| Time | | Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880 |
| | | [AFRICA] Interpreter of Maladies | |
| |
| Author | Message |
|---|
Ethan Hartmann

Posts: 55 Pemilik: Ressa Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 28
 | Subject: Re: [AFRICA] Interpreter of Maladies 26th January 2010, 16:47 | |
| "Silakan berbaring dulu, Tuan Hartmann. Penyakit Anda tidak serius, saya rasa."
Sesuai dengan nasihat Bogomila, Ethan membaringkan dirinya di ranjang bersprei lembut itu. Tapi, selembut apa pun sprei yang dimiliki Bogomila, kal itu tidak sebanding dengan kenyamanan yang biasa Ethan dapatkan di rumahnya, dengan dokter keluarganya. Tidak masalah, setidaknya untuk kali ini.
"Anda hanya mengalami demam ringan; mungkin hanya karena dehidrasi. Saya akan menyiapkan remedinya untuk Anda--Tuan lebih suka teh atau alkohol? Teh chamomile, mungkin?"
Hmm, syukurlah penyakit Ethan tidak parah. Setidaknya ia masih bisa hidup lama. Tapi setidaknya Ethan kini tahu bahwa bermain harmonika semalaman di bak mandinya sama sekali tidak baik untuk kesehatannya. Ethan mempertimbangkan penawaran yang dibuat oleh Bogomila. Baru kali ini dia bisa memilih sendiri obat yang akan dia minum, dan bukan dengan pasrah harus menerima benda apapun yang disiapkan oleh dokternya.
"Saran saya, Anda memperbanyak asupan cairan, banyak minum air putih. Istirahat yang cukup, kalau bisa perbanyak makanan yang lebih lunak."
'Aku tidak begitu suka bubur,' pikir Ethan dalam hati. Yah, setidaknya pemikiran bahwa kesehatannya bisa menentukan makanan seperti apa yang bisa dimakannya dapat membantunya mempertimbangkan kembali seberapa penting sebenarnya kesehatan tubuh seorang jendral.
"Jadi, yang mana yang Anda inginkan, Tuan?"
"Teh saja kalau begitu," katanya setelah berpikir sejenak. Semoga teh camomile milik Bogomila bisa mengalahkan rasa pusing yang dideritanya... _________________ "Those who are skilled in combat do not become angered; those who are skilled at winning do not become afraid. Thus the wise win before they fight, while the ignorant fight to win." --- Zhuge Liang ...as the music played by the PROUD LORD of Liechtenstein
Last edited by Shreizag E. Halverson on 30th January 2010, 19:41; edited 2 times in total (Reason for editing : Mengganti warna dialog dan memerbaiki teknis penulisan) |
|  | | Bogomila C. Radoslava

Posts: 22 Pemilik: Chief
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 49
 | Subject: Re: [AFRICA] Interpreter of Maladies 26th January 2010, 18:02 | |
| "Pilihan yang bagus." Bogomila memberikan senyuman keibuan pada bangsawan Liechtenstein tersebut, sebelum mengeluarkan toples kecil berisi campuran daun teh dan bunga kamomil yang telah dikeringkan. Mengambil beberapa sendok, ia memasukkan campuran tersebut ke dalam tea infuser--saringan teh--berwarna peraknya, dan menambahkan bubuk catnip dan hyssop, sebelum meletakkan perangkat tersebut pada dasar cangkir. Usai menuangkan air panas secara perlahan, ia mulai menaik-turunkan penyaring tehnya, hingga aroma khas kamomil tercium oleh hidungnya.
"Mm-hm, ini pasti akan membantu Anda istirahat, Tuan," ujarnya dengan percaya diri, sembari meletakkan teh seduhannya pada meja kecil di sebelah ranjang tempat Ethan berbaring. "Anda ingin mencampurnya dengan gula?" Bogomila juga menyimpan toples gula dalam ruang kerjanya, mengingat fakta bahwa wanita Bulgaria itu sering menyeduh teh untuk menenangkan diri di sela hari kerja yang melelahkan.
Telinganya cukup tajam untuk menangkap helaan napas di luar ruang kerjanya, samar-samar. Bila ada pasien baru, ia harus bergegas dalam menangani Ethan. Usai meminum teh racikannya, Ethan cukup dikirim kembali ke kamarnya untuk beristirahat (semoga saja jenderal tersebut akan menuruti sarannya). Wanita berbandana itu menyahut, dengan suara yang cukup lantang, "Ada orang di sana?" |
|  | | Nalbari J. Mrinalini

Posts: 33 Pemilik: Agito
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 22
 | Subject: Re: [AFRICA] Interpreter of Maladies 26th January 2010, 20:51 | |
| Sambil menunggu orang yang ada di dalam sana untuk keluar, Mrina kembali memijat-mijat bahunya. Pikirannya sempat melayang memikirkan berapa banyak pekerjaan yang bisa ia bereskan selama menunggu giliran. Ia teringat, seharusnya ia membawa pekerjaannya, jadi bisa bekerja sambil menunggu. Rasanya menyesal juga sudah membuang-buang waktu percuma.
"Ada orang di sana?"
Satu panggilan lantang dari dalam ruangan itu membuyarkan lamunannya. Sudah selesaikah pasien sebelumnya? Mrina tidak merasa melihat siapapun keluar dari ruangan itu. Sedikit ragu-ragu, wanita India itu membuka pintu infirmari dan mengintip ke dalam.
"Permisi," sapanya pelan. Ia melirik sekilas seisi ruangan, dan menemukan sosok seorang wanita berwajah keibuan dan seorang pria yang dikenalnya sebagai Ethan Hartmann. Ia menunduk sedikit pada sang jendral, sebelum menoleh ke arah wanita itu.
"Apa saya boleh konsultasi kesehatan sekarang, atau menunggu sampai Jendral Hartmann selesai?" tanya Mrina langsung, sambil tetap memegangi bahu kanannya. Rasanya bahu itu semakin sakit dan berdenyut-denyut. Ia ingin supaya pengobatan ini segera berakhir, supaya ia bisa kembali bekerja. |
|  | | Ethan Hartmann

Posts: 55 Pemilik: Ressa Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 28
 | Subject: Re: [AFRICA] Interpreter of Maladies 30th January 2010, 13:40 | |
| "Pilihan yang bagus."
Ya, Ethan tentu saja memiliki selera makan yang bagus, tisak jauh berbeda dengan selera musiknya. Dengan mudah Ethan mengenali aroma yang menenangkan dari ramuan tradisional Bogomila.
"Mm-hm, ini pasti akan membantu Anda istirahat, Tuan. Anda ingin mencampurnya dengan gula?"
"Tidak usah ditambah gula, terima kasih," kata Ethan sambil dengan perlahan mengambil cangkir tehnya dan meneguk isinya. Tentu saja kepala Ethan tidak secara instan menjadi sembuh, tapi setidaknya ia merasa lebih baik.
"Permisi. Apa saya boleh konsultasi kesehatan sekarang, atau menunggu sampai Jendral Hartmann selesai?"
Ah, ada seorang wanita yang masuk. Ethan mengenali wanita ini sebagai Nona Mrinalini. Entah kenapa wanita itu memegangi bahunya. Mungkin bahunya terluka. Nona berkulit gelap ini mengangguk pada Ethan, dan Ethan membalas dengan segera bangkit dari tempat tidurnya. Memang, Ethan sedang pusing, tapi bukan berarti dia lupa bahwa dirinya adalah seorang pria, dan tentu tidak pantas bagi seorang pria untuk enak-enak tiduran sementara di hadapannya seorang wanita yang sedang sakit berdiri.
"Tentu saja boleh, Fraulein," kata Ethan, mempersilakan Mrinalini untuk duduk di ranjang dengan gerakan tangannya. "Saya sudah selesai." Kemudian Ethan menatap Bogomila, meminta persetujuan darinya. "Bukan begitu, Frau Radoslava?" _________________ "Those who are skilled in combat do not become angered; those who are skilled at winning do not become afraid. Thus the wise win before they fight, while the ignorant fight to win." --- Zhuge Liang ...as the music played by the PROUD LORD of Liechtenstein
Last edited by Shreizag E. Halverson on 30th January 2010, 19:45; edited 2 times in total (Reason for editing : Mengganti warna dialog dan memerbaiki teknis penulisan) |
|  | | Bogomila C. Radoslava

Posts: 22 Pemilik: Chief
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 49
 | Subject: Re: [AFRICA] Interpreter of Maladies 1st February 2010, 22:28 | |
| Bogomila mengangguk-angguk, penuh apresiasi terhadap Ethan yang menyerahkan gilirannya kepada Mrinalini, yang sedari tadi memegang pundaknya--ngomong-ngomong, badan wanita India itu memang terlihat sangat tegang. Mungkin sang pengarsip juga membutuhkan sedikit ceramah tentang dampak dari bekerja terlalu giat. Bogomila tahu banyak orang di Black Order membutuhkannya.
"Baiklah, Tuan Hartmann. Ingat, istirahat saja sehari ini, jangan lakukan kegiatan berat!" Wanita berbandana itu tidak sembarang memberikan nasihat; bila Ethan mengikutinya dengan taat, Bogomila yakin jenderal pria itu akan segera sembuh. Kepalanya menoleh ke arah Mrinalini, dan pandangannya melembut. "Silakan duduk, Nak." Tangannya menunjuk ke ranjang yang kini kosong, mengundang Mrinalini untuk menempatinya.
"Ada masalah dengan bahumu? Bagaimana bila kupijat?" Dahinya berkerut, sembari wanita itu berusaha keras mengingat letak balsamnya. Ia tidak ingat letaknya sejak ia menggunakannya pada seorang staf lain dengan keluhan serupa dari hari sebelumnya. |
|  | | Nalbari J. Mrinalini

Posts: 33 Pemilik: Agito
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 22
 | Subject: Re: [AFRICA] Interpreter of Maladies 2nd February 2010, 15:58 | |
| "Tentu saja boleh, Fraulein. Saya sudah selesai. Bukan begitu, Frau Radoslava?"
Orang Eropa memang beda; bisa bersikap gentleman tanpa harus tampak gombal. Entah itu hanya perasaannya saja, atau memang semua pria Eropa memang memiliki tingkat kesopanan yang sama dengan jenderal satu itu, Mrina tidak tahu. Yang jelas, ia memikirkan kalau seandainya Rajeev bisa belajar dari Ethan bagaimana bersikap layaknya seorang gentleman--bukannya perayu wanita kelas kakap--mungkin pria yang sebangsa dengannya itu tidak akan sering-sering kena tamparan atau dampratan dari wanita yang dirayunya.
"Silakan duduk, Nak."
Ah, tiba juga gilirannya. Wanita berparas ramah tadi memberi tanda supaya ia duduk di ranjang yang kini sudah kosong. Ia menuruti apa kata wanita itu, tidak mau membuat sesi pengobatan jadi terlalu panjang. Pikirannya sempat melayang ke arsip-arsip yang harus segera ia susun rapi sesuai dengan kategorinya. Sungguh, ia ingin pengobatan ini segera berakhir.
"Ada masalah dengan bahumu? Bagaimana bila kupijat?"
"Iya, dari beberapa hari yang lalu, bahu saya terasa nyeri, padahal saya bekerja seperti biasa," jawabnya, memulai konsultasinya. "Saya sudah coba mengompresnya dengan air hangat, memijatnya dengan campuran minyak kesturi dan kencur yang dihaluskan, tapi rasanya masih sakit juga," tambahnya.
Sebenarnya, ada 2 masalah pada pernyataannya tadi. Pertama, meski ia mengatakan bahwa ia bekerja seperti biasa, tapi ia sama sekali tidak memperhitungkan porsi kerjanya yang biasa itu seperti apa. Kedua, meski ia mengatakan bahwa ia sudah berusaha memijat bahunya sendiri, tapi kekuatannya tidak cukup kuat untuk membuat campuran minyak yang seharusnya bisa menyembuhkan pegal-pegalnya itu meresap cukup dalam untuk mengobatinya.
"Ah, opsi pengobatab apapun yang Anda tawarkan akan saya terima. Saya harus segera kembali bekerja," tambahnya lagi, sebelum lupa. Semoga saja opsi yang diberikan tidak termasuk mengambil cuti. Bisa-bisa Mrina sakit betulan karena tidak dibiarkan bekerja. |
|  | | Bogomila C. Radoslava

Posts: 22 Pemilik: Chief
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 49
 | Subject: Re: [AFRICA] Interpreter of Maladies 2nd February 2010, 16:27 | |
| Bogomila mengangguk-angguk, tangan menopang dagu. "Kau telah menanganinya dengan tepat, Nak. Aneh juga bila kau masih merasa sakit; barangkali kau belum melakukannya dengan tepat." Bogomila menggulung lengan bajunya; tentu, ia akan berusaha sebisanya untuk menghilangkan rasa sakit itu. "Kamu dari bagian riset, Nak?" Dengan kepala bagian yang bahkan terlalu malas untuk mandi itu, Bogomila tidak takjub bila staf-stafnya kelelahan begini, ck ck.
"Bisa buka pakaian luarmu, Nak?" Walau ia tidak sungkan-sungkan melakukannya untuk kaum Adam, tidak demikian bagi kalangan wanita. Bogomila rasa wanita umumnya juga langsung menurut saat disuruhnya melakukan hal itu. Menanti Mrinalini melakukannya, Bogomila mengeluarkan botol besar dengan permukaan berminyak. Membuka tutup, sebelum mengendus isinya, Bogomila memastikan ia mengambil bahan yang tepat: minyak zaitun.
Ia mengeluarkan wadah kecil dengan permukaan melengkung layaknya mangkuk, menuangkan minyak ke dalamnya. Tidak lama kemudian, ia menjarah lacinya, sebelum mengeluarkan toples kecil berisi bubuk berwarna merah menyala. Apa lagi selain Cayenne pepper, cabe merah berukuran besar, yang telah ditumbuk? Memasukkan dua sendok teh bubuk itu, ia mulai mengaduknya rata.
Wanita Bulgaria itu berusaha memasang senyum meyakinkan begitu ia berbalik menghadap pasiennya. "Euh... Mungkin ini akan terasa panas, namun saya mohon tahan saja." Mencelupkan jari telunjuknya pada campuran itu, ia meratakannya kepada kedua telapak tangan. Ia sedikit bergidik, merasakan hawa panas menyerap.
Berikutnya, giliran Mrinalini--wanita berbandanya itu meletakkan tangannya pada pundak Mrinalini, satu untuk tiap sisi, sebelum memulai dengan gerakan memijat. Cukup keras, walau tidak sekeras yang dilakukannya pada Krikor tiap kali anaknya merasa nyeri otot. Ia menghela napas; betapa menyenangkannya bila mempunyai anak perempuan... oh, tunggu. Ia punya. |
|  | | Nalbari J. Mrinalini

Posts: 33 Pemilik: Agito
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 22
 | Subject: Re: [AFRICA] Interpreter of Maladies 2nd February 2010, 19:54 | |
| "Kau telah menanganinya dengan tepat, Nak. Aneh juga bila kau masih merasa sakit; barangkali kau belum melakukannya dengan tepat."
Belum melakukannya dengan tepat, katanya? Mrina juga pernah mengobati orang yang pegal-pegal di kampungnya dulu dengan ramuan yang sama, dan orang itu sembuh, kok. Oh iya, yang waktu itu bertugas untuk memijat orang itu adalah ayahnya. Mau bilang apa lagi, pasiennya lelaki, mana boleh Mrina menyentuhnya.
"Kamu dari bagian riset, Nak?"
Satu pertanyaan sederhana keluar dari mulut wanita itu. "Iya, saya staf riset, tepatnya di bagian pengarsipan. Kenapa?" balas Mrina tenang. Mungkinkah wanita itu mau mencari data riset yang berhubungan dengan pengobatan? Yah, kalau data yang diminta masih boleh diperlihatkan untuk publik, Mrina tidak akan keberatan mencarikannya. Toh wanita itu tampaknya bukan tipe orang yang akan menyalahgunakan obat-obatan untuk sesuatu yang jahat.
"Bisa buka pakaian luarmu, Nak?"
Sudah saatnya untuk pengobatan kah? Mrina hanya mengangguk pelan dan membuka jas laboratorium dan kemejanya, memperlihatkan bahunya yang tegang pada wanita itu. "Euh... Mungkin ini akan terasa panas, namun saya mohon tahan saja." Panas? Tahan saja? Mrina membuka mulutnya, hendak bertanya ramuan apa yang hendak dioleskan wanita ramah itu padanya. Tapi sebelum ia sempat mengatakan apapun, ia merasakan kedua pundaknya dipegang oleh wanita itu.
Dan, benar, rasanya panas. Sangat panas, malahan. Lalu, gerakan memijat yang tidak kalah 'panas'-nya. "Aaa--" NGEK! Satu tekanan keras di bahunya yang kaku. Memang rasanya sedikit lebih baik, tapi... "--Adudududuh!! Aduh, aduh! Ibu, sakit! Auhh!!" Entah kekakuan di otot pundaknya yang memang sudah parah, atau pijatan Mila yang terlalu kuat, yang jelas Mrina merasa kesakitan sekarang. Luar biasa kesakitan. |
|  | | Bogomila C. Radoslava

Posts: 22 Pemilik: Chief
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 49
 | Subject: Re: [AFRICA] Interpreter of Maladies 2nd February 2010, 20:07 | |
| Belum sepenuhnya menyadari efek tindakannya terhadap Mrilanini, Bogomila mendengus kesal, mendengar jawaban wanita India itu. "Bah! Tahu tidak, Nak? Tadi kepala bagianmu sendiri masuk ke sini, meminta diobati! Untuk apa? Dia datang dengan gejala gatal-gatal, dan..." Bla, bla, bla. Bila sudah berbicara, memang agak sulit untuk menghentikan Bogomila. Dengan absennya Krikor di Cabang Afrika - Timur Tengah, Bogomila kehilangan teman berbasa-basinya selain Felo sang koki.
"... dan ternyata, itu karena DIA BELUM MANDI! Sungguh keterlaluan, dia--"
"Aduh, aduh! Ibu, sakit! Auhh!!"
"Demi Tuhan!" sahutnya terkejut, terbangun dari renungannya sendiri. Ia langsung melepaskan tangannya dari pundak Mrinalini, tidak mempercayai fakta bahwa dirinya tidak memperhatikan tugas di hadapannya saat mulai meracau. Wanita Bulgaria itu menundukkan kepala. "Sungguh... Maafkan aku, Nak. Aku mulai meracau. Tolong maafkan seorang wanita tua sepertiku, pada umur lanjut memang kami menjadi tidak teliti..." Ia menggelengkan kepala, kecewa pada kesalahan sendiri (walau ia tidak akan mengaku bahwa kesalahan terletak kepada kebiasaan buruknya sendiri, bukan faktor usia).
Bogomila mencuci tangannya bersih, sebelum mengeringkannya dengan lap kecil. "Ah... bagaimana bila kita menggunakan ramuan yang lebih 'ringan'?" ... Itupun bila Mrinalini tetap ingin diobati dengan racikan aneh (walau efektif) Bogomila... dan bila wanita India itu masih ingin dipijat olehnya. Sekali lagi, Bogomila berusaha memberikan senyuman meyakinkan. |
|  | | Nalbari J. Mrinalini

Posts: 33 Pemilik: Agito
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 22
 | Subject: Re: [AFRICA] Interpreter of Maladies 6th February 2010, 15:01 | |
| Akhirnya, remasan keras di bahunya berhenti, meski rasa panas yang menjalarinya masih terasa. Bahunya sudah terasa jauh lebih baik sekarang, mesti masih terasa sedikit berdenyut-denyut. Efek samping dari pijatan yang terlalu kuat, mungkin.
"Ah... bagaimana bila kita menggunakan ramuan yang lebih 'ringan'?"
Mendengar hal itu, entah mengapa Mrina langsung membayangkan bahunya akan diremas sekuat tenaga seperti tadi. "Ti... tidak usah, tidak apa-apa. Sekarang sudah terasa baikan, kok," tolak Mrina sopan, meski agak gugup juga. Kalau ia disuruh memilih antara mengambil cuti untuk pulang ke India hanya sekedar untuk dipijat oleh ibunya atau berjalan ke infirmari untuk dipijat oleh wanita ramah itu, ia memilih untuk mengambil cuti saja.
"Berikan saja saya instruksi apa yang harus saya lakukan untuk mencegah pegal-pegal ini terjadi lagi. Saya akan mencoba untuk mematuhinya," tambahnya tegas. Mrina mencoret pikiran pertamanya tadi. Daripada ambil cuti hanya untuk berobat, lebih baik mencari cara untuk mencegah pegal-pegal itu. Setidaknya, ia bisa tetap bekerja dengan efektif. |
|  | | Bogomila C. Radoslava

Posts: 22 Pemilik: Chief
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 49
 | Subject: Re: [AFRICA] Interpreter of Maladies 3rd April 2010, 01:05 | |
| "Ti... tidak usah, tidak apa-apa. Sekarang sudah terasa baikan, kok." Mendengar jawaban harus dari sang wanita India, Bogomila hanya bisa mengernyitkan dahi. Ia tidak begitu yakin dengan kebenaran jawaban Mrinalini, namun ia tidak bisa memaksanya untuk menjalani pengobatan yang tidak diinginkannya juga (berbeda dengan perlakuan "mendominasi"-nya terhadap pasien pria, wanita Bulgaria ini cukup lembut terhadap pasien wanita). "Kamu yakin, Nak? Tidak ingin kupijat sedikit saja? Atau mungkin pijat refleksi saja?" ... Yah, untuk yang itu ia baru-baru ini mendengar tentangnya dan mempraktikkan, namun pasiennya tidak tahu itu, kan?
Walau demikian, tampaknya memang sang staf riset tidak berminat dengan pengobatan di tempat. Tatapan Bogomila makin membara, sembari wanita beranak dua itu mengeksplorasi ide lebih jauh. "---- Mau kupinjamkan balsamku? Atau mungkin kau butuh sedikit laudanum?" Berbalik, dan mengoprek lemari obat-obatannya untuk tinktur opium peredam rasa sakit itu, ia mengangguk pelan. Ya, mungkin laudanum bisa membantu anak perempuan yang malang (karena memiliki kepala bagian bau seperti itu) itu untuk beristirahat...
Dentingan kaca terdengar begitu permukaan botol ekonomis laudanum menghentak meja di sebelah ranjang pasien. Kedua tangan Bogomila bertumpu pada pinggulnya, sembari mata kelabunya mengevaluasi kondisi fisik Mrinalini. Hasilnya? Benar-benar butuh pengobatan. "Yang jelas, kau butuh istirahat, Nak. Mungkin laudanum bisa membantu, namun jangan pergunakan terlalu banyak dalam satu saat. Imbangi juga dengan olahraga... tidak, bekerja tidak terhitung olahraga." Menjawab sebelum ditanya--suatu sifat yang patut dimiliki seorang figur ibu (menurutnya).
"Yah, aku tahu pasti pekerjaanmu membutuhkan dedikasi tinggi, walau aku tidak mengerti bagaimana hal itu bisa muncul dengan kepala bagian seperti itu, hmph!" Wanita Bulgaria itu mendengus, sebelum memperbaiki posisi bandananya. Matanya kembali menyorot ke arah Mrinalini. "Kau jaga dirimu baik-baik, mengerti, Nak? Jangan sampai tertular sifat buruk kepala bagianmu itu!" Dendam apa pula Bogomila terhadap Rajeev? |
|  | | Hakizi Mana Vatican Central

Posts: 77 Pemilik: Chief Poin RP: 100
Biodata Posisi: Supervisor Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 37
 | Subject: Re: [AFRICA] Interpreter of Maladies 3rd April 2010, 01:16 | |
| Bot bersol tebalnya berjalan dengan langkah pasti menuju infirmari, namun hentakan ringan pada lantai markasnya nyaris tidak menimbulkan suara. Tidak seperti seseorang yang tengah berbahagia (atau tidak) di Cabang Eropa, ia bukan tipe orang yang suka menandakan kedatangannya dengan suara keras. Pria berambut ikal itu mungkin mampu menyusuri koridor dengan keberadaan yang nyaris tidak terasa seandainya pakaian khasnya tidak mencirikan identitasnya. Sesekali, ia membalas sapaan bawahannya dengan anggukan pelan.
Tidak, tidak ada masalah kesehatan yang membawanya ke infirmari, walau Bogomila Christova Radoslava telah beberapa kali menekankan bahwa ia memiliki penyakit kurang tidur akut--sesuatu yang sudah tertanam terlalu dalam pada pola hidupnya untuk diubah. Walau ia menolak halus pengobatan fisik staf asal Bulgaria itu kecuali dalam saat-saat langka penyakit seperti flu atau demam ringan menjangkitnya, tidak jarang ia mendatangi (mantan) istri dari Agrilie Abovian itu untuk nasihat. Sedikit pengobatan emosional baginya.
Terdengar suara khas itu berbicara panjang lebar tentang sesuatu--dan seandainya ia yang berada dalam ruang kerja Bogomila, mungkin ia hanya mendengar dengan saksama, sesekali memberi anggukan untuk menandakan bahwa ia mendengarkan. Hakizi Mana tahu dari suara sosok pengganti ibunya bahwa ada pengunjung yang mendahuluinya, dan telah siap menunggu di tempat duduk terdekat.
"Aduh, aduh! Ibu, sakit! Auhh!!" Teriakan wanita India yang suaranya pun familiar baginya hanya membuatnya merasa makin kikuk (walau tidak tampak pada wajah datarnya), dan sang supervisor pun kembali membuka buku bacaannya sembari menanti giliran. Beberapa saat berlalu, dan keadaan menjadi lebih hening. Selesaikah pengobatannya? "... Hm."
Biasanya, wanita tipe pekerja keras seperti ini tidak suka bila mereka tahu seseorang melihat sisi "lemah"-nya--minimal, itu deduksinya dari beberapa contoh kasus. Tetap dengan ekspresi sama, Hakizi membalik halaman bukunya ke lembaran baru. Lebih baik ia berpura-pura tidak menyadari apapun saat tiba kalanya Mrinalini meninggalkan ward Bogomila.
Dengan itu, Hakizi Mana kembali menunggu. _________________ "Three hours a night suffices. The rest can be taken bit by bit."-- Hakizi Mana, on sleep
values, temptation-- his choice. number02: the L O V E R S - part 2 |
|  | | Nalbari J. Mrinalini

Posts: 33 Pemilik: Agito
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 22
 | Subject: Re: [AFRICA] Interpreter of Maladies 9th June 2010, 16:38 | |
| Diceramahi panjang lebar, mulai dari mana dan berakhir di mana saja Mrina bingung sendiri. Intinya, ia disuruh istirahat yang cukup, olah raga selain bekerja, dan sedikit pengobatan. Ia pun menerima saja laudanum yang dipersiapkan Mila, tidak tega menolaknya lagi.
"Kau jaga dirimu baik-baik, mengerti, Nak? Jangan sampai tertular sifat buruk kepala bagianmu itu!"
Mendengar komentar itu, Mrina langsung tersenyum lebar. Tidak, dia tidak sedang senang. Senyumnya malah agak sinis. "Terima kasih atas nasehanya, Nyonya. Saya tidak akan pernah jatuh sampai serendah itu," jawabnya sambil tetap mempertahankan senyum itu. Sedikit banyak ia memang dendam pada kepala bagiannya itu.
"Saya permisi dulu. Sekali lagi, terima kasih," tambahnya sambil memberikan salam hormat, lalu melangkah keluar dari ruangan tersebut. Menghela nafas pelan, ia siap kembali ke ruang kerjanya saat matanya menangkap sosok yang ia kenal di sana. Sang Supervisor. Agak kaget, sih. Tidak pernah ia sangka sang Supervisor akan berada di tempat semacam itu. Tapi namanya juga manusia, siapa tahu atasannya itu sedang sakit.
"Namaste, Supervisor," sapanya seadanya. Setelah satu sapaan ringan itu, Mrina langsung melangkah pergi, sambil masih sedikit bertanya-tanya kira-kira seorang Supervisor seperti Hakizi Mana itu bisa kena penyakit macam apa.
[OUT] |
|  | | Bogomila C. Radoslava

Posts: 22 Pemilik: Chief
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 49
 | Subject: Re: [AFRICA] Interpreter of Maladies 23rd June 2010, 19:37 | |
| "Saya tidak akan pernah jatuh sampai serendah itu."
Pada akhirnya, gadis asal India itu memohon diri, dan Bogomila hanya mengangguk pelan sebagai respon. Bila boleh jujur, ia ingin sedikit menegur anak yang manis itu atas senyumannya yang sama sekali tidak patut diusung oleh perempuan muda, walau membicarakan seorang lelaki yang teramat sangat menjijikkan, namun... masih lebih baik ketimbang tidak tersenyum sama sekali--wajah anak perempuannya sendiri terlintas dalam pikiran.
Bogomila menghela napas, sembari menggunakan waktu lowong yang sesaat ini untuk mencatat penggunaannya sepanjang hari. Apa saja, tadi? Laudanum, Cayenne pepper, minyak zaitun--
"Namaste, Supervisor."
--atau mungkin, sisanya bisa menunggu. Tidak biasanya Supervisor Cabang Afrika-Timur Tengah dengan sukarela membawa dirinya ke infirmari, kecuali atas desakan Konstantina dan/atau staf lain, atau faktor luar lain. Probabilitas Hakizi Mana dibawa masuk di atas tandu, tak sadar diri, ketimbang lelaki Mesir itu mendatangi seorang staf medis karena demam, masih lebih besar.
"Oh, Hakizi!" Hanya beberapa dekade lalu, anak lelaki itu dipekerjakan oleh suaminya... Betapa cepat waktu berlalu, ya? "Maksudku, Supervisor. Ya, tetapi dirimu sendiri yang mengizinkanku tidak menggunakan panggilan itu, kan? Perihal apa yang membawamu ke sini, Nak?"
Matanya menyapu ruang kerjanya dengan cepat, seusai memerintahkan (ya, memerintahkan) supervisor cabangnya untuk duduk. Begitu mata kelabunya mendarat pada bungkusan teh kamomil yang masih tergeletak di luar, "... Teh kamomil, Nak?" |
|  | | Hakizi Mana Vatican Central

Posts: 77 Pemilik: Chief Poin RP: 100
Biodata Posisi: Supervisor Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 37
 | Subject: Re: [AFRICA] Interpreter of Maladies 29th June 2010, 12:23 | |
| "... Nyonya," sapanya kembali, dalam gumaman pelan, menundukkan kepalanya dengan sopan. Betapa cepatnya wanita Bulgaria itu merespon; belum sempat dirinya membalas sapaan dari bawahan Rajeev, Mrinalini, ia sudah menerima sambutan hangat dari wanita yang hendak ditemuinya. Melangkah ke dalam ward pribadi itu, Hakizi hanya berdiri tenang. Wajah datar tetap terpampang, ia menonton Bogomila yang mencari-cari sesuatu, entah apa, di ruang kerjanya. Hmm.
"Terima kasih," tolaknya dengan halus; bisnisnya di sini tidak berkaitan dengan penyakit--fisik, paling tidak. "Saya hanya datang ke sini untuk membicarakan beberapa hal. Anak Anda menyarankan kepada saya bahwa berbicara tentang masalah saya dengan orang lain bisa melampiaskan beban mental, tampaknya." Tentu, supervisor ini tidak menyadari bahwa yang dimaksud seseorang oleh Konstantina Abovian adalah diri[i">nya. Hakizi Mana mendeham, berusaha menentukan dari mana ia patut memulai.
"Ada sesuatu yang, sebenarnya, selama ini mengganggu saya. Perihal yang saya pikir tergolong tidak penting, sesungguhnya...
Seandainya saya berminat untuk..." Bagaimana eufemismenya? "... bekerja sama dengan seseorang, dan... saya tahu bahwa orang itu juga demikian; sebelum saya, bahkan... namun saya tahu bahwa dalam kondisi seperti ini, bila kami akhirnya--" Ahmm-- "--bekerja sama, hasil akhirnya hanya akan merugikan kedua pihak..."
Sejujurnya, apa yang ingin dia tanyakan?
"... Bagaimana seharusnya saya bertindak, Nyonya?" _________________ "Three hours a night suffices. The rest can be taken bit by bit."-- Hakizi Mana, on sleep
values, temptation-- his choice. number02: the L O V E R S - part 2 |
|  | | | | [AFRICA] Interpreter of Maladies | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
|
|