An Indonesian D.Gray-Man original character (OC) roleplay forum. Set in an alternate 1880s.
Home­FAQ­Calendar­Search­Memberlist­Usergroups­Register­­Log in
Time

Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Januari 1880

[CENTRAL] musim dingin, dingin moderat

[ASIA] musim dingin, kering, matahari terik

[AMERICA] musim dingin, sedikit salju

[AFRICA] musim dingin, curah hujan tinggi

Acara mendatang:

- Valentine Grand Ball

(Kontak staf jika memiliki ide)

Shoutbox

ShoutMix chat widget
Affiliates

ClampFactory Al'loggio

code-geass

tenipuri-indo

Saint-Sanctuary

Neverworld Aria Academy

Don't be shy, affiliate with us!
Latest topics
» [ASIA] Stained Memories
by Heidrich Kohler Yesterday at 23:51

» Magna Aspinella
by Magna Aspinella Yesterday at 22:26

» [REGISTER] Firstly First
by Magna Aspinella Yesterday at 22:22

» [CENTRAL]The Burdened
by Lioret I. Shirogane Yesterday at 15:20

» [AFRICA] Of (Past) Boyfriend and "Boy" Friend
by Abiel Nathanieth 18th March 2010, 23:11

Post new topic   Reply to topicShare | 
 

 [REGISTER] Firstly First

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2, 3, 4  Next
AuthorMessage
Allan Amberglass



Posts: 20
Umur: 16
Pemilik: Suppi

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Amerika Utara - Selatan
Umur: 19 tahun

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   15th January 2010, 16:52

"..."

*sigh*

Allan menghela nafasnya sembari menggeliat di atas tempat tidurnya. Tangan kanannya lantas bergerak meraih jam kantung yang ada di sebelah bantal tempat kepalanya bernaung dan memicingkan matanya untuk melihat arah pergerakan dua jarum yang ada di dalamnya.

Waktu menunjukan pukul 03.25 AM, pertanda bahwa hari sudah hampir pagi, dan belum sekejap pun mata Allan bisa terpejam dengan tenang. Entah karena pikiran-pikiran yang memenuhi otaknya, atau karena ia belum terbiasa dengan suasana baru yang ada di tempat ini. Ini baru mau hari keduanya ia berada di sini, dan ia merasa agak kacau. Bukan karena ia rindu rumah atau apa, tetapi... segala hal memang masih terasa agak bizzare untuknya.

Dimulai dari kedatangan beberapa orang 'Exorcist' ke dekat tempat tinggalnya, berlanjut dengan kehadiran substansi aneh yang menjadi alasan utamanya berada di sini, lalu berakhir dengan dirinya berada di atas tempat ia berbaring sekarang.

Sungguh, semuanya itu sangat aneh.

Mungkin hanya Allan yang butuh pembiasaan khusus. Adaptasi, istilahnya. Semua orang baru pasti begitu juga, bukan? Mereka butuh pembiasaan khusus untuk bisa berbaur di tempat tertentu dan mengenal tempat itu serta penghuni-penghuninya lebih dalam lagi.

Ia pun menghela nafasnya lagi.

Lehernya panas, seret karena kering. Begitu juga dengan bibirnya dan matanya yang tak kunjung bisa memejam dengan tenang juga.

Allan berusaha untuk memejamkan matanya, dan mengucap doa. Kata ibunya, doa merupakan pengantar tidur yang bagus, meskipun ia harus sampai tidak ketiduran ketika mengucap doanya. Jangan sampai doanya sekarang, amin-nya besok pagi.

Maka hening panjang memenuhi ruangan itu, bersamaan dengan nafas tenang dengan ritme teratur yang dihasilkan seiring dengan ucapan, "amin" yang meluncur perlahan dari bibir Allan.

Sepertinya ia sudah tertidur. Well, doakan saja besok pagi ia bisa menjalani hari barunya tanpa tertidur di tengah misi.


Last edited by Allan Amberglass on 22nd January 2010, 22:00; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile http://joe021093.deviantart.com/
Mildred Moore



Posts: 8
Pemilik: Chief

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 23

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   15th January 2010, 17:13

Pada momen itu, dunia terasa begitu indah bagi Mildred Moore. Dengan lompatan ceria pada tiap langkahnya, bak seorang gadis yang menjelajahi permadani hijau di suatu bukit yang dipenuhi harum semerbak bunga, ia tidak sungkan menunjukkan kebahagiaannya. Dengan penuh pesona, ia memamerkan senyuman menawan kepada setiap orang yang dilewatinya di koridor.

Bagaimana mungkin ia tidak bahagia? Di luar dugaannya, supervisor utama yang kumisnya lebat dan berwajah gahar itu justru mendukung ide briliannya untuk membawa surat kabar ke dalam organisasi militer Black Order. Bahkan, ia tidak harus memelas-melas seperti yang sering dilakukannya saat tertangkap basah menyebarkan artikel kontroversial di sekolahnya dulu--bukan berarti hal tersebut akan membuat Ezekiel Wright luluh. Walau demikian, bila sudah berhubungan dengan impiannya yang satu ini, Mildred Moore memiliki siasat-siasat lain.

Gadis dengan suasana hati amat baik itu tiba di tempat tujuannya, penampungan golem. Senyumannya hanya bertambah lebar melihat makhluk--eh, bukan, benda setengah hidup yang imut-imut itu, dengan sayap menyerupai kelelawar sebagai metode transportasinya. 'So cute~~~' Ia mengelus bagian atas salah satu golem berwarna hitam tersebut, sebelum mengangkatnya, menelaahnya. Tidak menemukan malafungsi, ia kembali meletakkan golem tersebut di tempatnya, menghela napas pelan.

Tentu, sebagai staf Diplomatic & Communication, ia tahu kegunaan golem-golem ini; media komunikasi, sama seperti impian yang hendak diwujudkannya. Suatu media komunikasi massal yang dapat menjangkit puluhan, bahkan ratusan orang, dan dapat membawa perubahan ke dunia.

Mendadak, kesan Ezekiel Wright yang sebelumnya terlihat begitu dingin dan kaku di mata Mildred, layaknya seorang manusia es, sirna. Tidak. Ia adalah seorang bapak peri yang telah mewujudkan impiannya menjadi kenyataan. Ia memasang seringai lebar, memamerkan giginya. Tangannya mengepal, seraya lengannya diangkat ke atas, seakan bersumpah ke sosok yang tidak terlihat.

"Tenang saja, Chief, aku tidak akan mengecewakanmu!"



... Dan mungkin, di kantornya Ezekiel Wright tengah meragukan keputusannya sendiri.

_________________
"Trust me, when I say I can, I will!"

creativity. determination. initiative.

number 11: the M A G I C I A N
Back to top Go down
View user profile
William R. Rheins



Posts: 35
Umur: 17
Pemilik: Glace

Biodata
Posisi: Disciple
Cabang: Amerika Utara - Selatan
Umur: 17 tahun

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   15th January 2010, 17:27

"Gelap.... Di mana ini..." Will melihat ke daerah sekelilingnya. Ia berlari... Mencoba mencari jalan keluar.

"Di mana ini?!" tanyanya sekali lagi pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba muncul sekelebat cahaya yang dengan segera meneranginya.

"Ini..." dilihatnya daerah sekelilingnya. Daerah itu adalah rumah orang tuanya. Terlihat bangunan rumahnya telah luluh lantak. Sebagian bangunannya hancur dan sebagian lainnya dilalap api.

Bukan hanya itu, dilihatnya mayat kedua orang tuanya yang terbujur kaku di tanah. Dalam sekejap, mereka berubah menjadi butiran debu.

'Takut... Takut...' Hanya itulah yang ada di pikiran Will saat itu. Dengan segera, ia berlari tanpa arah. Namun, yang ditemuinya justru ia sendiri yang tengah menjadi sasaran meriam Akuma yang tengah ditodongkan ke kepalanya semasa berumur 15 tahun.

"AAAAARRRRGGGGHHH...." Will berteriak sekeras-kerasnya. Ia segera terduduk.

"Hh... Hh... Hh..." Nafasnya terdengar memburu akibat hal tersebut. "Hh... Fuh..." dengan sedikit tarikan nafas, ia mencoba menenangkan diri.

"Kau tidak apa-apa?" Tiba-tiba seorang staf medis perempuan yang mungkin sebaya dengan Will mendekat dan menanyakan keadaannya.

"Tadi kau pingsan di depan pintu infirmari dan dibawa kesini. Apakah kau bermimpi buruk?" sambung staff medis tersebut singkat. Rupanya, Will tengah berada di infirmari.

"Ukh..." ia berusaha untuk turun dari dipan tempat ia direbahkan tadi. Tangannya masih menggigil akibat mimpi tadi.

"Aku tidak apa-apa..." ucap Will pendek. Ia tidak ingin menyusahkan staf medis tersebut.

"Tapi, terima kasih banyak..." ucapnya, mencegah kalimat balasan dari staff medis tersebut yang mungkin saja akan memaksanya untuk beristirahat di sana lebih lama.

Ia dengan segera meninggalkan ruang infirmari tersebut dengan cepat walaupun dengan langkah sedikit gontai.


Last edited by William R. Rheins on 22nd January 2010, 16:36; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
Eva Montini



Posts: 38
Pemilik: DPNK

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Amerika Utara - Selatan
Umur: 23

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   18th January 2010, 18:44

Harper's Bazaar edisi Agustus minggu keempat terpangku di paha Eva yang terbalut rok parisiannya yang berwarna gelap. Kuku-kuku lentik wanita berusia 24 tahun yang dicat merah mengkilat itu membalik halamannya satu demi satu. Majalah fashion--banyak gambar, sedikit tulisan--yang selalu dia baca setiap minggunya dengan mimik yang hampir mirip dengan mimik orang yang membaca buku karya sastra dengan serius. Iris biru cerulean-nya menyusuri detil demi detil sambil memperkirakan pola jahitan yang membentuk siluet tubuh wanita itu menjadi sedemikian rupa.

Sampai pada halaman terakhir, wanita bermahkota ginger yang berpendar kemerahan tersebut mendengus pelan. Majalah itu telah tertutup sekarang dan ia beranjak ke jendela kamarnya. Spektrum cahaya senja bagaikan magnet bagi Eva, ia meneguk teh yang sedari tadi menemaninya sembari menyandarkan kedua sikunya di kusen kayu. Menikmati pemandangan senja dan semilir angin yang membelai kedua pipinya dengan lembut. Rasanya sudah lama ia tak bisa menikmati senja yang tenang seperti ini tanpa harus menemani permainan anak buah Earl of Millennium--yang diakuinya memiliki taste berpakaian yang cukup unik--atau disibukkan oleh hal-hal yang sangat melelahkan serta menjemukan. Kalau bisa, ia ingin memandangi langit yang dipenuhi bayang burung-burung mungil ini sampai ia puas sambil melupakan beban dunia yang menempel di kedua bahunya yang ramping. Jika saja di dadanya tak tersemat lambang rose cross ini mungkin ia bisa menikmati warna senja.

"Apakah kau sadar kalau matahari senja membuat langit berwarna keunguan, Eva?"

Rambut kemerahan Eva Celine Montini bergoyang lembut seraya menoleh pada rekan sekamarnya; seorang gadis Hispanik. Helaan nafas lembut terlepas dari kedua bibirnya yang tak terkatup rapat.

"Itu bukan ungu," mata biru gelapnya menatap sang gadis, "juga bukan violet, magenta atau byzantine. Itu mauve."

Sekali lagi meneguk teh yang mulai mendingin sembari menunggu reaksi lawan bicaranya.

"Oh Eva, bukankah ungu dan mauve sama saja? Dua warna itu memang mirip kan?" tukas gadis berambut gelombang di depan Eva itu, sebuah senyuman manis terulas di wajahnya.

Alis wanita kelahiran Italia ini berkerut, ia menurunkan cangkir teh yang sekarang telah tak bersisa itu ke meja bundar kecil yang dihiasi rangkaian hortensia. "Mereka berbeda, Marta, ungu dan mauve... berbeda seperti ungu dan violet." Memutar tubuh rampingnya sambil berkacak pinggang pada Marta.

"Jika kau jeli, kau tahu kalau mauve sendiri memiliki empat jenis warna. Begitu pula violet dan lavender."

Berhenti sejenak sebelum mengalihkan pandangannya ke sisi samping seraya mengingat-ingat. Suara Eva yang terlepas merdu--dihiasi sedikit desahan yang memang selalu ada di tiap tarikan suaranya--berbicara dengan nada lembut pada gadis di depannya. "Yah, lavender sendiri ada 12 jenis. Herannya hampir semua orang mengatakan mereka itu ungu."

Garis bibir kemerahan Eva mengerut, tampak tidak bahagia dengan masalah satu itu. Begitu pula dengan gadis bernama Marta di depannya, menggumamkan sesuatu yang lebih mirip dengan lenguhan, mata eboni Marta sempat berputar begitu mendengarkan penjelasan Eva.

"Ya, ya, ya. Yang pasti aku ada acara dan aku tak bisa menemukan gaun favoritku."

"Gaun dengan crinoline dan bustle itu? Bustle dua tingkat?"

"Ya itu, yang berwarna merah--"

"--Amarante."

Bukan merah seperti kilatan pada kuku-ku.

Garis-garis bibir Eva tertarik membentuk senyuman lebar, tampak puas dengan ekspresi lelah Marta yang seolah mengatakan 'terserah kau lah, Miss Montini'.

_________________


"Fashion has to do with ideas, the way we live and what is happening."


Back to top Go down
View user profile
Sigmund Völsungarson



Posts: 21
Umur: 16
Pemilik: Indigo

Biodata
Posisi: General
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 31

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   22nd January 2010, 18:18

Ketika itu, Sigmund Völsungarson sedang membersihkan koridor dengan sapu kesayangannya seperti biasa, ketika ia mendengar obrolan 2 orang staf Markas Black Order Cabang Afrika – Timur Tengah yang melewatinya.

“Exorcist baru?”

“Yup, dan kudengar kali ini seorang gadis muda namanya…”

“Kaya.”

“Ah, iya. Kalau tidak salah Kaya”


Sisa percakapan mereka makin tidak terdengar oleh Sig, seiring menjauhnya punggung mereka dari staf arsip rangkap tukang bersih-bersih Markas itu. Mata coklat tuanya masih memandangi punggung mereka yang mengecil, sedangkan pikirannya sendiri mulai membayangkan seperti apakah rupa Kaya ini?

‘Ah, sebaiknya tidak kupikirkan,’ sambil menghela nafas pemuda berambut hitam itu kembali melakukan hobinya, menyapu. Bukannya ia tidak tertarik, tapi akomodator ini berpikir sebaiknya tidak lagi ia berhubungan dekat dengan orang, ataupun Exorcist. Ia tidak mau terluka lagi karena terlalu dekat dengan orang lain, maka dari itu, ia memutuskan untuk melupakan gadis bernama…siapa tadi? Ah, Kaya. Ya, dia tidak akan memikirkannya.

Tapi nama Kaya tidak pernah meninggalkan pikirannya.


Beberapa hari kemudian, akhirnya tibalah hari dimana Exorcist baru itu, Kaya, akhirnya tiba di markas. Beberapa staf pun berkerumun di pintu depan, termasuk Sigmund. Entah apa yang membuat pria Swedia ini ikut berkumpul, orangnya pun tidak tahu. Rasa ingin tahu yang berlebihan mungkin?

Akhirnya Sigmund memutuskan bahwa keberadaannya di situ adalah takdir. Ya, apa lagi sih selain takdir? Lagipula, takdir pula lah yang membawanya ke Black Order, dan jika dia harus bertemu dengan Kaya ini, pastilah itu pekerjaan takdir juga…kan?

“Ah, itu dia!” salah satu orang yang berkerumun di situ berceloteh.

Dan ternyata benar. Seorang wanita dan seorang gadis melangkah masuk ke dalam. Wanita itu diidentifikasi Sigmund sebagai Giraile, yang merupakan wajah lama di Black Order. Mata marunnya beralih dari Giraile dan bergerak ke gadis di sebelahnya.

‘Ah…dia…’ Sigmund tidak bisa memroses kata-kata yang tepat untuk gadis yang berjalan ke arahnya itu. Pikirannya sepertinya disibukkan oleh tugas mengagumi setiap inci Exorcist muda itu. Awalnya pria berambut hitam itu mengira bahwa Kaya ini akan memiliki badan yang besar, berotot, dan menyeramkan seperti Giraile , nyatanya tidak.

Sigmund sama sekali menyadari bahwa selagi ia memandang gadis itu seperti orang bodoh, gadis itu malah mendekat kepadanya, tampaknya ingin menyapanya. Akibatnya, pria swedia ini agak terkejut ketika gadis kecil itu menyapanya.

“Mine Kaya Berrin.” ujarnya sambil mengulurkan tangannya, “Baru saja jadi Exorcist. Anda sudah berapa lama?” Sepertinya gadis ini menangkap basah Sig sedang memandanginya.

“Eh? Ah, Sigmund. Uhh, anu…” Sigmund yang masih sedikit kaget menjabat tangan Kaya, sambil memikirkan jawaban pertanyaannya tadi. Tanganya hangat. Ah, tadi dia bertanya apa? Sudah berapa lama di Black Order? Sepertinya Sig tidak mendengar pertanyaan tadi dengan baik. “10 tahun?”

“Ah… lama sekali. Ah! Maaf saya kurang sopan, um... senior,” jawabnya tiba-tiba, sambil menarik tangannya dan berjalan menjauhi Sig. “Ah, saya pergi ya, senior,” ujarnya sambil berjalan pergi.

Iris merah tua Sigmund masih terkunci pada gadis muda yang makin lama makin menjauh itu. Otaknya tampaknya belum sembuh dari syok ringan ketika melihat wajah Kaya tadi. Ia hanya mendengar satu kata dari ucapannya tadi.

‘Senior?’




Btw, maaf kalo Kayanya OOC -_-

_________________
"General duty? Uhmm... this corridor is not clean yet, so..."
Sigmund Völsungarson

~The 2nd Indigo: The Reluctant General~
Back to top Go down
View user profile
Zhang Huo Ju



Posts: 25
Pemilik: LLJ

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Asia
Umur: 24

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   27th January 2010, 00:29

Apa maksudnya... ini?

Zhang Huo Ju berdiri di belakang mejanya, bersedekap. Kedua iris cokelat matanya menatap lekat-lekat kertas kekuningan yang tergelar di atas mejanya. Tanpa disadarinya, mungkin otaknya sedang berputar dengan cepat, mencoba mencari-cari petunjuk tentang penggunaan sandi yang baru kali ini dia lihat. Jemarinya mulai terangkat dan meraba bibirnya, menandakan tingginya keseriusan yang sedang dia gunakan untuk memecahkan sandi di hadapannya itu.

Sekilas, terlihat seperti huruf mandarin biasa, namun jika lebih diperhatikan, masing-masing simbol itu tidak membentuk huruf yang sempurna. Seperti dalam abjad latin, huruf A tanpa garis horizontal di antara dua garis miring yang membentuk sudut kira-kira empat puluh lima derajat.

Setelah dua menit tak menemukan petunjuk, gadis itu melempar pandangan ke arah amplop tanpa nama pengirim di samping lembaran kertas itu. Alih-alih nama pengirim, coretan-coretan besar dituliskan dengan sesuatu yang sepertinya darah.

Mengirimkan sandi, atau menuliskan pesan kematian? Dasar.

Huo Ju tersenyum masam, sekaligus merinding terusik oleh imajinasinya sendiri yang selalu memaksanya berpikir bahwa coretan merah itu adalah darah. Gadis itu membuang jauh-jauh prasangkanya itu dengan mengalihkan kembali perhatiannya ke kertas berisi sandi yang harus dipecahkannya.

Sebenarnya mengirim pesan akan lebih mudah tanpa menggunakan sandi, kan?

Baiklah, tampar Huo Ju untuk pikiran seperti itu. Padahal dia sendiri tahu, kalau tidak ada sandi, maka dia tidak akan bisa berada di sini sekarang.

Huo Ju menghela napas. Dia sama sekali tidak habis pikir, kenapa ada sandi sesusah ini. Mau dibilang sandi, bentuknya lebih mirip huruf. Tapi kalau dibilang huruf, untuk membangun satu huruf saja rasanya ada yang kurang.

Hening.

Tunggu.

Dalam satu hitungan detik, Huo Ju berpaling kembali ke arah amplop yang sedari tadi selalu mengusiknya. Coretan darah itu diperhatikannya dengan keseriusan yang kali ini mengalahkan rasa takutnya, kemudian... dia memahami sesuatu.

Begitu rupanya.

Sesungging senyum kemenangan terulas di wajah Huo Ju dan dia pun duduk. Diraihnya amplop berpetunjuk itu dengan tangan kiri dan pena dengan tangan kanan. Sambil bergantian memandangi coretan di atas amplop dan sandi di atas kertas, Huo Ju mendapatkan kunci pemecahan sandinya.

Kalau sudah begitu, dia akan menikmati sekali pekerjaannya. Diraihnya sebatang pensil kayu yang menganggur di samping penanya dan digunakannya untuk memberikan garis lurus melintang dan membujur yang mengurung masing-masing satu huruf. Kemudian sebagai panduan dari pemecahan sandi itu, Huo Ju menyalin coretan-coretan di amplop itu ke atas kertas berisi sandi itu. Amplop itu memiliki empat coretan yang berbeda dan keseluruhan sandi di atas kertas itu terdiri dari empat baris kalimat membujur.

Bagaimana kalau coretan darah itu adalah garis pelengkap sandi-sandi di atas kertas itu sehingga bisa membentuk huruf?

Sebagai pembuktian atas hasil pemikirannya, dia menorehkan garis yang pertama pada huruf di pojok kanan atas kertas dengan mengira-ngira letaknya. Bagai melihat sebuah keajaiban, mata Huo Ju membelalak ketika huruf itu ternyata terbaca "Innocence".

"Wuoooh!" gadis itu berseru keras.

Tapi perjuangannya belum berakhir, sebaliknya, ini masih permulaan. Dia melanjutkan pemecahan sandi dengan metode yang sama. Ternyata sandi yang sebenarnya sangat mudah dipecahkannya. Tidak sampai sepuluh menit dia berhasil menyelesaikannya dan dia mengakhirinya dengan sorakan kegembiraan.

"Horeee! Berhasil!" Huo Ju mengangkat tinggi-tinggi tangannya ke udara.

Akhirnya beres juga. Huo Ju memandangi hasil kerjanya sambil menghembuskan nafas kemenangan.

"Innocence ditemukan di Lhasa. Koloni Akuma Level 1 berjumlah 20 dan 1 Akuma level 2 mengepung. Pasukan Finder tidak bisa bertahan. Harap kirim bantuan segera."

Dibacanya bunyi pesan yang berhasil dipecahkannya itu sebanyak dua kali, barulah dia menyadari sebuah hal dan dia berseru pada dirinya sendiri, "Bukan waktunya untuk gembira, Bodoh! Ini kan bahaya!"


Last edited by Zhang Huo Ju on 28th January 2010, 09:54; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
Abel Baptiste



Posts: 5
Umur: 16
Pemilik: Woof

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 16

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   28th January 2010, 23:04

Spoiler:
 



Hoahhmm.

Abel menguap lebar. Punggung tangannya menutupi mulutnya yang terbuka mencoba menarik oksigen sebanyak-banyaknya, sedangkan tangannya yang lain terulur ke atas. Setelah merenggangkan otot-ototnya, gadis muda itu menundukkan kepalanya dan memutarnya sejenak; pekerjaan hari ini memang lebih berat dari biasanya. Bayangkan saja, anggota-anggota Black Order dari semua cabang Black Order – Amerika Utara-Selatan, Afrika-Timur Tengah, bahkan sampai yang terjauh, Asia – berdatangan ke Markas Pusat Black Order di Westminster! Dan kau tahu apa? Hanya untuk merayakan Valentine dengan sebuah dansa yang hanya berlangsung selama beberapa jam saja! Entah apa yang dipikirkan Supervisor Pusat yang biasanya tidak mau mengadakan acara macam-macam di Markas Pusat, Abel tidak mau tahu, yang jelas sekarang satu ruangan telah selesai dibersihkannya… atau lebih tepatnya dibersihkan mereka.

Ya, Abel tidak sendirian di ruangan itu.

Gadis berambut pirang itupun menoleh kepada rekannya yang kelihatannya juga baru merenggangkan otot-otot dan persendiannya yang mungkin juga pegal-pegal – apalagi kalau melihat beberapa noda lebam dan memar di beberapa tempat. Diam-diam, sebuah senyum muncul di wajah Abel muda, yang segera mendekati pria berambut cepak itu sembari menarik keluar sebuah buku kecil dari saku gaunnya.

Hai, Abisak! Bagaimana? Capek juga, ya, membersihkan ruangan ini?” tanya Abel, berbasa-basi terlebih dahulu. Tentu saja semua orang dapat melihat bagaimana keringat bercucuran membasahi kedua staf internal Manajemen itu.

Dan bukumu sudah kubaca, ngomong-ngomong. Jadi…” Kalimat Abel terputus ketika mata abu-abu gelapnya memperhatikan noda lebam di lengan bawah Abisak yang masih terlihat baru. “Ngomong-ngomong, aku jadi penasaran, apakah kau seorang masokis?” tebak Abel dengan nada bercanda. Tentu saja dia tidak akan berspekulasi mengenai asal-muasal noda-noda tersebut sampai Abisak memberikan klarifikasi langsung kepadanya… yang mungkin bisa memakan waktu sampai besok pagi kalau Abisak tetap sungkan untuk tidak menyebutkan sumber utama dari noda-noda itu.

Semoga saja jawabannya bukanlah seorang Jenderal Pusat atau Abel akan menanyakan hal-hal lain yang benar-benar bisa memakan waktu sampai besok pagi, atau sampai gadis itu tertidur karena tidak kuat begadang lebih lama lagi.


Last edited by Abel Baptiste on 29th January 2010, 16:20; edited 1 time in total (Reason for editing : "Mewarnai" kalimat langsung)
Back to top Go down
View user profile http://twitter.com/pineapple_mummy
Clearesta Cosmo



Posts: 20
Pemilik: LLJ

Biodata
Posisi: Section Leader
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 28

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   29th January 2010, 09:10

”Ketua, saya sudah menyelesaikan terjemahan bahasa Inggris-nya.”

Mata Clea melebar pada salah satu staf yang datang kepadanya sambil menunjukkan selembar hasil kerjanya itu. Ya, memang semalam tadi Clea memintanya untuk menerjemahkan, sementara dia sendiri sibuk dengan pemecahan sandi yang sama, meski dengan cara yang berbeda.

Nah, kalau tidak malas, bisa menyelesaikannya, kan?

Clea tersenyum simpul pada stafnya itu seraya meraih kertas yang dia tunjukkan padanya itu, ”Terima kasih.”

Kemudian dia beralih pada para staf masih bermalas-malasan di atas meja masing-masing, “Semuanya, sarapan dulu sana! Jangan salahkan aku kalau nanti kalian terkapar di meja masing-masing!”

Clea memang keras kalau sedang bekerja, tapi tubuhnya juga tubuh manusia yang bisa merasakan lapar. Makanya jangan sia-siakan kebaikan hatinya ini!
Sekarang...

Clea berjalan ke mejanya dan meletakkan sandi berbahasa Albania yang di bawah setiap kalimatnya sudah disertakan terjemahan bahasa Inggris-nya itu. Duduk? Nanti dulu. Kadang, berdiri bisa memicu seluruh sel kelabu otaknya untuk bekerja lebih maksimal. Yah, itu pendapatnya sendiri sih. Perlahan, dia membaca ketiga kalimat itu dan mulai mengerutkan kening sampai kedua alisnya bertautan.

Kur Zoti mallkuar qen e Xhehennemit,
When God cursed the dog of hell,

ajo ishte duke marr një sy gjumë e tij më të nxehtë pan,
it was taking his nap on the heated pan,

por ku është eel?
but where was the eel?


Clea yakin sekali kalau di dalam sandi ini, ada petunjuk tentang lokasi Innocence. Kecemasan mulai melanda hatinya yang dihantui oleh bayangan para Finder yang sedang dalam keadaan gawat dikepung oleh Akuma. Dia tidak tahu bagaimana kondisi di sana, tapi pastinya sekarang dia harus memecahkan sandi ini dulu agar bisa merekomendasikan bantuan seorang atau dua orang Exorcist menuju lokasi yang sampai saat ini sedang dicarinya. Albania kan luas, sedangkan amplop surat ini sama sekali tidak diberi petunjuk lengkap tentang alamat asal si pengirim surat.

Clea memukul bibirnya sendiri dengan kepalan tangannya dan bersikukuh untuk mengesampingkan kekhawatiran itu. Dia harus segera memecahkannya, meski dalam hati dia mengutuki si penulis sandi yang membuatnya harus menggunakan segala macam cara untuk mengartikannya. Tangannya gatal, ada perasaan aneh di hatinya yang memaksanya untuk membolak-balik kertasnya ke berbagai arah. Memiringkannya, membalik, dan lain sebagainya.

”Anu, saya juga sudah iseng-iseng mencoba memecahkannya dengan cara membalik-balik kertasnya, tapi itu tidak membantu. Saya bahkan sudah memikirkannya sejak empat jam yang lalu. Sandi ini susah.”

Clea nyaris melejit kaget mengetahui masih ada seorang stafnya yang ternyata masih di sana. Menghembuskan nafas panjang sambil memutar kertasnya, membacanya terbalik.

Mendadak dirinya membeku, takjub oleh apa yang barusan dilakukannya sendiri. Dia tahu stafnya itu mengatakan sesuatu padanya, tapi dia tidak menggubrisnya. Matanya menangkap beberapa pilihan kata yang menarik minatnya.

”Aku memecahkannya...” desis Clea, nyaris tak bersuara. Dia sudah menurunkan tangannya dari bibirnya, yang berarti dia benar-benar sudah berhenti memikirkan cara mengartikan sandi. ”Kuncinya ada pada kata-kata: God, dog, nap, dan pan.” Clea mengambil sebatang pensil dan melingkari kata-kata yang tadi disebutnya. Kemudian dia melanjutkan bicaranya, ”Dog adalah pembalikan posisi huruf g dan d dari God. Begitu juga dengan nap dan pan. Lalu kalimat ketiga...”

but where was the eel?

Mata Clea membelalak begitu dia menangkap maksud dari sandi ini dan dia pun mengeluarkan gumaman kecil, ”... lee...”

Otaknya mencari-cari arti kata itu dalam bahasa Yunani yang menjadi bahasa yang paling dikenalnya sejak dilahirkan di bumi Athena, kemudian dia paham dan langsung berseru pada staf di depannya itu, tak memedulikan wajah bingungnya, ”Lokasi Innocence ada di tempat yang teduh, terlindung, di bawah angin! Hutan Albania!”

Kenapa dia bisa tahu cara memecahkan sandi ini? Jawabannya mudah saja. Clea hanya membacanya secara terbalik.



Spoiler:
 

_________________
Να θυμάστε ποιος είναι αυτός που αυξάνουν την επιχείρησή σας!
Remember who's the one who increases your business!
Είναι σειρά μου.
It's my order.


Li Lian Jie's 3rd Character -- The Lion of Athens
Back to top Go down
View user profile
Elska Svellsdóttir



Posts: 12
Pemilik: Indigo

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 38

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   29th January 2010, 17:09

Seorang wanita yang terlihat berumur 30-an melangkahkan kakinya di salah satu koridor markas, kipas ala Victoria menutupi mulutnya, membuat ekspresinya tidak bisa terbaca. Elska Svellsdottir, itulah nama wanita yang sebenarnya berumur 38 tahun ini, dan hari ini adalah minggu ketiganya di Markas Black Order Cabang utama. Sekarang, ia sedang berjalan mengelilingi markas, mengumpulkan informasi yang sebenarnya tidak penting, tapi itulah hobinya.

Melewati arena latihan, ia berhenti sejenak, melihat figur yang ada di situ. Seorang remaja terlihat mengayunkan pedang kembar yang dipegangnya, tampaknya sedang berlatih. Setelah menutup matanya untuk mengingat kembali informasi yang ia dapatkan selama di Black Order 3 minggu ke belakang, akhirnya ia mengingat nama orang yang sedang berlatih itu. Nikolai Mikhailov, umur 15, dari Rusia. Saat ini menjabat sebagai Exorcist, dan Disciple dari... Shreizag Halverson. Innocence-nya... pasti pedang kembar itu. Mencatat hal ini dalam pikirannya, wanita Swedia ini kembali melanjutkan perjalanannya.

'Hmm... Shreizag Halverson...'
Elska mencoba mengingat sesuatu tentang General dari Norwegia itu, hobinya, keluarganya... gosip tentangnya? 'Shreizag, ia benar-benar populer di sini, tapi kira-kira siapa yang ia suka... Section Leader-ku itu, Ressa? Atau seseorang yang lain? ...Giraile?'

Memutuskan untuk mencari tahu di kemudian hari, ia pun mengesampingkan pikirannya itu, mencoba mencari hal-hal menarik -atau orang berbicara- di sekitarnya. Selagi ia berjalan, seseorang menabraknya.

"Akh, maaf, Nona..."
staf itu meminta maaf, namun sepertinya lupa -tepatnya tidak tahu- siapa namanya. Elska mamaklumi ini, tentunya karena ia baru 3 minggu di situ.

"Ah, tidak apa... Brown," ketika ia mengucapkan ini, orang di depannya nampak kaget karena induk semang satu ini mengetahui namanya. sambil menepuk rok Victorianya dengan kipasnya, ia menambahkan, "Ah, selamat atas pertunanganmu, omong-omong."

"Eh? Kenapa..."


Mendengar awal kalimat yang sudah terlalu sering ia dengar itu, Elska cepat-cepat memotongnya, "Why do i know? More like, why did you let it slip at the bar, Brown?" sambil tersenyum, ia menepuk pundak laki-laki itu dan melangkahkan kakinya pergi.

_________________
"Why do i know that... ? More like why did you let it slip... right?"
Elska Svellsdóttir

~The 3rd Indigo: The Succubi Owner~


Last edited by Elska Svellsdóttir on 4th February 2010, 17:47; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
Shena C. Medvedev



Posts: 10
Umur: 13
Pemilik: Zen[a]

Biodata
Posisi: General
Cabang: Amerika Utara - Selatan
Umur: 27 y.o.

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   30th January 2010, 16:13

Pasta, Pizza, telur atau Panekuk?

Lidah api merah berderik, berusaha menggapai-gapai udara kosong di atasnya sementara warnanya semakin berpendar. Memperlihatkan percikan pemandangan indah seperti telah disiapkan khusus untuknya. Panas. Entah berapa lama lagi percikan api itu akan bermain-main dengan berbagai macam benda yang baru saja Shena masukan, dan selama itulah ia akan menggerakan tangannya, dengan cepat, tanpa henti. Dia merasakan jantungnya berdegup, keringatnya mengalir tak henti dari rambutnya yang memang memiliki unsur warna yang menyerap panas.

Harap-harap cemas. Percayalah, dia hampir tak berkedip ketika sang percikan api berpendar, mengubah warnanya dari merah menggairahkan menjadi biru terang kemudian kembali menjadi merah lagi. Manik ambernya mulai melebar sebesar kelereng. Persetan dengan gundu atau kelereng. Percikan api memudar, perubahan warna terlihat jelas sekarang, merah. Hanya satu kata saja yang bernyanyi dalam benaknya, satu kata yang berhasil merasuki pikirannya sejak pagi tadi sampai siang ini--

--Pasta.

Persetan dengan Pizza, telur dan Panekuk. Mau tahu, sekarang tempat kosong di dalam otaknya hanya untuk Pasta, jadi? Persetan dengan yang lainnya, kecuali untuk pernyataan bahwa--

--Tidak terlalu banyak yang menyebalkan.

Anggukan kepalamu untuk pernyataan di atas. Ya, memang benar, lima belas tahun berlalu sejak pemuda kelahiran Russia bernama lengkap Shena Cherkesovich Medvedev tersebut menerima ajakan untuk menjadi Exorcist di Black Order Cabang Amerika Utara-Selatan, dan selama itu juga, tidak terlalu banyak hal menyebalkan yang terjadi.

Terutama karena di sini, gedung ini, ada dapurnya.

Senyum imbisilnya yang khas yang lebih tepat dikatakan sebagai sebuah cengiran mengembang lebar, sementara kedua tangannya menuangkan seonggok pasta dari atas penggorengannya ke piring putih berukir di tangannya. Senang dan panas, dua kata lagi memasuki pikirannya. Well, dia akui kalau dia sudah berada lebih dari satu jam di sana -dapur- hanya untuk membuat pasta yang benar-benar sempurna. Seperti yang sekarang berada di tangannya ini, niatnya sih ingin diberikan pada Lea, Diavlea si General pendek dari Black Order cabang Amerika Utara-Selatan.

Diavlea.

Ya, Diavlea merupakan orang yang tepat jika dia harus menunjuk siapa yang akan mencicipi masakannya, apalagi lidah Diavlea juga agak aneh dan Lea juga kadang mampu membuat makanan yang bisa Shena katakan "hebat" atau "unik". Bahkan ide-ide Lea kadang sama sekali tidak terpikirkan oleh Shena yang sudah membuang sedikit dari harga dirinya untuk melanjutkan hobinya dan menghabiskan waktu lebih banyak di dapur ini daripada Lea.

Persetan dengan dapur, gedung dan penggorengan. Benaknya terus berpikir seperti itu sementara kedua kakinya melangkah pelan memulai percariannya terhadap Diavlea.


Last edited by Shena C. Medvedev on 6th February 2010, 09:59; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
Casthaniel A. Ellsmer



Posts: 13
Umur: 15
Pemilik: Pascal Valentino

Biodata
Posisi: Exorcist
Cabang: Amerika Utara - Selatan
Umur: 15 Tahun

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   31st January 2010, 19:18

Tik-Tuk-Tik-Tuk..

Kelopak mata itu sayup, sesekali menyirip hingga mencapai posisi pada dalam keadaan tertutup rapat dan tersentak kembali terbuka. Pandangannya yang terlampir hanya sudut dari sebuah atap dengan lentikkan oleh serabut jaring serangga berkaki delapan yang merekat. Kedua jemari tangan kirinya menyapit tulang hidungnya diiringi kerjapan mata beberapa kali.

Lalu ia mendengus berat ke pesisir udara. Berusaha mengangkat tubuhnya dengan menekankan kedua telapak tangannya pada permukaan kasur yang sejak tadi menopang tubuhnya. Dadanya ia kembang-kempiskan sembari menyekat basahan lembab yang seakan meresap pada bagian keningnya. Sekali lagi dirinya mengerjap sehingga tercipta pola kerutan disekitar matanya dan meresah seorang diri "Hhhft.."

Ah, ia seorang laki-laki. Tepatnya pemuda dengan polesan wajah yang tercipta dari darah seorang Britanian. Permukaan kulit kepalanya ditumbuhi oleh ijuk-ijuk lembut yang terpangkas pendek yang tumbuh dalam rupa warna hitam pekat. Setidaknya bila tersinari oleh hantaman cahaya matahari warna itu akan perlahan berubah menjadi sedikit kecoklatan. Tapi sayangnya hal itu tidak akan terjadi, ia menyukai dirinya apa adanya. Atau memang ia tidak peduli ?

Pemuda ini bernama Casthaniel Acoustic Ellsmere. Biasanya disapa dengan sebutan 'Cast' nama depannya. Sambil ia beranjak bangun dari tempat tidurnya dan mengenakan sepasang sendal empuk dengan corak putih. Meregangkan kedua lengannya ke atas dan menggoyang-goyangkan pergelangan kakinya diikuti lehernya untuk pelepasan rantai terakhir. Bibirnya ia kulumkan dalam-dalam setelah itu mencibir kecil.

Diikuti gerakan tubuhnya, kepalanya-pun ikut memutar. Memperhatikan satu demi per-satu setiap detil dari kamar barunya. Ya, kini ia berada di sebuah tempat yang begitu besar. Yang ia yakini sebagai kehidupan barunya, setidaknya lebih berharga daripada sebelumnya. Harap saja begitu. Markas Black Order, di Cabang Amerika Serikat. Jari telunjuknya menggaruk dagu "Nah. Sekarang, apa yang harus kulakukan ?" bisiknya dengan volume nada yang begitu kecil.

Maniknya bergulir kesana kemari memperhatikan putih dinding kamarnya yang entah kapan akan segera ternodai. Lukisan yang terpahat oleh sebuah paku sederhana yang mungkin telah berkarat dibelakang sana. Dan beberapa hiasan lainnya, satu kata untuk ruangan berbentuk persegi ini 'Menarik'. Yah, semua hal memang selalu menarik dimata Cast.

..Bohong,


"Okay.." sautnya agak kebingungan sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. Perhatiannya terhenti pada sebuah tas koper yang cukup besar dan tinggi yang tersandar pada bagian belakang sudut kamar tersebut. Ia tersenyum kecil lalu mengambil beberapa langkah kemudian membungkukkan tubuhnya. Kedua bola matanya berbinar, raut wajahnya tidak berekspresi. Perpaduan jari telunjuk dan jempolnya ia padukan untuk menyapit selembar sapu-tangan yang tersimpan pada saku kemeja yang ia kenakan.

Ia usapkan kain itu pada sekujur permukaan dari koper tersebut perlahan. Selang dua menit setelahnya, sapu-tangan itu ia lempar ke atas meja disamping tempat tidurnya lalu memutar koper yang menyimpan sebuah instrument tersebut. Kemudian menyisipkan telapak tangannya kedalam tali yang dibuat khusus untuk mengangkat koper besar tersebut. Mengangkatknya dengan cepat sambil ia sandarkan ke pundak kanannya dan beranjak keluar dari kamar.

Sekarang ia berada diluar. Melangkah tidak jauh dari pintu kamarnya, didepan sana terdapat lubang besar yang membentuk lingkaran. Sedikit menengok kebawah sana, hitam. Gelap gulita. Entah apa yang terdapat disana. Tapi itu bukan menjadi topik permasalahan kali ini, masalahnya ia lupa dirinya berada di lantai berapa dan harus kemana. Apalagi memorinya tidak secepat itu bisa menangkap setiap jalur yang dijelaskan.

Cast meletakkan koper yang berisikan Cello miliknya di lantai. Celingka-celinguk mencari petunjuk, tempat ini seperti tidak ada kehidupan. Terlalu sepi apa memang semua orang memiliki kesibukan masing-masing. Setidaknya satu hal yang menjadi prioritas utamanya sekarang, yaitu.. Mencari seseorang untuk menanyakan jalan. Kalahkan rasa malu, ia juga tidak mau terjerat di satu tempat kosong seperti ini untuk selamanya.

[Ini yang karakter dulu punya, pas masih Cast. Krn skrg udah diganti Emilly nanti bakal di post lagi sptnya]


Last edited by Emilly Sullivian on 3rd February 2010, 19:58; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Dzoldzaya



Posts: 21
Pemilik: Cairy

Biodata
Posisi: Finder
Cabang: Asia
Umur: 16 tahun

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   2nd February 2010, 19:47

Dzaya menguap lagi, merebahkan tubuhnya di atas tumpukan rumput sebelum kembali bertugas dan harus bermain-main dengan pasir di gurun sana, mencari harta terpendam. Gadis cilik yang tengah beranjak dewasa itu hanya menggumamkan lantunan lagu pelan yang selalu dinyanyikan oleh sang ibunda sebelum ia tidur. Oh... betapa Dzaya merindukan saat itu sebelum semuanya berubah.

Tangannya bergerak lentur melambai-lambai seakan sedang melukis langit. Dzaya tahu bahwa ia tidak bisa melukis, jangankan langit, melukis yang biasa saja ia tidak begitu cekatan. Namun menurutnya lukisan mengenai langit itu dapat dilakukan oleh siapa saja, yah... mudah kan tinggal menggerakan tangan sambil menengadahkan kepala melihat langit biru itu. Seakan tangannya lah yang membuat keindahan di semesta. Dzaya tidak mengenal Tuhan, walau pernah sekali ia meminta pada sosok yang tidak terlihat itu untuk menunjukkan jalan bagi dirinya yang tersesat.

Satu...

Dua...

Sudah selesai waktu melamun. Perutnya kembali berderik dengan kencang. Ah, sudah waktu makan siang kah? Cepat sekali ternyata.

"Hm... yah, saatnya mengisi tenaga!" ucapnya ceria kembali. Kemudian beranjak dari posisi tiduran dan melompat sembari merenggangkan kedua tangan.

Terakhir kali, hanya menatap langit. Dan kemudian tersenyum, berucap tanpa tahu kepastian, "Tolong tunjukkan jalanku."
Back to top Go down
View user profile
Rosemary Revenants



Posts: 16
Pemilik: Glace

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Eropa
Umur: 20 tahun

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   2nd February 2010, 21:35

Terdengar langkah kaki di lorong gelap koridor Black Order cabang Eropa. Memecah kesunyian di tempat itu. Sesosok wanita muda dengan rambut hitam lurus terlihat tengah melintasi koridor tersebut.

Uh... Ruang Supervisor di mana ya? keluh wanita muda bernama Rosemary tersebut. Kelihatannya ia tengah kebingungan mencari di mana ruangan Supervisor. Entah apa tujuannya mencari lokasi ruangan Supervisor.

Beberapa saat kemudian, terlihat sesosok bayangan dengan jarak beberapa meter dari tempat Rosemary berdiri sekarang. Keliatannya ia tengah mengerjakan sesuatu. Ha-haruskah aku bertanya kepadanya? pikir Rosemary sesaat. Namun, ia langsung memutuskan untuk menghampirinya. Yah... Memang lebih baik bertanya daripada tersesat...

"Pe-permisi..." ucapnya agak gugup. Harap dimaklumi, ia merupakan wanita yang sedikit pemalu. "Kira-kira di mana ruangan Supervisor Ezekiel Wright?" sambungnya pelan.

Sosok tersebut berbalik dan menatap ke arah Rosemary. Ternyata merupakan seorang pemuda yang kelihatannya sedang bekerja mengepel lantai di sekitar koridor tersebut.

"Ah... Ruangan Supervisor Ezekiel Wright? Kau tinggal berjalan lurus ke arah sana dan berbelok ke koridor kanan. Tak jauh dari sana, di situlah ruangan Supervisor." ucap pemuda tersebut. "Ngomong-ngomong aku tak pernah melihat kau di markas ini, boleh tahu namamu?" sambungnya.

"Ro-Rosemary... Rosemary Revenants... ucapnya semakin gugup. Mungkin, kini wajahnya telah memerah. "Sa-saya baru hendak mengurus masalah bergabungnya saya dengan organisasi ini... Ah, maaf saya terburu-buru... Pe-permisi!" ucapnya seraya melangkah dengan tergesak-gesak.

Malangnya, entah mengapa ia kurang hati-hati sehingga ia terpeleset karena lantai basah tadi.

"KYAAA..." Sontak ia menjerit.

"Kau tidak apa-apa?" Pemuda tadi dengan segera menghampirinya dan menolongnya untuk berdiri. Saat ini, Rosemary baru saja sadar bahwa ia mengalami sesuatu yang sangat jarang terjadi pada dirinya. Ya, kebalikan dari keberuntungan.

"A-aku tidak apa-apa..." ucapnya pendek. Untuk kesekian kalinya, wajahnya kembali memerah.

"Bo-boleh tahu namamu?" tanya Rosemary sedikit ragu.

"Abisak, Abisak Avedisian!" ucap pemuda tersebut pendek.

"Abisak?" gumamnya pendek. Se-sekali lagi terimakasih dan mohon maaf karena saya sedang terburu-buru..." ucap Rosemary sembari melangkah dengan cepat dan tentu saja masih dengan wajah kemerahan. Sosok wanita itu pun hilang setelah berbelok di salah satu koridor.

Semoga bisa bertemu lagi... ucap Rosemary dalam hati.




Oot: Sudah dapat izin dari Bu Chief buat menggerakkan Abisak. Mohon maaf kalau Abisaknya jadi OOC... m(_ _)m
Back to top Go down
View user profile
Vodete Vladislav



Posts: 10
Pemilik: S.E.H.

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 32

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   4th February 2010, 20:23

Spoiler:
 



Sebenarnya belum ada setengah tahun sejak domisilinya berpindah ke sini, Black Order Cabang Afrika - Timur Tengah. Untungnya, Vodete Radimirovich Vladislav adalah orang yang cukup cepat beradaptasi dengan lingkungan, walaupun awalnya memang canggung. Apalagi, di sini memakai bahasa yang baru dipelajarinya, sehingga terkadang ia harus memakai bahasa Inggris untuk memperjelas maksud perkataannya.

Namun, bukan berarti bahasa menghambat pekerjaannya; akhir-akhir ini namanya sudah mulai terdengar dan dikenal sebagai dokter yang bisa dipercaya. Pagi, siang, malam, orang-orang dengan berbagai macam keluhan akan datang padanya. Seperti pada sore menjelang senja hari ini, seorang wanita paruh baya datang padanya dengan keluhan pusing, cepat lelah, dan tidak bertenaga. Setelah anamnesis singkat, Vodete mempersilakan sang pasien yang wajahnya pucat itu berbaring di tempat tidur.

"Permisi, Nyonya, saya akan meraba beberapa titik arteri di tubuh Anda." Sebuah senyum ramah selalu dipajangnya, tidak baik menakuti pasien dengan muka garang, kan? Tangannya meraih tangan kanan sang pasien, kemudian ia meletakkan dua jarinya di atas arteri radialis yang terletak pada sisi ventral pergelangan tangan bagian lateral.

Ia mengerutkan dahinya sedikit begitu merasakan denyut yang nyaris tidak teraba. Kemudian jarinya berpindah ke leher, menempatkannya di medial bawah angulus mandibulae untuk meraba arteri carotis communis. Tentu, ia tak lupa untuk bilang permisi dulu, sopan dan menghargai pasien itu penting.

'Denyutnya lemah... Bahkan di arteri carotis communis sekalipun. Berarti memang hipotensi.' Melepaskan jarinya dari leher samping sang pasien, ia kembali ke posisi duduknya yang semula, "Nyonya, Anda menderita tekanan darah rendah. Bisa jadi karena kerja jantung yang abnormal, melebarnya pembuluh darah, atau volume darah berkurang," jelasnya singkat, menjaga senyumnya tetap di sana agar sang pasien tidak menjadi takut atau gelisah. "Namun jangan khawatir, penyakit ini belum parah. Saya menganjurkan Anda untuk minum banyak air putih, sekitar 8 sampai 10 gelas per hari. Boleh juga minum kopi sesekali untuk memacu kerja jantung, dan mengkonsumsi makanan yang cukup mengandung kadar garam."

Ia memberikan jeda agar pasiennya dapat menyerap semua yang baru dikatakannya barusan. Kalau diberitahu semua sekaligus, mana mungkin bisa langsung dimengerti oleh orang awam. "Oh ya, lebih bagus lagi bila Anda mulai berolahraga ringan secara teratur, seperti jogging atau jalan pagi selama 30 menit, cukup 3 sampai 5 kali seminggu. Bila semua itu teratur Anda lakukan, niscaya gejalanya akan berkurang," jelasnya kembali sambil mempersilakan sang pasien bangkit dari tidurnya, karena pemeriksaan sudah selesai.

"Kalau gejalanya terasa lagi, silakan datangi saya kapan saja," tandasnya dengan senyum ramah, beranjak dari kursinya, memberikan ruang bagi sang pasien untuk turun dari tempat tidur dan memakai kembali alas kakinya.

"Ada yang lain lagi, Dokter?"

Pria Rusia ini tersenyum kembali, meyakinkan, "Sementara ini, itu saja. Bila diperlukan nanti, saya akan memberikan Anda obat penambah darah."

"Baik, terima kasih banyak, Dokter."

"Sama-sama, semoga cepat baikan, Nyonya." Ia mengantar kepergian pasien setengah baya itu ke ambang pintu, di mana Freja, istri sekaligus asistennya, telah membukakan pintu. Diakhiri dengan anggukan dan senyuman, akhirnya sang pasien kembali ke tempat kerjanya. Vodete harap, sang pasien segera melaksanakan apa-apa yang sudah dianjurkan padanya.

"Kelelahan karena terlalu banyak bekerja," katanya setelah Freja kembali menutup pintu, "kamu jangan seperti itu, ya." ia menatap istrinya lurus ke mata, menekankan betapa serius ucapan yang terdengar sepele itu. Nada serius itu cepat pudar ketika melihat istrinya tertawa kecil, seraya mengatakan kalau Vodete tak perlu khawatir soal itu. Pria berusia 32 tahun ini ikut tersenyum, tahu kalau sebenarnya ia tak perlu mengkhawatirkan Freja asal ia ada di sisinya.

Ya, karena mereka selalu menjaga satu sama lain.

Freja menyeduhkan secangkir teh hangat untuk suaminya, yang langsung disambut kecupan mesra di pipi ketika sang suami menerima cangkir itu. "Terima kasih, Sayang." Duduk bersebelahan, mereka menunggu pasien berikutnya datang. Biasanya senja menjelang malam begini akan lebih ramai...

"Hei, Suster Freja ada di dalam tidak? Sama suaminya yang galak itu?"

Suara seseorang terdengar samar-samar dari luar pintu, dan senyuman miring di wajah Vodete menandakan kalau ia mengetahui pemilik suara itu. Dalam satu gerakan cepat, ia meletakkan cangkir teh di meja, dan melangkah menuju pintu.

"Ehhh, kalau ada suaminya aku nggak mau ah! Nanti--"

"Nanti apa, Tuan Nambiar?" Pintu menuju ruang prakteknya sudah terbuka lebar, menampilkan dengan jelas sosoknya yang berjubah putih di sana. Rajeev, si penggoda wanita itu tampak terkejut dan hanya bisa tersenyum gugup di tempatnya. "Kebetulan sekali, apa keluhan Anda hari ini? Ayo masuk, jangan sungkan! Hari ini saya akan memberikan pemeriksaan spesial untuk Anda!" lanjut Vodete dengan senyum manis yang dilebih-lebihkan, mendorong punggung Rajeev seolah kalimatnya tadi bertitah "Kalau-tidak-masuk-kukeluarkan-semua-organ-dalammu-nanti!".

Blam, pintu ditutup oleh si pria berambut merah. Tanpa basa-basi ia langsung meminta Rajeev untuk berbaring di tempat tidur, meninggalkan ekspresi kebingungan di wajah istrinya.

"Nah," ia memulai, dengan senyuman yang berlebihan ditujukan pada pria India di hadapannya, "ada apa hari ini, Tuan Nambiar? Gatal-gatal? Flu? Atau malah keracunan gara-gara wanita yang Anda goda kesal pada Anda? Hahaha! Ayo, apapun itu, silakan mengeluh pada saya!" Vodete melipat tangannya di dada, menunggu keluhan dari sang Section Leader Research tersebut. Jangan heran kalau kalimatnya jauh dari apa yang ia praktikkan pada wanita paruh baya tadi, atau kalau nadanya yang terdengar terlalu antusias, atau juga kalau senyuman lebarnya yang mencurigakan.

Apalagi alasannya kalau bukan sifat penggoda pria India satu ini?

"Err..." Si pria India tampak terlalu takut memberikan respon, mengingat ia punya pengalaman tidak menyenangkan dengan dokter di sampingnya ini. Tapi sudah di sini, masa' ia mau kabur? "Se-sebenarnya sih, perut saya sakit..."

"Ohh, sakit, ya? Saya coba auskultasi dulu, ya? Coba buka pakaian Anda," kata Vodete sambil menyiapkan stetoskopnya, "tapi tolong taruh di sebelah sana, ya," lanjutnya sambil menunjuk meja kecil di sebelah tempat tidur, bisa bahaya kalau bau tidak sedap dari kemeja dan jas lab pria India itu menyebar ke mana-mana. Rajeev hanya bisa tersenyum asimetris menanggapi maksud di balik pernyataan Vodete, namun akhirnya menurut juga.

Ia meletakkan bagian membran stetoskopnya di salah satu regio abdomen pria berkulit gelap itu, kemudian menunggu beberapa lama untuk mengevaluasi suara-suara yang dihasilkan di sana. "Wah, Tuan Nambiar, frekuensi bising ususnya 38 kali lho, gawat juga, ya?" Karena yang normal adalah 4-33 kali permenit. Vodete masih tersenyum ketika mengatakan itu, tidak seperti dokter yang tengah empati pada kesusahan pasiennya, membuat sang pria India merasa semakin menyesal telah melangkah kemari. "Selanjutnya saya lakukan perkusi." ia meletakkan tangan kirinya di atas abdomen pria India itu, dengan jari tengah menempel di kulit, kemudian jari tengah dari tangan kanannya mulai mengetuk.

Ketukan pertama, terdengar suara dull. Ketukan kedua, dull lagi. Seharusnya suara yang dihasilkan di abdomen itu timpani, bukan dull... "Anda baru makan, ya, Tuan Nambiar?"

"Err... Iya."

Ah, pantas saja. "Begitu. Selanjutnya saya akan melakukan palpasi, tolong katakan bila Anda merasa sakit," lanjutnya sambil tersenyum--senyum sinister yang biasa ia tampilkan pada pria kelahiran Kerala itu. Pertama-tama palpasi yang dangkal dulu; ia meletakkan tangan kanannya di abdomen Rajeev, dan mulai menekannya pelan. Setelah melakukannya di empat regio, tidak ada reaksi negatif. Nah, selanjutnya... Palpasi dalam. Senyumannya bertambah lebar beberapa milimeter.

"Tolong tarik napas yang dalam, lalu keluarkan perlahan," pintanya ketika tangannya sudah siaga di atas abdomen Rajeev. Seiring dengan dihembuskannya napas dari bibir si pria India, Vodete menekan tangan kanannya, makin lama makin keras dan dalam. "Sakit tidak? Sakit? Sakit, kan?"

"Aaauuw!"

"Oh, sakit, ya?" Senyum tidak bersalah kini menghiasi wajahnya. Padahal, siapa juga yang tidak sakit kalau ditekan keras-keras seperti itu. Vodete sudah tahu dengan jelas kok, ia memang sengaja melakukannya.

"Palpasi Suster Freja lebih lembut! Biar Suster Freja saja yang mempalpasi saya!!" seru Rajeev panik, rona kesakitan tampak jelas di wajahnya.

"TIDAK. Saya dokter dan Anda pasien. Pasien berbaring saja di situ." Tegas dengan penekanan sedemikian rupa di awal kalimat, ini lebih terdengar seperti ancaman bagi Rajeev--bukan, bagi siapa saja--yang mendengarnya.

"Wah, Tuan Nambiar, Anda ini pintar memuji, ya~"

Freja. Kalimat sederhana dari istrinya yang tentu akan membuat pria India di sampingnya ini senang. Spontan, Vodete meremas pergelangan tangan pasien di hadapannya keras-keras, sebagai akibat dari rasa kesal dan cemburunya.

"Gyaaaa!"

"Ah, maaf, saya tidak sadar..." ujarnya, yang kali ini bukan merupakan kebohongan, namun senyum usil tersungging di bibirnya. Sementara Rajeev meringis kesakitan sambil mengelus-ngelus lengannya yang bernasib naas, Vodete memperhatikan lengan yang baru diremasnya itu, mulai berwarna kemerahan. "Wah, ada oedem tuh, Tuan Nambiar. Saya palpasi lagi, ya?"

"NGGAK! NGGAK USAH DEH!" Kali ini, bersamaan dengan seruan itu, Rajeev Vikramendra Nambiar benar-benar lari terburu-buru meninggalkan ruangan itu, tanpa menoleh untuk melihat rupa memesona Freja Vladislava--tujuan utamanya datang kemari.

"Jangan terlambat makan ya, Tuan Nambiar! Nanti Anda kena maag lhooo?" seru Vodete pada sosok pria yang tengah lari terbirit-birit itu. "Hmph," ia terkikik, berusaha menahan tawanya keluar. Jangan salah, ia juga bisa kejam pada orang yang sudah berani mengusik istrinya. Dan yang tadi itu, belum seberapa kok, sungguh.

"Aduh, pemeriksaannya kan belum selesai..." Freja mengawali, raut cemas tergambar di wajahnya, "apa benar ia tidak apa-apa, Sayang?"

Vodete beranjak dari kursinya, berdiri berhadapan dengan sang istri. "Tidak apa-apa, Sayang. Tuan Nambiar hanya terlambat makan saja, tidak ada yang serius." Senyuman tulus dan hangat--ini Vodete Vladislav yang biasanya. "Nanti aku akan meminta Supervisor Mana untuk menasihatinya, tenang saja." Ia mengedipkan sebelah matanya pada Freja, meyakinkan. Oh, kalau nasihat Supervisor tidak berguna, masih ada Nyonya Mila... dan dirinya sendiri yang akan memaksanya.

Senyuman kembali tersemat di wajahnya yang sebagian tertutup rambutnya yang tumbuh panjang, "Baik, pasien berikutnya?"



Spoiler:
 


Last edited by Vodete Vladislav on 9th February 2010, 22:00; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile
Freja Vladislava



Posts: 16
Pemilik: DPNK

Biodata
Posisi: Section Staff
Cabang: Afrika - Timur Tengah
Umur: 24

PostSubject: Re: [REGISTER] Firstly First   5th February 2010, 00:44

Siang hari yang biasa, bau infirmari yang biasa, menu yang biasa dan penuh rempah-rempah khas cabang eksotis satu ini. Freja duduk di bangku kamarnya--dan suaminya tentu saja--sorot sayu nan ekspresif itu memperhatikan sup di meja kayu bertaplak sulam yang mulai mendingin. Tidak ada hal aneh yang terjadi, dan mungkin itulah penyebab sosok wanita Denmark itu merasa bosan?...yang berujung ke hilangnya nafsu makan.

Hmm...

Sedari tadi sendok yang tergenggam di telapak tangannya hanya bergerak-gerak di udara bebas, Freja sendiri tampak sangat enggan menyuapkan sup itu ke dirinya sendiri. Ia tidak lapar. Sendok itu akhirnya ia letakkan di pinggir piring; terdengar gesekan antara keramik dan logam yang sangat pelan di indera pendengarannya.

Ia tahu, sebagai seorang asisten dokter--yang lebih berpreferensi sebagai seorang perawat--ia harus menjaga asupan gizinya, seperti ia meminta orang lain untuk mengerti kebutuhan tubuh mereka sendiri. Tapi, memotivasi diri sendiri lebih susah kan? Lagipula, jarang-jarang juga ia seperti ini.

Freja Vladislava juga mengerti dengan sangat baik kalau ada seseorang yang tak akan suka melihat piringnya masih penuh, tak tersentuh sama sekali.

"Kenapa, Sayang? Makanannya tak enak? Atau kau tak enak badan?"

Freja mengangkat wajahnya, dan menemukan paras pria dengan garis wajah maskulin tersebut tampak khawatir. Sebuah senyuman terulas di wajah wanita Skandinavia itu, senyuman yang biasanya ampuh menenangkan hati pria Rusia tersebut; suaminya.

"Aku hanya... tak nafsu makan."

Tersenyum sekali lagi, namun tampaknya kali ini senyuman menawan itu tidak berpengaruh banyak kepada keadaan psikologis suaminya. Vodete Vladislav menghembuskan napas panjang, "ayolah makan, sedikit saja tak apa-apa." Suara Vodete yang biasanya tenang terlepas dengan balutan kecemasan. Sungguh, Freja tak ingin membuat Vodete khawatir seperti itu, tapi saat ini rasanya semua rasa lapar itu tak terasa dan dari tadipun lambungnya belum mengeluarkan bunyi-bunyi janggal.

Ia meletakkan kedua telapak tangannya yang ramping untuk menelungkupi telapak tangan Vodete yang lebih besar. Iris biru itu menatap dua bola mata hijau di depannya dengan sorot teduh, begitupun senyuman yang menghiasi parasnya. "Aku tak apa-apa, percayalah. Badanku juga baik-baik saja." Untaian kalimat dengan nada lembut itu meluncur dari celah bibirnya. Berusaha meyakinkan pria kelahiran Lyubertsy tersebut.

Tapi, alih-alih mengiyakan Vodete membalas perkataan wanita bermahkota pirang panjang itu dengan sangat cerdas. Sebuah senyuman lembut pun terpancar di sana.

"Istriku, kalau kau tak mau makan untuk dirimu sendiri, maka makanlah demi diriku. Kau tak mau membuatku sedih kan?"

Ahh...


Daerah di antara kedua alisnya sontak mengerut, tak lama, karena kemudian tawa geli lepas dari Freja. Ia mengangkat salah satu telapak tangannya, mengambil sendok yang tadinya terbengkalai dan mulai menyendokkan alat dari logam itu ke sup di depannya seraya berkelakar merdu pada Tuan Vladislav.

"Curang, kau tahu aku tak bisa menolak permintaan satu itu."

Mana mungkin bisa, kan?
Back to top Go down
View user profile
 

[REGISTER] Firstly First

View previous topic View next topic Back to top 
Page 3 of 4Goto page : Previous  1, 2, 3, 4  Next

Permissions of this forum:You cannot reply to topics in this forum
Black Order Headquarters :: Welcome to Black Order! :: Registration Room-
Post new topic   Reply to topic