| Time | | Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880 |
| | | [CENTRAL] Sweet Panic Room | |
| |
| Author | Message |
|---|
Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: [CENTRAL] Sweet Panic Room 1st December 2009, 22:51 | |
| ((OOC: Open for All, widely open desu~8D - Timeline: setelah semua RP lah pokoknya  30 Januari kali ya~=w=. 8 pagi, cerah. - Silahkan kalo mau rusuh, asal jangan hancurin ruangannya, kesian penghuninya ' 'a *plak* - KACANGIN JUDULNYA! KACANGIIN! DD8 *digetok yang bikin* EDIT TO ADD: closed for now. Akan kembali di open setelah ada pemberitahuan. Terima kasih :3] ))
Astaga kue. Astaga coklat. Astaga roti. Astaga permen. Untung tidak ada udang, haha. Lio, dengan mata menyipit seakan tidak percaya apa yang dijejalkan dalam kardus besar di depan kamarnya. Mengangkat kardus besar yang beratnya bukan main itu ke dalam kamarnya dan meletakannya di lantai begitu saja. Berkali-kali ia membolak balik secarik kertas yang diselipkan di dalamnya, dengan sebuah tulisan tangan dalam bahasa ...Ceko... yang jujur saja tidak ia mengerti. Ujung-ujungnya ia hanya mengenali satu kata yang bahkan tidak terbaca dengan jelas. Sedikit banyak ia sangsi, mungkin ini kiriman ‘kenalan’nya saat ia mengunjungi negara itu dalam misinya beberapa tahun lalu. Beberapa tahun? Masih ingat ya mereka? Pertanyaan pertama, bagaimana ia akan menghabiskan semua benda manis ini? Pertanyaan kedua, DENGAN SIAPA? Maaf, Lio masih waras, untuk tidak menelan semuanya seperti bekicot. Jadi, tanpa pertimbangan lain lagi, ia membawa paket mengerikan itu ke kamar sesama rekan Disciple-nya, Shion. Tidak jauh dari tempatnya, seharusnya tidak ada masalah baginya dengan paket yang berat itu. ‘Tok! Tok! Tok!’ suara pintu diketuk. Ia berdiri dengan kardus di depan dada, memperlihatkan berbagai bungkus kue, permen, yang mungkin akan membuat gadis pirang itu mundur beberapa langkah—masalah berat badan, ingat?
Last edited by Lioret I. Shirogane on 3rd December 2009, 22:23; edited 3 times in total |
|  | | A. Růžena Mlynarikova

Posts: 120 Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 20
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 1st December 2009, 22:57 | |
| Ah oke jadi siapa itu yang mengetuk pintu kamarnya?
Allegra, gadis berusia 20 tahun dengan iris warna langit itu berjengit dari kasurnya dengan sorot yang melebar ke arah pintu kayu—yang untungnya tidak sedang rusak.Gadis keturunan Eropa Timur itu duduk sejenak di pinggir kasurnya sebelum ia benar-benar berhasil mengangkat pinggulnya, berjalan mendekati pintu itu. Dan tampaknya bukan Shion—yang sekarang sedang berada entah di mana—karena Shion pastilah tak akan repot-repot menunggu Allegra membukakan pintu ke kamar yang mereka tempati berdua kan?
Dengan suara 'cekrek' pelan kenop pintu tersebut berputar dan memperlihatkan sesosok remaja pria yang berdiri sambil membawa kardus yang tampaknya cukup berat, dan untungnya tidak tertutup jadi tanpa gerakan mengintip pun Allegra yang masih memakai baju seragam exorcist lengkap dengan syal bulu sebagai trademarknya—kali ini bulu Mink yang sudah dicelup warna ungu—bisa tau apa yang dibawa sosok pemuda yang tak asing itu.
Permen.
Gula-gula!
Iris matanya melebar cerah saat melihat bawaan sang pemuda—bukan pemudanya—dan menyadari tulisan dalam bahasa yang akrab untuk dirinya. Tanpa banyak pikir—karena dia memang tak suka berpikir panjang-panjang—gadis berambut pirang sebahu itu berkata riang pada sosok pemuda yang sedikit lebih tinggi di depannya.
“Wow~ Ini untukku ya?”, ujarnya sambil mendekat lincah. Bola matanya berbinar, lengkap dengan sebuah senyuman lebar.
Last edited by A. Růžena Mlynarikova on 3rd December 2009, 06:20; edited 1 time in total |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 2nd December 2009, 20:51 | |
| Pintu kayu di depannya terbuka, menampilkan sesosok gadis pirang dengan iris biru langit yang cantik—matanya, maksudnya—di depannya. Seragam Exorcist panjangnya membentuk tubuhnya dengan cukup jelas dan menonjolkan postur tubuhnya yang tinggi. Sedikit perhatiannya teralih kepada syal bulu yang membungkus leher gadis itu sedemikian rupa. Sebuah pandangan heran karena ia belum pernah melihat Exorcist dengan syal bulu di markas Eropa ini, kecuali gadis itu—Allegra—yang ia kenali sebagai teman sekamar Shion.
Kembali ia tersenyum canggung atas respon gadis yang matanya melebar itu. Apa yang salah dengan barang yang dibawanya? Memangnya ia membawa tarantula dari Amazon yang akan mendiamkan anak kecil yang menangis?
Tapi sebuah kalimat pendek yang diucapkan dengan nada riang—sangat riang kedengarannya—menendang pikiran negatif tadi. Pecinta manis toh. “Aku justru sedang mencari orang rakus yang akan menghabiskan ini,” balasnya lancar.
“Kau mau, Allegra?” namanya Allegra kan? |
|  | | A. Růžena Mlynarikova

Posts: 120 Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 20
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 3rd December 2009, 06:56 | |
| “Aku justru sedang mencari orang rakus yang akan menghabiskan ini,”
Mendengar kalimat itu terlontar dari bibir pemuda itu tentu saja Allegra langsung melancarkan bantahan, “Idih! Enak saja, aku memang suka gula-gula tapi aku tidak rakus kok..huhh,” ucapnya sambil menatap wajah Lioret , berkacak pinggang, bibirnya sendiri manyun dengan pipi kemerahan yang membulat. Sebal.
“Kau mau, Allegra?”
“Pastilah aku mau,” Bibir mungilnya membentuk senyum simpul begitu mendengar tawaran tersebut—dan tampaknya sudah melupakan apa yang dikatakan Lioret. Telapak tangan tertempel di pintu kamar dan melakukan gerakan mendorong perlahan. Memperlihatkan visualisasi kamarnya—dan Shion—yang tertata cukup rapi. Dua single-bed di sisi kanan-kiri kamar, salah satunya tentu adalah milik Allegra dan jika Lioret bisa mengenali gadis itu seharusnya remaja pria itu juga bisa mengidentifikasikan mana kasur yang biasa ditiduri oleh gadis Ceko itu.
Dua kata kunci; bulu hewan.
Allegra mulai memasuki kamar, pintu sekarang terbuka lebar. Ia menoleh pada Lioret, “Ah hei masuklah… umm..” dan baru saja ia sadar kalau walaupun ia mengenali sosok pemuda tanggung itu sebagai sesama disciple dari General Kohler—laiknya Shion—namun ia hanya sekelebat saja mendengar nama yang seharusnya adalah nama pemuda itu. Dahinya mengerut, mencoba mengingat namanya…
“Ahh… errr… Vi--violet?,” Tersenyum lebar, walaupun jelas-jelas tidak yakin. Yah walaupun namanya bukan itu juga Allegra tidak terlalu masalah kok. |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 3rd December 2009, 13:28 | |
| "Kelihatannya rakus, tuh," frasa yang terlontar secara otomatis dari mulutnya. Harusnya seorang gadis akan marah jika kapasitas perutnya disinggung, atau minimal sebal seperti gadis didepannya.
Pintu kamar terbuka lebar di depannya memantulkan bayangan kamar yang cukup rapi pada obsidiannya. Otomatis ia juga menangkap berbagai bulu di dalam. Entah sebagai apa dan untuk apa. Pastilah milik Allegra karena ia tidak pernah melihat Shion dengan benda berbulu.
Sang "nona kamar" mempersilahkannya masuk. Berbagai kalimat berterbangan dalam kepalanya. Tidak apa apakah ia--ke dalam kamar wanita? Intinya ia tidak berniat berpikir dua kali, toh ia sudah ditawarkan, kan?
"Lioret. Darimana juga nama Violet itu?" balasnya, kedua alisnya membentuk sebuah garis lurus sebagai tanda heran. Sementara ia masuk dan meletakan kardus berat itu ke tengah ruangan, kembali pemuda itu menoleh, "namamu betul Allegra, kan?"
Pertanyaan tidak bermutu. Padahal tangan kanannya tampak mengayunkan sebungkus permen mint di wajah gadis itu. |
|  | | A. Růžena Mlynarikova

Posts: 120 Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 20
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 3rd December 2009, 16:00 | |
| Bungkusan permen dan segala macam cemilan manis di dalam kardus sudah mendarat dengan sempurna di lantai kamar. Tentu saja gadis berambut pirang sebahu itu mendekatinya—sambil bersenandung kecil.
Jangan khawatikan fakta bahwa dua orang dengan jenis kromosom yang berbeda itu berduaan di satu kamar, lihatlah, pintu kamar itu masih terbuka lebar kok. Begini-begini Allegra cukup mengerti kok tentang aturan pergaulan pria-wanita remeh macam begitu.
"Lioret. Darimana juga nama Violet itu?"
“Lio—lioret…. Oke aku ingat sekarang.” Allegra tersenyum kecil sambil melirik wajah Lioret sesekali—dan banyak kali ke arah bungkusan yang ada di bawah mereka.
"namamu betul Allegra, kan?"
“Ah ya memang, mana mungkin kan aku lupa dengan—“ kalimatnya terputus, bagian gelap dari manik birunya mengikuti permen yang berayun di depan wajahnya. Senyuman melebar, jemarinya mengambil permen mint itu dengan perlahan, membuka bungkusnya dan memasukkan butiran itu ke bibir mungilnya sebelum melanjutkan kalimatnya.
“—namaku… Hha”
Allegra membungkuk, ia membuka kotak kardus itu lebar-lebar dan matanya semakin bersinar saat ia mendapatkan berbagai macam permen di dalam sana. “Wow, hey liat ini !” tangan gadis itu merogoh-rogoh ke dalam—sebagian isinya sudah berada di luar—dan berhenti sesaat kemudian dengan sebuah permen coklat di genggaman tangannya.
“Kau tau coklat ini? Coklat Swiss yang enak sekali~” gadis Ceko itu berdiri perlahan sambil menunjukkan permen yang dibungkus rapi. Dengan gerakan tangan yang cepat ia melepas bungkusnya—yang tampak begitu eksklusif—dan memperlihatkan bundaran coklat itu pada Lio . “Coba saja... Nih, buka mulutmu~” sebuah senyuman manis terulas di wajahnya yang kemerahan, coklat di ujung jemari bergoyang di wajah Lioret, siap mengirimkannya kapan saja ke asupan pemuda itu.
Jangan terlalu banyak berspekulasi deh, Allegra benar-benar tak memiliki niatan aneh.. dan dia memang begitu kan. Gadis yang easy-going dan jarang berpikir panjang.
Namun satu hal; dia sangat tidak suka ditolak.
Sangat.
Last edited by A. Růžena Mlynarikova on 3rd December 2009, 18:59; edited 3 times in total |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 3rd December 2009, 16:44 | |
| Wah ada perempuan cerewet. Maksudnya lebih cerewet dari perempuan lain yang ia temui, sekalipun Lio menyukai nada bicara riang yang selalu menyertai perkataan beruntun gadis itu. Perasaannya saja atau ia memang tidak sadar bahwa semua, nyaris semua, perempuan memang seperti itu?
"Ah, coklat Swiss," gumamnya, tersenyum lebar. Sepanjang pengetahuannya tentang coklat, katanya sih ya, coklat Swiss itu yang paling enak. Buh. Jangan tanya-tanya coklat dengannya, paling cuma dijawab dengan, "enak ya?"
Manusia berlidah tumpul yang lebih suka kue tart coklat daripada coklatnya. Ha. Ia tidak membiarkan dirinya disuapi orang lain. Memangnya dia balita yang belum bisa menggenggam sendok dengan benar?
Tapi dengan perkataan yang baru ia ucapkan dengan nada ingin tahu, sadarkah pemuda pencinta asin ini bahwa mulutnya terbuka? |
|  | | A. Růžena Mlynarikova

Posts: 120 Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 20
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 3rd December 2009, 20:44 | |
| "enak ya?"
Hap!
Sebuah butiran coklat meluncur ke dalam mulut pemuda Prancis itu dengan mulus, ujung jari Allegra mengantarkan bingkisan manis itu. Tersenyum seperti biasa, dengan kedua telapak tangan memegang pinggulnya.
“Enak kan?,” ucapnya dengan nada ringan.
Allegra kembali menatap bungkusan coklat yang masih utuh di genggamannya. “Kau tahu? Rasanya kita berdua tak bisa menghabiskan semua ini sendirian…”
Siapa tadi yang mengatainya rakus, ha!
MAAAP SINGKAAAAT ||OTL
Status : Open for all!
Silahkan rep =33 |
|  | | Shion R. Herleifursdóttir

Posts: 85 Umur: 16
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 16 y/o
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 3rd December 2009, 21:20 | |
| "Allegra?"
Mengerlingkan aquamarinenya ke seluruh ruangan yang merupakan kamarnya sekarang dengan seorang gadis berpangkat sama dengannya. Lebih tua empat tahun, namun hal tersebut tak membuatnya membatasi pergerakan miliknya untuk bersikap lebih sopan hanya karena dia lebih tua. Aih, tidak bertata krama katamu? Yang benar saja, Gelvane kennari bukan seorang yang tidak bertanggung jawab hingga membuat Shion tumbuh menjadi gadis yang tak baik. Setidaknya untuk bagian yang umum, hal lain seperti sifat hanya diri sendirilah yang menentukan kan?
Masuk ke dalam, ia belum menemukan sosok teman sekamarnya, mungkin sedang pergi? Ya sudah. Lebih baik sekarang ia berbuat apa? Melanjutkan bahan bacaan yang belum sempat diselesaikannya waktu itu tidak buruk juga. Sedikit menilik bagian tempat peraduan Allegra, nampak sangat berbeda dengan segala bulu-bulu tersebut. Ia tidak terlalu menyukai bahan seperti itu sebenarnya, membuatnya seakan selalu bersin dan bersin, dan ia membenci hal itu, jadi terkadang tanpa teman sekamarnya sadari, Shion sedikit membuat sekat pembatas tak terlalu terlihat dengan segala macam buku-buku yang dikoleksinya.
Nampak sedikit mengganggu jalan, tapi tak apa jika masih ada kemungkinan untuk lewat kan? Ah, bosan sekali rasanya, berendam air panas saja, dapat membunuh waktu yang ada sekaligus menunggu kedatangan teman sekamar yang sedikit terpaut urusan dengannya perihal bulu-bulu yang makin menjalar ke arah bagian wilayahnya sendiri. Melenggangkan kakinya perlahan masuk ke kamar mandi setelah meninggalkan seragam exorcist miliknya di bagian ujung tumpukab buku tersebut, menguncinya dan mulai melakukan kegiatan berendam air hangat tersebut.
Mendengar suara pintu masuk, mungkin Allegra sudah datang, ah biarkan saja, ia sedang menikmati hal ini. Berpikir kembali untuk meneruskan kegiatan miliknya. Hu-uh, ia tidak suka mandi dengan kelopak bunga di sekitarnya, cukup dengan cairan mandi ini saja, tidak terlalu menyolok seperti bunga-bunga nista itu. Masih asyik dengan kegiatannya sendiri ketika mendengar bunyi ketukan di pintu, siapa sih? Ah biarkan saja ada Allegra ini.
Tapi suara itu... ah mungkin hanya fantasinya saja. Cih, kenapa akhir-akhir ini orang tersebut selalu muncul di pikirannya? Padahal ia yang menyebabkan bagian tubuh depannya ini, dada, sedikit meninggalkan jejak kecil berupa luka yang sempat hampir merenggut nyawanya ketika itu, terutama setelah kejadian yang kembali merenggut emosinya itu lagi. Hampir saja lukanya terinfeksi dengan sukses apabila bukan karena seseorang yang mengobati lukanya setelah ketidaksadaran ia selama beberapa hari.
Membuatnya melupakan sebagian kejadian yang terjadi. Untunglah, sepertinya bukan kenangan bagus juga.
Menyelesaikan kegiatannya saat ini dan mulai berpakaian. Saat ini ia sedang tidak ada tugas dan kemungkinan besar akan mendekam terus di kamarnya hingga esok hari jika tidak ada apapun tentunya, jadi ia tidak perlu mengenakan seragam formal itu kan? Mengambil mantel rajutnya yang berwarna beige serta mengenakan celana pendek berwarna hitam. Huh, dingin, ia pun memakai kaus kaki hitam sepahanya dan keluar sampai ketika melihat kedua sosok di kamarnya, sedang saling bersuapan layaknya pasangan bermesraan.
"....."
Terdiam.
Lio eh? Dan menatap kardus besar yang berisi makanan. Hu-uh dia tidak peduli, terserah mereka mau ngapain walau dunia serasa milik mereka berdua sekalipun. Melenggangkan kakinya dengan sedikit penekanan, bau harum setelah mandi nampak terpancar terutama dari tirai pirangnya, mengambil buku yang hendak ia baca tadi dan mulai membolak-balik halaman per halaman yang entah kenapa dengan rasa kesal, aneh padahal biasa saja kan mereka mau saling suapan seperti apapun, terserah mereka. Membuat posisi tengkurap dengan buku tersebut di muka bantalnya, kaki ia tekuk, terkadang sedikit bergerak sekadar mengatasi rasa bosannya.
Nampak tidak tenang, sesekali melirik dua intetitas yang menyebalkan itu.
Shion dicuekin huh?
OOC: Datang atas panggilan my mom *plak!*. Celana yang dipakai Shion btw model hot pants lho ya, dan posisi tidurnya.. bayangkan saja putri duyung santai ala tengkurap *shoot*. Kalau salah kasih tahu saja. |
|  | | Glaucio Marino

Posts: 88 Pemilik: *nbla Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 20
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 3rd December 2009, 21:23 | |
| Pagi yang cerah--semuanya? Mataharinya berinar. Awannya putih bergerak tak terbatas. Anginnya sejuk, sepoi--dan burung-burung yang berkicau, semuanya... Dia tidak menyukai apa yang baru saja dideskripsikannya, sungguh. memang apa pengaruh semuanya pada dirinya sendiri? Glaucio Marino, 21 tahun kurang lebihnya. Dan jika cuaca cerah bisa membuat suasana hati siapapun menjadi ikut cerah, sayang sekali... Tidak berlaku pada dirinya.
Masih pagi sekali, kelihatannya--mungkin masih dini hari, atau entah kapan. atau mungkin juga sudah siang. Bergadang setelah mendadak insomnia semalam suntuk memang bisa membuatnya mendadak buta hari tanggal serta waktu. Yang jelas saat ini ia sendiri masih mengantuk. Masih dengan dandanan semrawut, tanpa seragam yang tergantikan oleh sepasang pakaian non formal juga tanpa rambut yang tersisir rapi. Malasnya, ungg. Lalu tujuannya saat ini meninggalkan kamar adalah dapur, mencari barangkali jika memang ada segelas kopi--atau teh.
Tanpa gula.
Bagus, tenggorokannya terasa sepat sekali. Mendesah sedikit, menggaruk bagian kepala. Sampai mencium samar bau makanan dari satu sudut. dapurnya masih jauh, ia tahu--dan ini juga masih lingkungan kamar para staff dan orang-orang Black Order lainnya. Mengharapkan apa?
Lalu suara ribut-ribut di sebelah sana, suara gadis yang kedengaran begitu familiar... Tidak, tidak mungkin ia lupa--"Selamat pagi--Shirogane, maaf sudah ikut menyusup seenaknya." Sapaan sok formal, basa-basi belaka. "...Allegra." Satu orang lagi, wanita yang ia sendiri lupa namanya--Glaucio memang bukan orang yang pandai bergaul dan menghapal seluruh ratusan nama orang yang ada di sini--yang hanya memperhatikan keadaan dengan ekspresi datar. Serupa dengan yang dimiliki si pria itu sekarng... Meskipun melihat Allegra menyuapi laki-laki lain membuatnya merasa... Err, sesuatu yang tak terdefinisikan.
Absurd.
Dan sniff, sniff--ia kenal aroma apa ini. Cocoa. dengan campuran susu. Banyak gula. Cokelat, import. ...Pantas rasanya mual, serius. |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 3rd December 2009, 22:22 | |
| Asin kebalikan dari manis, manis kebalikan dari asin, pahit kebalikan dari manis juga, lalu asam apa? Yang diketahui pemuda itu hanya definisi rasa asam yang membuat lidah orang serasa dilipat dengan sepatu kuda. Pertanyaan pertama, di dunia ini, apa ada coklat yang rasanya asam? Mungkin ada, mungkin tidak. Dan dia bersyukur—sangat—benda bulat manis yang melompat begitu saja ke dalam mulutnya tidak berasa asam. Manis malah, sangat. Dengan sedikit rasa susu yang dicampurkan dengan sangat rata, bahkan meleleh saat ia mengisapnya. Ini coklat Swiss? Yang ia tahu hanya coklat panas—coklat yang dilelehkan lalu dikasih susu apalah itu—dengan beberapa gelas wine yang sering ia minum saat kecil. Ah ya, wine. Sayang di sini tidak ada wine.
“E...” Obsidian-nya berbinar setelah beberapa saat menghisap benda manis itu. Tidak sanggup berkata atau berkomentar apapun sehingga ia hanya menggunakan kilau-berbinar-pada-matanya yang menyampaikan pesan ‘mau lagi dong’. “He-eh,” balasnya, kembali mengorek-ngorek kardus di depannya, siapa tahu ada coklat lagi—dan ternyata memang banyak. “Aku sih jelas tidak bisa. Tapi kau kan kelihatan rakus,” sambungnya masih dengan mata terpaku pada kardus.
Wah. Dapat. Dua bungkus coklat, keduanya batang. Tertulis pada bungkusnya, keduanya berasal dari Belanda tapi dengan merek dan rasa yang berbeda. Kembali tangannya menimbang-nimbang kedua batang coklat itu dengan pemikiran ‘pasti rasanya berbeda.’ Sebuah proposisi yang masih perlu dipertanyakan. “Hei, lebih enak yang mana?” tanyanya, menjulurkan kedua coklat pada Allegra yang tampaknya memang ahli.
Coklat, berhasil membuat respon kagetnya berkurang. Penghuni kamar yang satu lagi—Shion—keluar dari kamar mandi dan tampak sekali baru saja berpakaian. Rambut pirang panjang kebanggaannya kini tampak lebih pendek, tapi menurutnya begitu lebih manis. Sekilas indera penciumannya menangkap bau sabun yang masih segar, lewat begitu saja. Begitu saja. Lewat begitu saja...
Syok, rasanya agak terpukul mendapati sikap dingin gadis itu. Tidak menyapa, tidak melirik, mungkin sedikit tapi hanya sekilas saja, dan dengan tidak acuh malah membaca buku tanpa berbicara sama sekali.
Oke, Lio bisa mengerti kalau gadis itu marah dan menyimpan—ehem—dendam padanya setelah pertarungan beberapa minggu lalu. ‘Tapi ga usah kayak gitu gek napa!’ batinnya kasar dalam hati. Lio melepaskan kedua coklat tadi, meletakannya di ranjang yang kosong—yang penuh bulu binatang—dengan cepat mengambil sebuah bantal—bantal bulu, jelas—dan melemparkannya ke gadis-cuek-cepet-marah di seberang ruangan.
“Jangan marah kalau permennya kuhabiskan loh,” seringai lebar tampak jelas di wajahnya, disusul dengan sebungkus kue—kue vanilla—yang dilemparkan ke arah Shion.
Sebuah sapaan formal, memanggilnya dengan nama belakangs eolah ia akan menggigitnya jika nama depannya disebut begitu saja. Seseorang yang sepanjang memorinya ia kenali sebagai Disciple dari General Karlsen, entah tertarik dengan bau manis atau dengan pintu kamar yang terbuka lebar, “Oh, halo, Glau,” sok akrab? Peduli amat.
“Mau permen?” senyum dagang, senyum memaksa, senyum membujuk. Tampaknya semuanya tercampur. |
|  | | A. Růžena Mlynarikova

Posts: 120 Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 20
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 4th December 2009, 12:22 | |
| Selagi dia sibuk memperhatikan aneka ragam cemilan itu suara dari kamar mandi mengalihkan perhatiannya. Eh Shion ternyata, ya ampun dari tadi gadis mungil itu di kamar mandi dan ia tak menyadarinya? Aduh duh.
Kemana sih pikiranmu Allegra?
Tentu saja ke cemilan yang barusan datang itu.
Entah kenapa tampaknya Shion terlihat kesal saat melihat pemuda yang ada bersamanya itu—atau dengan dirinya?. Entahlah rasanya Allegra tidak berbuat apapun kok, dan koleksi bulu-bulu itu, memang sedikit hampir mencapai barier dari buku-buku yang di tumpuk Shion tapi cuma sedikit saja kok, sumpah deh, sedikit!.
Namun tetap saja Allegra—dengan bungkus coklat yang masih ada di pelukan—mencoba mendekatinya, perlahan-lahan namun suara seorang pria lain sontak menghentikan langkahnya.
"...Allegra."
“Waw Glau,” ia menoleh pada pria yang sepantaran dengannya itu, mendekatinya—setelah memastikan bahwa Lio tampaknya akan berbicara pada Shion—dan berkata riang. “Aku tak menyangka bisa melihatmu sepagi ini,” manik biru gadis Ceko itu melihat sang pria Italia, yang jujur saja masih terlihat berantakan dan sedikit… bermuka masam?
Dan rasa-rasanya sikap pria itu sedikit berbeda setelah kejadian kecil beberapa waktu silam. Umm, Allegra ingat kok apa yang terjadi waktu itu namun ia tidak ingin terlalu memperbesar masalah.
Rasa-rasanya barusan Lioret memanggilnya kan, oh ya coklat. Allegra melirik coklat yang digenggam Lioret—yang sekarang mengambil koleksi bantalnya—iris biru langitnya mengira-ngira jenis coklat yang dipertanyakan pemuda Prancis itu sambil berjalan pelan.
“Semuanya enak kok… hanya saja yang ini kandungan coklatnya lebih banyak, 70%, sedikit pahit sih…” dahi gadis bermahkota pirang itu sedikit mengerut. Mengambil dark choco dan kembali mendekati Glaucio, sebuah senyuman dari parasnya. Sentilan pelan pada kerutan kecil yang senantiasa tertempel di wajah sang pemuda serta menyerahkan coklat pada genggaman rekan disciplenya.“Namun sepertinya cocok untukmu yang tak terlalu menyukai makanan manis Glau~”
Dan apakah Alegra sadar kalau sikapnya pada Glau juga sedikit berbeda?
Kembali menoleh pada teman sekamarnya, “Shion, tenang saja~ cemilan masih banyak kok kau pasti kebagian.. mana mungkin kan aku lupa padamu.”
Senyuman lebar nan ramah, ah, tampaknya disciple si general kulit badak itu telah mengambil kesimpulan yang salah.
Last edited by A. Růžena Mlynarikova on 4th December 2009, 14:20; edited 1 time in total |
|  | | Gabrielle van Rijn

Posts: 115 Umur: 19 Pemilik: Al2SiO5
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Eropa Umur: 18
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 4th December 2009, 13:43 | |
| Akhir Januari sudah dekat, walaupun tentu masih sekitar sebulan lagi musim dingin berganti menjadi musim semi yang hangat. Mengenakan sebuah syal berwarna biru muda pemberian seorang pria di waktu natal, Gabrielle van Rijn berjalan tenang dan santai menuju sebuah kamar tak jauh dari kamarnya. Kamar tempat salah satu teman barunya berada, siapa lagi kalau bukan Shion. Entah mengapa, Gabrielle ingin mengunjungi kamarnya. Toh, Shion sudah datang ke kamarnya kemarin-kemarin, Gabrielle juga cukup penasaran dengan kamar Shion sendiri. Di tangannya terdapat beberapa bungkusan yang dihias pita berwarna putih. Apa lagi sih, yang akan Gaby bawa selain cokelat buatannya sendiri?
Karena jaraknya juga tak terlalu jauh, pintu kamar Shion sudah terlihat oleh manik biru milik gadis asal belanda itu. Pintunya terbuka cukup lebar. Mungkin sedang ada tamu di dalamnya. Hmm, kalau Shion sedang sibuk, Gabrielle akan menyerahkan cokelatnya saja lalu pergi ke infirmari tempatnya bekerja.
Gaby sedikit mengintip ke kamar itu. "Pe-permisi, Shion?" ucapnya agak ragu karena takut mengganggu. Di dalamnya terlihat juga beberapa orang...kalau tidak salah Lioret, Allegra, dan...
"Glau?" tanyanya perlahan pada sosok yang memberikan syal biru yang dilingkarkan di lehernya. Sontak wajahnya jadi agak memerah, ia sedikit terkejut dan malu Glaucio ada di dalamnya juga. E-eh, kenapa harus malu? |
|  | | Shion R. Herleifursdóttir

Posts: 85 Umur: 16
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 16 y/o
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 4th December 2009, 17:03 | |
| He? Buat apa dia kesal hanya karena berbagai macam makanan manis yang bisa membuat berat badannya naik seketika itu coba? Sedikit mengerlingkan aquamarine miliknya pada teman sekamarnya, tersirat sebuah perasaan sedikit kesal atas keterlambatan berpikir yang bisa mengubah haluan pikirannya menjadi alasan Shion marah adalah karena kue, coklat, dan permen manis itu. Sejak kapan pula ia harus kesal hanya karena tidak dibagi makanan? Kembali kepada bukunya, ia sendiri juga dilanda rasa bingung mengapa bisa tiba-tiba menjadi kesal seperti ini. Apakah benar kata Allegra bahwa dia takut tak dibagi jatah miliknya?
Peduli amat pada hal tersebut.
Silakan kalau mau bermesraan, anggap saja Shion tidak ada. Merusak suasana orang yang sedang mempunyai mood untuk mendapatkan hiburan saja. Kembali pada teks tulisan buku yang sedang ia baca ketika sebuah bantal bulu meluncur ke arahnya. Menimbulkan dorongan mundur pada tubuhnya dan sekali lagi, seperti yang dikatannya tadi, ia kembali bersin dengan suksesnya sebagai reaksi karena unsur bulu-bulu lebat tersebut.
"Hatschi! Aish.. apa yang kau lakukan Lio jelek?!"
Yang ini juga sama saja, memangnya kenapa kalau makanan-makanan manis itu dihabiskan? Sebodo. Mendapatkan sebuah kue, vanilla mungkin dengan respon sabit lebar menyebalkan terpatri di wajah sang pemuda, membuatnya bertambah kesal. Ia pun mengambil kembali bantal bulu yang pastinya bukan miliknya, Allegra, dan menegakkan tubuhnya, melakukan gerakan peringanan tubuh ke arah tempat tidur di seberangnya, mendaratkan bantal bulu tersebut persis di atas wajah yang pertama kali mencari masalah dengannya.
"Huh, makan saja ini, Lio yang menyebalkan!"
Masih mendesak penuh bantal bulu itu ke wajah sesama rekan disciple dengan general yang sama ketika sesosok pemuda datang lagi ke kamar miliknya dan Allegra. Siapa ya? Pernah melihatnya tapi lupa namanya. Glau. Ah ya, baru saja teringat nama exorcist berjabatan sama dengan semua exorcist yang ada disitu berkat penyebutan nama yang Allegra sebutkan. Tersedot kemari karena bau manis ini juga eh? Yak, ada lagi satu orang yang mempunyai daya tampung makanan banyak dalam dirinya, rakus.
Sebal, sebal , sebal!
Melirik kardus makanan manis tersebut. Tidak, ia bukan tipe orang yang ketika dalam mood kesal ataupun sedih langsung mengambil coklat dalam jumlah tak sedikit tentunya dan memasukkan semuanya sekaligus dalam mulut. Tapi ia juga tak mau dikatakan dengan alasan nanti juga kebagian kok dan mengambil satu kue vanilla yang dilemparkan Lio padanya tadi, langsung melahapnya dengan kesal, tubuh dibalikkan sekarang untuk membelakangi Lio.
Nah, ia sudah makan sekarang, tak ada yang mau protes lagi kan sekarang? Bagus.
Mendapati sosok seseorang yang datang lagi, memangnya kamar ini menarik hanya karena makanan manis-manis tersebut? Gaby, seorang staff infirmary yang beberapa saat lalu menjadi teman perbincangan Shion atas apa yang membuatnya bingung ketika itu. Langsung saja melompat kembali dari kasur Allegra setelah sebelumnya melemparkan dua-tiga bulu milik Allegra ke Lio lagi, menghampiri Gaby yang entah kenapa tengah meronakan wajahnya sekarang.
"Kau kenapa Gaby? Ayo masuk saja"
Tersenyum manis.
Beda sekali dengan apa yang ia lakukan tadi, yah, inilah sifatnya, bagi orang yang mengetahuinya diharapkan mereka maklum atas apa yang dimilikinya, tidak semua manusia itu sempurna eh? Melihat beberapa bungkusan dengan pita berwana putih di tangan Gaby.
"Kau membawa apa Gaby?" |
|  | | Glaucio Marino

Posts: 88 Pemilik: *nbla Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 20
 | Subject: Re: [CENTRAL] Sweet Panic Room 4th December 2009, 17:52 | |
| "Err, tak usah. Aku tak begitu suka makanan manis."
Lalu melirik kembali, datar ke arah Shirogane--Lio--disusul kemudian aksi bocah itu melempar bantal ke arah si gadis yang lain setelahnya. Glaucio Marino, nama pria itu, melirik sejenak ke arah lantai kamar tersebut--tak tahu kamar milik siapa ini sebenarnya, tapi asumsikan saja bahwa ini kamar... Anak perempuan. Milik wanita bernama Shion (oke, itu namanya--betul) itu, serta--Allegra. Lalu, siapa lagi? Glaucio, menelan ludah sejenak, agak getir. Merasa sungkan untuk masuk kamar anak perempuan lain... Yang seharusnya bukan sesuatu yang menjadi masalah. Karena toh di sisi lain ia juga pernah menghabiskan nyaris stu malam di kamar general wanita lainnya.
Masih belum masuk, geraknya masih berada di depan pintu, setengah menutupi lajur masuk. Satu tangannya bersandar di dinding, sementara yang sebelah lagi entah kenapa mulai mencoba untuk merapihkan rambut yang semula acak dan diikat asal dengan cenderung tak rapi--sesekali memastikan pula bahwa tak ada belek yang menempel di matanya. Sebagian besar kaum laki-laki tidak pernah memperhatikan penampilan, kalau kata orang-orang, Glaucio termasuk kaum mayoritas, sekalipun ia menyangkal--terutama dalam berbagai kasus yang termasuk pengecualian. Pengecualian, semisal... Bergaul dengan wanita?
“Aku tak menyangka bisa melihatmu sepagi ini,”
Bukan, bukan--tentunya. Ia cenderung menganggap wanita sebagai sosok yang tidak perlu dipermasalahkan keberadaannya, bahkan kalau perlu memang boleh kalau diacuhkan dan tidak dianggap ada--dan berdandan bisa membuat perempuan itu tersadar kalau kita memang berdandan untuk'nya', dan jelas-jelas menganggap ia ada. Konyol. "Memang jarang-jarang."
"Yakin bisa menghabiskan semuanya sebanyak ini?" Spontan mengalihkan pembicaraan, ketika matanya terpaku pada benda-benda yang berserakan di atas lantai, sebagian lainnya masih terbungkus rapi dan yang lainnya hanya tersisa dalam wuud serpihan plastik-plastik pembungkus. Orang-orang itu... Memang benar-benar bisa menghabiskan semuanya? Jujur, Glaucio sendiri sampai saat ini masih tak mengerti akan seni memakan makanan manis. Baginya toh baik itu permen, maupun cokelat, juga senada dengan teh manis sama-sama mengandung gula--enek. Dan rasanya cenderung tak karuan. No offence.
“Namun sepertinya cocok untukmu yang tak terlalu menyukai makanan manis Glau~”
Dan freeze--hanya dengan satu sentilan di wajah. ...Heh, hal yang biasa jika dibandingkan yang mereka pernah 'lakukan' dulu sebenarnya, apa lah artinya kalau dibandingkan dengan berci--ARGH. "Oh ya, thanks--mungkin aku bisa coba."
Dan entah sejak kapan,seorang Glaucio bisa mengucapkan kata 'thanks' dengan lancar pada kaum perempuan. Lalu terpaku lagi, menatap bungkusan kecil yang ada di genggaman tangannya. Dark chocolate, mungkin memang menarik--meskipun tetap saja SAMA, karena sama-sama masdih mengandung pemanis di dalamnya, kecuali kalau kadarnya bisa dijadikan sebagai pembeda. Berikutnya, disusul gerakan perlahan membuka segel--tak tahu kenapa ia melakukannya kalau hanya didasarkan pada rasa tidak ingin membuat gadis itu kecewa atau semacamnya--
"Glau?"
UHUK.
Dan belum apa-apa sampai tenggorokannya mulai terasa gatal padahal dia belum menenggak apa-apa. Refleks ia memalingkan wajah, mengatur napasnya kembali sampai bisa membalikkan punggung, melirik kembali ke arah si lawan bicara yang menyapanya barusan--meskipun tetap saja ia yakin jawabannya akan tetap sama bahkan tanpa dipastikan kembali. Sosok mungil rambut abu-abu, bersuara lembut yang sudah lama dikenalnya--"Lama--lama tak bertemu."
Dan satu senyum amat tipis tergurat bersamaan setelahnya, setelah kemudian ia sengaja membalikkan punggung dan memutar tubuh kembali membelakangi--otaknya memang belum kembali ke fungsi 100% kerja optimalnya pada pagi hari ketika baru bangun tidur tak kurang dari satu jam yang lalu, mungkin. "Kau membawa apa Gaby?"
Suara dari Shion--membuat si pemuda refleks meringsutkan diri dan bergerak agak ke pinggir--tidak menutupi jalan dan tidak mengganggu pekerjaan Gabriella untuk bisa masuk ke dalam dengan leluasa. Tak ingin mengganggu--euh, alasan macam apa itu? |
|  | | | | [CENTRAL] Sweet Panic Room | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
|
|