An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» [AMERICA] Unusual Training
by Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
by Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
by Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
by Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13

» [AMERICA] Tea Late at Night
by Felicia Miles 30th January 2011, 09:13


Share | 
 

 [ASIA] We Met Tonight

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2, 3
AuthorMessage
Blanka Ormondi Demetros



Posts: 116
Umur: 22

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   9th January 2010, 15:33

Mendapatkan pandangan terbelalak sebagai balasan dari sang staff medis yang nampaknya masih saja memperhatikan detil kalau abdomennya seolah-olah berlubang padahal belum serta belum juga nyaris berlubang. Namun tentu saja Blanka tak mengindahkan nasehat bijaksana Brian, ia memang jarang mendengarkan orang lain jika menyangkut masalah yang satu itu.

Ia sudah kenyang.

Iris amber itu menatap lurus ke arah sang pemuda—masih dengan mimik seperti ‘itu’ yang memang sering melekat di parasnya—ia tampaknya semakin lama semakin membaik dan saat ocehan Brian berhent, merekam fakta kalau penyakit Silverius adalah penyakit kambuhan, sang wanita Hungaria mengeluarkan suara dalam satuan desibel yang rendah.

“…aku tak apa-apa Selvatine--” kalau tidak salah dengar pria itu bernama Selvatine kan? Dan begitu Blanka mengakhiri kalimatnya ia tersadar kalau sang pria berambut hitam di seberang ranjangnya itu telah siuman. Tatapan—yang entah kenapa terkesan lembut—teralamatkan padanya, begitu pula dengan sebuah sunggingan senyum di paras Silverius. Selvatine sendiri tampak begitu puas dan senang begitu melihat pemuda Asia itu pulih.

Ia membalas tatapan itu, iris matanya sedikit melebar yang mungkin menandakan kelegaan atau heran dengan maksud sorot mata serta senyuman sang pemuda. Mungkin jika saja wanita bermahkota keperakan itu tak mengalami kepahitan yang tertatah permanen—sampai saat ini—ia telah membalas senyuman Silverius. Namun bagi Blanka yang sekarang senyuman itu telah punah. Bahkan ia sudah tak tau kapan terakhir sebuah senyuman terlukis dari bibirnya.

Merundukkan pandangan dan menarik tirai putih yang sekali lagi menghalangi tatap-pandang mereka—Silverius tepatnya. Membenahi seragam hitamnya dan lagi-lagi kulit pucat bersemburat jalur peredaran darah yang memang selalu ia sembunyikan—terkadang ada saja yang melihatnya dengan risih—kembali tertutup rapat.

Setelah sang pria siuman ia tak punya alasan lagi berada di sini kan? Tak memperhitungkan luka dirinya sendiri tentu saja. Lagipula ia telah merasa lebih baik, setidaknya ia bisa berjalan ke kamarnya sendiri untuk beristirahat lebih lanjut.

Menghembuskan nafas panjang sebelum menjejakkan telapak kakinya yang putih ke lantai infirmary, memasang ankle boot berwarna hitam dengan rapi, dan menegakkan tubuhnya, bersiap meninggalkan infirmary walaupun dengan telapak tangan yang tetap melingkari bagian tubuhnya yang terluka. Tanpa mengindahkan semua nasihat Selvatine atau juru medis lainnya. Hanya ucapan terimakasih lemah yang keluar dari sela-sela bibirnya selain itu ia meneruskan langkahnya ke pintu keluar-masuk.

Langkah demi langkah… melewati bilik infirmarynya dan ranjang pesakitan Silverius. Hampir, karena tiba-tiba ia menghentikan langkah tepat di sana. Menoleh hening pada sang pemuda dan menatapnya… disusul dengan sebuah pertanyaan dari suara yang kekurangan emosi.

“….siapa namamu?”

Setelah itu; hening.
Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani



Posts: 97
Umur: 19
Pemilik: Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   9th January 2010, 16:27

"See, I told you so!"

Impuls syaraf pendengaran Silverius tidak terlambat menghantarkan kalimat Selvatine barusan, hanya saja seluruh indera Silverius yang lain terus memecah konsentrasi Silverius dengan berbagai hal baru yang dirasakannya. bagaimana para staf Medis mulai bergerak ke sana ke mari mempersiapkan prosedur standar yang juga sering diterimanya apabila dia "kumat", juga bau darah yang menodai dipan dan lantai serta entah berapa bagian jas dokter para staf Medis, semuanya terasa baru bagi Silverius yang mulai mengambil alih tubuhnya lagi. Terutama ketika kepalanya yang masih condong ke arah Exorcist wanita berambut nyaris putih yang ternyata sedang duduk di atas dipan.

'Perutnya... sudah baikan, kah - sehingga dia bisa duduk seperti itu?' tanya Silverius di dalam benaknya tanpa melunturkan senyum lemah yang masih terpasang di wajahnya.

Tetapi perhatian Silverius kembali teralih ketika Nona Ormondi membalas senyumnya dengan cara yang sangat tidak biasa, karena indera penglihatan dan nalar Silverius mencerna sinyalir-sinyalir dari wanita di hadapannya itu sebagai wujud rasa heran, meskipun Silverius juga tidak mengharapkan wanita yang tidak pernah tersenyum itu melontarkan senyum kepadanya yang baru saja kejang-kejang hebat beberapa detik yang lalu.

'Setidaknya, jangan pergi dulu, Nona Ormondi...'

Sayangnya wanita berambut nyaris putih itu malah melakukan yang sebaliknya. Mata Silverius melebar perlahan melihat Nona Ormondi turun dari dipan dan mengenakan kembali sepatunya setelah menghela nafas panjang yang dilanjutkan dengan langkah-langkah yang tidak begitu panjang mengingat perutnya baru ditangani oleh para staf Medis sejak Silverius masih duduk dengan tenang, menantikan gejala-gejala "pemanasan menuju kejangnya", dan hanya berkedip sesekali ketika mencanangkan kedua manik hitamnya kepada sosok yang sebentar lagi akan melewati dipannya...

... dan berhenti.

Lebih bagus lagi; menoleh...

... dan bertanya, "siapa namamu?"

Sungguh, Silverius bukanlah orang yang bodoh, tetapi kali ini, meskipun impuls syarafnya telah menghantarkan pertanyaan Nona Ormondi, nalarnya masih belum bisa mencerna dua kata singkat itu dengan baik. Mulut yang terbuka sedikitpun tidak terbuka untuk menjawab, tetapi karena termangu. Matanya yang masih terpaku kepada sosok wanita berambut nyaris putih itu akhirnya mengerjap tiga kali dan nalarnya langsung mencerna pertanyaan Nona Ormondi dengan cepat.

'Siapa namamu?'

Tidak ada maksud yang tersembunyi di sana, itu jelas, hanya pertanyaan sederhana yang entah mengapa memerlukan waktu yang lama untuk menghasilkan jawaban yang juga dengan jelas telah diketahui oleh pemuda bernama Silverius Girlani itu; hanya tinggal mengucapkannya, dan entah mengapa itu membutuhkan waktu yang lama meskipun mungkin otaknya telah mengirimkan impuls ke otot-otot artikulatornya untuk mengucapkan:

"Silverius Girlani."

Dua kata lainnya yang hanya sedikit lebih panjang dari dua kata yang diutarakan wanita berambut nyaris putih di hadapannya itu, namun entah mengapa bisa memberikan ekspresi lega yang tidak jelas asalnya, namun sangat menentramkan dan melegakan dada Silverius yang entah sedari kapan berhenti mengambang dan mengempis teratur.

"Silverius Girlani," ulang pria Jepang itu lagi. Ya, itu namanya.
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
Blanka Ormondi Demetros



Posts: 116
Umur: 22

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 23 tahun

PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   9th January 2010, 20:52

Butuh waktu lebih dari sedetik bagi Silverius untuk menjawab pertanyaan yang terlalu mudah itu dan di dalam hati Blanka bertanya sendiri. Apa mungkin pertanyaannya kurang jelas sehingga ia harus mengulangnya? Tentunya bukan kali pertama seseorang merasa kalau suaranya terlampau kecil untuk didengarkan dan atau mungkin efek kejang-kejang penyakitnya merambah ke otak. Bisa saja peredaran darah yang menuju ke organ sel abu itu terhambat dan setaunya hal itu cukup dapat menyebabkan keterlambatan proses pikir.

Ia hampir saja menyebutkan pertanyaannya sekali lagi sebelum ia mendengarkan suara yang akhirnya terlepas dari bibir Silverius.

"Silverius Girlani."

Silverius?

Blanka tak berpaling, tetap menatap lurus pria itu dan belum juga mengucapkan sepatah kata pun. Dan tak berselang lama ia bisa mendengar pria itu mengulang kalimat yang sama.

"Silverius Girlani,"

Kali ini sorot mata wanita Hungaria itu menunjukkan sesuatu yang lain. Sekilas lebih bersahabat, ya setidaknya Blanka merasakan keingin-tahuan akan nama sang pemuda dan tidak lebih dari itu—setidaknya sampai saat ini.

Silver… perak? Ya perak, atau yang dalam bahasa ibunya berarti…

Ezüst…?”

Wanita kelahiran Budapest tersebut mengalamatkan kata asing itu pada pemuda Silverius dengan suaranya yang dingin namun juga lembut, kontradiktif namun nyata. Entah pria itu mengerti arti kata tersebut atau tidak Blanka tetap melanjutkan apa yang harus ia ucapkan dan memang ingin ia ucapkan dengan nada signature-nya.

“…terimakasih,”

Ya itu saja cukup bagi Blanka, cukup untuk sebuah permulaan…

Tak mengucapkan namanya sebagai balasan—Silverius tidak dan belum sempat bertanya kan—ia menyingkirkan sorot amber itu dari sang pemuda dan berjalan kembali ke arah semula. Membuka daun pintu yang berderit sumbang dengan telapak tangan yang bebas. Rambut bergelombang wanita berusia 22 tahun itu melambai lembut sebelum benar-benar ditenggelamkan gelapnya ruang koridor.

Dalam hati ia merasakan dorongan yang membuatnya menghentikan langkahnya di tengah koridor, melirik sumber cahaya dari arah sana. Namun bukan kemilau itu yang memaku telapak kakinya… bukan itu. Melainkan…

Felejtsd el azt.

Menepis apapun yang melintas di benaknya, sekaligus keraguan yang sempat terbesit sambil bergeleng pelan dan melanjutkan langkahnya kali ini dengan lebih cepat. Tetes-tetes cairah merah tua di koridor tadi telah tiada tanpa bekas—tampaknya seseorang baru saja membersihkan itu—namun kesan yang diberikan pemuda yang tersenyum padanya tadi tidak akan menguap dengan cepat.

Membekas di memorinya.

Tak ingin ia lupakan.

Walaupun sekarang wanita itu menolak untuk menyadarinya…



[Blanka OUT]





Arghh selesaii... silahkan Silv post bwt closing atau Brian.

Thanks for this nicely written RP all =D

*Felejtsd el azt : Forget it

Back to top Go down
View user profile
Silverius Girlani



Posts: 97
Umur: 19
Pemilik: Woof

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Asia
Umur: 22

PostSubject: Re: [ASIA] We Met Tonight   10th January 2010, 23:19

Quote:
Silverius Girlani.


Namanya tidak menggema di ruangan Infirmary, dan rasanya tidak begitu banyak orang yang merespon percakapan super pendek antara kedua Exorcist itu, tetapi entah mengapa Silverius dapat merasakannya menggema di rongga telinganya, seolah-olah dia mendengarnya dari balik pegunungan.

Tetapi diabaikannya salah satu efek samping dari kejang-kejangnya barusan ketika Silverius melihat respon yang tersirat dari wanita yang tadi menanyakan namanya; sebuah tatapan yang lebih bersahabat dibandingkan dengan tatapan lurus yang tegas menusuk yang sering sekali - kalau tidak selalu - ditampilkan oleh sepasang mata amber itu, serta sebuah kata yang tidak dimengerti si pria Jepang yang masih terbaring di atas dipan kotor itu.

"Ezüst... ?"

Berusaha mencerna arti kata itu, kening Silverius yang berkeringat mengerut. Bahkan mengingat volume suara Nona Ormondi yang membutuhkan konsentrasi lebih untuk mendengarnya, Silverius sendiri tidak begitu yakin dia mendengar kata yang tepat. Mungkinkah indera pendengarannya yang bisa mendengar pertanyaan wanita berambut nyaris putih di hadapannya tadi kembali memburuk? Rasanya tidak mungkin.

Masih berusaha mencerna arti kata yang tersusun oleh dua buah "fonem" itu, Silverius tidak bisa melewatkan sepercik nada lembut yang terdengar di balik dinginnya intonasi Nona Ormondi. Bagaimana tidak? Dia sudah menghabiskan setengah malam ini mengejar, mencoba berbicara, membopong, dan berbagai macam wujud interaksi sosial lainnya, dengan Nona Ormondi yang namanya juga tidak begitu jelas terdengar ketika mereka bertemu di Infirmary untuk pertama kalinya tadi. Dan dari sepercik nada itulah Silverius yakin kalau kata yang didengarnya tadi bukanlah sebuah makian. Entah apa fungsinya, Silverius juga tidak begitu mengetahuinya, tetapi kemungkinan besar itu bukanlah kata yang akan kau ucapkan ketika kau sedang marah.

Atau sampai di situlah buah pikiran Silverius ketika Nona Ormondi kembali bersuara.

"... terimakasih."

'Tung-'

yang segera disusul oleh suara mendecit yang tidak pernah disukai Silverius.

KRIIIITTT!

Tidak ada waktu untuk menutup telinganya ketika pintu Infirmary mendecit terbuka, bahkan Silverius tidak berpikir untuk menutup telinganya tadi ketika matanya terpancang pada pintu Infirmary, tempat terakhir dia melihat Nona Ormondi malam ini. Kepalanya masih miring dan matanya belum berkedip sama sekali ketika sebuah dorongan untuk bangkit berdiri dan kembali mengejar wanita berambut nyaris putih itu; sangat kuat, seperti maut, perasaan itu mendorong dan berusaha menggerakkan anggota-anggota gerak Silverius, tetapi kali ini, ketika para staf Medis sedang menjaganya tetap di atas dipan sembari menjalankan prosedur rutinnya seusai kejang-kejang, pria Jepang itu hanya bisa menyerah dan tetap berbaring di atas dipannya. Sebuah hembusan nafas panjang yang terdengar seperti sebuah penyesalan dan kepasrahan keluar dari mulut Silverius dan pria Jepang itu menutup matanya.

Bahkan dia belum sempat mengklarifikasikan nama lengkap wanita yang baru saja menghilang ke dalam koridor gelap di balik pintu tadi, karena hanya nama belakangnya lah yang Silverius yakin telah didengarnya dengan baik.

'Nona Ormondi, aku akan menemukanmu.'






THE END






Dengan ini, "We Met Tonight" secara resmi selesai. Nice to have roleplayed with you all.
Back to top Go down
View user profile http://malesishere.wordpress.com
 

[ASIA] We Met Tonight

View previous topic View next topic Back to top 
Page 3 of 3Goto page : Previous  1, 2, 3

 Similar topics

-
» Bloody Asia
» Ako really annoyed me tonight.
» Post here if you're coming to the event tonight.
» Hiroshi Renshe (I'll get to the rest later tonight...hopefully.)
» Deepest Darkest Poetry-Ended,results will be posted tonight

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Black Order Archives :: Bookman's Records-
Make a forum | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Free forum