| Time | | Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880 |
| | | [CENTRAL] In World So Small | |
| |
| Author | Message |
|---|
Líadan Ní Súilleabháin

Posts: 145 Pemilik: Agito Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 19
 | Subject: Re: [CENTRAL] In World So Small 3rd September 2009, 20:44 | |
| Melihat bagaimana Leon menunjukkan wajah kesepian, Lia jadi prihatin. Memang nasibnya tidak sekacau Lia, yang ditinggal pergi sang ayah dan ditinggal mati sang ibu, tapi Lia tahu bagaimana rasanya kehilangan pegangan, yang dalam kasus Leon adalah pamannya sendiri. Yang Lia tidak mengerti, mengapa Leon masih bisa tertawa setelah semua itu.
Tapi setelah Lia pikirkan lagi baik-baik, mungkin itu juga reaksi 'penutupan hati' yang dilakukan Leon. Kalau Lia menutup hatinya dengan berhenti berekspresi, Leon menutup hatinya dengan terus tertawa. Dan bagi Lia, tetap tertawa adalah hal yang jauh lebih menyakitkan.
"Leon..." panggil Lia pelan, "Mumpung kita di kapel, mari kita doakan roh ibuku dan pamanmu. Aku juga ingin mendoakan ayahku, entah ia masih hidup atau sudah mati."
Lia lalu beranjak dari kursinya, lalu berlutut di depan altar. Kedua tangannya ditelungkupkan di depan dada, sambil ia menundukkan kepala dan menutup kedua matanya.
"Ya Tuhan, terima kasih atas berkat kehidupan yang telah Engkau berikan kepada kami semua. Ampunilah segala dosa yang telah kami perbuat, seperti kami memaafkan mereka yang bersalah kepada kami. Doakanlah juga mereka yang sudah kembali ke pangkuan-Mu, terutama Dáirine ó Súilleabháin. Berkatilah juga ayah saya yang telah lama menghilang, William White. Jika beliau masih hidup, semoga Engkau dapat segera mempertemukan saya dengan ayah saya yang telah lama hilang itu. Namun jika beliau sudah meninggal, tolong terima ia di sisi-Mu, ya Bapa. Amin."
Lia lalu membuka kedua matanya, lalu menengadah ke arah salib, menatap sosok Yesus yang disalibkan di sana. Ia lalu berdiri, merasa jauh lebih lega.
"Ayo, Leon... Giliranmu," kata Lia sambil berbalik ke arah pemuda itu. |
|  | | Leonard Chezza

Posts: 78 Pemilik: Issei Akira Poin RP: 20
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Eropa Umur: 22
 | Subject: Re: [CENTRAL] In World So Small 3rd September 2009, 21:25 | |
| | Quote: | | "Berkatilah juga ayah saya yang telah lama menghilang, William White." |
Leon merasa jantungnya berhenti saat ia mendengar nama tersebut meluncur keluar dari mulut Lia. Ia merasa darahnya mengalir terbalik, dan ia merasa lemas seketika. Bahkan ketika Lia mengatakan bahwa sekarang sudah gilirannya untuk mendoakan pamannya, Leon rasanya semakin bingung.
"Liadan..." panggilnya pelan, ragu-ragu. Ia tidak tahu mau mengatakan apa lagi. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ia tidak mengerti apa lagi yang harus dikatakannya. Ia tidak tahu, apakah saat ini ia bisa tersenyum dan bersikap normal, atau ia harus mulai duduk dan meratapi nasibnya dan nasib gadis itu.
Tunggu dulu...!! Kalau Liadan adalah anak dari Paman Will, berarti... Dia 'Lidya White' yang selama ini kucari? Jangan bercanda?!
Leon kembali duduk karena ia merasa luar biasa lemas. Semua kenyataan yang baru saja didengarnya sudah cukup membuatnya merasa baru saja naik kapal yang terombang-ambing oleh ombak keras selama seharian penuh.
"Liadan..." panggilnya lagi. Kali ini raut wajahnya menjadi sangat serius, meski ia juga masih pucat pasi.
"Te... terima kasih sudah mendoakan pamanku. Nama pamanku itu... William White... Nama asliku Lucas White..." gumam Leon sambil memegangi dahinya dengan tangan kanannya.
Tuhan, mengapa Engkau begitu kejam pada kami, umat-Mu? |
|  | | Líadan Ní Súilleabháin

Posts: 145 Pemilik: Agito Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 19
 | Subject: Re: [CENTRAL] In World So Small 3rd September 2009, 21:32 | |
| Saat Lia menatap Leon, ia bisa langsung tahu ada yang tidak beres pada pemuda itu. Ia wajahnya mendadak berubah pucat pasi, dan ia seolah membeku di tempat mendengar apa yang baru saja didoakan oleh Lia. Apakah ada yang salah pada doaku?Mendadak Leon memanggilnya pelan. Ia tampaknya begitu terkejut dan bingung. Tapi sekali lagi, Lia tidak mengerti apa alasannya. Lia merasa doanya baik-baik saja, tidak ada satupun yang menyeleweng dari dasar-dasar berdoa. Mungkinkah seseorang yang didoakan Lia ada yang dikenal oleh Leon? Lia rasa tidak, meski ia tetap memiliki firasat buruk tentang itu. Leon lalu terduduk lemas, dan kembali memanggilnya pelan. Lia tidak berani bergerak. Entah mengapa jantungnya berdebar cepat, seolah ada sesuatu di balik panggilan Leon kepadanya. | Quote: | | "Te... terima kasih sudah mendoakan pamanku. Nama pamanku itu... William White... Nama asliku Lucas White..." |
Gumaman tersebut terdengar dengan begitu jelas di telinga Lia. Nama paman Leon adalah William White, ayah Lia. Tapi Lia berusaha untuk menyingkirkan perasaan tidak enaknya itu.
"Ta... tapi... banyak 'kan orang Inggris yang bernama William White..." kata Lia dengan suara gemetar. Ia tidak mengerti, kalau memang ia tidak percaya, mengapa ia begitu takut? |
|  | | Leonard Chezza

Posts: 78 Pemilik: Issei Akira Poin RP: 20
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Eropa Umur: 22
 | Subject: Re: [CENTRAL] In World So Small 3rd September 2009, 21:41 | |
| | Quote: | | "Ta... tapi... banyak 'kan orang Inggris yang bernama William White..." |
"Tapi tidak semua orang Inggris bernama 'William White' punya anak perempuan yang ditinggalnya di Irlandia!!" bentak Leon. Pikirannya sedang kacau. Saat itu, ia tidak memiliki kontrol sebagai seorang staff bagian diplomasi.
"Paman Will meninggal saat ia hendak pergi ke Irlandia, mencari putrinya yang bernama 'Lidya White'. Beliau menitipkan pesan kepadaku untuk mencari putrinya yang bernama 'Lidya White' dan tinggal di Irlandia," cerocos Leon tanpa henti. Ia sudah mulai kehilangan akal sehatnya. Semua ini terasa terlalu cepat baginya.
"Kamu masih mau bilang 'William White' yang kamu doakan tadi itu bukan 'William White' yang adalah pamanku sendiri?!" tanya Leon keras. |
|  | | Líadan Ní Súilleabháin

Posts: 145 Pemilik: Agito Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 19
 | Subject: Re: [CENTRAL] In World So Small 3rd September 2009, 21:58 | |
| Mendengar semua pernyataan yang dikatakan oleh Leon secara keras, pertahanan terakhir hati Lia akhirnya runtuh. Semua harapan akan pertemuan kembali dengan ayahnya, rasanya hilang begitu saja. Dalam hati, ia berusaha menyangkal semua yang telah didengarnya. Tapi di lubuk hatinya yang terdalam, Lia sadar bahwa semua itu adalah kenyataan.
"Leon... kamu jahat..." kata Lia dengan suara bergetar. Tubuh mungilnya sendiri sudah gemetaran hebat, seolah ia baru saja dilempar keluar ruangan tanpa pakaian.
"Habisnya... athair harusnya masih hidup, 'kan? Athair akan menemukanku, 'kan? Kami akan memperbaiki semua kesalahan yang kami perbuat dulu, 'kan?" tambah Lia, dengan suara yang semakin bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca, dipenuhi oleh air mata yang siap tumpah kapan saja.
"Athair.....!!" bisik Lia dengan suaranya yang kini sudah hampir tidak terdengar lagi, terkubur oleh suara isak tangisnya. Air mata mengalir deras di pipinya, sampai ia tidak lagi bisa melihat dengan jelas. |
|  | | Leonard Chezza

Posts: 78 Pemilik: Issei Akira Poin RP: 20
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Eropa Umur: 22
 | Subject: Re: [CENTRAL] In World So Small 4th September 2009, 15:40 | |
| | Quote: | | "Leon... kamu jahat..." |
Kalimat pertama yang dilotarkan Lia terasa langsung menusuk jantungnya. Bagaimana tidak, orang yang ternyata masih sedarah dengannya, yang selama ini dicarinya, yang disayanginya meski ia tidak tahu seperti apa rupanya, sekarang mengatakan bahwa ia jahat karena sudah memberitahukan kenyataannya.
| Quote: | | "Habisnya... athair harusnya masih hidup, 'kan? Athair akan menemukanku, 'kan? Kami akan memperbaiki semua kesalahan yang kami perbuat dulu, 'kan?" |
Leon merasa semakin terpukul. Kini ia menyesal sudah sembarangan mengatakan hal yang sebenarnya pada gadis itu. Seharusnya ia sudah bisa memprediksi bahwa Lia pasti akan langsung hancur mendengar berita dari Leon, yang bisa dibilang satu-satunya perantara antara Lia dan William. Apalagi semua kebenaran itu dibeberkan dalam waktu yang terlalu cepat. Mental Lia pastinya belum siap untuk menghadapi semua itu.
Kini Leon benar-benar merasa gagal sebagai keluarga, entah untuk William ataupun Lia. Ia segera bangkit dari kursinya, dan berjalan ke arah Lia.
"Liadan..." panggilnya pelan sambil berusaha meraih pundak gadis itu, yang masih gemetaran hebat. Namun mendadak ia mendengar suara pintu terbuka, dan segera berbalik untuk melihat siapa yang datang... sambil berharap siapapun itu, bukanlah orang yang dekat dengan Lia.
OOT : Shrei dateng dong... ato ga Nikolai ato Gabrielle ' 'a |
|  | | Shreizag E. Halverson Vatican Central

Posts: 580 Umur: 20 Pemilik: S.E.H. Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 29
 | Subject: Re: [CENTRAL] In World So Small 4th September 2009, 15:47 | |
| Seharusnya siang ini Líadan, Disciplenya, mengambilkan makan siang untuknya. Dengan itu, seharusnya ia bisa menghabiskan istirahat siangnya dengan santai di ruangan pribadinya. Yah, 'seharusnya' tidak berarti benar-benar terjadi. Mengetahui probabilitas dari kejadian itu 50 berbanding 50, Shrei sudah menyiapkan alternatif lain untuk menghabiskan istirahatnya. Lía masih sering tersesat, dan itulah alasannya keluar dari ruangan pribadinya dan pergi ke suatu tempat yang paling sering dikunjunginya; kapel.
Oh ya, sekalian mencari keberadaan Lía juga. Shrei heran, padahal anak itu sudah bertahun-tahun bergabung dengan Black Order, kenapa masih tersesat juga?
Timcanpi terbang mengikutinya dari belakang, kemudian mendarat di bahu Shrei ketika pria Norwegia itu mendorong pintu masuk kapel pelan. Pemandangan yang di luar dugaan menyambutnya.
Dilihatnya Lía menangis terisak... dan di hadapannya berdiri seseorang yang ia tidak kenal; dari penampilannya, mungkin seorang Section Staff. Akh, apapun itu, yang jelas kini Shrei harus mencari tahu apa yang bisa membuat Lía sampai menangis tersedu-sedu seperti itu. It's something that we called, 'once in a blue moon'.
"Líadan," panggil Shrei sambil mempercepat langkahnya menuju Disciplenya itu, "Kenapa kau menangis?" ia memegang bahu Lía, mencoba mendapatkan jawaban dari gadis Irlandia itu, namun hasilnya nihil.
Raut khawatir dan cemas mulai muncul di wajah Shrei, ia mendekap gadis itu dengan kedua tangannya, kemudian salah satu tangannya mengelus kepala belakang Lía, mencoba membuatnya lebih nyaman. Sekilas, ia melemparkan pandangan pada Leonard; mata biru mudanya seakan meminta penjelasan dan pertanggungjawaban.
Bagaimanapun juga, membuat Disciplenya menangis sampai seperti ini bukan masalah sepele.
"Lía," ia mulai lagi, meperhatikan gadis yang menangis di dadanya, "... Tenanglah..." katanya pelan dengan nada khawatir. Di saat seperti ini, ia mengerti bagaimana rasanya menjadi orang tua. Ya... Raquel juga sering melakukan ini padanya saat ia merasa gundah dan sedih. Ia harap, ia dapat melakukan sesuatu untuk Lía, agar gadis itu merasa lebih baik... _________________ "l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour First. The Silver Ice |
|  | | Líadan Ní Súilleabháin

Posts: 145 Pemilik: Agito Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 19
 | Subject: Re: [CENTRAL] In World So Small 5th September 2009, 15:42 | |
| Lia bisa merasakan seseorang mendekapnya, lalu mengusap kepalanya pelan. Tanpa harus bertanya lagi, Lia tahu itu pasti Shrei. Seharusnya sekarang ia senang karena Shrei memperhatikannya, tetapi entah kenapa air matanya masih tidak bisa berhenti. Rasa sakit di dadanya masih terasa menusuk-nusuk, membuat nafasnya terasa sesak.
"A... athair...." isaknya pelan, "...athair... meninggal..."
Mungkin kalimatnya tadi agak susah dicerna. Selain karena bahasa Inggrisnya yang buruk, ia juga sedang menangis dan pikirannya sedang kacau. Ia juga tidak terlalu berharap ucapannya dimengerti oleh sang General, karena toh ia hanya ingin melampiaskan kesedihannya saja sekarang. |
|  | | Shreizag E. Halverson Vatican Central

Posts: 580 Umur: 20 Pemilik: S.E.H. Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 29
 | Subject: Re: [CENTRAL] In World So Small 5th September 2009, 20:25 | |
| "A... athair...." isaknya pelan, "...athair... meninggal..."
Mata Shrei melebar mendengar pernyataan dari putrinya tersebut, Lía memang mengucapkannya dengan tidak jelas, kalimatnya terhalangi oleh isak tangisnya. Namun samar-samar Shrei dapat menangkap maksud dari kalimat itu.
Ayah yang dicarinya, yang dirindukannya selama ini, telah meninggal.
"......" tak ada kata yang keluar dari mulutnya, yang ada hanya dekapannya yang makin erat pada gadis Irlandia itu. Shrei mengerti perasaan Lía, bagaimanapun ia pernah mengalami kejadian yang sama. Waktu Raquel meninggal 9 tahun yang lalu juga, Shrei menangis hebat seperti ini. Ia menundukkan kepalanya, sehingga dagunya menyentuh puncak kepala Lía, salah satu tangannya masih mengusap kepalanya pelan. Wajah pria yang sehari-harinya terlihat dingin itu kini menunjukkan ekspresi kecemasan yang jelas.
Ia tak bisa meminta Lía berhenti menangis, atau menceritakan kejadian yang sebenarnya. Gadis itu butuh pelampiasan kesedihan sekarang, bukan yang lain.
Ya, ia tidak tahu dari mana Lía mendapat berita sedih itu, tiba-tiba pula. Yang pasti, pemuda berambut pirang di sebelahnya pasti tahu sesuatu... _________________ "l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour First. The Silver Ice |
|  | | Leonard Chezza

Posts: 78 Pemilik: Issei Akira Poin RP: 20
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Eropa Umur: 22
 | Subject: Re: [CENTRAL] In World So Small 5th September 2009, 22:09 | |
| Melihat bahwa yang baru saja datang adalah General Shreizag E. Halverson dan bagaimana General satu itu memperlakukan Lia, Leon bisa langsung mengerti situasinya. Tentu saja, baginya ini bukanlah situasi yang menguntungkan baginya. Bagaimana tidak? Bisa dibilang, ia baru saja 'mengacau' dengan salah satu Disciple dari seorang General yang sudah diakui kekuatannya (yaa, meski tidak sebarbar Giraile...).
"General Halverson," sapanya pelan. Campuran rasa hormat dan penyesalan terdengar dalam suaranya.
"Nama saya Leonard Chezza, Section Staff Diplomatic & Communication Department. Bisa dibilang... saya adalah kakak sepupu Liadan, sekaligus anak didik dari ayahnya. Maaf saya sudah membuat Liadan menangis. Saya... baru saja menginformasikan kematian paman saya kepadanya..." jelas Leon dengan nada menyesal. Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap ke arah Shrei, yang diyakininya pasti marah padanya.
"Aiféalach..." gumamnya pelan sambil menunduk lebih dalam. |
|  | | Shreizag E. Halverson Vatican Central

Posts: 580 Umur: 20 Pemilik: S.E.H. Poin RP: 20
Biodata Posisi: General Cabang: Eropa Umur: 29
 | Subject: Re: [CENTRAL] In World So Small 6th September 2009, 18:34 | |
| "General Halverson,"
Tepat setelah pikiran Shrei mengenai dari mana Lía mengetahui berita itu, pemuda yang diyakininya turut andil dalam kejadian ini angkat bicara.
"Nama saya Leonard Chezza, Section Staff Diplomatic & Communication Department. Bisa dibilang... saya adalah kakak sepupu Liadan, sekaligus anak didik dari ayahnya. Maaf saya sudah membuat Liadan menangis. Saya... baru saja menginformasikan kematian paman saya kepadanya..."
Pemuda itu mengutarakan fakta yang ada dengan cukup jelas. Jadi, selama mereka berdua bekerja di tempat yang sama, berbagi atap yang sama, mereka tidak tahu hubungan persaudaraan sampai saat ini. Entah kebetulan apa yang mempertemukan mereka dan apa yang membuat semua fakta ini terungkap, namun kadang-kadang takdir memang tidak bisa ditebak. Pantas saja Lía shock sampai menangis seperti ini; ia tidak siap untuk menerima berita itu.
Shrei mengangkat kepalanya, kemudian memandang pemuda berambut pirang pucat itu, "Kau bisa bisa bicarakan tentang hal itu di ruanganku." Ya, karena sekarang bukanlah saat yang tepat. Hal yang lebih penting sekarang adalah menenangkan Lía, Shrei tidak ingin gadis itu bertambah murung karena hal ini.
Satu tangannya yang tadi mengusap kepala Lía pelan turun ke pundaknya, kemudian tangannya yang lain mengangkat dagu Lía pelan, agar ia bisa langsung melihat ke matanya, "Lía..." ia menyeka air mata Lía yang berlimpah pelan, "Duduklah dulu," kemudian ia menuntun Lía untuk duduk di bangku terdekat, pria Norwegia ini lalu duduk di sebelahnya.
Isak tangis Lía belum berhenti, walaupun intensitasnya berkurang. Timcanpi yang tadi terlihat khawatir bertengger di pundak Shrei, kini pindah ke atas kepala Lía, berusaha menghiburnya juga. Shrei mengeluarkan sapu tangan dari tas pinggangnya, lalu memberikannya pada Lía. Samar-samar raut khawatir masih terlihat di wajah pria berambut putih itu, dengan seksama ia menunggu Lía mengucapkan sesuatu. _________________ "l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour First. The Silver Ice |
|  | | Líadan Ní Súilleabháin

Posts: 145 Pemilik: Agito Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 19
 | Subject: Re: [CENTRAL] In World So Small 6th September 2009, 20:40 | |
| Di sela-sela tangisnya, Lia bisa mendengar dengan jelas bisikan maaf itu. Kata itu seolah bergema di telinganya, bagaikan permintaan maaf yang tidak pernah usai. Aiféalach, aiféalach... Lia sendiri mengulang kata itu di dalam hatinya. Di sudut hatinya, ia akhirnya sadar bahwa ia juga sudah melukai Leon dengan mengatainya 'jahat'.
| Quote: | | "Lía... Duduklah dulu." |
Shrei, 'athair'-nya menuntun Lia ke salah satu bangku terdekat. Lia duduk di situ, dan Shrei pun mengambil tempat di sebelahnya. Lia juga bisa merasakan Timcanpi kesayangan Shrei mendarat di kepalanya. Lia merasa bahwa ia mendapatkan begitu banyak perhatian, sampai ia merasa malu sendiri sudah mengangisi apa yang tidak dimilikinya tapi lupa mensyukuri apa yang dimilikinya.
Shrei lalu menyodorkan sehelai saputangan pada Lia, yang langsung diterimanya dengan ucapan terima kasih yang pelan dan agak serak, karena ia baru saja menangis. Lia memakai saputangan itu untuk menghapus sisa-sisa air matanya yang masih mengalir perlahan di pipinya.
"...Shrei... Terima kasih..." gumamnya pelan. Ia sedang tidak ingin memanggil General-nya itu dengan panggilan 'athair', karena hari itu ia baru saja tahu bahwa ayah kandungnya meninggal, entah sejak kapan.
"Leon... Aiféalach..." gumamnya lagi tanpa melihat ke arah pria tersebut. Lia takut kalau ia menatap pria itu, ia akan menangis sekali lagi. Bagaimanapun juga, Lia masih ingat dengan jelas ciri-ciri ayahnya yang dijelaskan oleh Dáirine, dan ia merasa Leon sudah sangat mendekati ciri-ciri tersebut, kecuali usia dan warna matanya. |
|  | | Leonard Chezza

Posts: 78 Pemilik: Issei Akira Poin RP: 20
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Eropa Umur: 22
 | Subject: Re: [CENTRAL] In World So Small 8th September 2009, 12:01 | |
| | Quote: | | "Leon... Aiféalach..." |
DEG.
Leon merasa seolah jantungnya baru saja melompat dari rongga dadanya ketika ia mendengar satu kata yang diucapkan Lia dengan suara yang begitu pelan. Sebuah permintaan maaf, yang jelas ditujukan kepada seseorang yang bisa dibilang 'memonopoli' semua perhatian dari ayah yang tidak pernah dikenalnya sejak lahir.
"Jangan minta maaf padaku. Aku yang salah. Aku--" Leon kehilangan kata-kata. Ia tidak mampu menggambarkan perasaannya sekarang tanpa melukai perasaan Lia lagi. Ia mau mengatakan 'secara tidak langsung, akulah yang membunuh paman', tapi kalau ia sampai mengatakan hal seperti itu, Leon tidak yakin Lia tidak akan menangis.
"Pokoknya, aku minta maaf. Kamu tidak perlu minta maaf. Semuanya adalah kesalahanku," sambung Leon setelah terdiam agak lama.
Ia lalu berbalik, hendak berjalan keluar dari kapel. Leon merasa keberadaannya sekarang sedang tidak dibutuhkan di tempat itu. Malah kemungkinan lebih baik kalau ia segera pergi meninggalkan tempat itu. |
|  | | Líadan Ní Súilleabháin

Posts: 145 Pemilik: Agito Poin RP: 20
Biodata Posisi: Disciple Cabang: Eropa Umur: 19
 | Subject: Re: [CENTRAL] In World So Small 13th September 2009, 15:27 | |
| Mendengar suara kaki Leon yang semakin menjauh dan permintaan maafnya yang sempat terputus, Lia terdorong untuk bangkit dari tempat duduknya dan mengejar pria itu.
"Leon..." panggilnya pelan. Ia menarik lengan baju pria tersebut sampa ia berpaling padanya. Lia lalu menundukkan kepalanya, karena ia masih belum berani menatap langsung ke mata biru-hijau tersebut.
"Aku... seharusnya berterima kasih. Terima kasih sudah memberitahukanku keberadaan athair..." kata Lia pelan dalam bahasa Irlandia. Suaranya agak bergetar, dan Lia dapat merasakan bahwa matanya kini berair lagi.
"Kapan-kapan... kamu antarkan aku ke makam athair... dan kapan-kapan... kita pergi ke Irlandia... aku antarkan kamu ke makam mathair..." tambah Lia dengan suara bergetar. Air mata kembali mengalir di pipinya. Tangannya yang menggenggam erat lengan baju Leon juga gemetar hebat.
"...kapan-kapan, ya? Janji, ya?" sambung Lia dengan suara yang sudah hampir tidak jelas lagi. Ia lalu melepaskan lengan baju Leon sambil menarik nafas dalam-dalam untuk menghentikan tangisnya. Ia lalu mengelap air matanya dengan lengan bajunya, lalu memukul pipinya sendiri beberapa kali untuk membuatnya benar-benar berhenti menangis.
"Maaf sudah mengganggu..." kata Lia lagi, dalam bahasa Inggris. Wajahnya sudah kembali ke ekspresi datarnya yang biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. |
|  | | Leonard Chezza

Posts: 78 Pemilik: Issei Akira Poin RP: 20
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Eropa Umur: 22
 | Subject: Re: [CENTRAL] In World So Small 21st September 2009, 10:17 | |
| Melihat air mata gadis itu, dan ucapannya untuk sama-sama mengunjungi makam kedua orang tuanya, membuat Leon merasa ikut sedih dan tersiksa. Tapi yang membuatnya lebih terkejut adalah bagaimana gadis itu bisa mendapatkan kembali ketenangannya dengan cepat, seolah sebelumnya tidak pernah terjadi apa-apa. "Lain kali, kalau kita tidak sibuk, pasti kuajak kau pergi ke sana..." jawab Leon sambil tersenyum pahit. "Ah, saya harus segera bekerja lagi. Masih ada banyak dokumen yang harus saya urus. Liadan, General Halverson, saya permisi dulu." Leon menunduk hormat, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan kapel. Perasaannya terasa sedikit lega, meski akhirnya ia merasa tetap ada sesuatu yang menambat dan memberatkan hatinya. Tapi ia merasa ia akan baik-baik saja, karena ia kini memiliki saudara yang sesungguhnya di tempat sebesar itu. THE END |
|  | | | | [CENTRAL] In World So Small | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
|
|