| Time | | Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880 |
| | | [CENTRAL] Never Have I Ever | |
| |
| Author | Message |
|---|
Giraile Arevig A. Vatican Central

Posts: 258 Pemilik: Chief Poin RP: 100
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 28
 | Subject: Re: [CENTRAL] Never Have I Ever 7th October 2009, 18:21 | |
| "Michelli, bawa kuenya saja, mengerti? Ya, tetapi, hidangan utama kita adalah hal yang lain sih..." Ia pun kembali memajang senyum picik, menahan tawaan angkuh yang hampir keluar dari mulutnya. Baiklah; Ingressa, Shreizag, Ravel... ia sudah mendapatkan tiga partisipan. Bagaimana dengan pria terakhir itu?
"A...anu... Nona Giraile..."
"Ya?" desaknya dengan tidak sabar. Ikut, atau tidak ikut, cepat saja bilang! Ia menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras; mungkin Bianca tidak bisa melihat, tetapi pasti ia bisa mendengar ketidaksabaran Giraile dari itu. Jika dilihat dari wajahnya, Giraile dapat setengah menerka jawaban yang hendak dilontarkannya. Benar saja, "Saya... saya boleh tidak ikut, 'kan?"
Wanita Armenia itu mendengus. Ia tidak memiliki dendam kesumat apapun terhadap pria berambut putih yang satu ini (mengenai pria berambut putih non-albino itu, lain soal...), dan ia pun tidak sedemikian tertarik melihat wujud Bianca Corda ketika mabuk. Dari penampilannya, memang pria Italia itu terlihat sangat taat pada tata krama yang sepantasnya. Sepintas, terlintas ide untuk mengatakan bahwa 'permainan' ini tidak akan melebihi batas, tetapi... Giraile menginginkannya untuk melebihi batas, terutama untuk dua jendral yang akan turut serta, walau tidak untuk dirinya sendiri.
Ya, apa boleh buat. "Bah! Terserahmu, kau sendiri yang akan menyesal. Jika kamu berubah pikiran, datanglah ke kamarku malam ini." Ia mengedipkan mata ambernya, walau Bianca tidak dapat melihatnya. Masa bodoh, deh. "Tidak akan terkunci, khusus malam ini. Dan, ada seseorang yang siap menalangi jika... terjadi sesuatu di luar dugaan." Abisak terlintas di pikiran. _________________ "If at first you don't succeed... keep trying!"
passion, uncertainty-- her choice. number01: the L O V E R S - part 1 |
|  | | Shreizag E. Halverson Vatican Central

Posts: 580 Umur: 20 Pemilik: S.E.H. Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 29
 | Subject: Re: [CENTRAL] Never Have I Ever 7th October 2009, 18:25 | |
| "Rambut. Rambut boleh kau apa-apakan, tetapi jangan berani-beraninya mendekatkan benda terkutuk itu ke wajahku. Tetapi... awas ya jika kamu tidak jadi ikut."
Bagus. Cukup dengan persetujuan Giraile bisa membuat seulas senyum tipis tersemat di wajahnya, pria Norwegia ini kelihatan tertantang untuk bisa memodifikasi, menata, dan 'bermain' dengan rambut dari seorang Giraile Asdvadzadour, apalagi rambutnya itu bukan rambut sembarangan. Ia menyerahkan sebotol brandi Commander pada Giraile sepenuhnya. Tidak perlu kata-kata lagi untuk menyatakan persetujuan Shreizag atas perjanjian berharga ini, senyum tipis di wajahnya sudah menyatakan itu semua.
"Jadi, Halverson, apa kau mau aku mengambil beberapa hiasan rambut dan beberapa cake yang kusimpan di kamar untuk nanti malam?"
"Questa sarebbe una grande idea, signora Michelli." Shreizag menyatakan persetujuannya dalam bahasa ibu wanita itu, Italia, tetap dengan senyum tipisnya yang masih terpasang. Ya, Shrei tidak punya banyak stok penghias rambut, jadi bantuan dari Ressa akan sangat dibutuhkan.
"A...anu... Nona Giraile... Saya... saya boleh tidak ikut, 'kan?"
Oh, rupanya ada yang cukup berani menolak tawaran Giraile selain dirinya? Sang Exorcist albino, ternyata. Memang, dari kejadian yang lalu keberanian Exorcist ini sudah terlihat, ia berani menghadapi Giraile langsung dari depan. Dan untuk kali ini, ia memang sudah bertanya hal yang tepat.
"Bah! Terserahmu, kau sendiri yang akan menyesal. Jika kamu berubah pikiran, datanglah ke kamarku malam ini. Tidak akan terkunci, khusus malam ini. Dan, ada seseorang yang siap menalangi jika... terjadi sesuatu di luar dugaan."
Tumben Giraile murah hati? Ya, paling tidak satu nyawa sudah terselamatkan... Ia sendiri, tidak begitu peduli soal permainan nanti asal bisa menagih janjinya pada Giraile beberapa hari ke depan. Menunggu sang tuan rumah mengambil tindakan lanjutan, ia membiarkan Timcanpi bermain-main dengan tangannya. _________________ "l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour First. The Silver Ice
Last edited by Shreizag E. Halverson on 7th October 2009, 21:23; edited 3 times in total |
|  | | Bianca Corda

Posts: 121 Pemilik: Agito
Biodata Posisi: Exorcist Cabang: Eropa Umur: 25
 | Subject: Re: [CENTRAL] Never Have I Ever 7th October 2009, 18:27 | |
| | Quote: | | "Bah! Terserahmu, kau sendiri yang akan menyesal. Jika kamu berubah pikiran, datanglah ke kamarku malam ini. Tidak akan terkunci, khusus malam ini. Dan, ada seseorang yang siap menalangi jika... terjadi sesuatu di luar dugaan." |
Bianca menghela nafas lega mendengar jawaban dari Giraile. Kelewat lega, malahan. Tapi ia segera memasang senyum terbaiknya pada General satu itu, setidaknya sebagai tanda terima kasihnya yang besar... karena boleh tidak mengikuti kegiatan 'aneh-aneh' itu.
"Terima kasih, Nona Giraile. Saya permisi dulu. Selamat siang, semoga Tuhan memberkati Anda semua," kata Bianca sambil tersenyum lembut, lalu berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
[Bianca Corda OUT] |
|  | | Giraile Arevig A. Vatican Central

Posts: 258 Pemilik: Chief Poin RP: 100
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 28
 | Subject: Re: [CENTRAL] Never Have I Ever 7th October 2009, 21:17 | |
| Shreizag Halverson tersenyum tipis, dan respon Giraile akan ini adalah dengkusan yang sama sekali tidak kewanitaan. Bukan tidak berarti ya, dan itu benar-benar sesuatu yang bisa diterapkan pada lelaki Norwegia yang satu ini. Seakan memiliki semacam kepemahaman mutual, Giraile pun tidak menyuarakan pemahamannya akan senyum misterius lelaki itu, dan memilih merespon salam Bianca. "Ya, ya, sama bagimu juga." "Beuhhh." Jendral berambut putih itu menggunakan bahasa yang asing baginya... lagi. Sayang sekali, tidak ada seorangpun di kamar itu yang memahami bahasa Armenia (barangkali Turki? Jikalau ada, kemungkinan besar identitas orang itu adalah Shreizag, tetapi ia tengah mencari bahasa yang tidak dimengerti pria bangsat itu, bukan sebaliknya). "Baiklah. Michelli, Kohler, kamu." Ia menunjuk satu per satu pada Ingressa, Ravel dan Shreizag. "Dengan diriku, empat orang. Hei, mungkin jumlahnya akan bertambah nanti malam." Ia memiliki beberapa kandidat lain untuk acaranya malam itu... Beberapa detik keheningan. "Yaa... Selamat bertemu lagi nanti malam, jam sembilan tepat! Awas kalau ada yang lupa..." Ia mengusap perutnya yang belum diisi sejak jam sarapan tadi. Tampaknya, sudah saatnya ia menyantap makan siang, sebelum ia bisa menyampel Calvados yang diberikan Ravel Kohler tadi. "Aku ingin makan siang. Barang kali kalian sudi menemaniku?" Bisa dibilang, frase keduanya adalah eufemisme hal yang sebenarnya dimaksudkannya: 'bisakah kalian keluar dari kamarku sekarang, karena aku juga ingin meninggalkannya?' Tanpa sungkan-sungkan, ia mendorong ketiga orang lain mengeluari ruangan ke koridor depan kamar. Untuk urusan perut, ia tidak suka menunda. "Hm... Kira-kira, apa yang komplementer dengan rasa Calvados, eh?"
[SELESAI, dilanjutkan di topik I Have Never Ever - let the game begin!  ] _________________ "If at first you don't succeed... keep trying!"
passion, uncertainty-- her choice. number01: the L O V E R S - part 1 |
|  | | | | [CENTRAL] Never Have I Ever | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
|
|