby memang membawa sesuatu, sesuatu yang di bungkus dengan apik dan... aroma manis menyeruak dari dalam bingkisan itu. Manisan lagi eh?
“Waw! Ah hei Gaby,” sebuah senyuman ramah ala Allegra terlempar pada gadis itu seraya mendekatinya perlahan . Manik biru langit milik Allegra mendarat ke bingkisan yang dibawa tangan mungil sang staff infirmary. “Masuk saja, kebetulan juga kita barusan mendapatkan...” melirik ke dalam ruangan, pada bingkisan kue-kue yang mulai berserakan. “Banyak cemilan~” garis mata Allegra melengkung, membentuk lengkungan sabit ramah.
"Lama--lama tak bertemu."
Menoleh pada Glaucio yang tak jauh darinya dan berkata spontan, “Lho Glau kau juga kenal Gaby? Hha,” berjalan dengan langkah kecil kembali ke dalam ruangan—membuat jalan masuk untuk sang gadis Belanda dan mendaratkan pinggul di pinggir kasurnya sendiri.
“Jangan makan itu, Glau.....rasa pahitnya seperti akan melemparmu ke neraka.”
“Ew...” melirik ke remaja pria yang juga ada di salah satu sisi kasurnya—tak terlalu dekat--yang sedikit acak-acakan. “Tidak sepahit itu kok... aku saja masih bisa memakannya.” Berhenti sejenak, pandangannya tertuju lantai batu di bawah sebelum kembali menoleh pada Lioret, menambahkan, mengonfirmasi. “Dan aku tidak rakus!” dengan nada bicara yang meninggi beberapa desibel di akhir kalimat. Alis pirangnya mengerut, bibir manyun, sebal dikatai rakus melulu. |
|  | | Gabrielle van Rijn

Posts: 115 Umur: 19 Pemilik: Al2SiO5
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Eropa Umur: 18
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 9th December 2009, 17:22 | |
| Gabrielle van Rijn masih agak ragu untuk masuk ke dalam kamar milik Allegra dan Shion itu. Bukan, bukan, karena ada pemuda berambut abu di dalamnya. Hanya saja ia merasa tidak enak kalau harus mengganggu acara makan-makan di dalamnya. Fuh, jangan pikirkan hal remeh macam itu, Gabrielle. Setelah menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, rona merah di wajahnya itu berangsur-angsur menghilang dan meninggalkan kulit putih miliknya itu. Yah, pengendalian diri adalah suatu keahliannya, dan Gaby cukup bangga akan hal itu. Hal yang cukup berguna saat harus berhadapan dengan kondisi yang membuatnya kurang nyaman.
”Pe-permisi,” ucap gadis bermanik biru itu perlahan.
Gabrielle kemudian masuk ke dalam kamar milik kedua exorcist itu. Kemudian memberi sapaan ramah berupa senyuman lembut pada semuanya –walaupun saat tersenyum pada Glau muka Gaby kembali menjadi merah...dan tak lama menjadi normal lagi.
”E-eh, iya Glau. Apa kabarmu?” tanyanya sopan pada pemuda berambut keabuan di hadapannya. Oh, ya. Hampir saja ia lupa akan tujuan utamanya mendatangi kamar sahabatnya, apa lagi kalau bukan memberik bingkisan cokelat buatannya sendiri pada Shion...dan semoga saja cukup untuk semuanya. Untung saja Shion dan Lioret mengingatkannya pada jinjingannya itu.
”I-ini ada sedikit cokelat. Mungkin tidak seenak permen-permen cokelat itu,” katanya dengan nada merendah. Yah, kalau dibandingkan dengan cokelat buatan para ahli itu, mungkin cokelat buatan Gabrielle masih kalah jauh. Setidaknya Gaby sendiri berpikiran begitu. ”Semoga semuanya kebagian,” tambahnya singkat.
E-eh, apa boleh Gabrielle terus berada di sini? Mereka pasti sedang asyik-asyiknya memakan semua manisan itu, dan bisa jadi Gabrielle hanya mengganggu kesenangan mereka itu. ”A-ah, aku permisi kalau begitu. Maaf mengganggu dan te-terima kasih atas tawarannya Nona Allegra,” ucapnya dengan muka tertunduk, kemudian gadis itu beranjak dari tempatnya dan menuju pintu keluar.
oot: somebody, stop her, eh? |
|  | | Shion R. Herleifursdóttir

Posts: 85 Umur: 16
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 16 y/o
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 9th December 2009, 18:32 | |
| Huh, pasti mau mengatai Shion berisik lagi kan? Semasa bodoh, week! Menjulurkan lidahnya, sengaja menantang pemuda itu, mau berantem? Ayo saja. Siapa takut. Tapi kalau kejadian di arena pertempuran ketika itu terjadi untuk kedua kalinya lagi bisa gawat, Kohler Mestre akan berbuat apa nantinya jika mengetahui pertempuran dengan taruhan nyawa tersebut. Mau bagaimana lagi, harga dirinya juga dipertaruhkan ketika itu. Sudahlah, lupakan pengalaman pahit itu, tidak pantas untuk diingat, sekarang ya sekarang, yang lalu ya yang lalu. Jadi biarkan semuanya mengalir menghilang kan?
Kembali kepada Lio, pemuda yang sekarang tengah bergulat sendiri untuk mencari udara agar dapat mengisi paru-parunya. Hah, rasakan! Dan sekarang ketika ia tengah membersihkan sisa-sisa rasa manis di sela-sela jarinya, tentu saja bukan dengan main bersihkan ke bajunya sendiri atau baju orang lain. Kebiasaan buruk, menjilat sedikit demi sedikit, tindakan kekanak-kanakkan dan tidak sopan. Biarlah, orang berkepala empat saja terkadang masih ada yang melakukannya. Siapa? Tidak tahu, tapi pasti ada kan? Menyadari dirinya seperti ditatap seseorang. Siapa yang berani..?
"Apa?"
Memberikan tatapan menantang. Tidak suka dengan apa yang diperbuatnya barusan? Ya, ya, dia memang masih kekanak-kanakkan, tapi kau sendiri juga masih suka bermain salju layaknya bocah ingusan juga kan? Sampai ketika, kejadian itu.. Semburat merah hampir menguasai wajahnya kembali jika tidak langsung ia pukulkan sedikit kedua pipinya untuk dapat menghentikan laju perasaan yang mendadak datang tersebut. Lupakan, lupakan! Untuk apa ia susah payah mengingatnya jika pihak yang bersangkutan juga sudah melupakannya dengan mudah. Setidaknya hal itulah yang ia dapat. Lelaki biasanya lebih mudah melupakan masalah huh?
Mengerling kepada pemuda yang dipanggil Glau sedari tadi, ya, ia memang tidak tahu apa nama lengkapnya. Lebih menyukai cokelat berunsur pahit huh? Hum, lumayan juga, jarang dapat menemukan orang yang lebih menyukai sisi pahit daripada manis yang dapat meringankan lidah dengan lelehan menarik tersebut. Yah, dia sendiri bukannya membenci semua yang manis-manis, hanya saja tolong dibatasi jika dia tak ingin menambah berat tubuhnya secara drastis sekarang. Walau katanya masih pasti akan terbakar dengan segala pelatihan yang ia lakukan. Tetap saja tidak mau! Ia akan terlihat jelek dengan pipi gembulnya jika benar hal itu akan terjadi nanti.
Tapi ia juga benci pahit.
Tak sudi merasakan sensasi macam itu di lidahnya. Dan ah ya, kembali lagi pada Gaby. Kenapa ia masih berdiri? Ayolah, masuk saja, temani Shion di dalam, ia sedang dalam keadaan lumayan bosan. Lio sekarang juga ikut menghampiri Gaby, menanyakan pertanyaan mengenai sesuatu yang konyol, ya tentu saja kan? Ia memang sok tahu, ok, tapi itu semua dikarenakan Shion sudah mengetahui hobi temannya itu untuk selalu membuat makanan cokelat manis, yang hasilnya terbilang lumayan untuk buatan sendiri. Bagaimana dengannya? Ia juga bisa masak, enak saja, Tapi untuk apa? Malas sekali harus membuang waktu untuk menghasilkan makanan yang entah mau diberikan kepada siapa kalau sudah matang.
Mungkin..
Menatap Lio.
Ah, itu tidak mungkin! Kemungkinan terbesar yang terjadi adalah pemuda itu hanya akan menatap nista dirinya yang memang terlihat tak pandai dalam hal tersebut dan memberikan kata-kata pendapat mengenai 'ini tidak ada racunnya kan?' 'benar kau yang membuat ini?' 'aku tidak percaya kau bisa masak juga' dan lain sebagainya. Haah, memikirkan hal itu saja sudah membuatnya kesal. Memasak akan lebih menyenangkan jika dihargai, dan akan terlihat sia-sia jika ditelantarkan begitu saja. Oleh karena itu juga, ia jarang menyisakan porsi makanan yang sudah ia ambil.
Akhirnya Gaby mulai menampakkan gerakan. Memberikan cokelat buatannya sambil merendahkan diri seperti biasanya. Kenapa harus merendah di saat masakan buatannya sendiri enak seperti itu sih? Dan semburat wajahnya itu.. Shion mengerlingkan pandangannya sekilas ke arah pemuda bernama Glau. Hoo, karena dia ya? Hei jangan kira Shion tidak dapat membaca situasi yang ada, sangat kelihatan tahu. Menyadari langkah kaki gadis staff tersebut yang hendak meninggalkan kamar, otomatis Shion langsung menarik tangan kanan Gaby.
"Jangan begitu dong, kau kan baru masuk, ayolah, ya?"
Memelas.
"Mundur sedikit Lio, kau menganggu jalan"
Apa hanya perasaannya atau ia sangat sensitif hari ini pada rekan sesama kerjanya? Uh, ia sendiri tidak tahu kenapa, yang pasti semenjak kejadian suap-menyuap itu. Aih, jadi merasa aneh sendiri. Tanpa menunggu jawaban dari yang bersangkutan, Shion sudah menarik Gaby ke arah dimana ia bisa duduk, tempat tidur miliknya dan mendudukkannya. Ada yang bisa menemaninya sekarang.
"Nah, sekarang kita mau apa? Kau kesini untuk bermain juga kan Gaby?"
Tersenyum manis.
Dan bagaimana dengan Lio? Melirik sekilas sebelum akhirnya kembali kepada Gaby. Biarkan saja ia bersenang-senang dengan Allegra eh? Dan Glau juga dengan cokelat yang tengah dinikmatinya sekarang. |
|  | | Glaucio Marino

Posts: 88 Pemilik: *nbla Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 20
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 20th December 2009, 12:23 | |
| Masih pagi hari, hari masih panjang dan tidak sepantasnya pula ia melewatkan hari di ini. Membuang, lalu mengulur waktu lebih banyak. Jam 9 pagi, masih sisa kurang dari 20 jam lagi untuk hari ini yang masih siap untuk ditabung. Dan kalau ia tak kunjung beranjak dari sini, berarti tandanya ia telah memboroskannya. Dan bukan tak mungkin 1 jam setelah ini akan terbuang dengan percuma.
Ya.
Kau, Marino, beranjaklah sekarang.
”A-ah, aku permisi kalau begitu."
"Ja--jangan! Err, maksudnya--tanggung kan, bagaimana kalau kau temani aku dulu sebentar lagi di sini?"
Salah bicara, boy. Apakah baru saja ia telah salah bicara?
"Kabarku sendiri... Yah, tak begitu buruk. Sedikit migrain, mungkin."
Kata 'menemani' yang seharusnya tak begitu pantas untuk digunakan di sini--ia toh juga tak sendirian kan di sini? Masih ada Lioret. Juga Shion. Dan Allegra. ...Dan justru perasaannya jadi merasa semakin agak kurang nyaman? Entahlah. "Tak seburuk itu juga kok sebetulnya rasanya." Membual--bahkan cokelatnya masih utuh di genggaman tangan tanpa tercuil seujung gigi seri pun. Lalu berikutnya, tak ada lagi yang menurutnya pantas untuk dilakukan kecuali membuang plastiknya--entah kemana, sembarangan dulu saja pokoknya--lalu memasukkan potongannya ke dalam mulut.
Kata Lioret rasa pahitnya akan melemparnya sampai ke neraka. Tak percaya, tak usah dipercaya...
Karena nyatanya toh makanan itu masih jauh lebih manis jika dibandingkan secangkir kopi pahit kental. ....Masa harus dimuntahkan?
"Thanks, err.... Punya lebih?"
Mungkin memang lebih baik jika ia keluar langsung saja, atauracauannya akan keluar semakin banyak. |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 22nd December 2009, 09:07 | |
| "Apa?"
“Ti—tidak ada apa-apa,” insting wanita memang menyeramkan, dilirik sedikit saja langsung marah. Ge-er atau terganggu? Lebih baik memang tidak usah mencari masalah lagi dengan Shion, mengingat Lio masih memiliki hutang pada gadis itu—ya, hukuman pertarungan beberapa minggu lalu—yang masih berlaku sampai sekarang. Sayang sekali ia kalah, padahal ia ingin melihat Shion versi gemuk. Mungkin lebih...menggemaskan? Ergh.
"Ja--jangan! Err, maksudnya--tanggung kan, bagaimana kalau kau temani aku dulu sebentar lagi di sini?"
Oh? Kalau ia tidak salah dengar, Glau barusan mengatakan sesuatu yang agak...err—yah kau tahulah. Seorang laki-laki juga punya ‘antena’, memang perempuan saja? Atau kau saja yang cerewet, Lio? Dan, ehem, mungkin usaha itu—lebih tepatnya perkataan barusan—akan mengurungkan niat si gadis Section Staff untuk pergi. Bukan urusannya. Tapi obsidiannya tetap tertuju pada coklat pahit yang masih utuh dalam genggaman Glau. Awalnya tidak percaya coklat itu benar-benar ditelan—kalau itu Allegra, di percaya, gadis itu memang rakus—tapi kenyataannya memang ditelan.
Bahkan meminta lagi. God, lidah apa yang mereka miliki? Tapi ya, baguslah kalau suka, karena masih sangat banyak coklat pahit di sini. Kembali mengorek isi paketnya, dan mengeluarkan sesuatu yang—ehem—fantastis. Beranjak dari tempatnya, langsung ke orang yang barusan meminta. “Ada, pahit kan?” menyodorkan bungkusan setelah sebelumnya membaca tulisan yang tertar pada bungkusan, “80% kokoa, wow,” nyengir, yakin Glau akan menerimanya—asal jangan muntah saja.
Dan satu masalah lagi, Ms. Shion Rasselleane Herleifursdóttir yang belakangan tambah galak. Gadis itu mungkin sedang mendapatkan ‘kesialan tiap bulan’nya, mau tidak mau ia harus menurut dan bergeser beberapa langkah untuk memberi jalan untuk Gaby.
Manisannya masih banyak, ngomong-ngomong. |
|  | | Gabrielle van Rijn

Posts: 115 Umur: 19 Pemilik: Al2SiO5
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Eropa Umur: 18
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 23rd December 2009, 17:21 | |
| Gabrielle agak bingung dengan tingkah nona Exorcist yang langsung menariknya. E-eh, tidak apa-apa sih, sebenarnya. Toh, waktu Gaby juga masih cukup senggang. Tapi...apa tidak apa-apa?
"Ja--jangan! Err, maksudnya--tanggung kan, bagaimana kalau kau temani aku dulu sebentar lagi di sini?"
Muka Gabrielle sontak memerah sampai ke telinganya mendengar pernyataan Glau tadi. Ga-gawat! Sedang ada banyak orang di sini dan mukanya masih tetap merah seperti tomat bagaimanapun Gaby berusaha menenangkan diri -- menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Tapi nafas gadis itu malah jadi sedikit tersengal-sengal.
"E-eh?" hanya itulah yang bisa ia katakan sebagai respon dari ucapan tadi.
"Kabarku sendiri... Yah, tak begitu buruk. Sedikit migrain, mungkin."
Ya, ya. Jauh lebih baik bicara masalah kesehatan saja, setidaknya untuk saat ini.
"Mu-mungkin..mungkin Glau terlalu capek, seperti waktu itu...? Beristirahatlah yang cukup. Glau juga bisa datang ke infirmari kalau migrainnya masih berlanjut," ucapnya dengan tempo agak cepat. Semoga saja Glau bisa mendengar suaranya. Fiuh, untungnya muka tomat Gaby berangsur-angsur menjadi normal kembali. Kalau tidak....
"Shion, Shion," panggilnya dengan suara setengah berbisik pada temannya itu. "Bagaimana hubunganmu dengan...nya?" bisiknya ke telinga Shion, takutnya orang yang bersangkutan tahu apa yang ingin dibicarakannya.
...berharap Gaby tak salah bicara kali ini... |
|  | | A. Růžena Mlynarikova

Posts: 120 Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 20
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 27th December 2009, 05:15 | |
| "Ja--jangan! Err, maksudnya--tanggung kan, bagaimana kalau kau temani aku dulu sebentar lagi di sini?"
Satu kalimat itu dengan sukses membuat sang gadis Praha menoleh pada Glau. Kalimat yang terlontar pada Gaby itu membuat Allegra merasa.. erh entahlah ia juga aneh sendiri rasanya. Yang jelas alisnya menekuk ke bawah. Dan anehnya lagi ia membatin pelan, batinan spontan yang ia sendiri tak tau kenapa ia merasa demikian. Ya, kalau Glaucio Amadeus Marino itu merasa dia tadinya sendirian tanpa keberadaan sang staff medis berarti memang Allegra tidak perlu kan menemani pemuda itu?
Dan tampaknya mereka juga cukup akrab...
Berasumsi bahwa dirinya hanya akan menganggu Allegra mendesah pelan, ia kembali teringat akan alasan kenapa dirinya sudah berpakaian begitu lengkap di saat yang lain masih memakai pakaian tidur mereka. Ada kiriman untuknya dari Wina—mungkin ayahnya lagi—dan bukan cemilan tentu saja kalau tidak salah si di telegram sebelumnya beliau berkata kalau tak lama lagi ada tempat baru di sekitar Westminster yang akan dibuka dan beliau mendapatkan tiket hari pembukaan pertama—mungkin lebih dari satu—yang dikirim ke putrinya tersayang. Putri satu-satunya setelah putri sulungnya tiada. Jadi sekarang ia akan beranjak ke ruangan telegram milik bagian 'Diplomasi dan Komunikasi'.
Bersiap berdiri lagi saat Glaucio mengatakan sesuatu yang mungkin ditujukan padanya, "Thanks, err.... Punya lebih?"
Tanpa mengucapkan apapun, hanya mengalamatkan sinar matanya pada pemuda Italia, dan untungnya—atau sebaliknya—Lio sudah memberikannya tanpa diminta jadi gadis Praha itu tak usah memberikan asupan coklat tambahan pada Glau.
Delapan puluh persen kokoa murni?
Pahit.
Gabriella sendiri pun sedang asyik berbisik-bisik dengan Shion—entah apa yang mereka bisikkan—dan Allegra menjalankan kedua kaki jenjangnya ke arah pintu. “Ahh aku baru ingat ada yang harus ku lakukan,” tukas gadis berusia 20 tahun dengan nada yang begitu ringan menyembunyikan kejanggalan di dalam hatinya seraya melewati Glau—yang masih berada di sekitar pintu kamarnya.
Menginjak ambang pintu dan menatap mereka dengan senyuman lebar yang memang selalu menyertainya, “Habiskan saja semua gula-gula itu...” melirik untuk sepersekian detik pada sosok berambut abu, “selamat bersenang-senang~” melambaikan telapak tangan dan mulai berjalan di koridor tanpa menoleh lagi ke arah kamarnya dan minatnya ke semua rasa manis itu pun menguap sudah.
Ya sudah, selamat bersenang-senang tanpa Allegra.
Huh.
[Allegra : OUT ] |
|  | | Shion R. Herleifursdóttir

Posts: 85 Umur: 16
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 16 y/o
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 27th December 2009, 11:05 | |
| Hmm..
Manik aquamarinenya mengamati kedua sosok, Gaby dan Glau yang sedang berbicara layaknya dua orang berbicara secara normal, namun Shion seakan mendapati dinding tak terlihat yang tak dapat ditembus begitu saja dengan berbagai percakapan mereka dan semu merah di wajah Gaby, ternyata Gaby.. uhum, pantas sajalah dia bisa memberikan saran baginya ketika di kamar dia dan Lia waktu itu. Orangnya sendiri yang mengalami eh? Sebenarnya bisa saja Shion tidak tahu diri dengan langsung menembus percakapan di antara mereka berdua, tapi tidak ah, untuk kali ini ia tidak mau ikut-ikutan.
Dan memilih untuk mundur tepat di sebelah Lio berdiri.
"Hei, hei, mereka.."
Menarik seutas kain dari bagian lengan milik pemuda itu, memberi isyarat bahwa dua orang yang sedang berbincang-bincang dengan aura, yeah kau tahulah itu sepertinya ada yang aneh ya? Hubungannya maksud Shion. Dan melihat kembali bungkus permen dan cokelat yang masih bersisa banyak, Shion mendekatinya, menekukkan kakinya membentuk gestur dengan kedua kaki terlipat di samping paha, memilin satu persatu manisan tersebut, tapi tak ada yang masuk ke mulutnya. Tidak tertarik, sebagus apapun bentuk dan warna bingkisannya.
Mengambil sebuah permen batangan dengan warna yang tentunya mengandung unsur manis lebih dari cokelat yang diberikan Lio pada Glau dengan kandungan kokoa sekitar delapan puluh persen, euh menjijikkan, ia bisa saja memakannya tapi sebaiknya tidka jika tak ingin menyiksa mulutnya. Memainkan permen batangan berwarna-warni tersebut, ia menggerakkannya ke arah Lio, menunjuk lebih tepatnya.
"Makan"
Perintah?
Tidak juga. Ia kembali membuka bungkusan permen tersebut, menegakkan tubuhnya, berdiri dan kembali mendekati Lio. Mengacungkannya tepat di depan wajah, atau mulut pemuda tersebut. Menunggu reaksi yang bersangkutan untuk memasukkan permen tersebut ke dalam mulutnya. Tadi kan dia yang dipaksa memakan kue vanila itu, sekarang giliranmu, ia mau melihat apakah Lio tipe yang suka dengan cokelat, mungkin lain kali.. ah tidak, tidak, itu tidak akan mungkin terjadi kan.
"Allegra?"
Mendapatkan sosok teman sekamarnya tak lama kemudian perlahan meninggalkan tempat tersebut setelah berkata ada sesuatu yang harus dilakukan. Kok tiba-tiba seperti itu? Nada ringan yang ganjil, kelihatan ia menyembunyikan sesuatu, tapi Shion tidak tahu apa maksudnya, ia hanya bisa menangkap lewat nada bicara dan ekspresi senyum ramahnya yang tidak seperti biasa. Apakah berhubungan dengan pemuda pecinta cokelat pahit itu? Melirik dua orang yang masih berbincang-bincang hingga Gaby memanggilnya, membuatnya datang menghampiri gadis yang berkata sesuatu dengan cara berbisik.
"Hubungan apa?"
Heran, pertanyaan itu ia ucapkan dengan nada bicara normal bukan berbisik yang apstinya cukup terdengar oleh beberapa orang yang masih tersisa disitu. Hei, Shion bukan sengaja melakukannya, hanya saja jika tiba-tiba dikatakan seperti itu mana dia mengerti, apalagi dia sendiri masih tetap tak memahami apa yang dimaksud Gaby dan Lia malam ketika itu dengan apapun yang berhubungan dengan perasaan itu. Jadi wajar saja ia bertanya balik, siapa tahu malahan masalah Gaby yang sedang dibicarakan.
OOC: Err, godmood? PM / IM aja ==' |
|  | | Gabrielle van Rijn

Posts: 115 Umur: 19 Pemilik: Al2SiO5
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Eropa Umur: 18
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 3rd January 2010, 12:58 | |
| “Habiskan saja semua gula-gula itu...selamat bersenang-senang~”
E-eh? Kenapa Allegra pergi dari kamar pribadinya? Apakah Gabrielle ini membuatnya tersinggung? Ga-gawat kalau begitu. Gadis Belanda itu menoleh sedikit ke arah Shion, yang tampaknya tidak terlalu peduli dengan kepergian Allegra. Buktinya ia malah bertanya tentang hubungan yang tadi ingin dibicarakan Gaby, bukannya menghentikan langkah teman sekamarnya itu. Fuuh, lebih baik tidak berprasangka buruk Gabrielle van Rijn.
"I-itu, dengan pria yang diceritakan kemarin, yang itu..." bisik Gabrielle sekali lagi sambil memberi isyarat pada Shion tentang pria itu--Lioret Shirogane, kalau tidak salah? Yang sedang menikmati tumpukan cokelat di sini.
Sebenarnya Gabrielle merasa sedikit tidak nyaman berada di kamar ini. Bukannya kenapa-kenapa, hanya saja sosok Lioret itu membuatya sedikit canggung. Bagaimana kalau secara tidak sengaja Lioret menyentuh Gaby, dan akibatnya sudah jelas kan? Tapi kalau ia pergi juga tidak enak. Gabrielle kemudian menghela nafas perlahan. Tenanglah dan nikmati saja, hai Gabrielle!
"Bo-Boleh aku minta cokelat itu?" ucapnya sambil tersenyum pada seisi ruangan. |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 6th January 2010, 20:32 | |
| Rasanya kok jadi tambah ‘ramai’? Hanya perasaannya saja, suasananya jadi lebih ramai karena banyak yang bicara atau suasana hati masing-masing orang di sana yang membuat atmosfer dalam kamar jadi seperti dihuni 100 orang? Begitulah anak muda, bertemu orang langsung rusuh, bertemu—apa sih istilahnya—yang lain sedikit saja langsung diam tapi perasaannya yang balik rusuh. Dia juga anak muda, sih, dan tidak meragukan teori itu.
“....?” matanya mengembang sejenak sebelum kembali ke kondisi awalnya, hanya mengangguk-ngangguk seperti orang tua saat melihat ‘hal’ yang ditunjukan Shion. Mengingat ia belum—atau sedikit—mengerti soal perasaan-anak-muda, butuh beberapa detik baginya untuk menebak (iya, menebak) apa arti dari kelakuan dua insan di depan sana. Gaby, ia mendapat kesan gadis itu pemalu dan agak tertutup tapi kenapa—menurut penglihatannya—sifat pemalunya jadi lebih ekstrim saat berhadapan dengan Glau yang justru seperti orang linglung di depan Gaby? Dari situasi itu justru ia malah dapat seenaknya menarik kesimpulan.
Bahwa kedua anak muda itu sedang—hmm...kau tahu maksudku.
"Makan"
“Nay,”
Menggerakan tangan seolah meminta untuk menyingkirkan permen tidak jelas dari mulutnya. Lagipula yang diberikan Shion pasti ada ‘sesuatu’nya.
“Ahh aku baru ingat ada yang harus ku lakukan. Habiskan saja semua gula-gula itu... selamat bersenang-senang~”
Jelas tidak melarang dirinya untuk menoleh ke si pemilik kamar yang meninggalkan kamarnya secara tiba-tiba. Paling tidak habiskan coklatnya dulu, kek. “Ah, oke, merci” lah? Kenapa jadi dia yang berterima kasih? Bingung juga ya—hahaha.
"Bo-Boleh aku minta cokelat itu?"
Hoo, sepertinya coklatnya akan cepat habis—kasihan Allegra tidak kebagian banyak—karena permintaan dari Gaby yang datang dengan membawa coklat. Eh, kalau dia balik minta coklat nanti dimarahi tidak?
“Pilih, dipilih~” ujarnya sambil menyodorkan kardus yang masih tergeletak di lantai. Ia memposisikan diri bertumpu di atas lutut sementara tangannya kembali bergerak mencarikan coklat yang—menurutnya—enak, “ mau yang manis, pahit, tajam?” tanyanya, “masih banyak.” Wajahnya mungkin sekarang seperti => ( : D ) saat berhenti mencarikan coklat dan secara tidak langsung mempersilahkan gadis pemalu itu memilihnya sendiri. |
|  | | Glaucio Marino

Posts: 88 Pemilik: *nbla Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 20
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 18th January 2010, 17:12 | |
| Galucio Marino, bersyukur sekali lagi bahwa dalam sepanjang hidupnya ia tak pernah punya cukup waktu lebih untuk memikirkan ketidak rasionalan dan kerumitan dari cara berpikir wanita. Mendengus perlahan sejenak, setelah berikutnya menangkap bungkusan dari Lio tanpa memperhatikan labelnya serta apa yang dikatakan oleh si pemuda itu lebih lanjut. Ia punya lebih banyak urusan daripada sekedar untuk memperhatikan labelnya ataupun memikirkan segala hal remeh-emeh semacam itu--tentang perempuan itu, maksudnya.
Entah siapalah yang barusan tadi lebih bersemangat untuk menghabiskan semuanya, yang makan seolah-olah tubuhnya tidak akan pernah jadi gemuk kalau cuma menghabiskan sbeungkus besar itu sekali-sekali dalam seminggu, lalu yang bersemangat untuk menarik-nariknya ke sini untuk makan... Dan sekarang berpaling dengan begitu mendadaknya. Glaucio mencium akan adanya sesuatu yang 'tak beres' juga, setidaknya begitu menurutnya--entahlah kalau bagi orang lain itu cuma mengada-ada. Tapi bukannya Glaucio memang sudah bilang bahwa ia tak peduli dengan urusan begituan?
"Selamat bekerja--Allegra,"
Heck--ia tak pernah berbasa-basi secara non formal pada orang lain; terlebih jika orang itu adalah seorang wanta.
"Trims juga, Lio."
Lalu kembali membuka bungkusannya tanpa perlu bertanya-tanya lebih lanjut, anggaplah cukup kali ini saja ia mempercayakan seleranya pada orang lain, kali ini pada Shirogane. Satu kunyahan lagi, lumatan, kecapan dari persenyawaan air ludah dengan makanan manis yang selama ini begitu 'terlarang' baginya itu... Hambar. Dan ia memang tak boleh mengeluh atas itu, berhubung lama kelamaan rasanya yang asli jadi semakin terasa... pahit.
Nyatanya toh kalau hanya itu semuanya bisa ditelan dengan mudah, tidak sepahit dengan obat-obatan yang disediakan dari pihak Infarmari. Glaucio sendiri lebih sering menolak untuk pergi ke sana... Kecuali karena adanya satu alasan itu.
"Semoga semua yang pahit-pahit begini memang bisa jadi obat," melirik perlahan ke arah Lioret, Shion, Gabriella... Setengah menggumam sembari melirik tak acuh ke arah seluruh oenjuru dan sudut ruangan, kode langsung untuk menyatakannya kembali sebagai sesuatu yang tidak perlu didengar maupun direspon orang lain lebih lanjut--anggaplah yang barusan hanya racauannya di tengah kepala yang sakit. |
|  | | | | [CENTRAL] Sweet Panic Room | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
|
|