An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» [AMERICA] Unusual Training
by Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
by Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
by Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
by Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13

» [AMERICA] Tea Late at Night
by Felicia Miles 30th January 2011, 09:13


Share | 
 

 [CENTRAL] Santa Claus

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : 1, 2  Next
AuthorMessage
Glaucio Marino



Posts: 88
Pemilik: *nbla
Poin RP: 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

PostSubject: [CENTRAL] Santa Claus   9th October 2009, 13:44

December 23th,
Mainstreet, 18.00

I'm Santa Claus, I've got a thousand presents for you
Though every one of them is something cheap
Santa Claus, it's only once a year
Santa Claus, I'll give you everything


Langit di atas, mendung. Matahari telah menghilang sejak beberapa jam yang lalu, tak peduli--ia toh tidak kehilangan. Cahaya lampu di sepanjang pinggiran jalan tersembul dan berpendar, dibalik tutupan salju yang menyelimutinya. Tak peduli--ia sudah biasa hidup dan berjalan dalam gelap, toh.

Tssk.

Terhitung beberapa kali sejak ia berpapas wajah dengan puluhan orang yang ada di tempat ini, Westminster bukan tergolong kota kecil. Beberapa diantaranya adalah anak-anak kecil bersama orang tuanya, para bapak yang baru pulang kerja sembari menenteng kotak berisi makan malam di satu tangan, orang pacaran--standar. Dilangkahkannya kaki menjauhi pusat kota, untuk selanjutnya lebih mendekat ke arah markasnya kembali. Itu rumah dan tempat tinggalnya; satu-satunya tempat yang masih menawarkan kehangatan baginya. Oke, anggap saja itu sebagai kehangatan, mengingat ia bahkan belum pernah merasakan kehangatan sepanjang hidupnya. Padre seorang jendral yang sikap maupun wajahnya sama-sama dingin, sementara dua orang anggota keluarga wanitanya telah mencicipi kedinginan yang abadi lebih dahulu dibandingkan Glaucio Amadeus. Ya, hangat kan--perapian itu, selimut itu, kopi hangat itu, syal itu--

--syal abu-abu itu, bahkan ia yang tidak pernah mengagungkan pemberian orang lain sekalipun tetap saja menyimpan dan menjaganya hingga saat ini.

Dan bahkan masih memakainya jalan-jalan ke kota pada saat ini--pfft, betapa sesuatu yang manusia seperti itu cukup untuk membuatnya merasa tersindir, rendah... Malu, ya. Hahaha--[narator menghentikan tawanya]

Kehangatan pada masa natal seperti yang diagungkan orang-orang memang hanya bullshit belaka.

Ia mempercepat langkahnya sekali lagi, semakin mendekati arah markas. Semakin sering pula ia terhenti, berpapasan langkah dengan beberapa orang lainnya. Membungkuk ketika berhadapan dengan para general atau sosok berjabatan tinggi lainnya. Matanya dsesekali berpapas tatap dengan sejumlah exorcist, baik yang tak dikenalnya maupun ya--cuek, cuek-cuek sok angkuh. Malam yang ramai sekali benar, namun tetap saja terasa baginya sebagai suatu kebetulan bisa berpapasan lagi dengannya.

Angin berhembus. Langkahnya kembali tersendat, terhambat salju yang semakin terasa ketebalannya pada hari-hari ini. Dingin moderat, membuat iklim yang terasa pada tahun-tahun ini tidak terasa seperti dingin tahun sebelumnya saja.

--senyum itu.

Atau hanya karena perasaannya saja.
_______________________
(c) Ellegarden.
Limited, open untuk 2 atau 3 orang habis gimana char saya bisa eksis kalo mainnya di tret closed mulu dong orz habis Gabriella repp sini :]


Last edited by Glaucio A. Marino on 9th October 2009, 21:49; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Gabrielle van Rijn



Posts: 115
Umur: 19
Pemilik: Al2SiO5

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 18

PostSubject: Re: [CENTRAL] Santa Claus   9th October 2009, 17:43

Natal tak terasa sudah begitu dekat. Gabrielle van Rijn menyukai keceriaan natal, semangat anak anak, senyum orang tua, hadiah hadiah berbungkuskan kertas warna warni. Siapa yang tak menyukainya? Hati Gabrielle menjadi hangat hanya dengan mengingat hal itu. Dan senyum khasnya terpasang di wajah milik gadis Belanda itu.

Hari ini Gabrielle mengunjungi rumah neneknya di pinggiran kota. Sayang, ia tidak bisa mengunjungi keluarga satu satunya di Westminster itu pada saat hari natal. Tapi gantinya, ia bisa berlibur hari ini, dan Gaby tak menyesal. Neneknya yang baik hati itu memberinya sebuah syal berwarna merah marun dan sekotak cokelat berisi liquor untuk menghangatkan diri di musim dingin ini.

Tiba tiba gadis itu teringat sosok seorang yang entah sejak kapan menjadi seorang yang istimewa di hatinya. Sosok yang terasa kuat dari luar, namun di matanya terdapat kehampaan, setidaknya itu yang dilihat Gabrielle darinya.

Santa Claus, berikan aku hadiah terbaik tahun ini.

Dan Gabrielle melihat sosok yang dari tadi ia pikirkan. Pemuda yang mengenakan syal abu abu di depannya.

"Selamat sore, Glaucio," sapanya sambil tersenyum ramah. Ya, dialah sosok itu, Glaucio Amadeus Marino.


Last edited by Gabrielle van Rijn on 13th October 2009, 17:16; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Bianca Corda



Posts: 121
Pemilik: Agito

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Eropa
Umur: 25

PostSubject: Re: [CENTRAL] Santa Claus   9th October 2009, 18:04

Orang bilang, warna rambutnya seperti salju yang turun dan menumpuk di musim dingin. Bianca tidak ingat seperti apa warna salju itu, tapi ia masih ingat sensasi dingin yang ditinggalkan benda itu saat menyentuh kulitnya. Contohnya saja, seperti saat ini. Salju turun dengan lembut, sebagian menerpa kulit wajahnya yang tidak terlindungi, sebagian terjerat di trench coat-nya, sementara sebagian lagi meluncur di rambut putihnya yang sedang digerai--eh?

Ya, khusus hari itu, ia ingin menggerai rambutnya yang panjang sampai sedada. Setelah terlalu sering digelung, sepertinya rambutnya itu mulai protes dengan rontok agak banyak. Meski tidak bisa melihat berapa banyak yang rontok, tapi sebagai si pemilik kepala, Bianca sadar rambutnya sudah ada cukup banyak yang rontok, jadi ia membiarkan rambutnya digerai begitu saja. Lalu Innocence-nya? Tenang saja, hiasan rambut itu masih ia sematkan dengan baik di rambutnya, di atas telinga kirinya.

Pria albino ini--yang kini sulit dikenali sebagai pria karena jaket panjangnya dan rambutnya yang tergerai--berjalan perlahan-lahan melintasi pasar Westminster, tempat ia akan berbelanja satu-dua hal dengan sahabat terbaiknya, Roman. Pria Rusia itu tidak datang bersamanya dari markas, karena Bianca masih harus melaporkan satu-dua hal dulu ke divisi Diplomasi-Komunikasi yang akan menuliskan dan meneruskan laporannya itu ke orang-orang yang berkepentingan.

Jadi, bagaimana ia bisa menemukan Roman? Bianca merasa tenang-tenang saja berjalan sendirian melintasi pasar itu, karena ia yakin Roman pasti bisa menemukannya di antara kerumunan orang. Bagaimanapun, mereka adalah sahabat baik, dan seorang sahabat pasti bisa mengenali sahabatnya tanpa perlu 2-3 kali lihat, ya kan?
Back to top Go down
View user profile
Glaucio Marino



Posts: 88
Pemilik: *nbla
Poin RP: 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

PostSubject: Re: [CENTRAL] Santa Claus   10th October 2009, 22:25

Hadiah; benda klise yang bahkan belum pernah ia dapatkan sekalipun sepanjang 20 tahun ia melewatkan natal. Oh ya, pernah barangkali. Padre selalu memajang hingga se-lusin kotak-kotak berlapis kertas kado di bawah pohon natal mereka, seringnya untuk dibagi dua dengan Griselda. Meskipun memang lebih dari tiga perempatnya hanya berisi kertas kosong serabutan--pemberian kado memang hanya jadi semacam ritual biasa, yang tidak bermakna. Ia tak pernah mengharapkan hadiah.

Terlebih sejak Griselda tak pernah dilihatnya lagi sejak peristiwa entah berapa tahun lampau tersebut.

Dan benda halus yang melingkari lehernya itu... Adalah hadiah pertama yang ia terima dengan setulus hati. Bukan hadiah natal, bukan ulang tahunya yang sudah lewat setengah tahun yang lalu. Bukan hadiah yang diberikan hanya demi suatu seremoni formal belaka.

"Selamat sore, Glaucio,"

--karena selayaknya, hadiah yang seperti itulah yang bermakna lebih tinggi baginya.

"Sore... Gabrielle," dianggukkannya kepala sejenak, keseganan bertegur ucapan. Entah sudah berapa lama sejak ia merasa tidak perlu canggung untuk memanggil gadis tersebut dengan nama depannya--seperti bukan Glaucio yang selalu berbalut kesopanan sok formal saja. Wanita kebangsaan Belanda itu menunduk, tubuhnya yang berselisih 10 sentimeter tersendiri darinya seperti biasa--jadi begitu terasa kecil. Dan ringkih; pemuda itu selalu ingat bagaimana dalam beberapa kali pertemuannya dengan gadis itu... Gabrielle selalu dalam kondisi pingsan. Atau lemah. Dan sedikit sakit sembari terbujur di infarmari, yeah.

She's fine today, sepenuhnya.

"Bagaimana kabarmu--persiapan untuk natal besok, barangkali?"

--oh, basa-basi lagi. Seiring gerak langkah seorang pria berjaket tebal yang melintas di sebelah. Rambut seputih salju berkamuflase dengan panorama sekitarnya--Glaucio kenal, sepertinya. Warna rambut putih yang mirip keabuan itu... Sangat identik. Menghembuskan napasnya kembali perlahan, mengeluarkan aura keputihan uap air bersalut karbon dioksida tersebut.
Back to top Go down
View user profile
Roman Sintsov



Posts: 40
Pemilik: S.E.H.

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Eropa
Umur: 24

PostSubject: Re: [CENTRAL] Santa Claus   10th October 2009, 22:35

Roman tengah bersandar pada tiang lampu yang mengeluarkan cahaya berpendar, sementara kedua tangannya sibuk; tangan kanannya memegang pensil yang tengah menggambar sketsa bangunan di hadapannya, dan tangan kirinya menopang buku sketsa yang sudah terpakai setengah tersebut. Pria ini hanya mengenakan mantel yang termasuk tipis, tanpa tambahan sarung tangan ataupun syal. Merasa dinginkah ia? Tidak sama sekali, bagaimanapun juga musim dingin di Rusia tak bisa dibandingkan 'musim dingin mini' di Inggris raya ini.

Beberapa detik sekali, ia mengangkat kepalanya, dan mencari sosok yang sudah lekat di benaknya, Bianca Corda. Ya, ia dan sahabat dekatnya itu sudah berjanji akan berbelanja dua-tiga barang untuk Natal tahun ini. Omong-omong soal Natal, ia jadi tersenyum sendiri. Sampai 2 tahun lalu, ia masih bisa merayakan Natal bersama keluarga dan kekasihnya di St. Petersburg, mengindahkan betapa dinginnya cuaca kala itu. "Я сожалею, что я не могу быть с Вами на Рождестве этого года, Ludmyla..." ia menghembuskan napas, di pikirannya tergambar jelas wajah gadis berambut coklat pastel itu, dengan senyum lembut di wajahnya. Ahh, coba saja ia bisa minta cuti beberapa hari...

Pria Rusia ini menghentikan gerak tangan kanannya, dan ia mengangkat kepalanya untuk kesekian kali. Walaupun kepalanya tak diangkat sekalipun, ia yakin akan langsung sadar bila Bianca lewat di depannya. Dan untungnya, ia juga bisa mengenali pria itu dari kejauhan. Apalagi kalau bukan karena warna rambutnya yang menyatu dengan salju yang turun hari ini? Nah, itu dia, sedang berjalan di antara kerumunan menuju tempatnya bersandar. Menutup buku sketsa dan memasukkannya ke dalam tas kecilnya, ia berjalan mendekati pria albino tersebut.

"Tumben rambutmu digerai, Bianca? Orang bisa salah mengira kalau salju meleleh di rambutmu lho," ia menepuk pundak Bianca pelan, sambil memamerkan senyum isengnya, walau ia tahu kalau yang bersangkutan tidak bisa melihatnya. Yaa, bukan berarti ia tidak usah berekspresi di hadapannya kan? Roman tidak seperti Jenderal dari Norwegia itu; ia adalah pria Rusia yang bebas berekspresi!



[OOC: Glau, Roman-Bianca ikutan jadi double date ya Very Happy *digebuk*
Ngebayangin Torres, eh, Roman ngegambar... lol.]
Back to top Go down
View user profile
Bianca Corda



Posts: 121
Pemilik: Agito

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Eropa
Umur: 25

PostSubject: Re: [CENTRAL] Santa Claus   10th October 2009, 23:00

Sesuai dugaannya, Roman bisa mengenalinya dalam sekali lihat, meski dengan penampilannya yang beda dari biasanya. Bianca memberikan senyum terbaiknya pada pemuda Rusia itu, yang meski tidak bisa dilihatnya tapi masih bisa ia rasakan keberadaannya.

"Ah, rambutku? Kurasa memang perlu digerai sesekali, sekalian untuk perubahan suasana," jawab Bianca sambil menyentuh rambutnya yang tergerai halus ke trench coat hitamnya, yang kini terasa sangat dingin karena salju yang bertumpuk. Ia juga menepiskan salju yang menumpuk di atas kepalanya, yang membuatnya merasa agak pusing karena serangan dinginnya.

Ia lalu menghela nafas panjang sambil merapatkan jaketnya. Sepertinya jaket itu kurang tebal untuk membuat dirinya tetap hangat. Ia lalu menoleh ke arah Roman, dengan ekspresi agak bersalah. "Anu, Roman..." panggilnya pelan pada Finder asal Rusia itu, "Kamu... tidak keberatan 'kan kalau kita mampir untuk beli syal dulu. Sepertinya, udaranya agak lebih dingin daripada yang kuduga..."

Bianca kembali merapatkan jaketnya sambil memberikan senyum tipis pada sahabatnya itu. Meski ia kedinginan, ia tidak mau membiarkan sahabatnya itu terlalu khawatir padanya.
Back to top Go down
View user profile
Gabrielle van Rijn



Posts: 115
Umur: 19
Pemilik: Al2SiO5

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 18

PostSubject: Re: [CENTRAL] Santa Claus   11th October 2009, 19:48

Gabrielle melihat syal yang dikenakan Glaucio A. Marino, syal yang gadis itu berikan beberapa waktu yang lalu. Gaby tersenyum lembut, ia senang pemberiannya dapat berguna bagi pemuda Italia di hadapannya itu.

"Aku sehat, Glau. Bagaimana denganmu? Masih sering merasa pusing?" tanyanya sopan. Ya, itu adalah salah satu tugasnya di Black Order : menjaga kesehatan para anggota Black Order.

Ah! Ada suatu hal yang sangat penting yang Gaby lupakan. Gadis itu lupa membawa stok cokelat dari toko neneknya. Aduuh, bagaimana ini? Apa harus meminta Glaucio menemaninya?

"G-glau...," ucapnya perlahan sambil sedikit menundukkan mukanya. Sebenarnya ia merasa tidak enak, tapi Gabrielle tidak berani kembali ke rumah neneknya sendiri, apalagi jaraknya cukup jauh. "Ma-maukah Glau mengantarku ke rumah nenekku? Aku lupa membawa stok cokelat. Na-nanti aku antar ke manapun yang Glau mau khusus hari ini," pintanya pada Glaucio A. Marino. Gaby merasa mukanya sedikit memanas, dan jantungnya berdebar debar tak karuan. Gadis itu hanya menatap muka Glaucio yang lebih tinggi darinya, berharap pria itu mau menemaninya sebentar.

Jika tidak ada stok, berarti ia tidak bisa memberikan cokelat pada orang orang...terutama untuk pria di hadapannya itu.


Last edited by Gabrielle van Rijn on 13th October 2009, 17:17; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Roman Sintsov



Posts: 40
Pemilik: S.E.H.

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Eropa
Umur: 24

PostSubject: Re: [CENTRAL] Santa Claus   11th October 2009, 22:51

"Ah, rambutku? Kurasa memang perlu digerai sesekali, sekalian untuk perubahan suasana,"

Roman hanya mengangguk-ngangguk sambil menggumamkan 'ooh' pelan. Pasti repot ya punya rambut panjang. Ia sendiri, walaupun gemar menggonta-ganti model rambut, ia tak pernah mengizinkan rambut pirang-coklatnya melewati batas bahunya. Hmm, bagaimana Bianca dan Jendral Halvorsen menjaga rambutnya sepanjang itu, tanpa membuatnya terlihat jelek ya? Alih-alih terlihat jelek, rambut putih mereka justru terlihat halus layaknya rambut milik model iklan di koran-koran harian. Memakai shampoo khusus atau menggunakan perawatan spesialkah?

Sebagai pria yang memiliki pengetahuan nol tentang hal itu, Roman hanya bisa angkat bahu.

"Anu, Roman... Kamu... tidak keberatan 'kan kalau kita mampir untuk beli syal dulu? Sepertinya, udaranya agak lebih dingin daripada yang kuduga..."

"Wah, sedingin itu ya? Mau pakai jaketku dulu sementara?" tanya Roman sedikit terkejut, sebagai orang yang tidak turut merasakan udara dingin hari ini. "Ayolah, mau syal, sarung tangan atau topi, kita utamakan dulu kenyamananmu!" ujarnya sambil menepuk punggung Bianca dan mendorongnya sedikit, menandakan kalau perjalanan mereka dimulai.

Mata coklat mudanya kemudian menyapu pemandangan di hadapannya, mencari-cari toko di mana kira-kira ia bisa mendapatkan barang yang dibutuhkan sahabatnya. Sambil berjalan, Roman mengajak Bianca mengobrol tentang apa saja yang akan mereka lakukan di Natal tahun ini. Walaupun tidak bisa dirayakan bersama keluarga dan orang tersayang, merayakan hari Natal bersama sahabat terbaik merupakan pilihan yang tak bisa dilewatkan.

"Oh," pria Rusia ini tiba-tiba menyeletuk ketika menemukan suatu papan beberapa meter di depannya, "Di depan sana, di kanan jalan, sepertinya toko yang bagus. Coba ke sana, Bianca?" tanyanya. Yah, tidak mungkin ia seenaknya membawa Bianca ke mana saja ia mau kan? Toh yang sedang membutuhkan syal itu Bianca, bukan dirinya.



[OOC: Maaf, saya menggunakan cameo rambut Vodete sebagai referensi di paragraf 1 =)) *digebukkin rame-rame*]
Back to top Go down
View user profile
Bianca Corda



Posts: 121
Pemilik: Agito

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Eropa
Umur: 25

PostSubject: Re: [CENTRAL] Santa Claus   12th October 2009, 08:24

Quote:
"Wah, sedingin itu ya? Mau pakai jaketku dulu sementara?"


Mendengar tawaran itu, Bianca langsung menggeleng keras. "Jangan! Nanti kamu kedinginan! Jaket ini saja sudah cukup ha--HATCHIII!!" Sebuah bersin yang cukup keras rupanya mengkhianati ucapan pemuda ini. Wajahnya merona merah, malu sendiri pada perbuatannya tadi. Untung saja refleksnya cukup cepat untuk menutup hidung dan mulutnya, kalau tidak bisa-bisa Roman langsung terkena semburan ludahnya.

Quote:
"Ayolah, mau syal, sarung tangan atau topi, kita utamakan dulu kenyamananmu!"


Bianca tersenyum lembut pada Finder asal Rusia itu. Ah, sudah entah berapa kali Bianca mengutarakan keegoisannya, dan dituruti oleh pria nasionalis itu. "Terima kasih. Roman baik, ya..." puji Bianca pelan sambil tetap tersenyum pada Roman. Finder itu lalu menepuk punggungnya dan mendorongnya pelan, menandakan perjalanan mereka dimulai.

Keduanya membincangkan berbagai hal tentang Natal. Bianca merasa agak rindu pada 'rumah'-nya di Italia, dan ia yakin Roman pasti juga rindu pada rumahnya di Rusia. Tapi sesekali, merayakan Natal bersama sahabat terbaik tidak buruk juga. Malahan mungkin Natal tahun itu akan menjadi Natal terbaiknya, siapa tahu?

Quote:
"Di depan sana, di kanan jalan, sepertinya toko yang bagus. Coba ke sana, Bianca?"


Bianca mengangguk pelan sebagai jawaban. "Boleh juga. Aku percaya padamu," jawab Bianca sambil tersenyum pada sahabatnya itu. Keduanya lalu masuk ke dalam toko itu, yang terasa jauh lebih hangat daripada udara luar.

"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" sapa si penjaga toko ketika kedua pria itu masuk ke dalam toko. Bianca langsung melontarkan senyum ramah pada penjaga toko itu, yang sepertinya adalah wanita.

"Selamat sore. Saya sedang mencari syal yang hangat, adakah?" tanya Bianca sopan. Si penjaga toko itu memberi isyarat kepada keduanya untuk menunggu sebentar, meski juga menggumamkan 'tunggu sebentar' karena sedikit banyak ia ragu Bianca bisa melihatnya.

Tak lama, si penjaga toko mengeluarkan sebuah syal rajutan yang cukup tebal dengan warna merah tua. "Ini yang terbaik yang kami punya," kata si penjaga toko sambil mengulurkan syal tersebut kepada Bianca. Pemuda albino itu mengambil syal tersebut, merabanya pelan untuk merasakan teksturnya. Tanpa perlu susah-susah melihatnya, Bianca tahu bahwa syal tersebut memang yang terbaik.

Ia lalu mencoba syal itu dengan melingkarkannya di sekeliling lehernya, dan ternyata syal tersebut memang luar biasa hangat. Ia lalu menoleh ke arah Roman dan bertanya, "Cocok?"
Back to top Go down
View user profile
Glaucio Marino



Posts: 88
Pemilik: *nbla
Poin RP: 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

PostSubject: Re: [CENTRAL] Santa Claus   12th October 2009, 12:54

Ia menarik napas berat kembali. Cuaca dingin seperti biasa memang tidak pernah mengganggu kesehatan dan aktivitasnya, tapi bukan berarti ia menyukainya. Bulan desember hanya dianggapnya sebagai penanda akhir tahun yang melelahkan, tidak lebih. Bukan natal, bukan pohon ataupun kado dan kue-kuenya. Kecuali liburnya, mungkin--ah. Natal tidak pernah ada di kalender Glaucio Marino.

--Gabriella menanyakan kabarnya.

Tidak pernah ada.

"Tidak, mungkin sesekali--kebanyakan beban pikiran, hehe."

He--hehe?? Glaucio hari ini memang agak aneh.

Mungkin juga tanpa kata 'agak'. Refleks ia mengetuk pelan kepalanya, seolah aktivitas kecil seperti itu mampu menggeser sedikit posisi otaknya dan meletakkannya kembali ke tempatnya. Suara lagi, kali ini keluar dari mulut gadis bertubuh kecil dibandingkannya tersebut. Kepalanya menunduk, seolah ingin mengatakan sesuatu yang malu untuk diutarakannya--hah?

"Ma-maukah Glau mengantarku ke rumah nenekku? Aku lupa membawa stok cokelat. Na-nanti aku antar ke manapun yang Glau mau khusus hari ini,"

--memang cuma imajinasinya.

Kedua lengan bertelapak kasar itu tak berbalut sarung tangan, beku. Dikeluarkannya dari kantong jaket hitam ketebalannya, menggosok-gosokkannya perlahan. Meniupkan napasnya ke arah telapak tangannya, lalu mengeluarkan kacamatanya. Turut menghembuskan uapnya ke arah lensa itu. Hari sudah semakin gelap, dan tanpa benda itu mungkin habis sudah nasibnya. Bisa-bisa ia tak bisa pulang karena tersasar dan tak bisa mengamati jalan pulang di sekelilingnya.

"Ya... Boleh. Aku tidak keberatan."

--terebih, ia mau mengantar gadis itu kan? Haha, mengantar. Kegiatan yang kedengaran sungguh manis jika dilakukan si putra sulung Marino. Berjalan-jalan? Ia tak punya niatan untuk melakukannya hari ini, sebenarnya. Tapi--

"Kamu... tidak keberatan 'kan kalau kita mampir untuk beli syal dulu. Sepertinya, udaranya agak lebih dingin daripada yang kuduga..."

"Di depan sana, di kanan jalan, sepertinya toko yang bagus. Coba ke sana, Bianca?"


--suara dua orang lain tak jauh disekitarnya mengobrol, seolah menumbuhkan inspirasinya.

"Err, Gabrielle--mau coba mampir ke tempat itu?"

--menunjuk ke arah toko yang dimasuki si pria albino tersebut bersama... Euh, sahabatnya; sesaat merogoh kembali isi kantungnya, menemukan beberapa keping koin emas dan lembaran lusuh uang kertas di dalamnya. Cukup.

____________________

Ayuk Smile RomanxBianca, mesranya. Prikitiuuuwww, cieciehh *plakk*
Back to top Go down
View user profile
Gabrielle van Rijn



Posts: 115
Umur: 19
Pemilik: Al2SiO5

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 18

PostSubject: Re: [CENTRAL] Santa Claus   15th October 2009, 08:13

Kepala gadis asal Belanda itu tetap menunduk, walaupun Glaucio sudah menjawab permohonan Gaby. Tidak, bukan berarti Gaby kecewa atau apa, tapi hatinya terasa...tidak karuan. Kenapa Glaucio tiba-tiba mengajaknya ke toko syal? Rasanya seperti... A-ah, tidak! Tidak. Gaby menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba menepis pikiran aneh yang melintas di benaknya.

...lagipula ia sudah berjanji mau mengantar pemuda di hadapannya itu, kan?

"Ba-baiklah kalau begitu," ucap gadis itu sambil tersenyum hangat.
Back to top Go down
View user profile
Roman Sintsov



Posts: 40
Pemilik: S.E.H.

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Eropa
Umur: 24

PostSubject: Re: [CENTRAL] Santa Claus   18th October 2009, 00:39

"Jangan! Nanti kamu kedinginan! Jaket ini saja sudah cukup ha--HATCHIII!!"

Roman tertawa geli melihat perilaku sahabatnya satu ini. Tidak, ia tidak meledeknya atau apa, ia hanya merasa geli melihat bersin Bianca mengkhianati ucapannya. "Tuh kan, aku bilang juga apa!" ia tersenyum jahil, berniat membuka jaketnya tapi... Ah ya, sudahlah. Bianca kan bukan anak kecil yang harus selalu diperhatikan kondisinya secara berlebih. Tangannya sudah memegang kancing jaketnya yang paling atas, namun niat itu diurungkannya.

"Terima kasih. Roman baik, ya..."

Dahi Roman berkerut, "Hah? Kamu ngomong apa sih?" ia tertawa kecil lagi, "Tidak mungkin kan aku biarkan kau kedinginan di jalan, tovarishch?" ia tersenyum lagi. Jangan-jangan Bianca jadi demam karena musim dingin, sehingga kata-katanya jadi sedikit aneh? Ah, masa' sih. Tapi Roman senang kok, kalau Bianca menilainya seperti itu. Itu berarti ia sudah jadi sahabat yang baik, bukan?

Jadi, setelah membincangkan topik soal Natal untuk tahun ini mereka melangkah masuk ke sebuah toko yang diyakini Roman menyediakan barang-barang yang dibutuhkan oleh sahabatnya itu. Klining, lonceng yang digantung di depan pintu berbunyi ketika mereka memasuki toko tersebut, sontak seorang penjaga toko menyapa kedatangan mereka.

"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?"
"Selamat sore. Saya sedang mencari syal yang hangat, adakah?"
"Tunggu sebentar,"


Baiklah, rupanya Roman tidak salah pilih toko kali ini. Tampaknya ini toko yang bagus; kebersihannya terjaga, perabotan dan barang-barangnya terlihat berkualitas. Dan lagi, di sini hangat. Roman menghembuskan napas lega, yang jadi masalah tinggal harga. Ah, tapi seharusnya Bianca bisa mendapat potongan harga, bila ternyata ia memakai seragam Exorcist di balik mantelnya. Ah sudahlah, yang penting sahabatnya itu merasa nyaman dulu.

"Ini yang terbaik yang kami punya,"

Penjaga toko itu datang membawakan sebuah syal rajutan berwarna merah tua, Bianca mernerima syal itu dan melingkarkannya di lehernya. "Cocok?" pria albino itu menanyakan pendapat, namun pertanyaannya tidak langsung dijawab oleh sang pria Rusia.

Tangannya diangkat, mendekat ke wajah pemuda itu. Jemarinya meraih beberapa helai rambut Bianca yang seputih salju, menyentuhnya lembut, kemudian perlahan-lahan tangannya turun ke syal yang sedang pria itu kenakan, untuk merasakan teksturnya. Sementara matanya yang berwarna coklat muda menelusuri corak warna yang terpampang di hadapannya. Warnanya memang kontras dengan warna rambut Bianca, tapi bagi orang Rusia sepertinya, merah adalah warna terindah. Sekali lagi ia menyentuh ujung permukaan syal itu, memastikan. Ya, memang kualitas terbaik. Tapi ia rasa rambut milik Bianca jauh lebih baik, karena tidak ada orang yang bisa membuat yang seperti itu. Hanya Tuhan yang bisa.

Senyum lembut yang tadi diperlihatkannya melebar, pandangannya tidak lepas dari sang Exorcist, "Ya, cocok~" apalagi karena warnanya serasi dengan warna matamu, Bianca. "Eh, hangat tidak?" karena kalau tidak, buat apa dibeli?



[OOC: Aihh, kurang puitis... *dilempar*
Ayo sini kita dobel date bareng-bareng Blush ]
Back to top Go down
View user profile
Bianca Corda



Posts: 121
Pemilik: Agito

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Eropa
Umur: 25

PostSubject: Re: [CENTRAL] Santa Claus   18th October 2009, 01:09

Pria Italia ini menunggu reaksi sahabatnya, yang sepertinya tidak muncul dengan cepat. Mungkinkah syal itu, meski bertekstur bagus dan terasa hangat, ternyata memiliki corak atau warna yang begitu jelek sampai pria Rusia itu tidak berkomentar? Tapi sentuhan yang ia rasakan berikutnya langsung membuyarkan pikirannya seketika.

Ia bisa merasakan bagaimana jemari Roman menyentuh rambutnya, lalu turun ke syalnya dengan gerakan yang begitu lembut. Bianca tidak tahu ekspresi seperti apa yang dibuat oleh sahabatnya itu saat melakukan hal demikian padanya... tapi ia lebih tidak tahu lagi ekspresi seperti apa yang ia tunjukkan sekarang sebagai reaksi dari tindakan tak terduga sahabatnya itu.

Tanpa alasan yang jelas, Bianca bisa merasakan detak jantungnya berdebar lebih keras daripada biasanya.

Pria albino ini hanya bisa terdiam dengan bibir yang agak terbuka, yang menunjukkan dengan jelas bahwa ia tidak menyangka tindakan Roman yang tadi itu. Ia hanya bisa diam, sambil menunggu jawaban dari sahabatnya itu.

Quote:
"Ya, cocok~"


Bianca hampir saja melewatkan dua kata itu, kalau saja si empunya suara tidak berdiri tepat di hadapannya. Bianca hanya bisa tersenyum agak kaku menanggapi jawaban singkat itu, karena tadi pikirannya sempat melayang-layang sendiri.

Quote:
"Eh, hangat tidak?"


Bianca mengangguk pelan sebagai jawaban. Syal itu jelas sangat hangat. Tapi yang Bianca tidak mengerti, mengapa sekarang ia merasa jauh lebih hangat daripada sebelumnya, padahal apa yang dikenakannya sekarang hanya bertambah sehelai syal. Terlebih lagi, wajahnya yang tadinya sedingin es, kini terasa benar-benar panas.

"Um, Nona... Saya ambil ini," kata Bianca agak gugup. Ia juga langsung merogoh sakunya untuk mencari dompetnya, memutuskan untuk membayar syal itu sendiri. Tidak mungkin ia selancang itu sampai meminta Roman untuk membelikan benda itu untuknya, 'kan?
Back to top Go down
View user profile
Glaucio Marino



Posts: 88
Pemilik: *nbla
Poin RP: 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

PostSubject: Re: [CENTRAL] Santa Claus   12th November 2009, 20:08

Orang-orang di sana rupanya berisik juga ya.

hening, tak berani untuk bicara banyak. Enggan. Juga malas; mengingat ia juga bukan tipe yang biasa membuka pembicaraan--untuk soal berkomunikasi, harus diakui bahwa ia cukup lemah. Atau memang sedang tak ingin. Sebutir salju turun lewat pundaknya, ia sendiri juga tengah ingin menikmati kesunyian itu. Kesunyian sepanjang jalan utama, yang pada hari biasa semestinya begitu ramai--dan lagi, ini pekan-pekan liburan, kan? Tapi sekali lagi--memang tak ada waktu libur resmi untuk anggota Black Order, terlebih olehnya yang seorang fighter--tetap harus siaga. sama seperti mereka yang lainnya.

"Eh, kau--mengambil waktu libur juga besok?"

Berbasa-basi memang salah satu dari kemampuan yang tidak ia miliki, disamping menerima asupan minuman alkohol dan nikotin dalam jumlah besar. Menurunkan dagunya sejenak, membuat posisinya sejenak terlihat lebih seimbang dengan mata Gabriella Van Rijn, sekaligus membuatnya jadi lebih leluasa untuk mengamati mata warna kebiruan itu--tssk, entah sejak kapan pula Glaucio menjadi pengamat soal hal remeh-remeh seperti itu.

"Err, ya--ayo kalau begitu."

Meneruskan langkahnya, sepatu kanvas berbentuk boots setumit itu menapaki jalan berlapis salju tipis. Canggung--serius. Tak lama ketika ia memutuskan untuk berbalik masuk ke sebuah toko; ya--melihat-lihat barang jualan mungkin bisa memberikannya aktivitas baru, selain merenung atau mungkin melamun. Dan berjalan kalem sok dingin sekalipun perasaannya juga tidak sama sekali tidak dingin seperti itu. Dua pria yang di sana kelihatannya mulai membeli syal, sekilas Glaucio mengira bahwa orang yang diketahuinya sebagai tuan finder itu akan membelikan hadiah natal untuk si pria rambut putih yang... Disayanginya. Agak geli, sekilas--ketika Glaucio tak yakin bahwa ia akan membelikan apa-apa untuk Gabriella, beberapa saat yang lalu.

Berarti ia harus yakin untuk melakukannya, sekarang, "Kamu... Suka warna apa?" Diiringi senyum tipis yang tidak seberapa untuk bisa dilihat dengan kasat mata.

Santa Claus, it's only once a year
Santa Claus, I'll give you everything.
Back to top Go down
View user profile
Gabrielle van Rijn



Posts: 115
Umur: 19
Pemilik: Al2SiO5

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 18

PostSubject: Re: [CENTRAL] Santa Claus   13th November 2009, 14:14

oot : baru sadar post saya di atas pendek bgt >.< (dari hape sih)


Bagi Gabrielle van Rijn, hari ini adalah pertama kalinya gadis itu berjalan-jelan bersama seorang lelaki. Kecuali dengan keluarganya, ia tak pernah mengajak ataupun diajak berjalan-jalan santai macam ini. Ini memberi suatu efek aneh pada tubuhnya, jantung berdebar namun perasaannya begitu tenang--seperti merasa...aman?. Tak henti-hentinya ia tersenyum pada lelaki yang berada di depannya, walaupun yang bersangkutan tidak memberi balasan yang sama.

"Eh, kau--mengambil waktu libur juga besok?"

"E..eh, sepertinya tidak. Aku akan berjaga di Infirmari. Glau sendiri ba-bagaimana?," jawab Gabrielle dengan agak gugup. Ya, hari ini ia sudah mengambil izin untuk pengganti libur natal, jadi ia tak akan libur besok. Rasanya tidak enak jika ia terus-terusan libur. Tangan dokternya itu sudah gatal ingin mengecek dokumen kesehatan milik para anggota BO.

Tanpa terasa kaki gadis asal Belanda itu sampai juga di toko syal--tujuan awal Glaucio. Di dalamnya terdapat syal-syal yang tampaknya hangat. Buatan tangan Gabrielle sepertinya masih kalah dengan tumpukan syal berwarna-warni di dalam toko itu. Hmm, mungkin ia harus giat berlatih agak syal buatannya jadi sebagus itu.

"Kamu... Suka warna apa?"

Gabrielle yang sedang sedikit melamun itu agak kaget mendengar pertanyaan dari pria Exorcist berambut abu itu. E-eh? Warna kesukaan?

"A-ah, biru muda...mungkin?" jawabnya agak ragu. Bahkan Gabrielle sendiri tak yakin dengan warna kesukaannya, ia tak pernah memikirkan soal itu. Gadis itu terlalu sibuk memikirkan kondisi pasien-pasiennya. Bahkan kadang ia melupakan dirinya sendiri bukan?
Back to top Go down
View user profile
 

[CENTRAL] Santa Claus

View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 2Goto page : 1, 2  Next

 Similar topics

-
» Santa's Workshop
» 01 - New Central
» Central Harmony
» [CENTRAL] Santa Claus
» Jack Skellington

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Black Order Archives :: Bookman's Records-
Free forum | Roleplay forums | D.Gray-Man RPG | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Free forums