| Time | | Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880 |
| | | [ASIA] Training from Hell | |
| |
| Author | Message |
|---|
Tek Xiao Ling Vatican Central

Posts: 329 Umur: 20 Pemilik: Agito
Biodata Posisi: General Cabang: Asia Umur: 23
 | Subject: Re: [ASIA] Training from Hell 27th September 2009, 16:41 | |
| OOT : woogh, sial!! kenapa saya dapet genap melulu DDD8
Sekali lagi, serangan kejutan dari anak didiknya yang rupanya memang banyak akal. Serangan Xiao Ling sebelumnya memang tidak kena telak anak itu, tapi rupanya sudah cukup untuk melukainya. Sayangnya, serangan yang sama malah dipakai untuk membalas serangannya. Inilah contoh nyata istilah 'senjata makan tuan'.
Karena Xiao Ling mengambil jarak yang terlalu dekat dengan Heidrich, ia tidak punya banyak waktu untuk menghindar. Maka sekali lagi, Xiao Ling terpaksa menerima serangan itu, hanya dilindungi oleh tangan kirinya. Ia dapat merasakan benturan keras di lengannya, dan suara berderak. Sepertinya satu-dua jarinya retak akibat serangan itu.
Lengannya terluka dan berdarah, tapi simbol kupu-kupu di punggung tangannya masih belum tersentuh. Masih bisa... Xiao Ling langsung berpikir untuk memanfaatkan darah yang mengalir dari lukanya itu. Ia kembali mengaktifkan Innocence-nya, lalu membentuk jarum-jarum darah dari darah yang mengalir dari lukanya itu. Ia sudah bersiap untuk melemparkan jarum-jarum darah ke arah Heidrich, sebelum mendadak pandangannya memburam.
Oh Tuhan, tidak lagi!! Jangan sekarang!!
Jarum-jarum darah Xiao Ling meleleh seketika, menetes ke lantai bagaikan hujan darah. Kedua pedang darahnya pun menghilang. Xiao Ling sendiri jatuh berlutut. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia menatap ke arah Heidrich. Ia tidak bisa melihat dengan jelas rupa anak itu. Tapi yang jelas, ekspresinya sekarang seolah mengatakan 'jangan khawatirkan aku'. Sementara itu, darah masih terus mengalir dari luka di lengannya, yang ternyata lebih parah daripada kelihatannya.
Entah berapa lama lagi ia bisa tetap sadar, sampai ada petugas kesehatan yang datang menolongnya._________________ "My battle, my rule. Do not protest." -Tek Xiao Ling-Agito's 1st ID - The Poison Butterfly
Last edited by Tek Xiao Ling on 27th September 2009, 16:59; edited 1 time in total |
|  | | Chief Supervisor Admin
Posts: 418
 | Subject: Re: [ASIA] Training from Hell 27th September 2009, 16:41 | |
| The member ' Tek Xiao Ling' has done the following action : Roll a die'6-sided Die' : Result :  _________________ Name? My name is not important. My job is.
|
|  | | Heidrich Kohler

Posts: 50 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 12 tahun
 | Subject: Re: [ASIA] Training from Hell 28th September 2009, 05:38 | |
| OOC: Saya tidak roll dadu sekarang, karena memang sengaja me-miss-kan. bisa dimanfaatkan untuk dipukul mundur =))
'Bagus. Serangan kena... meskipun tidak telak lagi.'
Senyum puas merekah pada bocah ini. Baru saja, serangan proyektilnya mengenai gurunya, meskipun tidak telak. Namun, darah yang keluar dari luka hasil serangannya tampak banyak--sisi logis Heidrich mengatakan bahwa itu bagus, karena dengan demikian jendralnya tidak akan bisa berkutik. Bagaimanapun juga, mengurangi jumlah opsi bertarung yang dimiliki oleh lawan juga merupakan strategi.
Ada sisi kecilnya yang mulai khawatir.
Heidrich menghiraukan sisi kecilnya tersebut. Pemandangan bagaimana gurunya bertekad untuk menyerangnya kembali dengan darah yang mengalir dari tangannya. Bahkan setelah kehilangan bentuk jelas, gurunya masih bisa mengendalikan bentuk dari innocencence-nya. Heidrich tidak iri; kebanyakan exorcist beratribut parasit memang masih memiliki kendali atas bentuk innocence-nya dalam beberapa waktu, bahkan setelah lepas dari anggota tubuh mereka. Contohnya, yah gurunya ini--
--yang tiba-tiba berlutut dan mendadak kehilangan kontrol atas senjatanya sendiri.
Sontak, mata bocah ini menyipit. Ini adalah salah satu bentuk keganjilan yang hanya bisa dilihatnya sekali dalam seumur hidup, mungkin. Figur yang ia lihat sebagai seorang yang bisa menahan apapun, sekarang berlutut. Di lihat bagaimana pundak gurunya itu naik turun; sepertinya mengambil napas pun baginya terlihat sulit.
Sisi logis meneriakkan ini sebagai sebuah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Sisi kecilnya, yang berhasil ia tahan dengan argumentasi, mulai menampilkan warna; gurunya tampaknya benar-benar sedang tidak berdaya. Di saat yang sama, sisi logisnya kembali berteriak, mengatakan bahwa itu bisa saja perangkap yang disediakan oleh Tek Xiao Ling. Tangan kanannya mengerat pada Gelbes Metall; sebelum ia tahu, ia sudah melemparkan satu pecutan pada sang guru wanita--
--yang pada akhirnya mengenai lantai di depan gurunya, sementara Heidrich Kohler hanya menggigit bibir.
Bunyi langkah kaki dipercepat, karena Heidrich Kohler sudah keburu melangkahkan kaki menuju gurunya. Maaf saja, bahkan Heidrich tahu kapan saat yang tepat untuk tidak mengusili orang--saat seperti ini, misalnya. Bukankah ayahnya sendiri sudah mengajarkannya untuk tidak melukai mereka yang tampak tidak berdaya? Well, ayahnya juga menambahkan kondisi tersebut hanya berlaku untuk manusia, bukan akuma.
"Nek, kau--" bocah ini menelan ludah; ia tidak pintar dalam hal ini. Hei, ibunya saja tidak pernah mengajarkannya untuk bersikap compassionate. Ayahnya terlalu stoik, meskipun ia tahu bahwa beliau orang yang baik. "--tidak apa-apa kan?"
Untuk pertama kalinya dalam latihan mereka, sisi kecil yang biasa dimatikan oleh sisi logisnya menyeruak. Itu menjelaskan bagaimana gurat khawatir mulai menghiasi wajah kecilnya. Oh, tenang saja, pita suaranya sudah siap meneriakkan kata 'Medik!' kalau-kalau gurunya ini menunjukkan tanda-tanda kehilangan keseimbangan. |
|  | | Tek Xiao Ling Vatican Central

Posts: 329 Umur: 20 Pemilik: Agito
Biodata Posisi: General Cabang: Asia Umur: 23
 | Subject: Re: [ASIA] Training from Hell 28th September 2009, 21:22 | |
| Meski samar, Xiao Ling dapat melihat bagaimana muridnya itu mulai ragu untuk menyerangnya. Meski samar, Xiao Ling dapat melihat bagaimana muridnya itu tampak melancarkan satu serangan padanya. Dan meski samar, Xiao Ling dapat melihat bagaimana serangan itu meleset, entah sengaja atau tidak.
Dilihatnya Heidrich berjalan mendekatinya, bahkan menanyainya apakah ia tidak apa-apa, meski tetap dengan panggilan kurang ajar khas bocah itu. Tentu saja aku kenapa-napa, anak bodoh... Tapi Xiao Ling tidak mengatakan kondisi tubuhnya yang sebenarnya kepada anak itu. Tidak, ia tidak ingin menurunkan level kekejiannya di depan anak ini.
Xiao Ling mengangkat tangan kanannya yang masih sehat tinggi-tinggi, lalu menampar keras pipi Heidrich. Wajahnya tampak marah dan serius, meski terlihat jelas bahwa sebenarnya seluruh kekuatan terakhirnya sudah ia pusatkan untuk tamparan itu, yang tentunya tidak sekeras biasanya.
"Jangan sekali-sekali melewatkan kesempatan untuk mengalahkan lawanmu, ingat itu baik-baik," kata Xiao Ling tegas, meski dengan suara bergetar dan nafas yang terputus-putus. Ia dapat merasakan cepat atau lambat ia pasti akan pingsan. Sudah tidak ada lagi gunanya lagi menahan penderitaannya ini.
"Panggilkan staff medis. Mintakan obat yang biasa atas namaku. Kamu juga, obati lukamu," kata Xiao Ling lagi, dengan suara yang lebih lemah. Pandangannya mulai menjadi gelap, seiring dengan semakin buramnya pemandangan yang dilihatnya.
Dan tepat sebelum ia pingsan, ia sempat tersenyum sedih dan berbisik perlahan, "...maaf sudah menamparmu..."
[OUT, pingsan] _________________ "My battle, my rule. Do not protest." -Tek Xiao Ling-Agito's 1st ID - The Poison Butterfly
Last edited by Tek Xiao Ling on 29th September 2009, 14:41; edited 1 time in total |
|  | | Heidrich Kohler

Posts: 50 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Asia Umur: 12 tahun
 | Subject: Re: [ASIA] Training from Hell 29th September 2009, 06:41 | |
| 'Sekali lagi, aku salah.'Tamparan keras yang dilancarkan gurunya seakan mengaktifkan kembali teriakan sisi logisnya. Suara-suara tersebut mengatakan dirinya 'bodoh' berkali-kali, karena telah jatuh pada perangkap tersebut. Namun, sisi logis tersebut berhenti berkoar-koar ketika indra perasanya merasakan bagaimana tamparan tersebut tidak terasa begitu menusuk. Cibiran. Heidrich tidak suka kalau ada saja orang yang memaksakan diri, walau itu gurunya. Seseorang seharusnya bisa mengetahui batas dari dirinya sendiri, agar ia bisa menentukan kapan harus berhenti dan kapan harus lanjut. Dengan demikian, segala yang sudah diperhitungkan sepanjang hidup mendapat presentasi sukses yang tinggi. Kalau serangannya yang tadi mengenai gurunya, tidak ada yang tahu--mungkin saja beliau akan terlempar, dan langsung pingsa seketika bukan? (apalagi dengan luka yang diderita beliau sekarang). ...Mungkin karena pemikiran ini lah, Ravel Kohler memutuskan untuk mengirim anaknya? Mata coklat mengeras--tamparan tepat pada pipinya tidak membuat mata coklat tersebut berair. Mungkin akan berbeda dulu, kalau yang menampar adalah ayahnya. Namun, kepalanya tertunduk sementara tangan kanannya merayap ke pipi. "Jangan sekali-sekali melewatkan kesempatan untuk mengalahkan lawanmu, ingat itu baik-baik,"
"Panggilkan staff medis. Mintakan obat yang biasa atas namaku. Kamu juga, obati lukamu,"" Das weiß ich.*)" Bocah tersebut bergumam tidak jelas. Amarah perlahan merayap naik, mulai memenuhi kepalanya. Dalam gerakan cepat, kepala itu mendongak. Mata kecoklatannya masih keras. "Nenek bodooooh! Kau kira aku bisa menganggapmu sebagai akuma!" Komentar tersebut seakan melayang-layang di udara. Anggapan bahwa 'musuh' yang dimaksud Heidrich adalah akuma seakan menegaskan sesuatu: mungkin pada akhirnya, bocah ini akan memiliki pola pemikiran yang mirip dengan ayahnya, yang menganggap hanya mereka yang berbalik dari jalan-Nya pantas dikalahkan. Apa gurunya tahu? Yang pasti, gurunya takkan punya kesempatan untuk komentar, karena Heidrich segera berlari keluar dari arena latihan, sembari memberitahu pihak keamanan tentang keadaan ruang latihan. Beberapa staff keamanan segera masuk, bersiap memapah gurunya ke infirmari. Heidrich sendiri? Ia memasuki infirmari lebih awal, mengutarakan hal yang dikatakan Xiao Ling (mengenai obatnya), dan segera pergi. Ia ingin berada sejauh mungkin dari area tersebut; ia tidak mau ditemukan untuk beberapa lama--rasa kesal yang membendung bisa saja terlampiaskan pada siapapun yang ia temui. [OUT] [FIN]
OOC: *) I know that. |
|  | | | | [ASIA] Training from Hell | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
|
|