An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
Home­FAQ­Calendar­Search­Memberlist­Usergroups­Register­­Log in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Januari 1880

[CENTRAL] musim dingin, dingin moderat

[ASIA] musim dingin, kering, matahari terik

[AMERICA] musim dingin, sedikit salju

[AFRICA] musim dingin, curah hujan tinggi

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld Aria Academy

Don't be shy, affiliate with us!
Latest topics
» [CENTRAL] Gunslinger
by Izarra O. Maraschine Today at 14:30

» Theme Song Karakter
by Freja Vladislava 9th March 2010, 06:30

» Hiatus Notification
by Ravel Kohler 8th March 2010, 19:29

» [AFRICA]First Glance
by Abigail Kolovos 8th March 2010, 12:46

» Casthaniel Acoustic Ellsmer
by Casthaniel A. Ellsmer 4th March 2010, 20:26

Post new topic   Reply to topicShare | 
 

 [REGISTER] Firstly First

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2, 3, 4
AuthorMessage
Frederick Ulrich



Posts: 2
Pemilik: Woof

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 25

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   8th February 2010, 23:11

Spoiler:
 



Frederick mengancingkan kemejanya lalu menarik naik celana panjangnya. Dilanjutkan dengan dipasangnya pemberat-pemberat berbentuk lapisan ornamen abu-abu pada bagian pahanya, dan dengan disibaknya rambut Frederick ke belakang. Ya, hari ini dapat dilihat kalau rambutnya – jauh – lebih panjang dari biasanya, tentu saja dengan sebuah alasan.

Sekarang berpindah dari sosok yang malah mengenakan jas dokter – bukan jubah bepergian yang cukup berbeda dari jubah bepergian biasa – itu ke tempat Junker muda itu berdiri; sebuah kamar sederhana untuk ukuran normal untuk sepasang kekasih – atau mungkin, lebih tepatnya, suami-istri – lengkap dengan lemari pakaian, sebuah kabinet dan meja rias, dan tentu saja, sebuah ranjang… yang sedang ditiduri oleh sesosok jelita berambut pirang panjang dengan pakaian minim. Oh, begitu pulas wanita itu terlelap di sana, tanpa menyadari apa yang baru saja terjadi padanya.

Kembali ke Frederick yang sekarang sudah rapi kembali dengan penampilan seorang dokter berambut merah dengan mata abu-abu kehijauan; pria itu memamerkan senyum khasnya yang tidak begitu terlihat seperti senyum kepada semua benda yang berada di dalam kamar itu – ya, benda, karena dia yakin tidak ada orang lain di kamar itu selain dirinya dan wanita berambut pirang yang kabarnya sudah bersuami itu – sambil mengingat kembali persiapannya yang tidak sedikit yang hanya akan dipakai selama beberapa menit saja pada malam ini. Bagaimana dia mencari daun-daun pohon Nut, dan menghindari kontak dengan siapapun selama 15 hari (sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan di dalam Markas Cabang Afrika-Timur Tengah) untuk memanjangkan rambutnya serta mengecat rambutnya menjadi merah. Tidak hanya itu, Frederick tahu benar langkah-langkah yang harus dijalaninya sampai sebulan kemudian; kembali “menghilang” dari peradaban, dan kembali muncul dengan alasan yang tepat. Mungkin dia akan mengambil cuti singkat untuk beristirahat barang sejenak di kota Istanbul, sesuatu yang tidak berlebihan dan kemungkinan besar akan dikabulkan oleh Supervisor Markas Cabang Afrika-Timur Tengah yang kabarnya selalu mendukung kegiatan-kegiatan para stafnya di markas cabangnya.

Tidak berlama-lama lagi di kamar itu, Frederick mengintip dari lubang yang terdapat di pintu, memastikan bahwa orang yang diantipasi Frederick belum muncul dalam pandangannya, lalu beranjak mendekati sosok jelita bermata biru jernih di ranjang. Pria berambut merah itu menelusuri helai-helai rambut pirang sang wanita, lalu mengecup pipi sang wanita sebelum berbalik kembali menghadap pintu. Satu tangannya menyambar tongkat berjalannya, dan sekali lagi Frederick mengintip keluar.

Aman,’ gumam Frederick tanpa bersuara. Tentu saja dia tidak ingin membangunkan wanita yang tertidur pulas tadi dengan keributan kecil yang tidak diperlukan, dan jujur saja, meskipun Frederick terlihat siap untuk meninggalkan kamar itu, sebenarnya kakinya masih enggan untuk beranjak. Jarang-jarang dia bisa mendapatkan kesempatan langka seperti ini, dan setelah menghabiskan waktu beberapa menit saja, Frederick sudah harus pergi tanpa jejak. Ingin rasanya Frederick meninggalkan barang setangkai mawar putih atau bunga kaktus yang baru mekar di meja rias yang terletak di sudut yang lain dari kamar itu, tetapi itu berarti dia akan membongkar kedoknya sendiri.

Akhirnya, setelah memantapkan pikirannya dengan beberapa tarikan nafas pelan namun dalam, Frederick membuka pintu dan segera melesat keluar dari kamar itu, hanya untuk berhenti sejenak ketika telinganya menangkap gelombang suara mirip desahan yang berasal dari ranjang di dalam kamar tersebut.

Vodete…

Demikianlah desahan singkat itu menghentikan langkah Frederick sejenak supaya pria itu dapat menoleh dan mendapatkan wanita berambut pirang itu hanya mengigau saja. Tentu saja Frederick dapat menirukan suara sang suami, tetapi setelah melihat intensitas cinta di antara kedua insan tersebut, Frederick lebih memilih untuk langsung beranjak dari tempat itu. Dapat dikatakan, meskipun kejadian beberapa menit yang lalu sangat memuaskan dirinya hingga dadanya terasa mengembang, tetapi mungkin untuk pertama kalinya Frederick Ulrich merasa muak menggunakan kemampuan menyamarnya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya hingga dadanya yang mengembang itu terus mengembang hingga rasa sakit menelusup di antara rasa puas dan bangga yang memenuhi jiwanya.

Dan pilihannya itulah yang dijalaninya. Setelah sosok wanita berambut pirang itu kembali berbalik memunggungi pintu, Frederick segera mengangkat kaki kanannya yang masih berada di dalam kamar dan menutup pintu dengan lembut, sebelum melesat meninggalkan tempat itu. Meskipun dia sudah lumayan terbiasa dengan ketegangan yang sekarang memenuhi rongga dadanya, namun setelah melihat perlakuan sang suami kepada orang-orang yang berani menggoda wanita berambut pirang itu, Frederick jelas harus lebih berhati-hati – apalagi dengan sempitnya ruang gerak pria Jerman itu.

Semoga saja dalam perjalanannya ke menara pengawas terdekat di Markas Cabang Afrika-Timur Tengah, dia tidak bertemu dengan pria bernama Vodete itu. Dengan topeng putih polos terpasang pada wajahnya, Frederick pun segera melesat cepat melintasi koridor-koridor markas cabang yang desainnya eksotis itu.

Hei, kau di sana? Mengapa terburu-buru sekali?

Tiba-tiba seseorang menyapa Frederick yang langsung membeku di tempat. Ya, mudah sekali untuk menebak identitas orang itu mengingat bagaimana tangan takdir sering mempermainkan Frederick muda, apalagi karena beberapa menit yang lalu, Frederick berkali-kali menirukan suara yang mulai akrab di telinga pria Jerman itu.

Vodete [Radimirovich] Vladislav.


Spoiler:
 
Back to top Go down
View user profile http://Malesishere.wordpress.com
Kim Soo Ki



Posts: 5
Pemilik: LLJ

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 13

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   10th February 2010, 10:13

Dang! Begitulah bunyi khas ketika logam bertemu dengan palu besi. Dengan mantap, Soo Ki memberikan pukulan pamungkas pada hasil karyanya. Cengiran kepuasan merekah di wajahnya yang belepotan jelaga. Dan akhirnya, dia bisa meletakkan palu besar seberat empat kilogram itu di lantai dan, ya, mengangkat hasil kerjanya tinggi-tinggi. Tingkahnya seperti seorang yang baru saja memenangkan kejuaraan bela diri.

Coba tebak, apa yang barusan dia buat?

Sepertinya akan sulit baginya untuk menghilangkan cengiran polos yang tersungging lebar-lebar di wajahnya ini. Gairah kebanggaan menguasai dadanya, membuncahkan rasa panas. Temuannya ini memang sangat sederhana dan hanya merupakan barang modifikasi, tapi ia telah merasa seperti seorang pahlawan. Hehe~ anak-anak boleh bermimpi, kan?

Soo Ki menyeka hidungnya, menambah seoles jelaga lagi yang dibawa punggung tangan kanannya. Meski demikian, keimutan wajahnya sama sekali tidak tersamarkan. Sorot mata dan cengiran miliknya itulah penyebabnya.

Tak puas-puasnya dia memandangi helm aneh dengan dua kaca pembesar diikat berdampingan membentuk sebuah kacamata raksasa. Helmnya ini merupakan jalinan tiga buah sabuk kulit yang dikuatkan dengan kawat dan rotan. Diberinya selembar kain yang diatur sedemikian rupa dan memfungsikannya sebagai pengaman kepalanya agar tak terluka ketika mengenakan helm modifikasi ini. Lalu apa gunanya sepasang kaca pembesar yang menggantung di depan matanya itu? Tentu saja untuk membantunya melihat benda-benda yang ukurannya kecil. Misalnya komponen penyusun Talisman. Memang, mata Soo Ki masih awas, tapi dia pegal juga kalau terus-terusan memicingkan mata dan membungkuk untuk mendekatkan jarak pandang.

Yosh~ dengan begini, dia tak akan mengalami sakit leher dan punggung lagi! Soo Ki terkekeh geli.

Kemudian dia segera memakainya. Tak sabar rasanya ingin segera menunjukkan hasil kerjanya ini ke seluruh penghuni Black Order. Hohoho.

Agak kebesaran ternyata ketika Soo Ki melesakkan helm itu dengan ubun-ubunnya. Setiap kali dia menjejakkan langkah ketika berjalan, helm itu akan berguncang dan miring. Tapi, untuk saat ini, siapa yang peduli?

Penuh semangat, Soo Ki berlari sambil tertawa-tawa, memulai petualangan kecilnya di dalam Black Order cabang Asia.

Lihat apa yang kubuat!

_________________
왜냐면 난 아무것도 특별한 내가 다시 보지 않습니다
"I don't look back, because I have nothing special there."

Li Lian Jie's 5th Chara -- The Boy without History
Back to top Go down
View user profile
Rufina Kviscanova



Posts: 5
Pemilik: Kumohare[n]

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 23 y.o.

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   20th February 2010, 23:40

Siang itu panas, matahari bersinar dengan terik dan menembus dedaunan rindang di pekarangan. Namun seakan mengabaikan sang surya yang bersinar dengan gagah, angin tetap berhembus, perlahan, menerbangkan semua yang ia lewati—debu, pasir, riak air, pakaian di jemuran, daun, rambut wanita. Cuaca seperti ini selalu membuatnya mengantuk. Sejenak menutup mata dan tangannya mengusap sedikit ujung-ujungnya seolah ada debu yang masuk. Ia terduduk di teras antara tanah halaman dengan lantai. Tempat yang bukan miliknya, tapi juga miliknya. Dan sejenak senyumnya sedikit mengembang bersamaan dengan udara segar yang masuk ke dalam paru-parunya.

“Panas, eh?”

Suara yang cukup familiar di telinganya itu bahkan tidak sanggup membuatnya berpaling. Toh pemilik suara itu hanya rekan kerjanya, bukan seseorang yang tidak ia lihat selama berbulan-bulan, kan? Mungkin maksud kedatangannya ke sini paling hanya ingin menjahilinya dan tidak pernah lebih karena biasanya memang begitu. Bagusnya pemuda itu tidak pernah melakukan apapun padanya. Lagipula pemuda itu sendiri sudah bisa membayangkan apa yang akan ia dapat jika melakukan pelecehan lagi.

“Tidak, anginnya sejuk, kok,” suara alto gadis itu terdengar tajam. Jelas sekali ia malas berbicara. Pemuda itu tidak melihat bola mata sang gadis yang tampak menajam karena kesal. Matilah—pasti setelah ini banyak kalimat yang keluar, deh. “Oh ya? Matahari bersinar sangat terik, kamu pasti kepanasan. Masuklah. Sayang kalau kulitmu yang indah itu sampai terbakar matahari, kan?” tersenyum timpang. Suka-suka dia mau terbakar matahari atau tidak dasar lelaki kurang ajar. “Sebentar lagi waktu makan siang,” lanjutnya, kali ini dengan tangan “nyasar” di pinggang si gadis. Tampaknya ia belum kapok, eh?

‘DUKK!’

Semoga saja kepalanya itu benjol.

Sebuah tendangan kembali diarahkan ke kaki pemuda yang tampak meringis itu oleh si gadis pirang yang kembali duduk di teras. Kali ini ia termenung, tidak mendengar entah apa yang diucapkan pemuda sesama staf manajemen itu. Telinganya seakan tuli, ditulikan oleh suara angin. Sedang dalam masa terpuruk kah dia? Tidak, siapa bilang ia terpuruk? Ia baik-baik saja kok. Gadis Eropa ini selalu baik-baik saja di hadapan siapapun. Namun ada juga kan saatnya dia untuk melamun dan memikirkan hal lain?

Cuaca seperti ini, latar belakang ini. Entah kenapa otaknya merasakan sesuatu yang ganjil. Familiar. Nostalgik. Pernahkah ia merasakan hal ini dulu? Tapi kapan, di mana dan dengan siapa? Sekeras apapun otaknya mengingat, hasilnya tetap saja nihil. Tidak ada yang berhasil ia tarik kembali dari masa lalunya, bahkan namanya pun tidak. Sekarang ia adalah Rufina Kviscanova. Tapi sedang apa dia sekarang? Adakah yang sadar irisnya menatap kosong?

”—Nate,”

“...Tris?”


Nama siapa itu?




((OOC: emo mode on. gyaaaaaah =)) sedikit meminjam Lilo di paling belakang itu tuh *tunjuk-tunjuk* dan dengan ijin PM ybs :9 ))
Back to top Go down
View user profile
Coreen L. M Nostrofo



Posts: 6

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 13 y/o

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   24th February 2010, 18:51

Satu.
Putar, putar, pangeran berputar.

—Caelan deartháir*

Dua.
Lari, lari, burung cilik itu berlari.

—Crevan deartháir*

Tiga.
Jatuh, jatuh, burung cilik itu terjatuh.


"Coreen!"


"....!"

Terkejut. Merasakan bulir demi bulir keringat mengalir turun di sela wajah mungilnya. Dimana ini? Bola mata biru cerah itu berputar, berusaha mencari jawaban atas dirinya yang terbangun sekali lagi dalam mimpi mengerikan tersebut. Mendapati ruangan dengan aroma khas yang sudah dikenalnya, tempat yang menjadi kehidupannya saat ini sebagai seorang staf di Cabang Asia yang ia tempati. Taman, ah ya kembali teringat bahwa tujuan awalnya ke sini hanya untuk mencari udara segar, memilih koordinat duduk tepat di bawah rindangnya salah satu pohon besar yang merupakan tempat kesukaannya tak lama setelah mencapai tempat ini.

Tak menyangka berlanjut hingga tertidur seperti ini.

Lesha masih berada dalam pangkuannya, memang sengaja ia bawa tadi, sebenarnya bukan hanya tadi mengingat ia memang selalu membawa sosok sang boneka perempuan bersuraikan pirang ikal, wajah khas halus layaknya manusia dengan gaun merah muda magenta sedikit renda putih. Benda terakhir yang tersisa dari insiden mengerikan tersebut, ia tak mengingat persis apa yang terjadi ketika itu hanya saja adegan ketika satu persatu anggota keluarganya terbunuh masih jelas terpasung erat dalam ingatannya. Karena itu juga tak jarang sekelebat bayangan mengerikan itu kembali muncul kan?

—seperti tadi?

Terbersit kembali apa yang tak sengaja memasuki alam mimpinya. Bergidik, menggelengkan kepalanya, ia tak mau mengingatnya lagi, setidaknya kejadian itu sudah lama terjadi dan bukan waktunya untuk terus terlarut dalam kesedihan secara terus-menerus seperti ini kan? Terkadang gadis belia ini membenci kegiatan tidur yang menurut orang lain dapat memberikan kesegaran di kala fase setelah kegiatan tersebut terjadi. Tapi kalau pada akhirnya bayangan itu kembali datang ia lebih memilih untuk menjaga dirinya walau rasa kantuk menyerangnya bertubi-tubi.

Sedikit memainkan lengan Lesha, memberikan sentuhan kehidupan seakan sang benda mati dapat hidup dengan lontaran kalimat yang ia ucapkan, tentunya bukan dari sang boneka sendiri. Ia bukan seorang exorcist seperti layaknya para exorcist yang ada di Cabang Asia yang ditempatinya, mereka hebat-hebat dengan kemampuan macam itu dan beban yang mereka tanggung tentunya juga akan semakin besar seiring dengan misi mereka bukan? Ia hanya mengeluarkan suara bukan dari bibirnya, jadi terlihat seperti bukan dari suaranya sendiri.

"Cory?"

Menoleh.

Panggilan yang tak asing di telinganya, hanya seorang yang memanggilnya seperti itu. Ia masih tengah terduduk di tempatnya, mengamati secara rinci sosok yang amat dikenalnya, yang merupakan satu-satunya orang yang menyertainya ke tempat ini. Ya, setidaknya ia masih mempunyai keluarga. Keluarganya di Cabang Asia.

"Ryou gē"*

Dan ia tersenyum, senyum murni dari dirinya.




OOC: Aneh nih, webe pula, gaje ah, btw sekalian sedikit memunculkan akun Ryeo. Ah ya sedikit credit dari Nanaki The Psychic Power.
deartháir: older brother
: older brother too.

_________________
I was alone and will always be alone.
Is anyone here to me?
I'm lonely.
Come and go with me, in this loneliness hell.


-Set by Mrs. Arisatou, again, many thx to you mom-
Back to top Go down
View user profile
 

[REGISTER] Firstly First

View previous topic View next topic Back to top 
Page 4 of 4Goto page : Previous  1, 2, 3, 4

Permissions of this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Welcome to Black Order! :: Registration Room-
Post new topic   Reply to topic