An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» [AMERICA] Unusual Training
by Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
by Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
by Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
by Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13

» [AMERICA] Tea Late at Night
by Felicia Miles 30th January 2011, 09:13


Share | 
 

 [CENTRAL] I Have Never Ever!

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
AuthorMessage
Ingressa Michelli



Posts: 77
Umur: 20
Poin RP: 20

Biodata
Posisi: Section Leader
Cabang: Eropa
Umur: 23 tahun

PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   30th January 2010, 12:49

Ah, suara-suara apakah yang didengarkan Ressa? Selain suara lagu yang melantun dari bibir Halverson, semuanya terasa bagaikan dengungan lebah yang mengitari bunga-bunga di padang rumput. Bunyi-bunyi dengan frekuensi tidak jelas sama sekali tidak membuat Ressa merasa lebih baik, atau lebih tepatnya lebih sadar.

Kepala Ressa sudah benar-benar pening sekarang. Tampaknya efek 4/5 isi botol Pedro Ximenez sudah mulai dirasakannya. Ah, hati Ressa terasa berbunga-bunga sekarang, menigngatkannya akan memori yang terasa begitu jauh, memori yang dia miliki sewaktu dia masih muda..

Seolah-olah dirinya sudah tua saja.

Kepangan-kepangan yang dikerjakannya sudah selesai sekarang. Tanpa mempedulikan apapun kata Shrei nanti, Ressa merenggut jubah hitam Shrei yang tergeletawk di lantai, sekalipun Shrei tengah menginjak-injaknya. Ya, mungkin minuman beralkohol dengan suatu cara yang misterius bisa menambah tenaga seseorang, atau mungkin itu hanya Ressa yang terlalu bersemangat.

"Hentikan itu Halverson," katanya sembarangan. "Berisik."

"I... have never met an elf."

Suara itu..rasanya suara Kohler. Entah kenapa suara itu terasa begitu jauh. Peduli amat! Jauh ataupun tidak, Kohler telah mengucapkan pernyataan yang sama sekali tidak valid, setidaknya menurut Ressa.

"General," katanya, menatap tajam Kohler dengan kedua matanya. "Pernyataanmu itu tidak benar. Bukannya kau sudah pernah mengenalku, yang adalah seorang elf-lady yang telah hidup selama beribu-ribu tahun?"

Senyum manis mengambang di bibir Ressa, seolah-olah dirinya memang seorang makhluk immortal yang telah menyaksikan dunia berubah dalam jangka waktu yang demikian lama. Ressa jelas-jelas sudah kehilangan kesadarannya.

"Tapi tidak sepertimu, Kohler," katanya lagi sambil membuka botol minumannya yang kini tinggal tersisa seperlimanya, "Aku adalah wanita yang jujur, dan aku akan minum lagi. Waes hael, gentlemen."

Dengan kalimat itu ia mengangkat tinggi-tinggi botol minumannya, bersulang, dan menghabiskan isinya.

"Giliranku sekarang kan?". Dengan senyum licik Ressa mengucapkan kalimat pernyataannya. "I have never killed anyone."

Masih dengan perasaan melayang, Ressa membiarkan matanya menatap lantai dengan pandangan kosong. Namun ia langsung terkesiap begitu melihat uluran tangan seseorang. Ressa mendongak, dan melihat mata es sang jendral Norwegia, dan tunggu, dia tersenyum!

"Tu dici che vuoi che io a cantare in italiano, non è vero?"

Itu memang benar, tapi...

"Già dell’alba vicina... L’aure percorritrici, I venticelli amici Fomentano cortesi..."

Tanpa menunggu jawaban Ressa, Shrei menyanyikan baris pertama lagu klasik Italia. Pria ini bersungguh-sungguh -- atau sungguh-sungguh mabuk.

Entahlah, pikiran Ressa tidak cukup berfungsi untuk menolak ajakan Shrei. Dengan spontan Ressa menggenggam tangan Shrei, dan berdiri.

"Cavalli?" katanya, memastikan lagu yang sedang Shrei nyanyikan. "Mi piace."

Dengan suara lirih ia ikut menyanyikan lagu itu.

"Questa è l’ora felice... Da me più favorita, In cui godo vedere... Dentro a un dormir profondo, La natura sopita..."

Berbahagialah, Shrei, setidaknya kau punya teman untuk berbagi ke-tidaksadar-anmu.

_________________
Even forever is such a short time to live.. -- Ingressa Michelli


I love you because I know no other way. -- Pablo Neruda


Spoiler:
 


...like THE ELF that lives forever


Last edited by Ingressa Michelli on 4th February 2010, 14:17; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile http://sereisa.multiply.com
Abisak Avedisian



Posts: 77
Pemilik: Chief
Poin RP: 20

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 25

PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   1st February 2010, 22:54

Masuk, tidak, masuk, tidak, masuktidakmasuktidakarghhhhh.

Konflik batin berkecamuk dalam benak seorang Abisak Avedisian, yang tidak bisa mengeluarkan tekad cukup kuat untuk menggerakkan sepasang kakinya. Ia sudah mendapatkan instruksi yang jelas dari Giraile: bila dirinya mulai merasa ada sesuatu yang janggal dari wanita Armenia, itu tandanya ia harus mengintervensi. Dan ya, ia merasa ada sesuatu yang SANGAT janggal begitu mendengar suara terkikik Giraile.

Bila boleh jujur, dari awal acara ini sudah berbau mencurigakan dan terlampau janggal, bila tidak mau dibilang berpotensi membuahkan hal-hal yang tidak diinginkan. Walau ia berhasil menahan diri dari mengintip langsung (oh, Abisak tahu dirinya tidak akan ingin melihat sekumpulan orang--tidak ada satupun berjabatan kurang dari Disciple--mempermalukan diri sendiri), ia kurang-lebih bisa menerka apa yang tengah terjadi. Ya, kehancuran.

'Tenang, belum ada hal yang benar-benar aneh...' Namun, begitu ia mendengar suara nyanyian seorang pria Norwegia, dan pernyataan yang berhubungan dengan elf dari seorang Ravel Kohler, Abisak tahu gilirannya telah tiba. Memberanikan diri, ia memasuki lokasi... dan...

"Astaga." Giraile; apakah pengaruh buruk wanita itu sedemikian kuatnya hingga semua orang bermartabat ini terpengaruh?! Melawan akal sehatnya, ia berjalan mendekati Giraile, yang masih didampingi botol Brandy de Jerez-nya. Mengintip jumlah yang tersisa, Abisak yakin wanita Armenia itu telah meminum melebihi standarnya. "Nona, Anda mabuk?"

Pertanyaan berikutnya: bagaimana seorang janitor tidak berdaya seperti dirinya menangani orang mabuk sebanyak ini? Dunia benar-benar kejam.
Back to top Go down
View user profile
Shreizag E. Halverson
Vatican Central


Posts: 580
Umur: 20
Pemilik: S.E.H.
Poin RP: 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 29

PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   4th February 2010, 00:30

Perasaannya seperti di awang-awang sekarang.

Bagaimana tidak? Dengan langkah-langkah teratur--tidak begitu teratur, sebenarnya--dan berirama, serta nyanyian merdu yang didendangkan dari bibir kedua sejoli malam itu, membuat dirinya seakan tenggelam dalam keadaan yang ia buat sendiri. Terutama ketika ia tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini, membuat segalanya berjalan begitu saja, sesuai kemauannya--yang sudah tidak dapat dikendalikan. Golem peraknya? Masih setia berpegangan erat di pundaknya, tenang saja.

Satu tangannya masing menggenggam tangan Ressa, sedangkan satu tangannya yang lain ada di pinggang wanita Italia itu, menjaga jaraknya agar mereka tak terpaut begitu jauh. Hanya, kepalanya yang didominasi warna putih itu tertunduk, menjadikan pundak Ressa sebagai alasnya.

Dan nyanyian pun harus terus dilantunkan sampai akhir. "Uscite in varie forme... Immagini gioconde, e strane forme, E all’addormito mondo... Portate in sogni lieti... Metamorfosi mille, e mille segni, E l’uomo frale a indovinar s’ingegni..." suara tenornya terdengar samar, sampai akhirnya hilang sepenuhnya di penghujung lagu. Selesai, ini lagu yang terakhir.

Trakk

Ia menundukkan kepalanya ke bawah, mencari asal suara beling yang berpadu dengan lantai itu. Ahh, botol Real Sangria-nya. Sejak kapan ada di situ? Kebetulan sekali, tenggorokannya kering karena bernyanyi tadi. Mengambil botol yang hampir kosong itu perlahan, pria Norwegia ini membuka tutupnya dan meneguk isinya sampai habis tak bersisa. Kali ini, ia sadar dengan efek alkohol itu sepenuhnya. Kepalanya terasa sangat berat, kelopak matanya hampir menutupi iris biru muda dari sana.

Melangkah sempoyongan pada Ressa, yang kini telah berada di tepi tempat tidur, Shreizag sudah tidak dapat menahan berat tubuhnya sendiri. "La ringrazio per la splendida cantare e ballare... Signorina Michelli..." tak lupa ia mengucapkan terima kasih atas nyanyian dan dansa yang telah dilakoni dengan cukup baik dengan mereka berdua, lengkap dengan senyumnya yang jarang terlihat. Bersamaan dengan berakhirnya kalimat itu, keseimbangannya hilang, membiarkan sebagian berat tubuhnya bertumpu pada sang wanita Italia, sebelum akhirnya tubuh mereka berdua terhempas di atas tempat tidur.

"Facciamolo nuovamente... Un giorno..." dan setelah suara lirih berupa kalimat ajakan untuk melakukan hal yang sama suatu hari nanti--kemungkinan besar tidak akan terjadi--kedua matanya benar-benar tertutup. Ambruk.

Shreizag Erstad Halverson, ini adalah kali kedua ia mabuk sampai tak sadarkan diri.



Spoiler:
 

_________________
"l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour
First. The Silver Ice
Back to top Go down
View user profile http://sacchii.deviantart.com
A. Růžena Mlynarikova



Posts: 120
Poin RP: 20

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 20

PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   6th February 2010, 22:45

Ahhh menyebalkan kenapa Glaucio ingin mereka cepat-cepat keluar dari permainan sih.. kan mereka belum menghabiskan... dua botol. Iya, masih banyak botol lainnya kok! Masa' mau berhenti sampai di sini? Nanggung ahh!

Memang berpikir demikian, namun kali ini tangan mungilnya--yang berkekuatan menakjubkan--mencengkeram pergelangan tangan Marino. Iya, kalau Allegra harus keluar ia ta mau keluar sendiri, pemuda berambut abu itu harus menemaninya. Entah Glaucio mau menurut atau tidak--bukankah seharusnya ia yang diseret?--tapi kok susah banget sih berjalan lurus?Uuuh, semua sosok disana pun saat ini telah berubah menjadi bayang-bayang--kebanyakan--berwarna hitam, seperti hantu saja.

Ok, Allegra tahu pintu keluar di sebelah sana, ia hanya tinggal berjalan saja... pelan, perlahan, tegak, lurus... yang tak mungkin bagi seorang gadis dalam keadaan mabuk. Sehingga, jangan salahkan dia kalau di tengah-tengah perjalanannya ia merasa ujung tumitnya terantuk sesuatu.

Huee?

Merunduk ke arah ujung sepatunya--masih dengan tatapan tak fokus dan wajah merah--dan menemukan bahwa ia menendang... apa ini? Labu Halloween? Jack O Lantern? Kuning begini... Halloween kan masih lama, gimana sih? Paraah ah.

Reflek menggeser letak labu itu dengan ujung tumitnya (baca: ditendang lebih dari satu-dua kali) dan akhirnya menyerah sambil melenguh kesal karena labu itu tak mau menyingkir. Jadi, ia loncati saja deh kepala Jack itu. Hup, dan tubuhnya telah berada di ambang pintu, melenggang ke luar sambil cegukan.

"Hei kamu!" melengking pada bayangan entah siapa (Abisak) "nih buat kamu!" menjejalkan botol Commander kosong ke Abisak malang sebelum benar-benar membiarkan pendar pirang rambutnya menghilang di ujung koridor. Langkah gontai, semoga saja ia tak terantuk tembok atau nyasar.

Amin.

.....yang Allegra sama sekali tak tahu, Labu Halloween yang ia tendang itu adalah kepala kuning si Kohler--mungkin berbekas biru-ungu sekarang, memar.




[Allegra : OUT]

Spoiler:
 
Back to top Go down
View user profile
Giraile Arevig A.
Vatican Central


Posts: 258
Pemilik: Chief
Poin RP: 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 28

PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   6th February 2010, 23:10

Usai mendorong Allegra ke arah rekan murid Francisnya, Giraile dalam kondisi hampir-sepenuhnya-mabuk sudah tidak memikirkan masalah Commander yang disia-siakan itu. Terus terkikik, ia menonton Shreizag yang memberikan pertunjukan gratis dengan Ingressa yang dalam kondisi sama mabuknya. Wanita Armenia itu pun melepaskan tawaan terbahak-bahak melihat pria Norwegia yang menghabiskan isi botol Real Sangria-nya. Tentu, begitu mendengar pernyataan Ingressa, Giraile tidak memiliki pilihan kecuali melakukan hal yang sama. Woahh, kepalanya benar-benar terasa ringan sekarang. "Ngikikiiikk... Dasar toloool, kikikikiiiii--"

"... N--a... mabuk... mabuk... mabuk--

Ngiiiiik...

Bibirnya mencebik, sebelum ia mengayun-ayunkan lengannya dengan liar. "Aaahhh, berisiiik!" keluhnya, layaknya seorang anak perempuan manja yang tidak dibelikan mainan yang diinginkannya. Ia mengepalkan tangannya, jauh lebih lemas dari biasanya. "Huuuh... ini, terimalaaaah..." Tentu, jalur yang ditempuh tonjokannya pun berliku-liku, dan hanya menumbuk dada sosok berambut gelap yang tidak dikenalnya itu dengan pelan.

"Uff... aku capeek... aku mau tidur... zzttt..." Kedua mata ambernya terpejam, kepalanya yang bertumpu dagu pada pundak pria berwajah samar itu menunduk lemas. Siap untuk dibuai ke dunia mimpi, demi meniadakan dengungan menyebalkan yang memenuhi kepalanya. Dan dengan itu, ia menjatuhkan badannya pada sosok yang lebih pendek darinya itu.

Brukk. Ia dapat merasakan tekstur karpet kamarnya, namun Giraile tidak peduli dengan pilihan tempat untuk beristirahat malam itu. Ia hanya ingin... tidur.

_________________
"If at first you don't succeed... keep trying!"

passion, uncertainty-- her choice.
number01: the L O V E R S - part 1
Back to top Go down
View user profile http://infinite.inficio.info
Abisak Avedisian



Posts: 77
Pemilik: Chief
Poin RP: 20

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 25

PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   6th February 2010, 23:29

"Aduuuh... Aku harus bagaimana..." Bergumam pada diri sendiri tidak berguna, Abisak tahu itu. Minimal, ia bisa melampiaskan sedikit kekesalannya, seraya dirinya memegang dahinya yang mulai merasa pening, tanpa sedikitpun mencicipi cairan memabukkan yang baunya tertangkap indera penciumannya. Giraile, yang sebelumnya mengeluarkan tawaan aneh, tidak menghiraukan ucapannya lebih dari wajah yang menampilkan ketidaksenangan. 'Hei, aku sudah cukup baik ini, Nona Giraile... euhh...'

Mata hazelnya membelalak sesaat, mendengar kalimat yang jelas-jelas menyuarakan tantangan berkelahi dari wanita gahar itu, namun langsung berakomodasi normal melihat gerakan Giraile yang meliuk tidak menentu. "Konyol. Saking mabuknya, engkau bahkan tidak bisa memukulku dengan benar... hahaha." Tampaknya ada baiknya juga bertemu dengan wanita Armenia ini saat mabuk. Mungkin ia bisa menyindir dan mengeluarkan unek-unek dalam hati terdalamnya dengan leluasa. Ia tertawa pelan, membayangkan prospek yang begitu menyenangkan itu, oho--

"Hei kamu!"


"Ha--mphh!"


Tampaknya, selalu ada karma untuk membalas pemikiran keji.

Entah apa yang terjadi, namun Abisak menemukan sosok gadis yang bergerak entah ke mana, tertutupi oleh sosok berambut abu yang diajak paksa bersamanya, menghilang dari pandangan, dan suatu botol brandi bermerek familiar menjejali mulutnya. Kosong, dengan pengecualian beberapa tetesan keemasan. Ia mengeluarkan botol Commander itu dari mulutnya, yang membuatnya lengah selama beberapa detik--jangka waktu yang cukup bagi Giraile untuk tiba-tiba bersandar pada dirinya.

"Oi, oi, Nona, kau berat. Jangan--UWAAAA!!!"

"... capeek... aku mau tidur..."


Sungguh, ia sudah mulai kesal. Terutama, karena ia yang menerima tumbukan lebih keras terhadap lantai Kamar Nomor 2 yang, walau berkarpet, cukup menyakitkan. "Capek? Aku juga capek, mengurus hal yang bukan urusanku. Minggirrr..." Tentu, ia tahu ucapannya tidak akan mencapai telinga Giraile. Oleh karena itu, ia berusaha, dengan tenaga minimnya, untuk menggerakkan badan bongsor wanita itu. Upaya tidak membuahkan hasil. Setelah beberapa menit berjuang dengan sia-sia, sebagai satu-satunya yang masih sadar diri dalam ruangan, Abisak menghentikan engahan kelelahannya. Ia memejamkan mata, menahan napas yang telah dihirupnya, berusaha menenangkan diri...


... dan ia langsung membuka matanya lebar, yang sama berlaku untuk mulutnya. "SESEORANG, TOLOOOOOOOOONG!!!" Pintu kamarnya terbuka, kan? Abisak harap demikian, agar seseorang dapat mendengar lolongannya.
Back to top Go down
View user profile
Ariel Archer



Posts: 49
Umur: 19
Pemilik: Al2SiO5
Poin RP: 20

Biodata
Posisi: Section Leader
Cabang: Eropa
Umur: 23

PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   7th February 2010, 07:01

Gerutu.

Dengan langkah cepat, seorang Section Leader bidang komunikasi itu menggumamkan hal-hal dari mulutnya dengan cepat. Sesekali pria itu membetulkan posisi kacamatanya. Bukan berarti tidak nyaman, hanya saja tangannya sudah refleks untuk melakukan hal itu. Kasarnya, kebiasaan unik.

Ariel Archer yang bermuka cemberut itu mengomel. Dirinya seringkali dilarang untuk melarikan diri dari kantornya oleh anak buahnya yang satu itu. Rigel sendiri sekarang ke mana? Bah, Ariel juga ingin jalan-jalan santai daripada dipusingkan oleh tumpukan jurnal, proposal, dan lainnya yang tak ada habisnya!

Ariel mengalihkan pandangan ke arah kanan. Negatif. Kiri? Negatif juga.

Ehm, sebenarnya cukup banyak juga staf diplomatis lainnya. Mulai dari Capello yang senior, Halcyone, Asterope, dan lainnya. Lalu, kenapa dirinya perlu pusing-pusing mencari satu orang staf? Yah, alasannya sudah jelas, bukan? Lupakan saja alasan-alasan di atas, Ariel hanya ingin jalan-jalan!

”SESEORANG, TOLOOOOOOOOOONG!!!”

Suara teriakan terdengar dari arah lorong. Ada apa?

Ariel mempercepat langkahnya dan berhenti dalam sekejap setelah melihat apa yang terjadi. Fuh, mengagetkan saja. Rupanya ada yang sedang main gendong-gendongan di sana. Tepatnya, si tukang bersih-bersih Arcturus dan si jenderal galak Regula. Ariel rasanya masih bisa mengingat tragedi yang terakhir. Sungguh tidak beruntung untuk bertemu dengan wanita itu lagi.

”Berisik! Jangan main-main di sini!” teriak Ariel galak pada Arcturus yang tampak kepayahan. Tak ada rasa simpati sedikit pun pada staf itu.

Baru alkohol terasa menyengat hidung Ariel dari dalam kamar milik jendral. Mereka sedang mabuk-mabukkan, eh.

Tunggu, dulu. Mereka sedang minum-minuman keras, begitu? Kenapa tidak mengajak sang section leader??!

””Cih, dasar onggokan orang payah,” gerutunya cukup keras. Dirinya sebenarnya sangat ingin minum-minum di musim dingin seperti ini. Hanya saja tak ada waktu yang cukup luang. Mana bisa minum-minum saat sedang mencuri-curi waktu begini. Dan saat para jenderal itu minum-minum, mereka tidak mengajak Ariel.

Lihat saja nanti, saat Tuan Supervisor melihat laporannya atas kejadian ini. Hah, jangan harap kalian selamat. Suruh siapa tidak mengajak! Fuh, mau bilang Ariel tukang lapor pun, tak ada pengaruhnya pada Ariel.

””Arcturus! Cepat bereskan itu!” perintah pria berkacamata itu pada Arcturus yang sebenarnya tidak ada sangkut-pautnya sedikit pun dengan acara maksiat itu. Omelan Ariel semakin keras, langkah kakinya pun semakin cepat. Argh! Jangan bilang Rigel juga ikut-ikutan acara itu! Seperti petir, Ariel langsung pergi tanpa bekas dari lorong itu.

””Sial!”

[OUT]



Nyuhuuu numpang lewat, sesuai pesan bu chip! Geje memang, saya tahu…

_________________
β// Truth
Words don’t hurt, but the realism in it does
Back to top Go down
View user profile
Abisak Avedisian



Posts: 77
Pemilik: Chief
Poin RP: 20

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 25

PostSubject: Re: [CENTRAL] I Have Never Ever!   19th February 2010, 22:20

Ia berusaha mengangkat kepalanya, mendengar suara derapan kaki di luar pintu Kamar 2. Bibirnya membentuk senyuman; mungkinkah ia akan diselamatkan sekarang? Siapapun tahu bahwa dirinya tidak akan mampu mengangkut orang sebanyak ini ke kamarnya masing-masing, terutama ketika ia tidak bisa membebaskan dirinya sendiri dari bongkahan yang menimpanya saat itu. "Ah, ya! Bisa tolong--"

"Berisik! Jangan main-main di sini!"

Bloody hell, haruskan pria itu yang menemukannya dalam kondisi seperti ini? Ia berusaha mencari kata-kata untuk membela diri, namun bau alkohol yang menusuk membuatnya sulit berkonsentrasi, dan ia menerima omelan Ariel mentah-mentah. Terserah pria itu mau mengatakan apa, asal ia sudi membebaskan Abisak dari tempat mengerikan alias kamar Giraile ini. Matanya hanya bergulir, menunggu saat Ariel akan menyingkirkan badan bongsor Giraile dari atasnya, namun...


Apa, bersihkan INI?

Frasa penuh rasa tidak percaya itu terlintas dalam pikiran Abisak, yang tertegun dengan mulut melongo lebar. Tangannya berusaha menggapai sosok Ariel yang telah menghilang begitu saja, namun tiada gunanya. "... Keparat."


'Sekarang, bagaimana?'


Sekali lagi, ia berusaha menyelip keluar dari "jeratan" Giraile, yang Abisak rasa sudah sangat sangat cukup melatih ototnya. Gagal. Abisak menghela napas keras; tampaknya, ia harus menetap, menunggu kedatangan kesempatan menyingkirkan diri. Untuk saat ini, ia harus rela berpasrah diri.
Back to top Go down
View user profile
 

[CENTRAL] I Have Never Ever!

View previous topic View next topic Back to top 
Page 7 of 7Goto page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7

 Similar topics

-
» Ichiru's OC Central
» Redsill, engineering central
» Demographics of the Central African Republic
» Central Harmony
» Picnic in Central Park [Katrina, Stella, Anyone]

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Black Order Archives :: Bookman's Records-
Free forum | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Free forums