An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
HomeFAQCalendarSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
 
Latest topics
» [AMERICA] Unusual Training
by Keith Warringstate 21st June 2011, 23:10

» English Free Talk
by Wilhelm U. Smith 19th February 2011, 21:17

» [Central] The History Might Have Recorded Us
by Fuchsia Scarlet 13th February 2011, 12:21

» [CENTRAL] Looking Around
by Lumiere A. Etoile 6th February 2011, 20:13

» [AMERICA] Tea Late at Night
by Felicia Miles 30th January 2011, 09:13


Share | 
 

 [CENTRAL] Offense, Defense

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2
AuthorMessage
Shreizag E. Halverson
Vatican Central


Posts: 580
Umur: 19
Pemilik: S.E.H.
Poin RP: 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 29

PostSubject: Re: [CENTRAL] Offense, Defense   27th August 2009, 15:32

Shrei yang sedang membaca buku sakunya merasakan desiran angin yang datang dari arah dua Jendral yang sedang berduel. Ia melirik ke arah tersebut, dan menyadari sebuah tameng tengah melayang menuju ke arahnya. Tanpa berpikir dua kali, ia mengelakkan badannya ke belakang, membiarkan tameng melalui lintasannya dan berputar kembali ke arah pelemparnya.

"....." Rupanya duel ini memang berpotensi membahayakan orang di sekitarnya. Coba bukan Shrei yang ada di sana, barangkali kepalanya bernasib naas karena berbenturan dengan Wirksamme Wille. Timcanpi yang tadinya dengan tenang bertengger di pundaknya kini berterbangan tak beraturan karena kaget dengan insiden mendadak tersebut.

Shrei meraih golem perak itu dan menaruhnya kembali di pundaknya, menenangkannya."Tenang, Timcanpi." Dengan itu, ia juga merasa bahwa membaca buku di situasi begini bukan merupakan pilihan yang aman dan ia kembali menyimpan buku itu di tas pinggangnya. Mungkin saja lain kali ia tidak seberuntung tadi untuk berhasil menghindar dari apapun yang akan datang ke arahnya.

_________________
"l'll make you the most beautiful lady in the world..." -- Shreizag E. Halverson, on his make up kit, to Giraile A. Asdvadzadour
First. The Silver Ice
Back to top Go down
View user profile http://sacchii.deviantart.com
Giraile Arevig A.
Vatican Central


Posts: 258
Pemilik: Chief
Poin RP: 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 28

PostSubject: Re: [CENTRAL] Offense, Defense   28th August 2009, 09:18

Giraile, yang sudah siap mengayunkan senjatanya, terhenti langkahnya melihat tindakan Ravel terhadap tamengnya; melemparnya. Giraile menengadah ke objek berbentuk lingkaran ini, perhatiannya beralih sesaat dari lawannya. Yang benar saja, apa General yang lebih tua darinya itu sudah gila?

'Tetapi...' Melihat berat dan ketangguhan Wirksamme Wille, Giraile rasa siapapun yang terhantam padatan logam seperti itu akan keluar dari arena pertarungan dengan lebih dari sekadar memar.

Ia mempersiapkan diri untuk menghindar tepat ketika Wirksamme Wille hendak mengenainya (dari pengalaman, ia sudah menemukan banyak contoh kasus serangan berbelok arah tiba-tiba jika menghindar terlalu cepat). Matanya membelalak heran begitu menemukan bahwa Innocence milik Ravel itu tidak tertuju padanya. Ia berbalik, dan menemukan Shreizag, yang sebelumnya keberadaannya tidak disadarinya. Apa yang si bodoh itu lakukan di lintasan terbang Wirksamme Wille?!

Secara refleks, ia berputar dan hendak berlari ke arah Shreizag, dan mulutnya bersiap-siap untuk menyahutkan peringatan pada rekan Generalnya ini, namun ternyata tidak ada yang perlu dikhawatirkannya. General berambut putih itu berhasil mengalihkan perhatiannya dari bukunya pada saat yang tepat. Giraile tersenyum kecut, satu sisi jahat dalam dirinya masih memendam hasrat melihat Shrei ditabrak tameng yang berat itu.

Hanyut dalam bayangan yang diproyeksikan sisi gelapnya, wanita Armenia itu pun telat menyadari bahwa Wirksamme Wille telah berbalik arah... ke dirinya. Tepatnya, ke pemiliknya, namun Giraile berdiri pada lintasannya, dan dengan proksimitas yang lebih dekat. 'Cih.' Tidak banyak yang bisa dilakukannya sekarang, dengan jangka waktu sedikit yang tersisa...

"Ugh!" ... Lantas, ia spontan menjatuhkan diri ke tanah, membiarkan gravitasi melakukan pekerjaannya untuknya. Ia menunggu beberapa detik... baik, dirinya belum bonyok akibat hantaman Wirksamme Wille; bisa dibilang upayanya berhasil, walau ini berarti ia harus menyuruh Abisak membersihkan debu dari jasnya... lagi.

Sekadar menjaga dirinya agar tetap di sisi aman, Giraile menunda kebangkitannya dari permukaan lantai, menengadah ke atas untuk mengawasi rute Wirksamme Wille.

_________________
"If at first you don't succeed... keep trying!"

passion, uncertainty-- her choice.
number01: the L O V E R S - part 1
Back to top Go down
View user profile http://infinite.inficio.info
Ravel Kohler
Vatican Central


Posts: 150
Umur: 20
Pemilik: masamune11
Poin RP: 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

PostSubject: Re: [CENTRAL] Offense, Defense   29th August 2009, 07:34

Ravel tersenyum.

Hei, memang tameng kesayangannya hampir menggilas Shreizag. Pria kawan dari Giraile itu sendiri juga seorang Jenderal bukan? Kalau begitu, menghindari hal tersebut merupakan hal kecil. Nah, setelah pria tersebut menghindar dengan mudahnya (oh, Ravel bisa melihat golem kecil milik jendral tersebut terbang tidak karuan), Wirksamme Willenya mengancam untuk melumatkan targetnya. Giraile segera menunduk ketika tamengnya itu hampir mengenainya.

Bagus.

Sekitar sedetik sebelum itu semua terjadi, Ravel sudah mengancang-ancang kakinya untuk berlari ke titik buta penglihatan jendral tersebut (baca: belakang. Claymorenya kini dipegang di tangan kiri dan langsung di arahkan pada jendral wanita tersebut, tepat di sebelah leher.

"Bagaimana menurutmu, Fraulein?" Ravel berkomentar. Di belakangnya, tameng milik pria ini menabrak dinding area latihan. Oh, mengapa Ravel begitu yakin kalau tamengnya tidak menabrak orang lain? Karena ia tidak mendengar jeritan manusia, tentu saja.

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Giraile Arevig A.
Vatican Central


Posts: 258
Pemilik: Chief
Poin RP: 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 28

PostSubject: Re: [CENTRAL] Offense, Defense   29th August 2009, 10:22

Wirksamme Wille tidak menunjukkan tanda-tanda akan berbalik ke arahnya. Giraile menghela napas dengan lega, berhasil menghindari objek yang lebih baik tidak menghantamnya itu. Namun, terlalu cepat baginya untuk menurunkan kewaspadaannya. Matanya membelalak begitu menyadari suatu hal yang luput dari pandangannya, dan ia pun hanya bisa mencapai satu konklusi.

'Di mana Ravel Kohler?!' batinnya. Ia mengutuk dirinya sendiri dalam hati karena kelengahannya. Seharusnya ia sadar bahwa tameng itu bukan serangan sebenarnya, melainkan sebuah distraksi. Yang jelas, jika ia ingin bisa menghindari serangan berikutnya Ravel, ia harus kembali ke posisi siap. Sekarang juga.

Telat; ia telanjur merasakan keberadaan suatu objek di belakangnya. Dengan cepat, ia pun menerka dengan hati miris; Ravel Kohler... dengan claymorenya, tentunya. Terarah pada punggung lehernya, bagus. Sekarang ia bisa mengutuk dirinya dua kali lipat, membiarkan seorang pponen menyergapnya dari belakang.

"Bagaimana menurutmu, Fraulein?"

'Sialan kau, Kohler...' Giraile tersenyum lebar, menipiskan bibirnya (sesuatu yang dilakukannya baik di saat senang ataupun tertekan seperti ini). Mengulur waktunya, ia mendeham sebelum merespon. Seraya tangannya merayap di atas permukaan lantai, mencari imitasi gada yang ditelantarkannya, ia berujar, "Hebat sekali, General... Hanya saja... semoga Anda belum menduga..."

Matanya membelalak, girang. Ia menguatkan genggamannya pada pegangan senjatanya, sebelum memutar balik badannya dengan cepat, berhadapan dengan Ravel. "... ini sudah checkmate. Mari kita teruskan."

... Walau demikian, di balik tantangannya yang lantang ini, Giraile merasakan jantungnya berdegup kencang. Bagaimanapun juga, pedang milik Ravel hanya berjarak beberapa sentimeter darinya, yang dalam kondisi merugikan karena dalam posisi terbaring di lantai. 'Jika aku tidak waspada, bisa jadi pertarungan ini menghasilkan korban jiwa...' Rambutnya yang memanjang mulai menjulur ke kaki Ravel, hendak melilitnya. Yang berbeda dengan penerapan strategi ini tadi adalah kali ini ia tidak memiliki advantage, sesuatu yang merugikan penyerang seperti dia.

Bagaimana jika tidak berhasil? Giraile menelan ludah memikirkan hal ini; ya, ia hanya berharap kemampuan bertarung dasarnya minus posisi menyerang yang benar akan cukup untuk menghadapi Ravel jika demikian. Walau dibilang tipe yang gemar pengambil risiko, Giraile masih sayang nyawanya.

_________________
"If at first you don't succeed... keep trying!"

passion, uncertainty-- her choice.
number01: the L O V E R S - part 1
Back to top Go down
View user profile http://infinite.inficio.info
Ravel Kohler
Vatican Central


Posts: 150
Umur: 20
Pemilik: masamune11
Poin RP: 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

PostSubject: Re: [CENTRAL] Offense, Defense   9th September 2009, 22:35

Demi pedang yang telah ditempa ayahnya dengan susah payah, mengapa wanita yang menjadi lawan bertarungnya harus ngeyel dan tidak menyerah saja? Oh, tunggu... Yang menjadi lawannya sekarang adalah Giraile Arevig Asdvadzadour, seorang jendral wanita yang tidak ingin dianggpa remeh, juga kepala batu. Lantas, melihat wanita ini membalikkan tubuhnya sembari memegang gada buatannya, alis Jendral ini terangkat. Beberapa helai rambut nona ini juga tampak tersebar di sekitarnya. Mencoba trik yang sama, nona?

'...Dalam satu gerakan, keadaan bisa berbalik...ya?'

Jendral pria ini mengerutkan dahi. Claymore-nya mengikuti gerakan Giraile yang rolling ke samping. Matanya terpaku tidak hanya pada senjata, namun pada sebaran rambut yang ada di sekitar kakinya. Ia dapat merasakan sebuah energi--innocence, kah? Yang pasti, situasi yang ia alami bisa menjerumuskannya pada situasi yang lebih buruk, kecuali...

...kecuali...

Pertama kalinya dalam latihan ini, Ravel tidak tersenyum--Claymore miliknya kali ini benar-benar siap menikam leher Giraile. Ketenangan yang ada pada jendral ini seakan hilang ditelan lautan api, karena pandangan Ravel seakan melihat Akuma yang hendak di'murnikan', bukan Jendral Wanita dari cabang sentral. Lepas kendali atas emosinya sendiri? Bisa saja bukan? Siapa pula yang tahu psikis dari Jendral yang sering tersenyum ini?

"Menyerah sajalah, Jendral Asdvadzadour." Kata pria ini datar. Senyum halus yang biasa ditampilkan tersebut menjadi sedikit agak sinister. Kakinya perlahan mencoba menjauhkan diri dari rambut Giraile (sebisa mungkin). Claymorenya sudah siap memotong kulit, seakan mengingatkan jendral wanita tersebut untuk menghentikan perbuatannya dalam mengunci gerakan Ravel sebelum lehernya sendiri putus.

"Aku tidak main-main."

Di belakangnya, Wirksamme Wille tiada lagi menyala.

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Giraile Arevig A.
Vatican Central


Posts: 258
Pemilik: Chief
Poin RP: 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 28

PostSubject: Re: [CENTRAL] Offense, Defense   13th September 2009, 09:51

Giraile merasa semakin geram. Apa maunya General yang satu ini?! Sebenarnya sudah cukup jelas; tampaknya, perasaan General yang satu ini terhadap pertarungan mereka berdua sama dengan milik dirinya. Wanita asal Armenia ini tidak ingin pertarungannya dengan Ravel Kohler berakhir begitu saja, namun ia jauh lebih menolak untuk mengakui kekalahan terhadap lelaki yang lebih tua darinya itu.

Ia sedikit tertegun melihat Ravel tidak memajang senyumnya lagi. Dan ketika senyum itu kembali, Giraile dapat merasakan sesuatu yang lebih sinister bernaung di sana. Er, mungkin itu juga efek dari pedang yang bernaung terlalu dekat dengan lehernya. "Menyerah sajalah, Jendral Asdvadzadour."

Ia membalasnya dengan senyum tipis yang sama sinister. 'Maumu, General.' "Hari ketika aku menyerah dalam suatu pertarungan adalah hari kau harus melangkahi mayatku, Ravel Kohler." Ia merasakan tarikan dari kaki Ravel yang menjauh dari jeratan rambutnya, namun Giraile tak sudi melepas. Merasa sulit menjaga erat ikatan pada bagian kaki, rambutnya ia julurkan ke arah torso Ravel.

"Aku tidak main-main." Tampaknya Ravel sudah tidak menganggap ini sekadar sebagai friendly spar lagi (bukan berarti Giraile menganggapnya itu; ia tidak pernah menganggap pertarungan apapun sebagai bersahabat). Ia menelan ludahnya. Semoga saja Ravel tidak sedemikian tega untuk benar-benar melangkahi mayatnya. "Tidak pernah aku berpikir demikian... General."

Ia mulai melilitkan helaian hitam legamnya pada bagian atas Ravel. Jeratannya masih lemah, tetapi... jika ia mengulur sedikit waktu... "Ravel Kohler," mulanya, berusaha mempertahankan senyum sepercaya diri mungkin. "Kuharap kau tahu juga, kalau aku tidak main-main." Tetesan keringat dingin menyusuri lehernya, yang berjarak hanya beberapa meter dari tikaman suatu claymore. Berupaya memberi emfasis pada ancamannya, ia melancipkan ujung-ujung beberapa kumpulan helaian rambutnya, mengetuk pelan punggung Ravel. Ia menahan senyumnya dari memudar. Jika ia harus jatuh, minimal ia harus membawa lawannya jatuh bersamanya.




[OOT: Why is it now that I think of tentacle raep... *brrr* orz]

_________________
"If at first you don't succeed... keep trying!"

passion, uncertainty-- her choice.
number01: the L O V E R S - part 1
Back to top Go down
View user profile http://infinite.inficio.info
Ravel Kohler
Vatican Central


Posts: 150
Umur: 20
Pemilik: masamune11
Poin RP: 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

PostSubject: Re: [CENTRAL] Offense, Defense   14th September 2009, 07:45

Tawa.

Gelak tawa mendadak memenuhi ruang latihan, membahana dengan nada agak sinis, di saat yang sama... gelak tawa rasa terkesan. Sesuatu membuat Ravel Kohler, salah satu Jenderal dari sektor tengah, tertawa. Tidak terbahak-bahak, namun tetap sebuah tawa yang tidak sempat diekspektasi. Has he gone mad? Mungkin saja, dibalik eksterior Ravel Kohler yang tampaknya kalem dan penyabar, ada sebuah entitas mengerikan yang mencintai bagaimana kulit tersobek karena sabetan Claymorenya... atau bagaimana tulang-belulang musuh remuk akibat hantaman tamengnya.

Tidak ada yang tahu, kecuali dirinya dan Yang di Atas.

"Langkah cemerlang, Jendral Arevig." Senyum sinister yang awalnya muncul tersebut kini bertransformasi menjadi sebuah senyum... tenang? Di saat ia berada di ujung tanduk, hampir mengetuk pintu kematian, pria ini hanya bisa tersenyum tenang. Tidak takut mati?

Atau ia mengharapkan kematian sejak lama?


Bagaimanapun alasannya, pria ini telah mencabut ancamannya sekarang; Claymore-nya tidak lagi terarah tepat ke leher wanita itu. Tidak, justru claymore tersebut sudah berada di sampingnya lagi. "Kau menang, Jendral."

Kalah dari wanita menghancurkan kebanggaannya sebagai seorang pria? Jangan salah; kekalahan baginya adalah ketika ia kehilangan ketenangan yang sudah lama ia bentuk. ...Mungkin, pada akhirnya pria ini tidak akan mendapat pengakuan, bahkan dari Innocence-nya sendiri. Siapa pula yang akan tahu, kalau ia akan menjadi The Fallen Ones dalam waktu dekat? Sekali lagi, tidak ada yang sadar... kecuali dia atau Yang Kuasa.

Karena ia lebih baik mati, daripada harus menjadi salah satu dari mereka. Mentalitas yang unik... bukan?

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Giraile Arevig A.
Vatican Central


Posts: 258
Pemilik: Chief
Poin RP: 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 28

PostSubject: Re: [CENTRAL] Offense, Defense   14th September 2009, 15:08

Deg.

Apa langkah berikutmu, Ravel Kohler? Senyuman yang memaksakan rasa percaya diri di wajah wanita Armenia itu seakan menantang Ravel untuk menjawab. Namun, yang ia dapat adalah--

--tawaan? Senyumnya benar-benar memudar kali ini. Dalam benaknya, ia hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri: apakah Ravel mendadak menjadi gila? Senyum mengerikan yang dipajang General itu berubah menjadi lebih tenang. Dan, yang membuat mata Giraile membelalak dalam seketika, lelaki itu mengesampingkan claymore yang hanya beberapa detik sebelumnya mengancam nyawanya. "Langkah cemerlang, Jendral Arevig."

Satu kata untuk mendeskripsikan Giraile saat itu; speechless. Ya, tanpa kata-kata. Mulutnya sedikit membuka, berusaha untuk menghasilkan suatu respon, namun tak satupun kata keluar. Yang berujar berikutnya adalah Ravel lagi: "Kau menang, Jendral."

"!!!" Ia pun melepaskan jeratan rambutnya dari Ravel, memendekkannya hingga hanya mencapai pinggulnya. Ia pun bangkit dari posisi menyebalkan yang membuatnya merasa inferior itu, ke posisi duduk, sebelum berdiri eye-to-eye dengan Ravel. Memprakirakan lelaki Jerman itu kehilangan minatnya pada pertarungan, Giraile tidak bisa menerima ucapan Ravel begitu saja. Ia mendesis, sebelum berujar geram, "Aku tidak tahu kriteriamu untuk memenangkan pertarungan apa, General. Yang aku tahu, pertarungan kita belum selesai. Mengapa kau menyerah?"

Ia tidak tahu apa yang bisa mengembalikan minat Ravel pada pertarungan. Berpikir singkat, ia memutuskan untuk menggunakan satu hal yang ia tahu akan membuatnya berusaha dengan segenap jiwa raganya: provokasi. Giraile mendengus, menyilangkan kedua lengannya. "... Jangan bilang kau takut melihat hasil dari showdown kita, General Kohler?"

_________________
"If at first you don't succeed... keep trying!"

passion, uncertainty-- her choice.
number01: the L O V E R S - part 1
Back to top Go down
View user profile http://infinite.inficio.info
Ravel Kohler
Vatican Central


Posts: 150
Umur: 20
Pemilik: masamune11
Poin RP: 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

PostSubject: Re: [CENTRAL] Offense, Defense   15th September 2009, 09:09

Ravel Kohler sudah menyingkirkan pedangnya dari wanita ini bukan? Ini artinya ia telah mengaku kalah. Sudahlah, terima saja fakta ini dengan lapang dada, Jenderal Arevig--bukankah tidak diperlukan sebuah alasan lebih lanjut agar seseorang menyerah? Mengapa mempertanyakan alasan seseorang menyerah, kalau kemenangan itu sendiri sudah menjadi sebuah tujuan bukan?

Itulah yang terjadi kalau-kalau Ravel mengalah ketika bertarung dengan exorcist biasa. Sayangnya, exorcist yang ia lawan kali ini adalah seorang Jendral sekaliber dengannya. Bukankah ia seharusnya masih bisa maju? Di belakang kepalanya, duduk berbagai macam cara untuk bisa membalikkan keadaan tadi. Namun, tak satupun dari ide tersebut direalisasikan. Mengapa?

Rasa takutkah?


Ia bisa merasakan bagaimana helai-helai rambut milik Giraile melangkah mundur, menjauhi target awalnya. Kemudian, wanita itu menanyakan sebuah hal yang agak konyol--mengapa pula menanyakan alasannya menyerah? Giraile sudah menang, sudha cukup sampai situ saja bukan?

"Aku tidak tahu kriteriamu untuk memenangkan pertarungan apa, General. Yang aku tahu, pertarungan kita belum selesai. Mengapa kau menyerah?"

Pria ini, sekali lagi, tersenyum--sebuah senyum yang... sedih? Atau justru snyum yang miris? Yang pasti, tafsiran orang lain bisa berbeda tiap meliaht senyum pria ini bukan?

"Kau menang. Bukankah itu cukup?"

Karena dia hampir melepaskan setan.


Wirksamme Wille bukanlah tameng yang dinamakan secara asal-asalan. Tameng itu dinamakan atas kekuatan keinginan dari seseorang, ketegasannya dalam mengambil tindakan, dan juga... ketangguhannya dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Di saat yang sama, Wirksamme Wille juga memiliki fungsi untuk melindungi orang lain--sebuah ketangguhan yang juga dibagi-bagi dan bermanfaat bagi orang lain.

Bagi Ravel, memegang Wirksamme Wille berarti memiliki kekuatan untuk menekan nafsu membunuhnya, juga menenangkan kekacauan yang ada pada sanubarinya. Sok sucikah dirinya? Bukankah ini adalah bentuk refleksi dari dirinya sendiri?

"... Jangan bilang kau takut melihat hasil dari showdown kita, General Kohler?"

Pria ini mendengus. Usaha untuk memrovokasikan dirinya, kah? Usaha yang lemah di mata Jendral pria ini. Ah, sudahlah--toh memang karakter dari jendral wanita ini memang demikian, jauh berbeda dengan jendral yang tadi duduk membaca bukunya di dekat pintu masuk itu, bukan?

"Der Showdown ist schon vorbei, wann Sie sich entscheiden nicht aufzugeben."

Alih-alih berkoar-koar untuk menyangkal pernyataan tersebut, beberapa patah kata malah meluncur langsung dari bibir pria ini, semuanya dalam bahasa Jerman yang mungkin tidak dimengerti oleh Jendral wanita teresebut. "Ada banyak alasan mengapa seseorang harus menyerah, bukan?"

Pria ini membalikkan badannya dan berjalan ke arah Wirksamme Wille yang sudah tidak bersinar lagi, kembali pad awujud tameng pada umumnya. Pertanda buruk? Tergantung bagaimana pria ini menyikapinya, bukan? Dengan gontai, pria ini pun mengambil tameng kesayangannya, sadar bahwa apa yang terjadi sama sekali bukanlah hal yang baik.

Setan. Ia tidak cocok memegang Innocence miliknya lagi, karena ia hampir melepaskan setan yang ada dalam dirinya. Ketenangan dari mana, kalau ia sendiri tidak bisa menjaga dirinya dari setan itu?




OOT: sori, agak webe...

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Giraile Arevig A.
Vatican Central


Posts: 258
Pemilik: Chief
Poin RP: 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 28

PostSubject: Re: [CENTRAL] Offense, Defense   19th September 2009, 12:31

"Kau menang. Bukankah itu cukup?" Keterlaluan; memang ia pikir, kemenangan yang tidak diraih dengan usaha sendiri bisa dipanggil kemenangan? 'Kau salah, General.' Namun, General wanita itu tidak mengutarakan pemikirannya spontan, terhenti oleh frase yang dilontarkan oleh Ravel--dalam bahasa Jerman, bahasa yang asing baginya. "Ada banyak alasan mengapa seseorang harus menyerah, bukan?"

Tidak, bagi Giraile, tidak ada satupun alasan yang bisa menjadikan menyerah opsi yang patut.

Tetapi, Giraile bukan Ravel, dan begitu pula sebaliknya. Mungkin masih ada satu dekade sebelum ia bisa memahami perasaan lelaki itu, jika mungkin baginya untuk mengerti General berkebangsaan Jerman itu. Wanita itu tersenyum kecut--"Sialan kau, Ravel Kohler." Ia mengambil belati kecil dari kocek jubahnya, memangkas rambutnya hingga lurus pada ujungnya.

Giraile mengeluarkan kain putih yang hendak digunakannya untuk membalut rambut hitamnya. Memadatkan rambutnya yang kini hanya mencapai pinggul hingga menjadi 'garis' lurus dengan diameter seminim mungkin ia mulai melilitkan kain itu pada Martakan T'el. Terlihat sosok Ravel yang mengambil Innocence miliknya sendiri dari lantai. "Apa yang hendak kau lakukan sekarang?"

_________________
"If at first you don't succeed... keep trying!"

passion, uncertainty-- her choice.
number01: the L O V E R S - part 1
Back to top Go down
View user profile http://infinite.inficio.info
Ravel Kohler
Vatican Central


Posts: 150
Umur: 20
Pemilik: masamune11
Poin RP: 20

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 36

PostSubject: Re: [CENTRAL] Offense, Defense   13th October 2009, 17:15

"Sialan kau, Ravel Kohler."

Sesuatu dalam dirinya ingin terkekeh; pertama kalinya, setidaknya dalam markas ini, ia dicaci dengan satu kata tersebut. Pastinya, bila kata tersebut keluar dari bibir sang jendral wanita, Ravel tidak akan heran--hei, kata-kata umpatan memang sering keluar dari bibir sang jendral wanita, baik dalam bahasa sehari-hari ataupun dalam bahasa ibunya.

Alih-alih terkekeh, pria ini memilih untuk mendiamkan umpatan dari Giraile. Tangan kanan memegang Wirksame Wille yang terasa dingin dan berat di tangan kiri. Dahi mengerut, sementara garis bibir melengkung cembung.

Berapa lama lagi?

"Apa yang hendak kau lakukan sekarang?"

"..." Tangan kirinya menaruh menggendong claymore kebanggaannya dan mengaitkannya di belakang punggung. Masih membelakangi Giraile, tangan kanannya pun menaruhkannya di belakang--sama seperti posisi semula.

"Pergi mengunjungi seorang teman."

Pria ini tidak menghadap sang jendral wanita. Ia bahkan tidak mengacuhkan keberadaan Shreizag yang duduk tak jauh dari pintu keluar ruang latihan. Di pikirannya hanya satu orang yang terbayang.

Theodora Xena. Ia harus bertemu dengannya--sekarang.

[OUT, mungkin nyambung ke Loneliness? *dilempar*]

_________________
"Let the sourest apple ripens; you'll see its true colors."
"Oh, Ravel... You and your words..."
"You know it's true, even more than I do."
"Perhaps."



The Original ID of masamune11, The Contemplative General
Back to top Go down
View user profile http://www.kecoakuning11.wordpress.com
Giraile Arevig A.
Vatican Central


Posts: 258
Pemilik: Chief
Poin RP: 100

Biodata
Posisi: General
Cabang: Eropa
Umur: 28

PostSubject: Re: [CENTRAL] Offense, Defense   15th October 2009, 14:05

Giraile mengangkat alisnya. Mengunjungi seorang 'teman'? Entah mengapa, ia merasa ada suatu makna yang lebih di balik kata 'teman' itu. Ia tidak dapat membayangkan Ravel Kohler sebagai tipe orang yang mendatangi seorang teman sekadar dengan alasan berkunjung, yang jelas. Jendral yang lebih tua darinya itu meninggalkan arena latihan, dengan kondisi tak memperhatikan sekelilingnya.

Dahi Giraile mengerut. Apakah ia, atau Ravel Kohler sendiri telah berbuat sesuatu yang salah?

Ia berjalan ke arah rekan jendral yang satunya, Shreizag Halverson. Tangan kirinya bertumpu pada pinggulnya, seraya ia mengajukan pertanyaan, tetap dengan ekspresi yang merenungkan keadaan Ravel, "Hoi, bangsat. Mau tetap di sini?" Bukannya apa-apa, tetapi setelah dua tahun bersama Shreizag, Giraile merasa... janggal saja bila ia meninggalkan arena latihan juga tanpa lelaki Norwegia itu.

_________________
"If at first you don't succeed... keep trying!"

passion, uncertainty-- her choice.
number01: the L O V E R S - part 1
Back to top Go down
View user profile http://infinite.inficio.info
 

[CENTRAL] Offense, Defense

View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 2Goto page : Previous  1, 2

 Similar topics

-
» 01 - New Central
» Central Harmony
» The Best Defense is a Good Offense [Tag: Zurg]
» Ethiopian National Defense Force
» Goths and Self-Defense

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Black Order Archives :: Bookman's Records-
Forum free | © phpBB | Free forum support | Contact | Report an abuse | Free forums