| Time | | Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880 |
| | | [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) | |
| |
| Author | Message |
|---|
Benjamin Baptiste

Posts: 102 Umur: 18 Pemilik: Woof
Biodata Posisi: Exorcist Cabang: Eropa Umur: 17
 | Subject: Re: [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) 30th September 2009, 03:22 | |
| Musim dingin jelas bukan musim Benjamin, dan dia sudah tahu itu. Sebelum dia check up, dia sudah membuktikannya dan menambahkan catatan tambahan bahwa Robe de Cérémonie juga tidak terlalu cocok untuk digunakan di musim ini. Apakah ini berarti dia perlu menolak misi yang datang di musim dingin dan menikmati "liburan musim dingin"? Tentu saja tidak. Dia yakin asal dia tetap bergerak dia bisa melewati musim ini dengan baik. Tapi sekarang dia sedang tidak bergerak - atau mungkin lebih tepatnya, baru berhenti bergerak. Ya, dia baru sampai di kapel dan tengah duduk di deretan kursi panjang yang menghadap mimbar yang kosong. Terdengar suara pintu dibanting, dan mata Benjamin langsung mencari asal suara itu. Tidak sulit menemukannya ketika melihat seorang Exorcist yang entah kenapa baru-baru ini ditemuinya, berjalan keluar bilik pengakuan dosa. Wow, bilik itu sedang buka, sekarang? Pikiran Benjamin meragukan fakta itu mengingat ini bukan hari Minggu. Apakah bilik itu sebenarnya buka setiap hari, dia juga tidak tahu. Dia bukanlah seorang Katolik dan belum pernah melakukan pengakuan dosa sebelumnya. Matanya melihat seorang janitor yang sempat menjadi korban rumor sebagai salah satu orang tersial di Black Order berjalan memasuki bilik itu. Tanpa alasan yang pasti - bukan, dia tidak mau mengaku dosa - Benjamin beranjak dari kursi panjang dan berjalan ke bilik itu. Dia sudah sampai ketika tiba-tiba suara gebrakan lain terdengar dari dalam bilik. Hei, ini bukan bilik untuk kekerasan, kan? What the heck with you, people? Benjamin termenung di depan bilik sambil menyipitkan mata. Bukankah ini bilik untuk ketenangan batin?Masih menunggu, Benjamin memutuskan untuk bersandar pada dinding bilik. Tiada maksud untuk mencuri dengar, kebetulan saja orang yang ada di dalam bilik berbicara cukup keras di dalam sehingga bisa terdengar apabila seseorang menempelkan kepalanya - tidak perlu sampai telinganya - pada dinding bilik. Seperti yang dilakukan Benjamin sekarang. "Tidaklah mungkin sebuah cinta dapat disamakan dengan perasaan dendam dan amarah anakku. Cinta tidak mengenal sosok. Baik... jahat... pemaksa... pendendam... semua manusia pantas mendapatkan cinta. Bukankah Tuhan mengajarkan perasaan yang begitu kasih itu pada kita semua?" Oke, tidak buruk, pendeta itu melakukan tugasnya dengan baik, ujar Benjamin di dalam benaknya meskipun dia kurang mengerti frase "perasaan yang begitu kasih itu". Yea, tidak apa-apa, mungkin dia adalah seorang pendeta in-training."Sesungguhnya anakku, yang dapat mengetahui bagaimana perasaanmu hanyalah dirimu sendiri," terdengar kembali suara si pendeta. Oh, menyadari topik yang tidak sengaja didengarnya membuatnya merasa sedikit bersalah. Kalau begitu kenapa dia masih menyandarkan tubuh dan kepalanya ke dinding bilik?
| Spoiler: | | | OoC: @Nikolai kaga tau masuknya gimana, nih 
|
|
|  | | A. Růžena Mlynarikova

Posts: 120 Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 20
 | Subject: Re: [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) 30th September 2009, 05:09 | |
| Oke, Allegra duduk manis di salah satu bangku kapel. Tidak dia tidak duduk untuk berdoa atau untuk merenungi tindakan kasarnya pada Pendeta barusan atau hanya untuk sekedar mencuri dengar pengakuan dosa orang lain. Dia tahu batas-batas kesopanan, setidaknya kalau sedang tidak marah.
Dia duduk sambil bersedekap --masih dengan wajah yang cemberut--, sibuk dengan pikiran sendiri.
Tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang berjalan ke arah bilik, salah satu matanya menyipit dan mendapati sosok itu adalah sosok exorcist yang tidak dia kenal. Tetapi gadis berparas manis ini tidak berinisiatif untuk menyapanya, tidak, bagaimanapun juga dia sedikit diam terhadap orang asing.
Hei lalu yang tadi di bilik itu apa?
Jadi Allegra tetap duduk manis sambil menunggu sosok pendeta itu keluar dari bilik mungkin? Ya dia akan menunggu. |
|  | | Benjamin Baptiste

Posts: 102 Umur: 18 Pemilik: Woof
Biodata Posisi: Exorcist Cabang: Eropa Umur: 17
 | Subject: Re: [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) 30th September 2009, 15:15 | |
| Benjamin masih duduk bersandar pada dinding bilik itu. Dan untuk sesaat dia mengalihkan pandangannya ke kapel yang cukup sepi itu. Mata ambernya menangkap sosok Exorcist yang baru keluar dari bilik pengakuan dosa di belakangnya sedang duduk di barisan bangku panjang. Jaraknya cukup jauh dari tempat Benjamin duduk sekarang, sehingga dia tidak tahu bagaimana mimik Exorcist itu sekarang. Meskipun begitu jelas kalau Exorcist itu tidak sedang berdoa - Benjamin, kan, seorang Kristen yang taat - jadi, apa yang dilakukannya?
Alis Benjamin bergerak naik dan meremas Robe de Cérémonie yang membungkus setengah tubuhnya. Lalu sebuah ide tercetus di dalam benak remaja berambut platinum blonde itu. Dia akan melihat gadis Exorcist tadi dengan lebih jelas dengan menggunakan Innocence-nya. Dia tidak akan kepergok karena kamuflase adalah salah satu forte Innocence-nya. Dia juga bersyukur mengetahui kalau suhu di dalam kapel tidak sedingin di luar meskipun tidak ada angin yang bisa meringankan beban Benjamin untuk menggerakkan Robe de Cérémonie sehingga dia harus menggunakan kekuatan mentalnya sendiri.
Tidak ingin berlama-lama, dia membungkus seluruh tubuhnya - termasuk kepalanya - dengan jubah abu-abunya lalu berbisik, "Robe de Cérémonie, Activate!" disambung dengan kata, "S'évanouir," ketika bagian dalam jubah abu-abu itu memancarkan cahaya terang selama sesaat yang mungkin akan membutakan mata Benjamin dengan jarak sedekat ini kalau dia tidak menutup matanya.
Sesaat kemudian, Benjamin Baptiste sudah menghilang dari alam nyata dan jubah abu-abu yang tadi membungkus tubuhnya pun terjatuh ke lantai kapel. Di dimensi, S'évanouir, Benjamin tersenyum tipis dan menerbangkan jubahnya menyusuri dinding - sehingga dia tidak mudah disadari - lalu naik ke langit-langit dan menyusuri langit-langit kapel hingga dia bisa melihat ekspresi Allegra dengan jelas, yang ternyata hanya bersedekap. Mungkin kesal, tetapi gadis itu tidak menunjukkannya. Bosan, Benjamin pun kembali menyusuri langit-langit dengan cepat untuk kembali ke tempatnya semula.
Dan saat itulah sebuah ide lainnya muncul di dalam benaknya. Dia akan melihat siapa orang di balik bilik pengakuan dosa itu. Siapa orang yang mau meladeni keluh-kesah para penghuni Markas Pusat yang tetap tabah meskipun para kliennya bertingkah kasar. Masih merepet di dinding, Benjamin pun berbelok turun ke belakang bilik.
Ketika yakin tidak ada yang melihat Innocence-nya melayang dalam keadaan aktif, Benjamin pun mengulurkan tangannya dan menggapai gagang pintu belakang bilik tempat seharusnya si pastor berada. Diputarnya gagang itu perlahan dengan harapan tindakannya tidak menimbulkan suara yang bisa menunjukkan keberadaannya, lalu ditariknya pintu bilik itu.
KREEKK...
Oh, sial, umpat Benjamin dalam hati ketika pintu bilik itu berbunyi. Tidak keras, sih, tetapi jelas bisa didengar dengan jelas di dalam bilik itu.
Matanya mengawasi bagian dalam bilik itu masih di dalam dimensi S'évanouir dengan tangan masih memegang gagang pintu. Orang-orang yang tidak mengetahui alam asli Robe de Cérémonie tentunya akan melihat sebuah kain jubah berwarna abu-abu di bagian luar dan hitam pekat di bagian dalam dengan sebuah tangan terjulur keluar. Cukup mengerikan memang, dan Benjamin berharap dia tidak mengejutkan si pastor yang perlahan-lahan mulai terlihat jelas. |
|  | | Nikolai Mikhailov

Posts: 183 Pemilik: Cairy
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 15
 | Subject: Re: [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) 30th September 2009, 15:28 | |
| KREEKK...
Mendengar sebuah suara... dari arah belakangnya. Tepat di pintu masuk bilik tempat tuan pastor memberikan ceramahan mengenai keluh-kesah pengakuan dosa. Telinganya (atau kesadaran lainnya) yang cukup tanggap kemudian berbalik menerka-nerka jangan-jangan ada orang yang mau memergokinya.
Namun Nikolai kecil tidak beranjak dari tempat duduknya, hanya mengerutkan dahi sejenak berpikir gawat juga kalau yang ada di sana adalah gurunya, Lia, atau si barbar Giraile. Dalam sekali depak ia bisa mati di tempat.
... Hanya saja kali ini ia harus dengan benar mendalami perannya. Oke... tuan pastor tenanglah, setan-setan jahat itu tak akan mampu menganggu jalan kesucianmu. Maksudnya? Ah sudahlah, anak ini hanya bergumam dalam hati. Menunggu reaksi dari si pasien di balik bilik lainnya.
'Sudah sadarkah kamu sekarang? ... Atau justru kamu yang perlu sadar dengan bayang-bayang hitam di belakangmu?" |
|  | | Abisak Avedisian

Posts: 77 Pemilik: Chief Poin RP: 20
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Eropa Umur: 25
 | Subject: Re: [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) 30th September 2009, 15:54 | |
| "Tidaklah mungkin sebuah cinta dapat disamakan dengan perasaan dendam dan amarah anakku." Abisak hendah membantah perkataan 'pendeta' yang berbicara dengannya, namun lelaki itu sudah meneruskan kata-katanya. "Cinta tidak mengenal sosok. Baik... jahat... pemaksa... pendendam... semua manusia pantas mendapatkan cinta. Bukankah Tuhan mengajarkan perasaan yang begitu kasih itu pada kita semua?"
Walau ia masih belum sepenuhnya yakin dengan keberadaan yang di atas sana, Abisak tidak dapat menyangkal. Yang dikatakan pria yang dimintai nasihat olehnya itu benar juga. Sang janitor hanya bisa menundukkan kepalanya, bergumam pelan, "Ta... tapi..." Benarkah yang dirasakannya adalah cinta? Bukankah cinta itu semestinya perasaan yang... entahlah, lebih menyenangkan? Mana mungkin ia merasakan cinta kepada orang yang sulit ditemukan sifat baiknya oleh dirinya? 'Sebenarnya, banyak--' tetapi Abisak tidak berniat menggugurkan pernyataannya sendiri. Ia sungguh bimbang.
"Sesungguhnya anakku, yang dapat mengetahui bagaimana perasaanmu hanyalah dirimu sendiri." Matanya membelalak, dirinya merasa seakan telah tercerahkan oleh suatu pancaran cahaya dari atas. Tidak salah ia meminta nasihat ke sini. Yang benar-benar perlu ia lakukan bukan bertobat dan mulai rajin beriman, yang perlu ia lakukan adalah berintrospeksi diri! Pendeta ini bukan main hebatnya. Ia harus jujur pada dirinya sendiri. "Saya tidak mengira akan mengatakan ini, tetapi... Bapak, Anda benar! Saya akan berusaha merenungkan ini lagi."
Lelaki berdarah Armenia itu bangkit dari tempat duduknya dengan semangat yang tak ada sebelumnya. "Maaf telah membuang waktu Anda, Bapak. Saya permisi dulu." Mungkin nanti ia akan mencari pendeta markas untuk memberikan token terima kasih padanya. Ia memberikan senyuman kecil, walau tidak yakin lelaki di sisi berlawanan pembatas dapat melihatnya. "... Terima kasih," ujarnya dengan tulus dari lubuk hatinya, sesuatu yang tak sering dilakukannya.
Ia pun keluar dari bilik pengakuan dosa, hanya untuk menemui gadis yang menggunakan jasa kapel itu sebelum dirinya. "Err, masih ada urusan dengan Bapak Pendeta--" Sebelum ia dapat meneruskan kalimatnya, matanya melebar kaget begitu melihat suatu pemandangan yang sangat pelik. "Ahhhhhh!!! Sepotong tangan yang menjulur dari kain!" sahutnya keras, menunjuk pada Benjamin yang berada dalam dimensi jubahnya, tentu tanpa pengetahuan tentang kemampuan Innocence milik Exorcist itu. Hari ini benar-benar aneh. |
|  | | Benjamin Baptiste

Posts: 102 Umur: 18 Pemilik: Woof
Biodata Posisi: Exorcist Cabang: Eropa Umur: 17
 | Subject: Re: [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) 30th September 2009, 16:31 | |
| Untungnya si pastor tidak membalikkan badan. Sepertinya bunyi tadi tidak mengejutkannya, dan itu berarti ini adalah hal yang bagus. Benjamin melayang mendekat dan melihat rambut abu-abu pastor itu... yang anehnya malah berseragam Exorcist. Apakah ada Exorcist yang bekerja sambilan sebagai pastor Markas Pusat? Rasanya Benjamin belum pernah dengar.
"Ta... tapi..."
Klien kedua si pastor kembali berbicara lalu berhenti, kemudian melanjutkan lagi.
"Saya tidak mengira akan mengatakan ini, tetapi... Bapak, anda benar! Saya akan berusaha merenungkan ini lagi. Maaf telah membuang waktu anda, Bapak. Saya permisi dulu... terima kasih."
Dan sepertinya klien kedua si pastor sudah selesai. Dari nada suaranya awal-awal tadi kelihatannya dia masih meragukan kata-kata si pastor, tetapi sepertinya si pastor telah melakukan tugasnya dengan baik karena suara klien keduanya terdengar lebih ringan pada bagian akhir.
Benjamin mengelus dagunya dengan satu tangan, memuji pastor di hadapannya ini di dalam benaknya, dan tidak menyadari kalau tangannya yang lain masih menempel pada gagang pintu belakang bilik. Yang sepertinya disadari oleh klien kedua pastor tadi.
"Ahhhhh!!! Sepotong tangan yang menjulur dari kain!" Sahut janitor itu keras-keras. Benjamin langsung bereaksi dan melihat janitor super sial itu menunjuknya - atau lebih tepatnya menunjuk Robe de Cérémonie.
Ah, sial! Benjamin kembali mengumpat dan terkejut melihat dia mengeluarkan umpatan yang sama dua kali di hari yang sama. Apakah ini sebuah pertanda buruk atau apa?
Dan Benjamin yakin sahutan si janitor akan menyadarkan si pastor akan keberadaannya. Cepat-cepat Benjamin melepaskan gagang pintu belakang bilik dan meluncur membelah udara dengan cepat dengan dua tangan terulur keluar dimensi S'évanouir. Kedua tangannya mencengkram erat pakaian si janitor dan mengangkatnya ke udara. Benjamin mungkin terlihat pucat dan sering tidur, tetapi dia cukup kuat untuk mengangkat seorang janitor seperti Abisak. Benjamin pun berujar dengan suara yang dalam dan berwibawa - yang tidak terlalu jauh dari suaranya sehari-hari jika atribut berwibawa dihilangkan - untuk menakut-nakuti Abisak.
"Kau harus menjaga mulutmu baik-baik, Janitor, kalau kau tidak ingin bertambah sial"
Benjamin berhenti sejenak, memikirkan kata-kata berikutnya, dan mengangkat Abisak lebih tinggi lagi lalu kembali bersuara dari dalam
"Dan karena kau tadi sempat meragukan kata-kata pastor, maka kau akan bertambah sial lagi! Inilah hukuman Tuhan!!!"
Benjamin memanfaatkan distorsi dimensi untuk membuat suaranya sedikit menggema pada kalimat terakhirnya dan memanjangkan bilah-bilah berbentuk salib yang keluar dari dimensi yang sama dengan perlahan sebagai improvisasi dan menggoyangkan Robe de Cérémonie ke kanan dan ke kiri sehingga si janitor sedikit terhuyung.
Sedikit bersenang-senang boleh, kan? Semoga saja tidak ada orang yang masuk ke dalam kapel dan melihat tingkahnya ini. Tunggu dulu, bukankah tadi ada seorang gadis Exorcist di dalam kapel yang duduk di barisan kursi panjang? Benjamin tersentak dan segera mencari gadis Exorcist itu. Di mana dia duduk tadi? |
|  | | A. Růžena Mlynarikova

Posts: 120 Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 20
 | Subject: Re: [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) 30th September 2009, 16:49 | |
| "Nyem...~"Tanpa terasa waktu berlalu, dengan begitu hening dan sepi khas kapel sebagaimana mestinya, Allegra terkantuk-kantuk di kursinya sambil tetap bersedekap, sekilas dari balik punggungnya dia tampak seperti seseorang yang berdoa dengan sangat khusuk. Seharusnya dia bisa tertidur dengan tenang..... namun suara ribut yang tidak jelas - -di kapel yang biasanya hening-- mendistraksi alam tidurnya. mata birunya mengerjap beberapa kali, punggung tangannya mengelus-elus ujung sudut matanya yang sedikit basah. "Uuuh apaan sih ribut-ribut di kapel, tak tau sopan..." Allegra menguap pelan. | Quote: | | "Kau harus menjaga mulutmu baik-baik, Janitor, kalau kau tidak ingin bertambah sial" |
EH suara apa itu? Dia menengok kiri-kanan, tak ada orang. Tapi suara itu jelas-jelas bukan ilusi, delusi atau halusinasi. Allegra 100% yakin kalau suara yang dia dengar itu memang nyata. Matanya menyiris ruangan, dan sedikit terbelalak begitu melihat pintu bilik yang setengah tebruka --rusak sepertinya?. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aduh, orang brutal mana sih yang senang merusak pintu?"
Dan jawabannya terdengar dari atas....
| Quote: | | "Dan karena kau tadi sempat meragukan kata-kata pastor, maka kau akan bertambah sial lagi! Inilah hukuman Tuhan!!!" |
Suara itu bergaung di kapel, Allegra terkesiap dari tempat duduknya. Dengan segera berdiri dan mencari asal suara. "Tuhan? Suara Tuhan!". Bukankah suara Tuhan identik datang dari atas? Dengan pemikiran begitulah Allegra menengadah ke atas.
Dan hampir tak percaya dengan apa yang dia lihat..
Seorang pria yang malang diangkat oleh Tuhan?! D8
Oh hampir saja Allegra menyimpulkan demikian sampai dia menaydari adanya jubah kelabu janggal dan tangan yang terjulur dari sana, mengangkat sang pria malang yang meronta-ronta(?). Jubah kelabu itu mengingatkannya akan suatu informasi yang pernah dia dengar atas exorcist lainnya yang berinnocence seperti itu.
Ah itu pasti dia! Keterlaluan sekali! Tak tau sopan santun mengacau di kapel!
Urat-urat kekesalan kembali berkedut di dahinya. Gadis Ceko ini menggeram, dia mencabut batang besi yang tersemat di gelungan rambutnya, rambut pirang gadis itu jatuh ke bahunya. Dengan sigap Allegra naik ke atas sandaran kursi deret, batang besi yang tadinya seukuran pensil mulai bereaksi atas keinginan gadis itu.
Úmrtí Souhvězdí!
Pertama tongkat besi, tongkat besi biasa yang tak berbahaya. Namun rantai-rantai besi segera tumbuh dari ujung tongkat itu memanjang dengan cepat, belum apa yang ada di ujungnya. Bola, ya bola besi berduri yang siap mengoyak daging-daging segar.
"Dasar tidak tau sopan santun!!!" Allegra berteriak, dan bersamaan dengan itu rantainya meluncur seperti ular dari besi. Mengikat dan melilit Abisak dalam hitungan detik dengan kuat. Ah untungnya bola berduri itu tidak melukai janitor itu, tapi tentu saja cukup untuk menakutinya kan.
"Turunkan pria malang itu!" ucap Allegra, lengannya mengenggam erat batang Úmrtí Souhvězdí dan lengan lainnya siap menarik rantai innocence itu. Sakit mungkin eh untuk Abisak? Ah tidak kok dia hanya mengeluarkan sedikit kekuatannya. Ya sedikit, sedikit untuk ukuran dirinya dan exorcist lain.
Last edited by Allegra R. Mlynarikova on 30th September 2009, 21:36; edited 1 time in total |
|  | | Nikolai Mikhailov

Posts: 183 Pemilik: Cairy
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 15
 | Subject: Re: [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) 30th September 2009, 17:53 | |
| "Maaf telah membuang waktu Anda, Bapak. Saya permisi dulu."
Kata terakhir itu entah mengapa malah membuat Nikolai semakin besar kepala. Lihatlah, ia melupakan suara-suara aneh yang barusan mengganggunya dan kini cekikikan sendiri memuji akting luar biasa... oh bakat dari manakah itu? Setan manakah yang telah memengaruhinya untuk berbuat luar biasa jahil pada orang lain?
Namun senyumnya itu keburu pudar ketika ia mendengar ada suara teriakan, atau seruan tepatnya. "Ahhhhhh!!! Sepotong tangan yang menjulur dari kain!"
"Eeeh?! Sepotong tangan?!" kaget sendiri, beranjak dari tempatnya dan sedikit mengintip dari pintu bilik. Masih bersembunyi, ingat... orang-orang tadi bisa saja hanya berbohong untuk memancing dirinya keluar dan melaporkannya pada sang guru jika saja itu yang terjadi.
... Dan oh~ pertunjukan luar biasa di luar sana, apalah itu orang terbang melayang-layang. Nikolai jelas tercengang, maksudnya ia terlalu polos untuk memikirkan bahwa hal tersebut dilakukan oleh orang sejenis dirinya, maksudnya exorcist.
Keringat dingin menetes dan berkata, "Ini peringatan Tuhan!" berseru dan kembali bersembunyi di bilik. Mencoba berpikir, ah ia benar-benar harus memikirkan bagaimana supaya orang-orang itu bisa berhenti.
Lalu bersahut lagi. "Hentikanlah itu wahai anakku! Apalah yang sedang kalian perbuat di rumah Tuhan ini?!" kali ini nada bicaranya tegas. Hey! Pastor pun perlu panik jika tempatnya mencari nafkah diobrak-abrik oleh sekelompok exorcist barbar. |
|  | | Shreizag E. Halverson Vatican Central

Posts: 580 Umur: 19 Pemilik: S.E.H. Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 29
 | Subject: Re: [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) 30th September 2009, 18:09 | |
| Pernah merasakan firasat yang begitu kuat? Shreizag merasakannya sekarang. Ralat, dari beberapa saat yang lalu. Sejak ia tidak bisa menemukan muridnya yang paling muda di manapun, bahkan di tempat favorit anak itu sekalipun. Aneh, biasanya siang hari begini anak itu akan berlarian ke ruang pribadinya dan meracau di sana. Oh, kalau begitu saja sebenarnya Shrei tidak akan peduli, justru bagus karena ia bisa menghabiskan liburnya dengan tenang. Tapi firasatnya mengatakan kalau ada yang tidak beres dengan anak itu, dan karena itulah ia berjalan di salah satu lorong Black Order sekarang, sambil bertanya sesekali pada orang yang lalu lalang.
Ia sendiri merasa aneh mencari muridnya seperti ini, padahal biasanya ia akan datang sendiri tanpa dipanggil.
Kafetaria dan ruang santai sudah ia susuri, dapur, perpustakaan, area latihan... Tampaknya hampir di semua ruangan di dalam markas sudah ia cari, dan hasilnya nihil. Pria Norwegia ini menghela nafas, di depannya terhampar susunan bunga dan pohon, mengelilingi kapel yang berada di tengahnya. Taman. Tidak ada juga. Kapel? Masa' sih. Namun kalau hanya berasumsi tidak akan menghasilkan apa-apa, kakinyapun melangkah ke depan pintu masuk kapel itu, golem peraknya mengikuti.
"Dasar tidak tau sopan santun!!! Turunkan pria malang itu!"
Apa? Telinganya tidak salah dengar tadi?
Tangannya membuka pintu kapel, dan walaupun ia tidak melihat sosok yang dicarinya, mata biru mudanya kini menangkap...
... kekacauan.
Pria Norwegia ini mengerutkan alisnya, melihat pemandangan yang sangat tidak wajar ini. Gadis Exorcist yang dilihatnya beberapa hari lalu di tempat yang sama sedang mengaktifkan Innocence-nya, melilit tangan seorang janitor yang diperkenalkan Tuan Harkonen--Avedisian, dan... seorang Exorcist yang sedang bersembunyi di balik jubah dengan hanya memunculkan lengannya saja.
"Apa-apaan ini?" ucapnya datar, namun dengan nada yang tegas. Ia menatap dua orang di hadapannya bergiliran, memberikan tatapan yang seolah berkata 'jelaskan semua ini'. Sudut matanya menangkap pintu bilik tempat pengakuan dosa yang rusak, tampaknya, firasatnya memang telah menuntunnya ke sini...
"Kalian berdua," ia memulai, menunjuk Allegra dan sosok di balik jubah, "Non-aktifkan Innocence kalian. Sebagai Exorcist seharusnya kalian tahu kalau kalian tidak boleh memakainya sembarangan, apalagi di tempat ini." titahnya dengan tatapan mata yang makin mengeras, menunjukkan ketidaksukaan yang besar atas kondisi ini. Kalau hanya mau bermain-main, seharusnya para Exorcist menyerahkan Innocence milik mereka pada Theodora Xena saja, daripada membuat kekacauan yang sia-sia. _________________ "l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour First. The Silver Ice |
|  | | Benjamin Baptiste

Posts: 102 Umur: 18 Pemilik: Woof
Biodata Posisi: Exorcist Cabang: Eropa Umur: 17
 | Subject: Re: [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) 30th September 2009, 20:12 | |
| Wow, Benjamin sendiri cukup terkejut mendengar penampilan "suara Tuhan-nya" yang cukup memukau. Mungkin dia berbakat menjadi seorang narator drama? Ah, tapi Black Order adalah organisasi militer, sehingga Benjamin langsung mengubur bakat terpendam yang baru ditemukannya itu dalam-dalam dan kembali memasang wajah serius untuk mencari gadis Exorcist yang seingatnya masih berada di dalam kapel itu. Dia sedikit menyesal telah melayang cukup tinggi sehingga indera penglihatannya kurang bisa bekerja dengan baik. Ditambah lagi efek samping Innocence-nya mulai terasa. Sepertinya dia harus segera menonaktifkan Robe de Cérémonie dan beristirahat sejenak.
Tak lama kemudian, akhirnya Benjamin melihat pergerakan dan menyadari kalau itu adalah gadis Exorcist yang dicari-carinya. Benjamin menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas dan menyadari kalau gadis itu sudah membawa sebuah tongkat besi. Tongkat besi? Bukan masalah. Benjamin menguasai udara, dan senjata melee itu bukan tandingannya.
Tetapi ketika rantai-rantai mulai tumbuh di kedua ujung tongkat itu ditambah dengan bola besi berduri yang terlihat berbahaya muncul di ujung rantai-rantai itu, Benjamin merasa ini waktunya untuk pergi.
"Dasar tidak tahu sopan santun!!!" gadis itu berteriak dan rantai Innocence-nya meluncur cepat. Benjamin segera terbang menghindar, tetapi sepertinya Janitor yang dibawanya ini turut menularkan kesialannya kepada Benjamin. Rantai itu berhasil mencapai dan melilit Abisak dengan kuat sehingga gerak Benjamin pun terbatasi.
"Turunkan pria malang itu!" gadis Exorcist yang sama memerintah Benjamin dan mengambil ancang-ancang untuk menarik Abisak. Benjamin memasang ekspresi datar dan keringat dingin mulai terlihat di atas kulitnya. Che, aku harus segera pergi, pikir Benjamin.
"Ini peringatan Tuhan! Hentikanlah itu wahai, anakku! Apalah yang sedang kalian perbuat di rumah Tuhan ini?!"
Si pastor - dikenali Benjamin dari suaranya - berseru dengan nada tegas. Benjamin memutar matanya dan benar-benar menyesali tindakannya menakut-nakuti Abisak. Bukan karena dia merasa bersalah - dia menganggap itu perlu, untuk hiburan dan supaya Abisak tidak melaporkannya menggunakan Innocence dengan sembarangan - tetapi karena dia melihat sesosok pria berambut putih panjang dengan seragam hitam-merah yang berwibawa membuka pintu kapel. General Srheizag Halverson. Siapa yang tidak kenal dia? Bahkan seorang bayi pun - asal dia perempuan - pasti mengenal General itu. Dan mengingat General itu cukup veteran, maka habislah sudah kesempatan Benjamin untuk lolos sekarang. Sepertinya semakin lama dia bersentuhan dengan Abisak, semakin sial dia.
"Apa-apaan ini?" General itu berbicara lalu menunjuk kedua Exorcist yang terlihat melalui sepasang mata biru mudanya. "Kalian berdua, non-aktifkan Innocence kalian. Sebagai Exorcist seharusnya kalian tahu kalau kalian tidak boleh memakainya sembarangan, apalagi di tempat ini."
Keringat dingin sudah bercucuran membasahi tubuh Benjamin dan tentunya dia hanya bisa menurut. Perlahan-lahan Robe de Cérémonie menurunkan ketinggiannya, dan memuntahkan Benjamin keluar dari ketinggian satu meter. Remaja berambut coklat itu jatuh dengan bunyi yang keras bersama dengan Janitor yang sebisa mungkin tidak akan didekatinya lagi itu. Wajahnya pucat dan dia hanya terbaring lemas hampir semenit hingga akhirnya dia kembali bangkit berdiri. Itupun dengan tidak tegak dan wajah pucat seperti badut.
"Heh, heh, heh, heh."
Nafas Benjamin terasa berat dan kepalanya mulai pening, akan tetapi dia tetap menatap wajah sang General yang terlihat tidak suka akan apa yang baru saja dilihatnya. Semoga saja dia tidak menyuruhku mengembalikan Robe de Cérémonie dan keluar dari Black Order, Benjamin memikirkan kejadian terburuk yang bisa diterimanya. Mulutnya membuka untuk berbicara, tetapi dia tidak tahu harus berbicara apa. Dan jika dia tahu, rasanya dia hanya akan terdengar menghina General Halverson apabila dia berbicara dengan bibir yang masih bergetar itu. |
|  | | Nikolai Mikhailov

Posts: 183 Pemilik: Cairy
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 15
 | Subject: Re: [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) 30th September 2009, 20:29 | |
| "... Non-aktifkan Innocence kalian. Sebagai Exorcist seharusnya kalian tahu kalau kalian tidak boleh memakainya sembarangan, apalagi di tempat ini."
Nikolai hampir berseru lagi sebelum akhirnya mendengar suara itu. Eh? Ia terdiam sesaat mencoba melihat keadaan ke balik bilik. Kok ada orang dengan suara datar begitu tiba-tiba datang dan tanpa ragu menghentikan kedua orang yang ada.
Setelah ribut-ribut itu berkurang, akhirnya ia menyembulkan wajah dari balik bilik, menerawang sosok siapa sih yang tiba-tiba muncul itu dan...
"Ack! Shreirin!!" berseru dengan suara pelan dan langsung menutup mulutnya rapat. Kembali menyembunyikan diri di balik bilik pengakuan dosa ini... ya ampun Nikolai, kali ini kau yang harus benar-benar mengakui dosa di depan gurumu nak.
Keringat dingin bercucuran dan mulai meringkuk seperti sedang main petak umpet. Ah, sebaiknya ia sembunyi saja di dalam sana dan tidak lagi bersuara. Shrei pasti kenal benar bagaimana suaranya dan jika ketahuan matilah ia, entah kali ini akan disegel berapa lama lagi.
... "Tuhan yang baik... setidaknya biarkan aku bebas dari tempat ini. Nanti kalau ketemu kapel di luar aku pasti akan mengakui dosaku," kali ini menyerah pada satu-satunya tempat di mana ia bisa berserah. |
|  | | Shreizag E. Halverson Vatican Central

Posts: 580 Umur: 19 Pemilik: S.E.H. Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 29
 | Subject: Re: [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) 30th September 2009, 20:32 | |
| Perlahan-lahan jubah abu yang melayang itu menurunkan ketinggiannya, siapapun akomodator Innocence itu, pastilah orang yang cukup penurut. Atau, terlalu takut untuk membangkang dirinya yang berjabata General ini. Ketika jubah itu telah mencapai ketinggian satu meter, kedua sosok terjatuh ke lantai. Yang satu, Abisak, pastilah korban dari peristiwa ini. Menurut cerita yang ia dengar dari Tuan Harkonen dan Giraile, lelaki itu bahkan terlalu sial untuk mengerjai orang lain. Yang satunya lagi, sang Exorcist dengan Innocence berbentuk jubah abu, Shrei tidak mengenalnya.
Pria berambut putih ini menghela nafas, yang pasti penyebab segala kekacauan di sini harus dihukum. Tentu saja, hukuman khas Shreizag Halverson tidak menyangkut soal fisik.
Ketika Exorcist muda itu akhirnya berhasil berdiri, iapun mulai bicara kembali. "Avedisian, tolong jaga dia agar tidak ke mana-mana. Kau juga harus menjelaskan semua ini nanti." ya, karena cerita dari korban biasanya lebih bisa dipercaya, apalagi tampaknya Abisak bukan tipe orang yang akan berbohong. "Tim, tolong pegang Innocence anak itu sebentar," titahnya pada golem perak yang bertengger di pundaknya. Timcanpi menurut, kemudian golem perak itu terbang ke sebelah Benjamin, menggigit jubahnya, dan membawanya terbang kembali ke sebelah Shrei. Tidak, Shreizag tidak akan menyita jubah itu, ia hanya mau memastikan agar Benjamin tidak bisa kabur.
Sekarang, masalah yang satu lagi.
Shreizag melangkah ke dalam bilik pengakuan dosa yang pintunya sudah rusak, ia punya firasat kalau yang ada di sana bukanlah pendeta... mungkin malah anak yang dicarinya sedari tadi. Hal itu terbukti karena tidak ada suara apapun yang menyambutnya, biasanya pendeta sungguhan akan menyambut dengan kalimat yang ramah, bukan? Dan hal itu cukup untuk meningkatkan kecurigaannya. "Shu, panggilnya pelan, "Kau ada di situ? Keluarlah." pintanya dengan suara datar seperti biasa, tanpa ada niat untuk mengintimidasi atau apapun. Bila ia menekankan begitu, bisa-bisa anak ini ketakutan dan tidak mau keluar selamanya. _________________ "l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour First. The Silver Ice
Last edited by Shreizag E. Halverson on 30th September 2009, 21:15; edited 1 time in total |
|  | | A. Růžena Mlynarikova

Posts: 120 Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 20
 | Subject: Re: [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) 30th September 2009, 20:42 | |
| Allegra sudah bersiap menarik Úmrtí Souhvězdí --ya dia melupakan fakta bahwa Abisak adalah manusia biasa-- saat seseorang berteriak lantang, tegas. Menuntut gadis itu menghentikan aksinya.
Gadis berambut pirang itu menoleh dan terkesiap begitu melihat sosok general yang memasuki kapel."Ge-General Halverson?!" dengan seketika innocence miliknya mulai menyusut perlahan-lahan sampai kembali menjadi tongkat kecil seukuran pensil kayu. Allegra meloncat dari sandaran kursi panjang ke lantai, berdiri tegak sambil memandang Shreizag dengan hormat, setidaknya dia gadis yang patuh dan tak berkata banyak --ke orang yang tak begitu dia kenal.
General itu mengambil innocence milik Benjamin dan melewatinya begitu saja --Allegra bernafas lega-- menghampiri bilik pengakuan dosa yang hampir hancur oleh ulah mereka. Shreizag tampaknya mencari-cari sosok seseorang. Oh ya, pelayan Tuhan yang aneh itu masih bersembunyi di balik bilik.
Hmm.. entah kenapa dia ingin melaporkan kejadian ini pada general bermata dingin itu, seperti dia melaporkan insiden pada generalnya sendiri.
"Nama saya Allegra Růžena Mlynarikova, disciple dari General Karlsen." Allegra mengawali laporannya dengan kalimat perkenalan.
"Seperti yang anda lihat memang terjadi kekacauan kecil disini, General Halverson. Namun, saya dapat menjelaskannya."
Allegra menarik nafas dalam-dalam.
"Jadi setelah melakukan pengakuan dosa di bilik itu, eh apa saya bilang cara pendeta menanggapi pengakuan dosa saya agak gila? Dan... Pria bernama Avedisian itu masuk ke dalam. Saya tetap berada di kapel sambil duduk di kursi deret ini dan hampir tertidur"
Gadis bermata biru cerah ini mengelus-elus syal bulunya, terdengar jeda beberapa saat sebelum dia melanjutkan kalimat barusan.
"Tetapi saya dikejutkan oleh suara ribut, dan begitu saya tersadar ada suara yang menyebut-nyebut dirinya sebagai Tuhan dan melaksanakan penghukuman dengan sekali lagi mengatas namakan Tuhan, dia menarik A-Avedisian yang malang ke langit-langit kapel saat itulah saya mulai geram dan mengaktifkan innocence saya untuk menjangkau Avedisian, mencoba melakukan pertolongan" matanya melirik ke section staff itu.
"Dan pemilik suara itu adalah exorcist yang innocencenya sekarang anda sita..."
Allegra berdehem, tanda bahwa dia telah menyelesaikan laporannya. Kali ini wajah gadis itu celingukan, ingin mengetahui sosok pendeta di bilik tersebut. Hmm.. entah apa yang akan dia lakukan kalau mengetahui Nikolai-lah yang ada di balik semua itu. |
|  | | Benjamin Baptiste

Posts: 102 Umur: 18 Pemilik: Woof
Biodata Posisi: Exorcist Cabang: Eropa Umur: 17
 | Subject: Re: [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) 30th September 2009, 22:28 | |
| Untuk apa General itu menyuruh Abisak menjagaku dan golemnya untuk mengambil Robe de Cérémonie? Bahkan aku tidak bisa berdiri dengan benar... semoga saja aku masih bisa mengambil Robe de Cérémonie-ku nanti, pikir Benjamin setelah mendengar kalimat selanjutnya dari General Halverson yang sekarang melangkah ke bilik pengakuan dosa yang entah sejak kapan pintunya sudah rusak itu - Hei, jangan lihat Benjamin. Dia membukanya dengan perlahan, masak pintunya selemah itu, sih?
Tiba-tiba gadis Exorcist garang yang tidak digubris General Halverson itu berbicara - melapor (atau mengadu?) - kepada sang General. Benjamin hanya bisa terkekeh pelan mendengar laporan yang keluar dari mulut Exorcist bernama Allegra Růžena Mlynarikova itu. Nama yang aneh... untuk seorang pengadu, hanya itulah komentar Benjamin yang tentunya tidak bisa keluar dari mulutnya.
"Nama saya Allegra Růžena Mlynarikova, disciple dari General Karlsen. Seperti yang anda lihat memang terjadi kekacauan kecil disini, General Halverson. Namun, saya dapat menjelaskannya. Jadi setelah melakukan pengakuan dosa di bilik itu, eh apa saya bilang cara pendeta menanggapi pengakuan dosa saya agak gila? Dan... Pria bernama Avedisian itu masuk ke dalam. Saya tetap berada di kapel sambil duduk di kursi deret ini dan hampir tertidur..."
Entah kenapa Allegra berhenti dan mengelus syal bulunya. Mau pamer? Atau... mata Benjamin melebar mengetahui bagian mana yang akan segera terucap keluar dari mulut gadis itu. Bagiannya - bagian yang paling seru.
"... tetapi saya dikejutkan oleh suara ribut, dan begitu saya tersadar ada suara yang menyebut-nyebut dirinya sebagai Tuhan dan melaksanakan penghukuman dengan sekali lagi mengatas namakan Tuhan, dia menarik A-Avedisian yang malang ke langit-langit kapel saat itulah saya mulai geram dan mengaktifkan innocence saya untuk menjangkau Avedisian, mencoba melakukan pertolongan..."
Benjamin menatap Allegra datar. Suara ribut? Oke, mungkin Benjamin memang melakukannya; Menyebut diri sebagai Tuhan? Hei, kapan Ben menyebut dirinya Tuhan? Lalu penghukuman atas nama Tuhan... apakah Exorcist tidak melakukan hal yang serupa kepada Akuma? Oh, sepertinya Benjamin sudah lupa kalau mereka juga melayani Pusat Vatikan.
Mendengar tuduhan-tuduhan yang pahitnya cukup tepat - hanya satu saja, sih, sebenarnya - Benjamin kembali terkekeh. Kali ini dengan nada kasar. Bukan karena dia sudah berubah anarkis sekarang. Sebenarnya dia ingin tertawa mendengar tuduhan-tuduhan itu meleset di beberapa bagian meskipun tetap mengenai Benjamin, tetapi apa daya, dia sudah menggunakan Innocence-nya non-stop dan menggerakkan Robe de Cérémonie tanpa bantuan angin. Tubuhnya seharusnya diistirahatkan, bukan disuruh berdiri terus seperti ini.
"... dan pemilik suara itu adalah exorcist yang innocencenya sekarang anda sita..."
Benjamin tidak mendengar dehaman terakhir Allegra karena dia sedang diliputi horor sekarang. Disita? Apakah ini berarti karirku sebagai Exorcist akan berakhir? Bahkan aku belum memulai misi resmi pertamaku! Benjamin mengerang di dalam benaknya dan memasang ekspresi horor di wajahnya - yang malah terlihat seperti sedang melongo karena efek samping Innocence-nya. Untungnya Benjamin tidak sedang berkaca sekarang. |
|  | | Nikolai Mikhailov

Posts: 183 Pemilik: Cairy
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 15
 | Subject: Re: [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) 30th September 2009, 22:39 | |
| ... 'Kacau,'
Memukul-mukul kepalanya sendiri, kok bisa permainannya yang tadinya biasa saja jadi sekacau ini. Semua pasti ulah si janitor dan exorcist yang bisa terbang itu. Menyebalkan, Nikolai menggerutu sendiri sekarang di dalam biliknya... oke, saatnya permainan berakhir. Sebagai anak-anak jam waktu bermainmu habis dan silakan gantikan dengan anak yang lain.
Tekanan mengetahui ada gurunya di luar ruangan sudah cukup menyita batin dan pikiran Nikolai secara keseluruhan. Jika terus dipaksakan maka ia akan terlampau merasakan tekanannya sendiri. Padahal ingat, ini hanya permainan yang dilakukannya untuk kesenangan semata.
... "Fuh~" mengeluarkan nafas panjang lalu bangkit dari tempat sembunyinya.
"Shu, Kau ada di situ? Keluarlah."
Panggilan itu menandakan permainan usai, dan usai juga bagi Nikolai untuk menguasai dirinya. Kini tatapan matanya berubah menjadi tatapan mata orang ngantuk, setidaknya keluar dari dalam bilik, memerlihatkan sosok seorang bocah exorcist yang seperti baru bangun dari tidurnya. Lengkap dengan seragam dan Innocence yang selalu dibawanya.
"Kenapa kau bisa tahu kalau itu dia?" keluar dan balik bertanya pada sosok yang tidak pernah diakuinya itu. Oh oke, Fyodor di sini menggangikan Nikolai karena anak itu terlalu stress jika ia tahu akan dimarahi oleh gurunya.
... "Kami hanya bermain, bukan Shu yang salah telah mengobrak-abrik tempat ini." Berkata lagi melakukan pembelaan. Kemudian menatap Allegra si 'wanita psikopat' dan Abisak 'si janitor yang jatuh cinta', jelas Fyodor hanya angkat bahu, yang tadi bersuara sebagai pastor itu benar adalah saudaranya jadi ia tidak bisa bertanggung jawab lebih banyak.
Kembali melirik Shrei, "Oke, aku menyerah... silakan tangkap." Kalau Nikolai tentu tidak akan menyerah secepat itu, setidaknya ia akan berlari mengelilingi markas hingga tubuhnya disegel lagi. Tapi Fyodor tidak mau adiknya melakukan hal itu... berlari membuang-buang tenaga, disegel itu menyebalkan. Setidaknya ia berharap, kalau dihukum, hukumlah tanpa embel-embel fisikalitas. |
|  | | | | [CENTRAL] Pengakuan Dosa (?) | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
|
|