An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
 
Home­FAQ­Calendar­Search­Memberlist­Usergroups­Register­­Log in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Februari 1880

[CENTRAL] musim dingin, bersalju dan hawa menusuk

[ASIA] musim dingin, sejuk namun kering

[AMERICA] musim dingin, badai salju di akhir bulan

[AFRICA] musim dingin, sedikit salju di awal bulan

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld

Aria Academy High School Fighter Role Play Forum

Don't be shy, affiliate with us!
   
Latest topics
» [AU] Empty Time
by Li Lian Jie 30th August 2010, 14:09

» En Beskrive Bok
by Ethan Hartmann 28th August 2010, 15:00

» [AMERICA] Tea Late at Night
by Tristan Agthoven 26th August 2010, 09:05

» Shena Cherkesovich Medvedev
by Shena C. Medvedev 18th August 2010, 19:28

» [CENTRAL] Pengakuan Dosa (part 2)
by Nikolai Mikhailov 18th August 2010, 15:25

Post new topic   Reply to topicShare | 
 

 [REGISTER] Firstly First

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2, 3, 4
AuthorMessage
Frederick Ulrich



Posts: 4
Umur: 17
Pemilik: Male

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 25

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   8th February 2010, 23:11

Spoiler:
 



Frederick mengancingkan kemejanya lalu menarik naik celana panjangnya. Dilanjutkan dengan dipasangnya pemberat-pemberat berbentuk lapisan ornamen abu-abu pada bagian pahanya, dan dengan disibaknya rambut Frederick ke belakang. Ya, hari ini dapat dilihat kalau rambutnya – jauh – lebih panjang dari biasanya, tentu saja dengan sebuah alasan.

Sekarang berpindah dari sosok yang malah mengenakan jas dokter – bukan jubah bepergian yang cukup berbeda dari jubah bepergian biasa – itu ke tempat Junker muda itu berdiri; sebuah kamar sederhana untuk ukuran normal untuk sepasang kekasih – atau mungkin, lebih tepatnya, suami-istri – lengkap dengan lemari pakaian, sebuah kabinet dan meja rias, dan tentu saja, sebuah ranjang… yang sedang ditiduri oleh sesosok jelita berambut pirang panjang dengan pakaian minim. Oh, begitu pulas wanita itu terlelap di sana, tanpa menyadari apa yang baru saja terjadi padanya.

Kembali ke Frederick yang sekarang sudah rapi kembali dengan penampilan seorang dokter berambut merah dengan mata abu-abu kehijauan; pria itu memamerkan senyum khasnya yang tidak begitu terlihat seperti senyum kepada semua benda yang berada di dalam kamar itu – ya, benda, karena dia yakin tidak ada orang lain di kamar itu selain dirinya dan wanita berambut pirang yang kabarnya sudah bersuami itu – sambil mengingat kembali persiapannya yang tidak sedikit yang hanya akan dipakai selama beberapa menit saja pada malam ini. Bagaimana dia mencari daun-daun pohon Nut, dan menghindari kontak dengan siapapun selama 15 hari (sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan di dalam Markas Cabang Afrika-Timur Tengah) untuk memanjangkan rambutnya serta mengecat rambutnya menjadi merah. Tidak hanya itu, Frederick tahu benar langkah-langkah yang harus dijalaninya sampai sebulan kemudian; kembali “menghilang” dari peradaban, dan kembali muncul dengan alasan yang tepat. Mungkin dia akan mengambil cuti singkat untuk beristirahat barang sejenak di kota Istanbul, sesuatu yang tidak berlebihan dan kemungkinan besar akan dikabulkan oleh Supervisor Markas Cabang Afrika-Timur Tengah yang kabarnya selalu mendukung kegiatan-kegiatan para stafnya di markas cabangnya.

Tidak berlama-lama lagi di kamar itu, Frederick mengintip dari lubang yang terdapat di pintu, memastikan bahwa orang yang diantipasi Frederick belum muncul dalam pandangannya, lalu beranjak mendekati sosok jelita bermata biru jernih di ranjang. Pria berambut merah itu menelusuri helai-helai rambut pirang sang wanita, lalu mengecup pipi sang wanita sebelum berbalik kembali menghadap pintu. Satu tangannya menyambar tongkat berjalannya, dan sekali lagi Frederick mengintip keluar.

Aman,’ gumam Frederick tanpa bersuara. Tentu saja dia tidak ingin membangunkan wanita yang tertidur pulas tadi dengan keributan kecil yang tidak diperlukan, dan jujur saja, meskipun Frederick terlihat siap untuk meninggalkan kamar itu, sebenarnya kakinya masih enggan untuk beranjak. Jarang-jarang dia bisa mendapatkan kesempatan langka seperti ini, dan setelah menghabiskan waktu beberapa menit saja, Frederick sudah harus pergi tanpa jejak. Ingin rasanya Frederick meninggalkan barang setangkai mawar putih atau bunga kaktus yang baru mekar di meja rias yang terletak di sudut yang lain dari kamar itu, tetapi itu berarti dia akan membongkar kedoknya sendiri.

Akhirnya, setelah memantapkan pikirannya dengan beberapa tarikan nafas pelan namun dalam, Frederick membuka pintu dan segera melesat keluar dari kamar itu, hanya untuk berhenti sejenak ketika telinganya menangkap gelombang suara mirip desahan yang berasal dari ranjang di dalam kamar tersebut.

Vodete…

Demikianlah desahan singkat itu menghentikan langkah Frederick sejenak supaya pria itu dapat menoleh dan mendapatkan wanita berambut pirang itu hanya mengigau saja. Tentu saja Frederick dapat menirukan suara sang suami, tetapi setelah melihat intensitas cinta di antara kedua insan tersebut, Frederick lebih memilih untuk langsung beranjak dari tempat itu. Dapat dikatakan, meskipun kejadian beberapa menit yang lalu sangat memuaskan dirinya hingga dadanya terasa mengembang, tetapi mungkin untuk pertama kalinya Frederick Ulrich merasa muak menggunakan kemampuan menyamarnya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya hingga dadanya yang mengembang itu terus mengembang hingga rasa sakit menelusup di antara rasa puas dan bangga yang memenuhi jiwanya.

Dan pilihannya itulah yang dijalaninya. Setelah sosok wanita berambut pirang itu kembali berbalik memunggungi pintu, Frederick segera mengangkat kaki kanannya yang masih berada di dalam kamar dan menutup pintu dengan lembut, sebelum melesat meninggalkan tempat itu. Meskipun dia sudah lumayan terbiasa dengan ketegangan yang sekarang memenuhi rongga dadanya, namun setelah melihat perlakuan sang suami kepada orang-orang yang berani menggoda wanita berambut pirang itu, Frederick jelas harus lebih berhati-hati – apalagi dengan sempitnya ruang gerak pria Jerman itu.

Semoga saja dalam perjalanannya ke menara pengawas terdekat di Markas Cabang Afrika-Timur Tengah, dia tidak bertemu dengan pria bernama Vodete itu. Dengan topeng putih polos terpasang pada wajahnya, Frederick pun segera melesat cepat melintasi koridor-koridor markas cabang yang desainnya eksotis itu.

Hei, kau di sana? Mengapa terburu-buru sekali?

Tiba-tiba seseorang menyapa Frederick yang langsung membeku di tempat. Ya, mudah sekali untuk menebak identitas orang itu mengingat bagaimana tangan takdir sering mempermainkan Frederick muda, apalagi karena beberapa menit yang lalu, Frederick berkali-kali menirukan suara yang mulai akrab di telinga pria Jerman itu.

Vodete [Radimirovich] Vladislav.


Spoiler:
 
Back to top Go down
View user profile http://Malesishere.wordpress.com
Kim Soo Ki



Posts: 5
Pemilik: LLJ

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 13

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   10th February 2010, 10:13

Dang! Begitulah bunyi khas ketika logam bertemu dengan palu besi. Dengan mantap, Soo Ki memberikan pukulan pamungkas pada hasil karyanya. Cengiran kepuasan merekah di wajahnya yang belepotan jelaga. Dan akhirnya, dia bisa meletakkan palu besar seberat empat kilogram itu di lantai dan, ya, mengangkat hasil kerjanya tinggi-tinggi. Tingkahnya seperti seorang yang baru saja memenangkan kejuaraan bela diri.

Coba tebak, apa yang barusan dia buat?

Sepertinya akan sulit baginya untuk menghilangkan cengiran polos yang tersungging lebar-lebar di wajahnya ini. Gairah kebanggaan menguasai dadanya, membuncahkan rasa panas. Temuannya ini memang sangat sederhana dan hanya merupakan barang modifikasi, tapi ia telah merasa seperti seorang pahlawan. Hehe~ anak-anak boleh bermimpi, kan?

Soo Ki menyeka hidungnya, menambah seoles jelaga lagi yang dibawa punggung tangan kanannya. Meski demikian, keimutan wajahnya sama sekali tidak tersamarkan. Sorot mata dan cengiran miliknya itulah penyebabnya.

Tak puas-puasnya dia memandangi helm aneh dengan dua kaca pembesar diikat berdampingan membentuk sebuah kacamata raksasa. Helmnya ini merupakan jalinan tiga buah sabuk kulit yang dikuatkan dengan kawat dan rotan. Diberinya selembar kain yang diatur sedemikian rupa dan memfungsikannya sebagai pengaman kepalanya agar tak terluka ketika mengenakan helm modifikasi ini. Lalu apa gunanya sepasang kaca pembesar yang menggantung di depan matanya itu? Tentu saja untuk membantunya melihat benda-benda yang ukurannya kecil. Misalnya komponen penyusun Talisman. Memang, mata Soo Ki masih awas, tapi dia pegal juga kalau terus-terusan memicingkan mata dan membungkuk untuk mendekatkan jarak pandang.

Yosh~ dengan begini, dia tak akan mengalami sakit leher dan punggung lagi! Soo Ki terkekeh geli.

Kemudian dia segera memakainya. Tak sabar rasanya ingin segera menunjukkan hasil kerjanya ini ke seluruh penghuni Black Order. Hohoho.

Agak kebesaran ternyata ketika Soo Ki melesakkan helm itu dengan ubun-ubunnya. Setiap kali dia menjejakkan langkah ketika berjalan, helm itu akan berguncang dan miring. Tapi, untuk saat ini, siapa yang peduli?

Penuh semangat, Soo Ki berlari sambil tertawa-tawa, memulai petualangan kecilnya di dalam Black Order cabang Asia.

Lihat apa yang kubuat!

_________________
왜냐면 난 아무것도 특별한 내가 다시 보지 않습니다
"I don't look back, because I have nothing special there."

Li Lian Jie's 5th Chara -- The Boy without History
Back to top Go down
View user profile
Rufina Kviscanova



Posts: 12
Pemilik: Kumohare[n]

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 23 y.o.

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   20th February 2010, 23:40

Siang itu panas, matahari bersinar dengan terik dan menembus dedaunan rindang di pekarangan. Namun seakan mengabaikan sang surya yang bersinar dengan gagah, angin tetap berhembus, perlahan, menerbangkan semua yang ia lewati—debu, pasir, riak air, pakaian di jemuran, daun, rambut wanita. Cuaca seperti ini selalu membuatnya mengantuk. Sejenak menutup mata dan tangannya mengusap sedikit ujung-ujungnya seolah ada debu yang masuk. Ia terduduk di teras antara tanah halaman dengan lantai. Tempat yang bukan miliknya, tapi juga miliknya. Dan sejenak senyumnya sedikit mengembang bersamaan dengan udara segar yang masuk ke dalam paru-parunya.

“Panas, eh?”

Suara yang cukup familiar di telinganya itu bahkan tidak sanggup membuatnya berpaling. Toh pemilik suara itu hanya rekan kerjanya, bukan seseorang yang tidak ia lihat selama berbulan-bulan, kan? Mungkin maksud kedatangannya ke sini paling hanya ingin menjahilinya dan tidak pernah lebih karena biasanya memang begitu. Bagusnya pemuda itu tidak pernah melakukan apapun padanya. Lagipula pemuda itu sendiri sudah bisa membayangkan apa yang akan ia dapat jika melakukan pelecehan lagi.

“Tidak, anginnya sejuk, kok,” suara alto gadis itu terdengar tajam. Jelas sekali ia malas berbicara. Pemuda itu tidak melihat bola mata sang gadis yang tampak menajam karena kesal. Matilah—pasti setelah ini banyak kalimat yang keluar, deh. “Oh ya? Matahari bersinar sangat terik, kamu pasti kepanasan. Masuklah. Sayang kalau kulitmu yang indah itu sampai terbakar matahari, kan?” tersenyum timpang. Suka-suka dia mau terbakar matahari atau tidak dasar lelaki kurang ajar. “Sebentar lagi waktu makan siang,” lanjutnya, kali ini dengan tangan “nyasar” di pinggang si gadis. Tampaknya ia belum kapok, eh?

‘DUKK!’

Semoga saja kepalanya itu benjol.

Sebuah tendangan kembali diarahkan ke kaki pemuda yang tampak meringis itu oleh si gadis pirang yang kembali duduk di teras. Kali ini ia termenung, tidak mendengar entah apa yang diucapkan pemuda sesama staf manajemen itu. Telinganya seakan tuli, ditulikan oleh suara angin. Sedang dalam masa terpuruk kah dia? Tidak, siapa bilang ia terpuruk? Ia baik-baik saja kok. Gadis Eropa ini selalu baik-baik saja di hadapan siapapun. Namun ada juga kan saatnya dia untuk melamun dan memikirkan hal lain?

Cuaca seperti ini, latar belakang ini. Entah kenapa otaknya merasakan sesuatu yang ganjil. Familiar. Nostalgik. Pernahkah ia merasakan hal ini dulu? Tapi kapan, di mana dan dengan siapa? Sekeras apapun otaknya mengingat, hasilnya tetap saja nihil. Tidak ada yang berhasil ia tarik kembali dari masa lalunya, bahkan namanya pun tidak. Sekarang ia adalah Rufina Kviscanova. Tapi sedang apa dia sekarang? Adakah yang sadar irisnya menatap kosong?

”—Nate,”

“...Tris?”


Nama siapa itu?




((OOC: emo mode on. gyaaaaaah =)) sedikit meminjam Lilo di paling belakang itu tuh *tunjuk-tunjuk* dan dengan ijin PM ybs :9 ))
Back to top Go down
View user profile
Coreen L. M Nostrofo



Posts: 6

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 13 y/o

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   24th February 2010, 18:51

Satu.
Putar, putar, pangeran berputar.

—Caelan deartháir*

Dua.
Lari, lari, burung cilik itu berlari.

—Crevan deartháir*

Tiga.
Jatuh, jatuh, burung cilik itu terjatuh.


"Coreen!"


"....!"

Terkejut. Merasakan bulir demi bulir keringat mengalir turun di sela wajah mungilnya. Dimana ini? Bola mata biru cerah itu berputar, berusaha mencari jawaban atas dirinya yang terbangun sekali lagi dalam mimpi mengerikan tersebut. Mendapati ruangan dengan aroma khas yang sudah dikenalnya, tempat yang menjadi kehidupannya saat ini sebagai seorang staf di Cabang Asia yang ia tempati. Taman, ah ya kembali teringat bahwa tujuan awalnya ke sini hanya untuk mencari udara segar, memilih koordinat duduk tepat di bawah rindangnya salah satu pohon besar yang merupakan tempat kesukaannya tak lama setelah mencapai tempat ini.

Tak menyangka berlanjut hingga tertidur seperti ini.

Lesha masih berada dalam pangkuannya, memang sengaja ia bawa tadi, sebenarnya bukan hanya tadi mengingat ia memang selalu membawa sosok sang boneka perempuan bersuraikan pirang ikal, wajah khas halus layaknya manusia dengan gaun merah muda magenta sedikit renda putih. Benda terakhir yang tersisa dari insiden mengerikan tersebut, ia tak mengingat persis apa yang terjadi ketika itu hanya saja adegan ketika satu persatu anggota keluarganya terbunuh masih jelas terpasung erat dalam ingatannya. Karena itu juga tak jarang sekelebat bayangan mengerikan itu kembali muncul kan?

—seperti tadi?

Terbersit kembali apa yang tak sengaja memasuki alam mimpinya. Bergidik, menggelengkan kepalanya, ia tak mau mengingatnya lagi, setidaknya kejadian itu sudah lama terjadi dan bukan waktunya untuk terus terlarut dalam kesedihan secara terus-menerus seperti ini kan? Terkadang gadis belia ini membenci kegiatan tidur yang menurut orang lain dapat memberikan kesegaran di kala fase setelah kegiatan tersebut terjadi. Tapi kalau pada akhirnya bayangan itu kembali datang ia lebih memilih untuk menjaga dirinya walau rasa kantuk menyerangnya bertubi-tubi.

Sedikit memainkan lengan Lesha, memberikan sentuhan kehidupan seakan sang benda mati dapat hidup dengan lontaran kalimat yang ia ucapkan, tentunya bukan dari sang boneka sendiri. Ia bukan seorang exorcist seperti layaknya para exorcist yang ada di Cabang Asia yang ditempatinya, mereka hebat-hebat dengan kemampuan macam itu dan beban yang mereka tanggung tentunya juga akan semakin besar seiring dengan misi mereka bukan? Ia hanya mengeluarkan suara bukan dari bibirnya, jadi terlihat seperti bukan dari suaranya sendiri.

"Cory?"

Menoleh.

Panggilan yang tak asing di telinganya, hanya seorang yang memanggilnya seperti itu. Ia masih tengah terduduk di tempatnya, mengamati secara rinci sosok yang amat dikenalnya, yang merupakan satu-satunya orang yang menyertainya ke tempat ini. Ya, setidaknya ia masih mempunyai keluarga. Keluarganya di Cabang Asia.

"Ryou gē"*

Dan ia tersenyum, senyum murni dari dirinya.




OOC: Aneh nih, webe pula, gaje ah, btw sekalian sedikit memunculkan akun Ryeo. Ah ya sedikit credit dari Nanaki The Psychic Power.
deartháir: older brother
: older brother too.

_________________
I was alone and will always be alone.
Is anyone here to me?
I'm lonely.
Come and go with me, in this loneliness hell.


-Set by Mrs. Arisatou, again, many thx to you mom-
Back to top Go down
View user profile
Magna Aspinella



Posts: 11
Pemilik: Eri

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 25 tahun

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   19th March 2010, 22:22

Hari masih subuh. Bahkan ketika matahari baru saja muncul, Magna baru keluar dari kamar mandi. Sosoknya yang telah dibalut kaos putih polos dan celana panjang hitam, terlihat begitu tomboy. Siapa mengira bahwa sang dara bersurai pirang sempurna tersebut sebelumnya pernah menjadi figur puteri nan anggun tanpa terlihat celah kejelekannya sedetikpun? Yah, tapi itu 'kan dulu. Sekarang dia hanya seorang perempuan biasa, seorang Exorcist. Sosoknya yang sekarang sama sekali tidak terlihat aneh di hadapan penghuni markas Black Order.

Bersenandung kecil, dia mulai mengenakan seragam atasannya yang berwarna hitam legam dengan aksen putih dan corak Rose Cross. Barulah kemudian rambutnya disisir dengan lembut —kebiasaan satu-satunya yang tak pernah terlupakan setiap pagi. Di depan cermin, Magna memulai ritual sebelum keluar dari kamar, memasang senyuman yang sangat ceria, melihat wajah cerianya sendiri di depan cermin. Mottonya untuk memulai hari dengan senyum memang selalu manjur untuknya. Kebahagiaan dari hari ke hari selalu diyakininya karena memulai segalanya dengan senyum dan berfikir positif. Itu adalah make up-nya setiap pagi, tak perlu bedak, maskara dan segala tetek bengek lainnya.

Puas dengan senyam-senyum, barulah sang dara keluar dari kamar. Kali ini, ada ritual kedua membuat hari jadi lebih bahagia selain senyum. Tepat ketika berpapasan dengan orang lain siapapun itu, dengan sabit yang tak lepas dari wajahnya, Magna berkata, "Selamat pagi~"

Mau mencoba ritual Happy Day a la Magna?


Last edited by Magna Aspinella on 17th June 2010, 22:41; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Tristan V. Illumina



Posts: 3
Umur: 16
Pemilik: Hada

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Amerika Utara - Selatan
Umur: 17

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   4th May 2010, 10:44

Timeline : Test terakhir Tristan di Black Order.
Setting : Black Order Amerika Utara - Selatan,Battle Arena,Tristan Room.
Time : 08.00 Am
Weather : Rain
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hujan sangat deras walaupun sudah menjelang pagi entah kenapa hari ini matahari enggan menampakkan cahayanya saat itu. Tristan terbangun dari tidurnya dan membuka jendela kamarnya 'Huft...masih hujan entah kenapa setiap kali aku mendapat mimpi buruk selalu hujan.' ujar Tristan dalam hati,ia mulai berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan dirinya karena hari ini adalah hari dimana ia menjalani test terakhir sebelum di akui sebagai exorcist di Black Order.

Merasa segar ia mulai mengenakan seragam excorcist yang sudah dimodifikasi untuk kenyamanan dirinya memakai seragam itu. Waktu yang di tunggu sudah tiba Tristan mulai berjalan dari kamarnya ke Battle Arena yang masih di basahi oleh air hujan.

'Battle Arena tempat di mana aku berlatih selama ini mudahan saja test terakhir ini menjadi test yang menegangkan' ujar Tristan dalam hati,Tristan berada di depan gerbang yang menuju battle arena di depan pintu ia bertanya pada instructor apakah dia yang menguji Tristan untuk test terakhirnya,instructor itu melihat Tristan dan berkata "ikutlah denganku" ujar instructor dengan nada serius,instructor itu membuka pintu Battle Arena yang masih di basahi oleh hujan, Tristan berjalan mengikuti instructor yang mengujinya ia melihat instructor itu menuju bagian tengah Battle Arena dan mengeluarkan pedangnya "lawan aku jika kau bisa mengalahkanku aku akan memberikanmu hadiah yang spesial" dengan senyum yang sangat mencurigakan,Tristan berjalan ke arah instructor yang mengujinya dan mencoba mengaktifkan innocence nya yang berbentuk sebuah loket.

Tristan mencoba memanggil kekuatan innocence nya tetapi entah kenapa loket itu tidak merubah bentuknya dan tiba - tiba sekelilingnya berubah menjadi hitam dan terjadi sebuah flashback dimana keluarganya di bunuh oleh serangan akuma. Tristan memegang kepalanya dan menjadi shock ia berlutut di tanah dan berteriak " HENTIKAN SEMUA INI...!!!! MIMPI BURUK INI HENTIKAN SIAPA PUN KAU HENTIKAN INI....!!!" Tristan menjadi orang yang sudah kehilangan akal sehatnya,sekali lagi flashback itu terjadi dan menampilkan dimana ia mau lari dari kejaran akuma dimana Sera terjatuh dan menjadi lumpuh Tristan mulai meneteskan air mata dan berkata "Tolong hentikan aku tidak mau melihat ini semua.." air mata tristan jatuh ke tanah dan tidak lama setelah itu ia melihat suatu cahaya.

"Bangun dan Berjuanglah"

"huh siapa itu" tristan bertanya - tanya dari mana datang suara itu,cahaya itu semakin dekat dan mulai membentuk sesuatu.

"Siapa aku...? Aku adalah belahan dirimu yang di terbuat dari kekuatan instructor di depanmu"

Tristan berdiri dan menatap cahaya itu ia melihat bayangan dirinya tetapi bayangan itu terlihat sangat normal dan bisa dibilang ceria karena itu adalah belahan dari hatinya yang tidak tercemar oleh kegelapan masa lalunya. Tristan mulai menyadari bahwa ia harus mengalahkan kegelapan di hatinya untuk mengendalikan innocence miliknya Tristan meminta pada belahan dirinya "Berikanlah aku kekuatan untuk mengalahkan kegelapan dalam hatiku" ujar Tristan kepada belahan dirinya.

"Kekuatan..? kau sudah mempunyai kekuatan itu dalam dirimu percayalah pada hatimu.."

Belahan dirinya pun menghilang dan sekeliling Tristan pun berubah menjadi normal. Tristan mulai berdiri dan menatap instructor dengan mata yang bersinar - sinar innocence yang berbentuk loket yang ada di dadanya mulai bersinar dan Tristan pun berkata dengan senyuman yang sangat menyeramkan.

"Estoc..Activate"

Innocence itu berubah menjadi dual gun walaupun Tristan tidak begitu hebat mengendalikan innocencenya tetapi ia bisa menjatuhkan pedang yang ada di genggaman instructor dengan hitungan 3 menit dan setelah 10 menit berlalu ia berhasil mengalahkan instructor yang mengujinya karena instructor itu sengaja mengalah untuk melihat kemampuan Tristan mengendalikan innocence nya,"Bagus...kau berhasil hadiah untuk mu adalah...!!! masih rahasia..hahaha" ujar instructor itu dengan senyum gembira.

Tristan menyadari tes terakhir itu merupakan tes untuk menguji kemampuannya mengendalikan innocence miliknya sebelum ia resmi menjadi Excorcist yang di akui di Black Order Amerika Utara - Selatan.
Back to top Go down
View user profile
Lumiere A. Etoile



Posts: 15
Pemilik: yukigico

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Eropa
Umur: 16

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   29th June 2010, 20:25

“Bapa yang ada di surga.”
“Berikanlah kekuatan dan ketenangan bagi umat-Mu yang lemah ini.”
“Amin.”


Setelah melakukan doa paginya, Lumiere menengok ke arah cermin. Ia membenarkan coif yang miring di kepalanya dan segera beranjak keluar dari kamar. Jari-jari lentiknya membuka notes kecil yang ia bawa. Manik azure yang mengkilap di dalam kedua matanya memperhatikan tiap huruf dan kata di notes tersebut dengan seksama. Kali ini ia tidak mau tersesat lagi.

Sudah tiga bulan sejak Lumiere bergabung dengan Black Order cabang Eropa, ia masih saja tersesat meski sudah mencatat denah markas Black Order di notesnya. Ia benar-benar tidak ingin tersesat lagi. Lumiere melewati lorong-lorong koridor markas Black Order sambil memerhatikan denah di notesnya dengan seksama. Belok kiri, jalan lurus, belok kiri lagi, belok kanan, naiki tangga di depan ruang rekreasi, belok kanan, dan jalan lurus. Ia mengikuti jalur denah tersebut dan akhirnya sampai di depan pintu perpustakaan markas yang ia cari-cari. Lumiere membuka pintu perpustakaan yang tinggi besar itu dengan perlahan. Ia mengintip ke dalam sebelum akhirnya masuk ruangan tersebut.

Sepi. Sunyi.

Tidak ada satu orang pun terlihat oleh matanya.

Bapa yang ada di surga. Maafkan ketidaksopanan hamba-Mu ini,” ucap Lumiere pelan. Ia melangkah masuk ke dalam perpustakaan dengan ragu-ragu. Perlahan-lahan ia berjalan, mencari di balik rak-rak buku.

Di sini tidak ketemu, di sana juga tidak ada. Bapa yang ada di surga. Berikanlah kemudahan dan bantuan pada hamba-Mu yang kesusahan ini,” ucap Lumiere panik. Badan mungilnya berlari di antara rak-rak buku yang tinggi itu. Keringat dingin menetes. Manik azure-nya dipenuhi gelembung-gelembung yang bertubrukan. Lumiere sungguh kebingungan. Mulai ditelusurinya meja-meja baca satu per satu di setiap koridor perpustakaan. Ia mencari dan mencari. Melihat dengan seksama di antara tumpukan buku-buku. Tidak ada. Tidak ia temukan. Lumiere benar-benar putus asa, keringat dinginnya terus menerus membasahi kulit putihnya. Sampai akhirnya langkahnya terhenti di koridor ke-14.

Bapa!! Aku menemukannya!!” ujar Lumiere girang. Gelembung-gelembung di kedua matanya pun pecah. Wajahnya yang kepayahan kini berubah lega. Seorang pemuda berambut merah tampak sedang membaca sebuah buku menoleh ke arahnya. Lumiere mendekati pemuda itu dengan napas terengah-engah.

P-p-permisi Tuan. A-a-alkitab yang Tuan baca itu milik saya,” ucapnya pelan.

Ah, maaf… Saya tertarik membacanya,” jawab pemuda itu, “Nona menulisnya sendiri?

I-i-iya. Saya menyalinnya dari Alkitab milik kepala biarawati di convent saya dulu,” jawab Lumiere.

Convent? Ah…! Nona seorang Biarawati?” tanya pemuda itu lagi.

B-belum. Saya masih dalam masa pelatihan menjadi biarawati sebelum saya bergabung dengan Black Order,” jawab Lumiere.

Tulisan tangan yang indah,” puji pemuda itu sambil tersenyum dan mengembalikan Alkitab itu pada Lumiere, “saya sangat suka membacanya.

Terima kasih,” balas Lumiere setelah menerima Alkitabnya kembali sambil menunduk malu. Pipinya semerah tomat segar yang baru ranum.

Nona Biarawati,” kata pemuda itu.

I-i-iya?” jawab Lumiere.

Lain kali coba kenakan rok yang lebih panjang dan lengan yang lebih tertutup. Rok Nona terlalu pendek dan lengan Nona terlalu terbuka. Nona pasti akan lebih cantik jika mengenakannya,” kata pemuda itu sambil berjalan meninggalkan Lumiere.


Last edited by Lumiere A. Etoile on 12th July 2010, 20:00; edited 1 time in total (Reason for editing : Memberikan font color dan mengganti text font)
Back to top Go down
View user profile
Felicia Miles



Posts: 7
Pemilik: Al2SiO5

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Amerika Utara - Selatan
Umur: 21

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   13th July 2010, 18:44

Keringat mengalir di wajah gadis itu. Air mata mulai menggenang di matanya. Tak lupa tubuhnya gemetaran tak karuan dan jantungnya berdebar dua sampai tiga kali lebih cepat.

"Jadi kau benar-benar melakukan itu?"

Gadis itu menggeleng lemah. Tubuhnya sudah lemas.

"Ya sudahlah, kau boleh pergi. Maaf ya mengganggu kenyamananmu, Nona," ujar gadis yang satunya, yang punya rambut merah diikat dan mata biru yang selalu siaga seperti mata elang. Si gadis yang malang itu menghela nafas lega dan segera kabur. Dapat dipastikan gadis itu tak akan berani bertemu dengan sosok yang dari tadi menanyainya itu.

"Ung~ Sayang sekali gadis tadi tak memberi informasi yang cukup. Sudahlah, lagipula cerita macam itu sudah basi!" Felicia Miles terkekeh riang untuk menutupi kekecewaannya karena gagal barusan. Si rambut merah itu hanya ingin sedikit memastikan gosip tentang gadis tadi, lho. Tapi sayangnya rasa penasarannya --seperti biasa-- membuatnya lupa diri dan "sedikit" berlebihan tadi. Semoga saja gadis tadi tak melapor ke bagian keamanan seperti beberapa kasus terdahulu~

Sekarang apa ya?

Felicia bersenandung pelan sambil meletakkan buku catatan yang tidak jadi dipakainya tadi ke dalam salah satu saku jasnya. Masih terus berdendang santai, Felicia berjalan santai melewati lorong-lorong gelap markas Black Order cabang Amerika Utara-Selatan.

Meski terlihat seperti air yang tenang, belum tentu di dalamnya tidak ada buayanya lho~

"AAAH!! KAMU! Aku ada sedikit saja pertanyaan yang harus kupastikan kebenarannya!" Mata melebar, senyuman yang terlihat agak licik tampak di wajah Felicia Miles. Persis seperti buaya yang menemukan gazelle muda yang lezat nan empuk di daratan.

Mulai lagi deh~

_________________
λ//Deceit
How if you tell a lie for good deed?
Back to top Go down
View user profile
Kassandra Wittelsbach



Posts: 2
Umur: 20
Pemilik: oujizousama#2

Biodata
Posisi: Section Leader
Cabang: Asia
Umur: 21 y.o

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   16th July 2010, 13:27

Timeline : Summer Weekend, around 10 am.


Yang namanya kebiasaan itu cukup mengerikan, dan boleh dibilang, karena kebiasaan-kebiasaan itu pula sering kali Kassandra harus merepotkan diri menyisihkan sedikit waktu luangnya hanya untuk sekedar melakukan hal-hal remeh yang seharusnya tidak perlu dilakukannya. Sekali lagi, andai saja ia tidak terkait dengan hal yang bernama kebiasaan.

Jemari kurus Kass menarik ujung rambut cokelat ikalnya, memutar dan menjepitnya dengan jepit-jepit kecil (dan menguraikan dan menggulungnya lagi) sebelum membentuknya hingga tergelung rapi seperti yang diinginkannya. Bukan Kass namanya jika ia belum mau beranjak dari depan cermin kesayangannya kalau penampilannya masih dirasa belum sempurna. Masih perlu sedikit sentuhan lipstick tipis sewarna natural pada bibirnya ditambah polesan make up tipis, sedikit aroma jeruk dan—, "Oh, perfect," dan bangkit mengambil payung berenda yang selalu setia bertengger di dekat pintu keluar.

Oh nice—hello sunshine.

Kass menghalangi matanya dengan box yang dibawanya saat sinar matahari pagi seakan menusuk iris biru gelapnya; baru sekarang ia menyesali kelakuannya. Tahu panas begini, kenapa tidak ia panggil saja orang itu ke asramanya dan biar ia mengambil sendiri makanan kesukaannya? Kenapa juga harus ia yang repot-repot membawakannya hanya karena Eomma bilang Kass harus membagi masakan dengan orang itu.

Mungkin Kass memang terlalu baik, ya sudahlah, sudah setengah jalan ini.

Dari balik payung berendanya, Kass mempercepat langkahnya yang kecil-kecil, tidak peduli dari luar sana sosoknya lebih menyerupai payung berenda dan berterusan renda polkadot warna pink muda saking hampir sepertiga tubuhnya tersembunyi di balik payung. Berbelok kemudian berhenti tepat di depan pintu yang sudah amat dikenalnya. Pintu kamar milik seseorang bernama Toshio Himura. Euh.

"Naa, ohayou, Toshio-kun," serunya dengan suara seadanya, minimal cukup untuk sampai didengar orang di dalamnya, diketuknya sekali si pintu dengan tangan-tangan kurusnya, "Aku bawa Kimchi ekstra pedas untukmu, kau mau tidak? Kuhitung sampai lima, kalau kau tidak keluar juga—,"

Mungkin mendobrak ide yang bagus?

"—akan kumakan kimchi jatahmu."

Tidak. Sepertinya mengancam akan memakan makanan pedas kesukaan Toshio mungkin akan lebih berpengaruh.
Back to top Go down
View user profile
Toshio Himura



Posts: 3
Umur: 21
Pemilik: oujizousama#1

Biodata
Posisi: Section Leader
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 21 tahun

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   16th July 2010, 16:38

"Begitu? Benar apa yang kau ceritakan barusan?"

Suara pelan dan seperti tidak percaya akan cerita oleh seorang yang berada di dalam teleponnya. Maksudnya, suaranya. Mengertilah sedikit. Decakan pelan pun terlontar dari bibir pemuda berambut ikal sebahu ini. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang tengah dibicarakan oleh kerabatnya di rumah keluarga besarnya itu. Katanya ada masalah, tapi masalah yang sedang dibicarakan oleh Kaito itu tidak jelas dari awal dia bercerita pada Toshio. Pemuda berdarah Jepang asli ini hanya berkacak pinggang dengan satu tangannya yang bertumpu di pinggangnya, kemudian dia membawa telepon dari atas meja samping tempat tidurnya ke arah jendela kamar asramanya.

Sambil mendengar cerita Kaito, pemuda berperawakan cukup tinggi untuk ukuran orang Asia ini hanya menatap nanar pada keadaan luar asramanya. Hanya pemandangan biasa, dan sangat membosankan.

"Kalau kau tidak jelas bercerita lagi, aku akan tutup teleponnya, Kaito."

Ancaman ringan dari pemuda ini. Kenapa? Karena Kaito masih belum menjelaskan masalah keluarganya dengan jelas. Grrr. "Ah, kenapa harus kau sih yang menjelaskan padaku? Mana kaa-san? Atau adikku, Yumiko. Sudah tahu kalau aku paling tidak suka diceritakan olehmu, Kaito," lanjutnya lagi, dengusan pelan dan tidak suka jelas terdengar dari Toshio.

"Naa, ohayou, Toshio-kun,"

Suara yang ia kenal terdengar dari balik pintu asramanya.

"Nanti malam aku yang akan menghubungi rumah. Kumohon jangan kau yang menerima teleponku nanti," bisiknya.

Toshio segera menaruh menutup hubungan komunikasi lewat kabel dengan Kaito. Kerabatnya yang bodoh. Dengan segera ia menaruh teleponnya kembali ke tempatnya lagi, dan membuka pintu itu dengan cepat karena atas ucapan seorang gadis yang mengancamnya.

Toshio tidak bisa diancam, dear.

"Oh? Berani mengancamku, Kass, sayang?"

Ckckck. Gadis cantik di depannya ini bisa dibilang sudah dianggap keluarganya.

Yeah, keluarga Himura bisa dibilang banyak relasi yang dikenal.



Timeline mengikuti Kassandra Wittelsbach
Back to top Go down
View user profile
Pyotr Velikiy



Posts: 2
Umur: 17
Pemilik: Vi

Biodata
Posisi: General
Cabang: Asia
Umur: 28

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   18th July 2010, 00:49

Kali ini Pyotr benar-benar sendirian di antah-berantah Gurun Gobi. Badai pasir yang menderu tidak memungkinkannya untuk keluar dari renruntuhan tenda peninggalan sebuah suku nomaden Mongolia yang mungkin masih berusaha menentang opresi Dinasti Qing atau mungkin hanya sekedar lewat dan disergap oleh para bandit. Meskipun yang terakhir itu cukup menarik, tetapi sebenarnya Pyotr tidak begitu peduli. Dia hanya peduli untuk keluar dari antah-berantah ini dan kembali ke peradaban. Dia memang tidak begitu sering bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya, akan tetapi hidup di tengah-tengah orang banyak itu jauh lebih baik daripada mendekam di antah-berantah hingga tua; menunggu mati sendirian.

/Sniff/
/Sniff/

Alis Pyotr pun mengerut selagi hidungnya yang aman tertutup topeng hitam mengendus-endus sedikit udara yang menelusup ke dalam topengnya ketika otaknya berusaha menganalisa bau yang diciumnya. Awalnya mungkin sangat sulit untuk mengidentifikasi partikel-partikel kecil tersebut, namun Pyotr merasa bau yang diendusnya barusan benar-benar akrab di indera penciumannya. Akan tetapi dia tidak dapat menghirup udara sebanyak-banyaknya seperti yang biasa dilakukannya apabila dia hendak mengidentifikasi sebuah bau karena sekarang dia tengah berada di tengah badai pasir. Apabila ada yang mengatakan kalau Pyotr adalah setan, setidaknya Pyotr terbukti masih bisa berpikir. 'Lagipula, nampaknya yang benar-benar ada hanyalah Earl dan antek-anteknya.'

Dengan sedikitnya partikel-partikel yang terbawa masuk ke dalam hidungnya, Pyotr baru dapat mengidentifikasikan bau itu sebagai bau besi setelah beberapa menit berlalu, yang membawa Pyotr pada pertanyaan lain. 'Mengapa baunya masih dapat tercium? Apakah ada tambang besi di sekitar sini?' Pyotr bertanya selagi berusaha mengingat-ingat dan segera memutuskan bahwa itu adalah ide yang buruk mengingat dia sendiri tidak tahu di mana tempatnya berbaring sekarang. Yang dapat dilakukannya sekarang hanyalah menunggu badai pasir ini reda dan berharap dia menemukan seseorang yang bisa mengantarnya kembali ke peradaban. Pertanyaannya, sampai kapan?

/Sniff/
/Sniff/

Kembali Pyotr mengendus udara tersaring dalam rongga sempit di balik topengnya, dan pikirannya segera mengidentifikasi bau baru tadi dengan cepat. Sangat cepat sehingga Pyotr segera bangkit berdiri dan menghunus dua buah pedang dari sarungnya; tindakan bodoh, memang, untuk berdiri di tengah-tengah badai pasir, akan tetapi penemuan itu benar-benar mengejutkan Pyotr. Nampaknya dia salah mengenai dia hanya sendiri di antah-berantah Gurun Gobi ini karena bau yang baru saja menelusup ke dalam indera penciumannya tadi adalah bau darah - dan itu menjelaskan mengapa tadi Pyotr sempat mencium bau besi yang cukup kental - yang mungkin menggenang di suatu tempat di tengah badai pasir ini. Menggenang? Ya, pasti menggenang menimbang baunya yang cukup menyengat bahkan di dalam badai pasir.

Sekarang, memikirkan kemungkinan apa yang akan ditemukannya seusai badai pasir ini, Pyotr pun mengangkat kedua pedangnya hingga kedua ujung bilahnya setinggi dada pria Rusia yang memejamkan matanya sejenak itu sebelum asap putih mendadak mengepul dari sela-sela zirah hitamnya. Mungkin ada untungnya Pyotr mengenakan topeng hitam polos di dalam misi. Bukan karena dia ingin mempertahankan kerahasiaannya, akan tetapi supaya orang-orang tidak melihat senyum bengis yang terpasang di wajahnya sekarang.
Back to top Go down
View user profile
Tristan Agthoven



Posts: 8
Pemilik: Ressa Michelli

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Amerika Utara - Selatan
Umur: 19 tahun

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   23rd July 2010, 18:36

Seberkas sinar. Tristan merasakan kehangatan mentari yang menurutnya adalah hal yang biasa saja, kecuali jika hal itu menerpanya..

..di tempat tidurnya.

Ya ampun! Jam berapa sekarang? Tristan terkesiap dan dengan spontan melompat dari tempat tidurnya. Jam 6.30 pagi. Aku benar-benar terlambat.

Dengan terburu-buru Tristan menyambar kemejanya dan berganti pakaian. Soal mandi? Ayolah. Ia tidak perlu memikirkan hal sepele seperti itu sekarang. Lagipula, kemarin malam ia sudah mandi. Tristan menyabet celemek yang tergantung di lemarinya dan dengan bergegas berangkat ke lokasi kerjanya -- dapur.

"Semoga semuanya akan baik-baik saja," gumamnya. Tapi dalam hatinya Tristan mempunyai beribu alasan untuk menduga kebalikannya.

Apa yang akan orang pikirkan jika sang koki datang terlambat? Apa yang akan terjadi pada orang-orang yang bermukim di markas dan bangun dengan perut lapar? Tristan sudah tidak mau membayangkannya. Ia harus bergegas.

Ini mungkin pertama kalinya ia terlambat. Seumur hidupnya di Black Order, Tristan selalu menjadi anak nan baik hati dan tidak sombong, disiplin dan bertanggung jawab. Hanya saja...

Hari ini aku kecolongan.

"Ayo, cepatlah," makinya pada dirinya sendiri. "Dan aku harus memikirkan sesuatu yang bisa matang dalam waktu cepat. Dan lagi," tambahnya, "aku tidak mau Supervisor mengetahui hal ini."


Last edited by Tristan Agthoven on 30th July 2010, 19:02; edited 1 time in total (Reason for editing : Memberi tanda petik di akhir post.)
Back to top Go down
View user profile
Kun Shuo Ai



Posts: 3
Pemilik: Eri

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 15 tahun

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   8th August 2010, 07:26

“Ng, jadi… bagaimana?”

Bagaimana apanya?!

Shuo Ai memandang benda di depannya dengan tatapan serius. Jadi terlihat lucu, mengingat bentuk wajahnya yang seperti anak-anak tidak punya beban mendadak serius. Tapi, bagi Shuo ini memang masalah serius. Kau tahu? Golem di depan Shuo Ai itu? Itulah masalahnya.

Di seluruh arsip tentang penghuni markas ini jelas tertera bahwa Kun Shuo Ai adalah seorang juru tulis, bukan ahli golem. Tapi justru malah diberi tanggung jawab mengajari staff baru cara menggunakan golem dengan alasan semua staff operator golem sedang sibuk. Entah benar atau tidaknya, Shuo Ai mau tidak mau menerima saja pekerjaan ini setelah sukses diserang beberapa staff yang memohon-mohon dengan wajah memelas.

“Ehum… jadi, yaaa…” Kedua tangan mungilnya mulai bergerak menyesuaikan ingatan sekedarnya yang masih tertinggal di otak Shuo Ai. Jemari-jemarinya bergerak lincah, seolah seperti sudah professional saja melakukannya. Dalam waktu 5 menit, Shuo menjelaskan secara rinci penggunaan golem. Teori sih, Shuo Ai hafal betul tentang golem. Tapi soal praktek?

Awalnya, golem berfungsi dengan baik. Shuo Ai bahkan senyam-senyum bangga, merasa sudah mulai bisa menggerakkan benda tersebut.

1 detik…



2 detik….



“Eh, apa gerakan golem ada yang begitu?” Jari telunjuk milik sang staff berperawakan tinggi tegap menunjukkan reaksi sang golem yang aneh. Reaksi yang seharusnya tidak ada dalam ritual penggunakan golem.

“Eh?!” Ekspresi Shuo Ai langsung berubah seketika. Parasnya kembali mengarah kearah golem yang kini sedang bereaksi aneh, tidak wajar, atau apalah lagi namanya, sampai akhirnya berakhir dengan—

BUM!

—meledak. Shuo Ai melongo, melihat benda yang sebelumnya golem indah tanpa cacat itu berubah menjadi barang rongsokan yang hancur lebur. Eeeeh… apa yang salah?!

“Ah… itu… ehummm…” Shuo Ai melihat ke arah staff didikannya, memperlihatkan eskpresi tak kalah bengong dan kagetnya. Shuo Ai meringis, lututnya menekuk dan sedikit mengangkat kedua sisi roknya seperti tindakan mengucapkan salam a la Eropa (yang kini dia terapkan untuk tindak kesopanan semata), “Jika rusak seperti ini, minta tolong staff manajemen yang mengurusnya, ya. Ah, dan lain kali, minta tolong staff operator golem saja yang mengajari,” Sebelum ada respon, Shuo Ai sudah keburu lari duluan, “Ah, baru ingat aku ada urusan penting. Sampai jumpa~”

Ehum… semoga betulan ada kerjaan dan tidak berurusan dengan golem lagi…
Back to top Go down
View user profile
 

[REGISTER] Firstly First

View previous topic View next topic Back to top 
Page 4 of 4Goto page : Previous  1, 2, 3, 4

Permissions of this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Welcome to Black Order! :: Registration Room-
Post new topic   Reply to topic