| Time | | Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880 |
| | | [CENTRAL] Problem Solving | |
| |
| Author | Message |
|---|
Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 4th December 2009, 19:56 | |
| Lio tidak menyangkal wajahnya memerah, bibir bawahnya tergigit sedikit tampak sekali kehilangan ketenangannya. Sekilas dapat dikatakan ia memang melupakan masalahnya tadi setelah mendengar paragraf penuh penjelasan tentang—ehem—ralat, yang membuatnya malu sendiri. Entah di bagian 'ciuman' atau pada bagian 'cinta'nya. Berkali-kali ia mengubah posisi duduknya sampai akhirnya dapat menemukan posisi yang tepat. Jantungnya berdegup kencang saking resahnya memikirkan perkataan pria di depannya. Apa Master Ravel memikirkan mendiang istrinya saat mengucapkan kalimat tadi? Setelah sekian menit sejak pertama duduk, pertama kalinya pula ia menyentuh gagang cangkir teh di depannya, hanya menyentuh, tidak lebih. Menilik ke arah lain, tidak berani membalas tatapan mengawasi yang ia dapatkan. Lama ia berpikir sampai akhirnya sebuah kalimat terlintas, “kenapa berciuman—kenapa hanya dengan berciuman—maksudnya—apa ada hal lain yang bisa menggantikannya?” mulai keluar topik. Bagus kau, nak. “Eh—bukan, bukan itu...Maksudku, yah—“ tertunduk lagi. Lio mempercayai pria di depannya sebagai pengganti ayahnya, jadi— “Je l'aime.*” Terdengar seperti sebuah bisikan, mungkin hanya bisa didengar jika Master-nya mendekatkan telingan seperti ketika ia berbisik.
((OOC: *dalam artian sayang, ya. Tapi terserah mau diartikan apa sama Ravel  ; )) |
|  | | Ravel Kohler Vatican Central

Posts: 150 Umur: 20 Pemilik: masamune11 Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 36
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 6th December 2009, 21:01 | |
| Benar sekali; masih bersih. Sekali lagi, pria berambut pirang ini bersyukur. Setidaknya, ia tahu dengan siapa ia berhadapan sekarang--atau lebih tepatnya, sikap dari Lioret Ifrit Shirogane.
Senyum yang sempat tersembunyi diblaik tangannya kini berubah menjadi sebuah garis. Mata kuning kecoklatan miliknya tentunya tidak gagal menangkap perubahan ekspresi; drastis. Ravel Kohler bisa saja tersenyum geli, namun bukankah itu sama saja dengan merendahkan pemuda tersebut? Tidak, dia tidak bermaksud; mungkin memberikan sebuah saran atau wejangan, itu lebih tepat.
Beberapa patah kata kembali meninggal bibir dari pemuda tersebut. Mata kuning kecoklatannya menyipit; apa ia kali ini salah cara menjelaskan? Anak didiknya masih belum mengerti kah? Satu frase sempat membuat dahinya mengerut--sebuah frase dalam bahasa ibunya. Satu frase tersebut sempat membuatnya terbatuk beberapa kali--meskipun sedikit.
“Je l'aime.”
Telinganya tidak kelainan, bukan? Maksudnya, ia baru mendengar kata tersebut dari salah satu muridnya yang.. bisa dibilang... mudah risih, apalagi dengan hal semacam ini?
Hening. Bagaimanapun juga, pria bermata kuning kecoklatan tersebut tidak tahu jalan apa yang harus utarakan... apalagi setelah begini.
"....Lioret... Sudah... Ehm." Berhenti di tempat. Bagaimana Ravel Kohler bisa mengatakan hal yang ada di pikirannya? Meski demikian, pria berambut pirang ini menelan ludahnya; pada akhirnya, membicarakan hal ini dengan anak didiknya--bukan dengan temannya yang biasa--bisa dikatakan sebuah... tantangan tersendiri.
"..Kau menyukai Shion?"
Tatapan mata deadpanned.
OOC: saya bingung mau rep apa, Jadi kalau bingung, silakan tanya._________________ "Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors." "Oh, Ravel... You and your words..." "You know it's true, even more than I do." "Perhaps."The Original ID of masamune11, The Contemplative General |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 7th December 2009, 19:23 | |
| Rona merah di wajahnya berubah menjadi merah pekat. Anak bayi sekalipun dapat menganggapnya kepiting rebus alih alih manusia. Pegangan di cangkirnya tampak mengejang, seakan dapat meretakan gagang tipis tersebut dalam waktu beberapa detik.
Bagaimanapun perkataan Master- nya tampak terlalu dekat--atau jauh--dengan maksud perkataannya. Sontak ia berdiri, suaranya meninggi saat kalimat penyangkalan keluar. "Itu tidak mungkin!" ia dapat merasakan wajahnya bertambah merah--malu, "aku hanya menganggapnya sebagai sahabat dan adik perempuan..."
Kembali memalingkan wajah, membiarkan poni rambutnya menutupi wajahnya yang memerah. Tanpa sadar pemuda ini menghela nafas pendek, menempatkan dirinya kembali pada kursi yang baru saja ia tinggalkan.
Kepalanya tertunduk; untuk pertama kalinya, tangannya mengangkat cangkir di depannya dan mendekatkannya ke bibirnya, meneguk sedikit rasa manis di dalam cairan yang mulai dingin. "...mungkin."
uu, sori pendek =w=/ |
|  | | Ravel Kohler Vatican Central

Posts: 150 Umur: 20 Pemilik: masamune11 Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 36
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 20th December 2009, 20:36 | |
| Alis keemasan terangkat.
Seberapa tenangnya Ravel Kohler, ia tidak bisa menahan senyum kecil yang mulai merayapi wajahnya. Dilihatnya Lioret yang tadinya memerah kini... lebih merah daripada awal--kalau saja itu bisa. Kenyataan bahwa Lioret menyangkal pertanyaannya cukup untuk membuat senyum tersebut sirna; deduksi singkat Ravel: Lioret belum bisa mensortir perasaannya.
Dalam berbagai macam situasi, hal seperti ini memiliki potensi untuk menurunkan tingkat mental.
"...mungkin."
"...Hmm." Ravel Kohler mengangguk pada kata-kata anak muridnya tersebut. Pada dasarnya, dirinya sendiri sudah memiliki persepsi akan apa masalah dari pemuda yang ada di depannya; ia memang belum mengerti.
"Satu nasehat, kalau begitu." Ravel berkata datar. Otaknya tahu jelas apa yang diperlukan Lioret sekarang... yah, setidaknya ia tahu? Mata kuning kecoklatan tersebut bertemu kembali dengan mata hitam--setidaknya, yang tersembunyi dibalik untaian rambut tersebut. "Sebelum kau bisa memutuskan dengan jelas apa yang kau rasakan, jangan berhadapan denganku--ataupun dengan Shion."
Ravel Kohler serius soal ini.
"Jelas?" _________________ "Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors." "Oh, Ravel... You and your words..." "You know it's true, even more than I do." "Perhaps."The Original ID of masamune11, The Contemplative General |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 21st December 2009, 20:14 | |
| Masternya..mungkin kecewa melihat tingkah laku anak didiknya yang tidak konsisten-- plinplan. Menyingkirkan fakta; usianya yang ke-18. Lio belum mengerti masalah dan arti kata 'cinta' itu sendiri. Dalam otaknya, ia mengakui mungkin 70% kata 'mencapai tujuan dengan bertarung untuk membalas dendam' lebih dominan, 30% sisanya ya yang biasa ia keluarkan sehari hari di waktu senggangnya, bersantai dalam berbagai versi.
Memangnya pernah dalam hidupnya permasalahan antara 'cinta' dan 'sayang' menempati otaknya lebih dari 2%? Pernah, sekarang, untuk yang pertama kalinya.
Tapi respon Master-nya membuatnya kaget, mau tidak mau mengangkat wajahnya--membiarkan poninya tersingkap ke sisi kanan dan kiri wajah--menatap mata kuning kecoklatan di depannya.
Kalimat yang dilontarkan dengan nada datar itu mau tidak mau harus ia cerna, ia resapi dalam kepalanya, dan mendapatkan suatu kesimpulan. Tidak dapat diterima. Jawaban Master-nya serius. Lio tahu persis dan tidak perlu diberitahu kapan Ravel Kohler sedang serius atau tidak.
Tapi dia sendiri tidak wajib menanggapi dengan sama seriusnya, kan? Karena Lioret Ifrit Shirogane tidak menerima perkataan pria itu. Justru ia menegakan tubuh, menatap Masternya dengan pandangan...kecewa.
"Kupikir itu bukan nasihat, Master," ia tidak menyembunyikan nada tegas dan mencela dalam perkataannya. Karena dia memang tidak bisa menerima 'nasihat' Master-nya barusan.
Aneh? Emang *depresi reppannya keapus terus* |
|  | | Ravel Kohler Vatican Central

Posts: 150 Umur: 20 Pemilik: masamune11 Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 36
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 24th December 2009, 11:54 | |
| "Kupikir itu bukan nasihat, Master,"
Pria ini tidak merengut, bahkan ketika kata-kata bangkangan keluar dari mulut pemuda yang menjadi anak buahnya. Tidak, Ravel Kohler tahu karakteristik dari anak muridnya sendiri; tentunya, sikap yang keluar dari pemuda tersebut merupakan sebuah reaksi yang wajar--bila yang keluar dari mulut itu malah sebaliknya, justru Jendral berambut pirang ini akan merenggut.
Daripada cemberut, mungkin lebih tepatnya, Jendral berambut pirang ini hanya menampilkan senyum tipis yang biasa ia perlihatkan--sebuah pertanyaan.
"Baiklah, itu memang bukan nasehat." Tangan tersilang rapi di depan dada, tatapan mata menajam pada bola mata obsidian. "Aku menawarkan solusi. Tidak diambil pun bukan masalah."
"Hanya saja, kata-kataku tadi ada benarnya." Mata kuning kecoklatan menutup beberapa saat, sebelum kembali mengalihkan perhatiannya pada Lioret--sekali lagi. "Ada baiknya kamu menyadari perasaanmu sendiri. Hati yang belum tenang tidak mungkin bisa memecahkan masalah." _________________ "Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors." "Oh, Ravel... You and your words..." "You know it's true, even more than I do." "Perhaps."The Original ID of masamune11, The Contemplative General |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 24th December 2009, 15:26 | |
| ’Justru itu aku datang untuk meminta nasihat,’ Lio mendengus kesal, kembali meneguk tehnya dengan kecepatan tinggi bahkan kaget sendiri saat teh dalam cangkirnya habis tanpa sisa. Ia tahu Master-nya ini cukup sabar dan tidak akan menendangnya keluar ruangan sekurangajar apapun kalimat yang akan ia lontarkan. Tapi tersenyum? ...Wajar juga sih.
Meletakan kembali cangkir tehnya dengan bunyi pelan dan kembali mengalihkan pandangannya ke pria di depannya yang mengakui tadi itu hanya solusi—padahal seingatnya ia berkata ‘nasihat’.
“Baguslah, aku tidak akan mengambil yang itu,” tampaknya ia lega, karena wajahnya sudah tidak memerah seperti tadi. “Tapi kalau kau berkata begitu, Master,” pandangannya tertunduk menatap lantai tanpa usaha untuk mengembalikannya ke posisi semula.
“Bagaimana caranya aku mengetahui...” terdiam, “...perasaanku sendiri?” Ya, pemuda Prancis ini memang masih belum mengerti apapun, antara cinta dan sayang...jujur saja belum bisa membedakannya. Masih bagus Master-nya bukan playboy atau orang mesum—mungkin—kalau ia tidak mau melanjutkan ke jalan yang ‘salah’. |
|  | | Ravel Kohler Vatican Central

Posts: 150 Umur: 20 Pemilik: masamune11 Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 36
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 25th December 2009, 00:26 | |
| “Bagaimana caranya aku mengetahui... perasaanku sendiri?”
Oh, jangan salahkan Ravel Kohler ketika senyum miliknya kini melebar; satu pertanyaan yang sebenarnya menohok dirinya juga, karena sejauh ini solusi yang ia tawarkan tidak memiliki efek padanya. Malah, solusi yang akan ia tawarkan terdengar klise di telinga Lioret--tentunya, hal yang akan ia katakan bukanlah hal luar biasa.
Tangan kanan pria ini memukul pelan dada rongga dada, tepat berada di samping kanan jantungnya berada. Banyak yang berasumsi bahwa 'hati'--satu hal yang bahkan tidak terlihat, sebuah enigma yang mampu menjalin seseorang dengan orang lain--berada di sana. Kemudian, jari telunjuk muncul, terarah pada langit-langit ruangan.
Pada kenyataannya, ia menunjuk hal lain.
"Kenali dirimu, maka kau akan mengenali Dia." Tangannya menarik diri, kembali tersilang di depan dadanya. Mata menilik cangkir teh kosong miliknya. "Kukira itu berlaku kebalikan, namun kenyataan sepertinya berkata lain."
'Atau memang belum membuahkan hasil.'
Sebuah helaan napas panjang, dan mulut milik sang Jendral kembali terbuka; mengatup-ngatup, sementara kata-kata mulai melantun.
"Perasaan bukan sesuatu yang mudah dimengerti." Ravel memulai kembali, dirinya kini berdiri, membelakangi sang murid untuk mengambil peralatan perak peninggalan istrinya. Teko perak yang berisi teh kini ia tuangkan pada gelasnya dan milik Lioret. "Kau berbicara tentang sesuatu yang tidak terlihat, namun efeknya ada; sesuatu yang mungkin tidak ada sangkut pautnya dengan dunia ini, namun memiliki dampak besar pada tindakan manusia. Perasaan tidak berada di dalam sini--" Tangannya menunjuk-nunjuk kepala, "--dan juga bukan di sini." Tangan kanannya segera turun, menunjuk lokasi beberapa sentimeter dari lokasi jantungnya.
"Interpretasi dari hati itu sendiri juga memakan waktu lama, Lioret; dan hanya kamu sendiri yang bisa menemukan proses dari interpretasi itu." Ravel Kohler akhirnya mengakhiri pembicaraan kecilnya; baik, mungkin cukup panjang dan malah kurang membantu. "Kusarankan kau mulai mempertanyakan perasaanmu."
Mata kuning kecoklatan kini bersembunyi di balik pelupuk. Ravel Kohler hanya bisa membantu muridnya sebatas hal itu. Agar ia bisa menemukan jalannya sendiri--suka atau tidak suka--Lioret harus menjalani ini sendirian. Sebuah tes kecil bagi para lelaki?
Mungkin. _________________ "Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors." "Oh, Ravel... You and your words..." "You know it's true, even more than I do." "Perhaps."The Original ID of masamune11, The Contemplative General |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 25th December 2009, 12:25 | |
| "Kenali dirimu, maka kau akan mengenali Dia."
Sering mendengar dan ia ingat itu kutipan Injil—tapi Injil mana dan agama apa? Saat itu matanya mengikuti arah gerak tangan Masternya yang mengekspresikan perkataannya. Hati, dimana semua perasaan berasal, buka dari otak atau pemikiran karena emosi—perasaan—munculs ecara otomatis. Kau tidak akan erpikir dulu untuk tertawa atau menangis kecuali saat bersandiwara—oke, itu emosi—tapi kau juga tidak akan berpikir dua kai saat membenci orang karena perasaan itu keluar secara spontan saat berhadapan dengan sesuatu. Itu yang ia ketahui tapi sama sekali tidak tahu bagaimana cara mengetahui—bahasa kasarnya ‘mendeteksi’—apa yang dirasakan olehnya terhadap orang lain. Yang sejauh ini diketahui hanya benci dan dendam terhadap Akuma dan sayang-sebagai-keluarga kepada anggota Black Order cabang eropa. Tapi seperti yang telah diulang berkali-kali, apa bedanya sayang sebagai teman dan cinta? Ia butuh referensi yang jelas tentang hal ini.
Untuk yang kedua kalinya, Master Ravel berbicara panjang lebar—sangat panjang—walaupun itu merupakan jawaban dari pertanyaannya. Obsidiannya justru memperhatikan sosok di depan yang menuangkan teh dengan terbiasa. Keluar dari topik, mungkin mendiang istrinya yang mengajarinya begitu.
Senyum timpang, melipat tangan di depan dada, santai, “Anda tahu apa yang kutangkap dari perkataan Anda tadi?” Meraih cangkir teh dan mendekatkannya ke bibirnya, “abstrak.” |
|  | | Ravel Kohler Vatican Central

Posts: 150 Umur: 20 Pemilik: masamune11 Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 36
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 25th December 2009, 23:18 | |
| “Anda tahu apa yang kutangkap dari perkataan Anda tadi? Abstrak.”
Hal yang pertama Ravel Kohler lakukan adalah tersenyum timpang--hampir miris, malah. Namun, ekspresi tersebut segera hilang digantikan segaris tipis bibirnya, dipertebal dengan kesan minum teh akibat dari dirinya yang meneguk secangkir. Dirinya pasti konyol, dibandingkan dengan dirinya yang lalu; terlalu banyak berpikir, di saat yang lain tengah bersantai. Semenjak kematian Nicola, pria ini lebih sering mempertanyakan dirinya sendiri daripada ia menekan tuts-tuts piano yang ada di kapel.
Dalam satu tegukan, teh miliknya kembali habis. Rasa panas yang sempat membakar lidahnya tidak ia pedulikan; kata-kata pemuda yang ada di depannya terasa menusuk.
Ia telah berubah; dibandingkan beberapa tahun lalu, pria ini mungkin sudah menjadi pengecut kelas kakap... atau justru pemikir kelas elit.
"Kita membicarakan sesuatu yang tidak berkaitan dengan dunia ini, namun terasa efeknya, melewati batas pikiran dan logika yang membelenggu masing-masing insan di dunia--"
Senyum kembali pada fitur sang Jendral; sebuah senyum dengan penuh percaya diri.
"--tentunya, kamu tidak mengekspektasikan sesuatu yang lebih konkrit bukan?" Tangan kanannya melambai di depan dada; sebuah gestur 'jangan bercanda'. _________________ "Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors." "Oh, Ravel... You and your words..." "You know it's true, even more than I do." "Perhaps."The Original ID of masamune11, The Contemplative General |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 26th December 2009, 07:59 | |
| Menegak tehnya, dan spontan menjauhkannya lagi, panas. Pemuda itu berdecak kesal sebelum mengembalikannya ke meja, nanti sajalah minumnya.
"--tentunya, kamu tidak mengekspektasikan sesuatu yang lebih konkrit bukan?"
Tertawa hambar sebagai satu-satunya respon tercepat yang bisa ia temukan. Intinya, perasaan itu benda abstrak yang tidak bisa disentuh tapi bisa diubah walaupun membutuhkan proses untuk mengubahnya. Dulu, jujur saja ia—
“tadinya begitu,”
—begitulah. Mungkin setelah ini ia bisa melunturkan senyum percaya diri milik sang General. Sesuatu terlintas di pikirannya, hal yang sejak tadi ingin ditanyakan tapi tidak tersampaikan karena ada saja topik baru yang muncul. Pemuda ini membetulkan posisinya, “Bien alors, c'est la dernière question,” spontan menutup mulutnya tapi tampaknya tidak masalah berhubung Masternya menguasai bahasa Prancis.
“Bagaimana rasanya saat kau mencintai seseorang?” Exorcist muda ini berjanji, yang ini akan menjadi pertanyaan terakhirnya. Mungkin. |
|  | | Ravel Kohler Vatican Central

Posts: 150 Umur: 20 Pemilik: masamune11 Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 36
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 26th December 2009, 09:05 | |
| “tadinya begitu,”
Alis sebelah kanan naik, sementara senyum percaya diri yang sempat muncul kini menipis, kembali mejadi sebuah ekspresi datar, tepat ditujukan pada muridnya. Muda; belum banyak yang ia lihat dan rasakan. Tentunya, konsep dari abstrak itu sendiri merupakan sebuah pencarian dalam hidup.
...Ah, memangnya Ravel Kohler sudah setua itu hingga ia berhak berpikir semacam ini?
"Bien alors, c'est la dernière question,"[1]
Ravel mengangguk, mata kuning kecoklatannya meniti bibir gelas. Dengan sabar, Jendral ini menunggu pertanyaan yang keluar dari pemuda tersebut--
“Bagaimana rasanya saat kau mencintai seseorang?”
--sebelum akhirnya mata tersebut segera beralih pada bola mata. Sebuah Senyum timpang, pertanda bakan gurunya tidak memiliki jawaban yang memuaskan--bahwa konsep dari jawabannya pasti tidak jauh dari bentuk abstrak.
"Vous venez de le connaître, Lioret." [2]
Tidak ada kata-kata lain yang bisa ia berikan selain hal tersebut--ada masanya ketika ia sendiri melupakan bagaimana rasanya cinta. Baiklah, mungkin rasa bersalah sudah membutakannya dari rasa tersebut, ditemani beban berat dari seorang anak.
Tidak, ia tidak mengeluh atas keberadaan Heidrich; bocah tersebut juga salah satu bukti bahwa Nicola pernah ada.
OOC: [1] "Well then, my last question," [2] "You just know, Lioret."_________________ "Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors." "Oh, Ravel... You and your words..." "You know it's true, even more than I do." "Perhaps."The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Last edited by Ravel Kohler on 26th December 2009, 10:40; edited 1 time in total |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 26th December 2009, 09:22 | |
| Sebuah senyum timpang di wajah calon penjawab membuatnya justru tidak yakin apakah Masternya yang pernah mencintai dan pernah dicintai akan bisa membalas, atau mungkin senyum timpang itu memiliki niatan seperti berkata ‘dasar anak muda’ dan sejenisnya. Tapi ia tahu Ravel Kohler bukan tipe yang merendahkan dirinya begitu saja. Lagipula yang ia butuhkan sekarang adalah nasihat dan jawaban.
"Vous venez de le connaître, Lioret."
...bukan pertanyaan yang dilempar balik. Pemuda itu tanpa ragu berdecak pelan, jarinya kembali menyentuh cangkir teh di depannya, memastikan suhu teh itu sekarang.
“Non, je ne sais pas, Maître. C'est pourquoi je vous demande,” [1] nadanya meninggi seperti logat Prancis kebanyakan, walaupun bukan berarti ia tidak terima.
OOC: [1] "No, I do not know, Master. Therefore I ask you,"
Last edited by Ravel Kohler on 26th December 2009, 10:41; edited 1 time in total (Reason for editing : Menambah translasi) |
|  | | Ravel Kohler Vatican Central

Posts: 150 Umur: 20 Pemilik: masamune11 Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 36
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 26th December 2009, 13:09 | |
| “Non, je ne sais pas, Maître. C'est pourquoi je vous demande,”
Maka, ketika pernyataan bulat-bulat ini keluar dari mulut pemuda berambut hitam tersebut, jangan salahkan Ravel Kohler ketika mulutnya perlahan berubah menjadi senyum kaget dan berubah menjadi... tawa.
Lioret tidak salah dengar; Ravel Kohler tertawa.
"Untukku..." Ravel mengingat masa lalu, di mana ia bermain-main dengan gadis yang ia cintai. Matanya menerawang pada perlengkapan teh perak yang ada di atas meja, peninggalan dari mendiang istrinya. Entah, selama ada barang-barang tersebut, mungkin dirinya memang tidak perlu jatuh mental.
"Cinta itu datang tiba-tiba, pada seorang pria yang bahkan tidak tahu apa itu. Rasanya bahkan datar; tidak berkesan sama sekali. Namun, ketika kedoknya mulai ketahuan--" Senyum pria tersebut melembut. Pikirannya mengingat momen terbaiknya dengan istrinya, di suatu tempat tak jauh dari kastil bearsitektur luar biasa jauh di Jerman sana.
"--kau hanya sadar dan tahu, bahwa itu cinta. Setiap orang, memiliki persepsi tersendiri akan perasaan tersebut, Lioret." _________________ "Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors." "Oh, Ravel... You and your words..." "You know it's true, even more than I do." "Perhaps."The Original ID of masamune11, The Contemplative General |
|  | | Lioret I. Shirogane

Posts: 89
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 18 y.o.
 | Subject: Re: [CENTRAL] Problem Solving 26th December 2009, 15:14 | |
| Reaksi pertama: bingung. “Apa yang kau tertawakan, coba,” gumamnya seraya meneguk tehnya yang sudah cukup hangat untuk diminum. Sekalilagi, wajar. Usia pria di depannya dua kali lipat usianya dan dia jelas masih—ehem—polos jika dibandingkan dengan Master-nya yang jelas berpengalaman. Mungkin Lio sendiri akan tertawa jika anaknya nanti—kalau punya anak—menanyakan hal yang sama.
Tapi perasaan itu abstrak, dan definisinya belum jelas, tidak padat baginya. Tidak heran jika ia bertanya, kan?
“Berarti aku tinggal menunggu saat itu datang,” meletakan cangkir tehnya, “atau menyadarinya sendiri,” kembali memalingkan wajah karena merasakan semburat merah di wajahnya. Apa Master-nya juga pernah merasakan hal ini? Sesuatu yang agak—memalukan. |
|  | | | | [CENTRAL] Problem Solving | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
|
|