"Ada apa?"Mendapat pertanyaan itu, Lian Jie pun langsung diserang kebingungan. Bukan bingung karena posisinya yang sudah berubah karena waktu, tapi ia bingung bagaimana harus menjawabnya. Kalau diingat-ingat, bukannya dari tadi dia selalu bingung untuk bertindak?
Bodohnya aku. Satu masalah selesai, masalah berikutnya nongol. Tapi...
Lian Jie berbalik lagi menghadapi Fuchsia. Dia bisa melihat raut penasaran yang dimiliki gadis itu dan Lian Jie tersenyum agak kaku kepadanya.
... di sini, ada sahabatnya. Apakah sahabat itu bagi Lian Jie? Dia sendiri tak tahu artinya.
"Tidak apa-apa kok," pemuda itu mengulurkan tangan kanannya.
Di dalam hatinya, tiba-tiba terbersit sesuatu yang hangat. Lebih hangat dari perasaan yang dimilikinya beberapa saat yang lalu. Dan kali ini, bukan kesedihan yang ganjil. Mungkin saja, ini adalah perasaan 'kelegaan' yang meluas dan merengkuh jiwanya ke dalam suatu perasaan yang lebih kuat.
Dia tidak lagi merasa sendirian. Entah mengapa. Fuchsia; entah apa yang disampaikan gadis itu pada Lian Jie, anak laki-laki itu baru kali ini merasakan keberadaan Fuchsia begitu luar biasa. Mungkin, sudah saat dia mengucapkan "selamat datang di hatiku"?
Lian Jie mengintip bulan purnama di balik jendela perpustakaan.
Malam yang... aneh, ya?
[OUT]