| Time | | Selamat datang di Black Order Headquarters! Waktu dunia Black Order HQ saat ini adalah: Januari 1880 |
| | |
| Author | Message |
|---|
Audric Knight

Posts: 2
Biodata Posisi: Cabang: Asia Umur: 18
 | Subject: Re: [REGISTER] Firstly First 5th November 2009, 21:28 | |
| Audric menguap lebar sambil merebahkan badannya di kursi Kafetaria yang masih kosong pada jam itu. "Benar-benar membosankan.." Ucap Audric yang menggigit pena dengan tatapan ke arah langit-langit. "Mungkin menarik kalau tokoh utamanya ku buat sengsara sampai akhir cerita..." Keheningan kemudian menguasai tempat itu. Hanya ada Audric dan suara-suara kecil lainnya(yang entah apa itu) disana. "Haha.." Audric bangun dan membuka buku di atas meja Kafetaria melanjutkan menulis sesuatu. Tap Tap Tap"!!!" Audric terkejut mendengar adanya suara langkah kaki lewat tengah malam ditempat seperti ini. Refleks Audric langsung menutup bukunya dan bersembunyi ke bawah meja panjang Kafetaria sembari menunggu suara langkah kaki itu menjauh. Audric kemudian mendengar suara langkah kaki itu semakin mengecil dan mengecil. Meski sudah tidak mendengar apa-apa lagi, Audric tidak keluar dari bawah meja dan malah melanjutkan kegiatannya di bawah situ. Sret,Sret,SretDikarenakan senyapnya malam, suara torehan pena Audric-pun jadi terdengar jelas. "Ketika sendirian di Mansion Ravpire, Lheo mengendap-endap..." Batin Audric melanjutkan menulis cerita dengan asyik. "Dan saat melangkah Lheo tidak menyadari bahwa Ravpire mengikuti dibelakangnya...". Semakin asyik Audric menulis semakin tampak mimik tegang diwajahnya, padahal dia sendiri yang menciptakan cerita itu benar-benar orang yang aneh,haha. "Lalu Lheo merasa bulu kuduknya berdiri... Perlahan ia menoleh kebelakang dan..." Tanpa Audric sadari kalau ada secercah cahaya yang berasal dari sampingnya. "Apa yang kau lakukan disini?" Tanya seorang staff dengan rambut acak dan wajah pucat seperti mayat berjongkok di samping Audric. Tampaknya salah satu staff lembur yang sedang cari angin. Karena merasa ada yang menyapa Audric terkejut dan langsung menoleh. "RAVPIRE!!" Teriak Audric kencang membuat malam itu tidak sunyi seperti sebelumnya lagi. |
|  | | Vanya Muller

Posts: 33 Pemilik: masamune11
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 23 tahun
 | Subject: Re: [REGISTER] Firstly First 8th November 2009, 19:20 | |
| Mata biru menatap lurus pintu kayu. Vanya Muller, putri dari seorang pengurus sampah, berdiri di depan pintu kamarnya sendiri. Sudah tiga tahun ia dididik menjadi seorang Finder yang dapat diandalkan dan mampu menjadi motor dalam pencarian Innocence. Tidak, tugas mereka bukanlah mengalahkan akuma; dia memiliki peran kecil dalam perang yang sudah berlangsung ribuan tahun lamanya, sama dengan mereka yang berniat menjadi Finder. Peran mereka mungkin kecil, namun penting. Tangan kanan sang gadis menenteng tas yang berisi baju dan perlengkapan mandi. Di samping kiri, beberapa kardus berisi buku cerita, lembaran teka-teki kata-kata, dan seperangkat peralatan teh miliknya tertata rapi. Tangan kirinya mengepal; kulit bersentuhan dengan kunci besi dari ruangan yang ada di depannya. "...Ah, hari pertama di sini." Gadis berambut hitam ini hanya berujar pelan. Gugup; suatu hal yang wajar bagi seorang yang mungkin akan diberi tugas keesokan harinya. Kesialan? Tidak, ia melakukan ini karena memang mau, Apa yang sial dari semua itu? Tangn kiri sang gadis memasukkan kunci, langsung ke dalam lubang kunci yang tampak agak usang. Mungkinkah kunci ini masih bisa berfungsi? Bagaimanapun juga, lubang kunci tersebut tampaknya sudah berkarat. Meski dengan tampak luar demikian, tangan gadis ini tetap memutar kepala kunci... dan berhasil. Sebuah bunyi 'klik' kecil dapat terdengar, sementara Vanya mendorong pintu tersebut--terbuka, menampilkan kamarnya yang baru. ... Baiklah, mungkin bukan kamarnya semata. Ruangan kosong yang ada di hadapannya seakan merindukan banyak hal. Mungkin pemilik awal dari kamar ini cukup malas untuk mendekorasi ruangan... atau memang Hakizi Mana sudah memberikan mandat pada bagian kebersihan untuk mengembalikan bentuk kamar seperti semula. Yang pasti, ruangan yang ada di depannya ini tampak sepi akan dekorasi. Gadis ini tersenyum sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan. Tangan kirinya tidak lupa menggeret sebuah tas yang lebih kecil--tas yang berisi identitas dari kamarnya. "Baiklaaaah! Saatnya bekerja!" Saatnya mendekor ruang tempatnya beristirahat. _________________ "Have the thought of me ever crossed your mind?" "No. Never." "...Why?" "You never crossed my mind, Vanya. You're just simply there, inside my heart."
" Tagelied; dawn has came" --- Between Vanya and Leon
Ravel Kohler's 6th ID, The Overshadowed Chaser |
|  | | Louis Eastwood

Posts: 26 Umur: 20 Pemilik: LLJ
Biodata Posisi: Exorcist Cabang: Amerika Utara - Selatan Umur: 16
 | Subject: Re: [REGISTER] Firstly First 9th November 2009, 19:15 | |
| Salju putih bertebaran di mana-mana. Tebalnya membuat setiap langkah kaki melesak ke dalamnya. Ke manapun mata memandang, yang terlihat hanyalah warna putih seperti hamparan kapas yang dingin. Tak hanya di jalanan, salju juga menyelimuti atap dan beberapa bagian gereja tua St. Antony yang bersebelahan bangunan dengan panti asuhan. Pohon-pohon cemara tua sedang dipelihara dengan baik untuk kelak dihias dalam Hari Natal yang semakin dekat. Dinginnya udara yang dihirup seolah mencengkeram paru-paru. Lalu dalam tiap hembusan nafas, tercipta kepulan asap putih yang hangat. Lou merapatkan mantel kulit beruangnya dan menghangatkan kedua tangannya ke dalam sakunya. Ia melirik kesal pada Golem hitam yang terus mengepakkan sayapnya tanpa peduli bahwa ia membuat udara semakin terasa dingin di tengkuk Lou. Sepatu botnya terbenam di dalam salju sampai di atas mata kakinya, membuatnya tak bisa berjalan cepat-cepat. Dengan Raphael's Requiem seberat 7 kg di punggungnya, rasanya seperti berjalan di tengah kubangan lumpur saja. Dia mengangkat pandangannya ke arah anak-anak panti yang berlari berkejaran sambil tertawa riang beberapa meter di depannya. Tersenyum sambil menghembuskan nafas panjang, Lou diam-diam iri pada kelincahan dan ketangkasan mereka. Berusaha melupakan kertas-kertas laporan yang tertunda di kamarnya, Lou melihat seorang anak perempuan terjatuh ketika berusaha mengejar teman-temannya. Tak ada yang menoleh ke belakang. Mereka semua terlalu sibuk bermain lempar-leparan salju, sementara si anak perempuan mulai menangis di tengah usahanya berdiri. Lou berjalan mendekatinya dan menariknya berdiri sambil kemudian dia berjongkok di depannya dan menyapanya dengan senyuman ramah, “Kau tidak apa-apa?” Anak perempuan itu mengerutkan mukanya, berusaha keras tidak menangis. Wajah manisnya seketika merona merah. Dia bukannya bisu, tapi rasa sakit dan perih di lutut kanannya seakan menyumbat kerongkongannya. “Coba lihat,” Lou menemukan sayatan agak parah di lutut kanan anak itu yang sedikit mengeluarkan darah. “Heee, hebat, ya, kamu tidak menangis!” Lou berseru takjub pada anak itu sambil menurunkan Innocence-nya dari punggungnya. Anak perempuan itu merona merah. Lalu ia nyengir lebar membalas rasa takjub Lou padanya yang sebenarnya hanya sebuah hal yang remeh. Lou mencabut sapu tangan dari saku kemejanya, lalu membebat lutut anak itu dengan lembut penuh kasih sayang. Kemudian dia menepuk kepala anak itu, memberinya sedikit usapan, seraya nyengir dan berkata, “Nah, sekarang sudah beres. Temui Suster Rossie untuk minta obat darinya, ya?” Dia menambahkan ketika Golem-nya memberi isyarat telah diterimanya sebuah pesan. Anak perempuan itu mengangguk kuat-kuat. Dia berlari kembali ke panti asuhan setelah melambai pada Lou sambil berteriak, “Makasih, Kakak!” Lou berdiri dan tersenyum sambil membalas lambaian tangan itu, lalu berpaling pada si Golem. “Apa?” “Ada panggilan. Anda diminta bersiap-siap untuk misi. Segera!” begitu kata si Golem. “Oke!” Lou memberi hormat pada Golem itu, lalu berjalan pulang ke Black Order dengan penuh semangat. Mungkin karena terlalu semangat, ia sampai lupa kalau ia sedang berjalan di atas salju sambil memikul beban Innocence di punggungnya. Ia menyandung gundukan salju kecil yang ia buat dengan langkah kakinya sendiri dan jatuh terjerembab dengan hidung menghantam tanah bersalju. Berat Innocence di punggungnya semakin membenamkannya. Seluruh tubuhnya dengan sendirinya segera terlumuri oleh salju, bahkan ketika ia bangun. Tak dinyana, seorang anggota staf Black Order berani mengomentarinya melalui Golem yang menyertai Lou itu, “Haih, benar-benar masih bocah. Makanya punya Innocence jangan berat-berat begitu. Lihat, kau jadi tidak bisa tumbuh...” “BERISIK! TIDAK USAH PROTES!” amuk Lou, melemparkan segenggam salju ke arahnya yang membuat si Golem bereaksi menghindar secara otomatis.
Last edited by Louis Eastwood on 3rd February 2010, 06:03; edited 3 times in total |
|  | | Philander Granville
Posts: 8
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 26 y.o.
 | Subject: Re: [REGISTER] Firstly First 9th November 2009, 19:54 | |
| Matanya menatap menara gelap di depannya, sebuah pemandangan abstrak yang membuat senyumnya merekah, menipis, lalu menghilang, digantikan kemantapan sinar matanya. Ia akan menjadi bagian dalam organisasi itu dan tidak pernah terpisah dari Magna yang mendahuluinya tahun lalu. Mungkin bukan sebagai Exorcist seperti Carol, tetapi asal ada gadis yang dicintainya itu, menjadi tukang pel pun dia tidak masalah “ Así que esto es?” katanya dalam bahasa Spanyol kepada Carol—yang memang asli warga kelahiran Venezuela—dan ditanggapi dengan sebuah anggukan kecil gadis itu. Ia tidak membawa apapun selain apa yang melekat pada tubuhnya sekarang. Bagaimanapun, statusnya sekarang adalah ‘pelayan yang kabur dari rumah majikannya’; entah bagaimana keadaan kediaman Aspinella sekarang. Tapi ia tidak peduli, karena yang ada di pikirannya hanya Magna. Senyum kecil mengembang, menatap Carol yang sekarang memerah—mungkin karena malu, “ Muchas gracias por la me,” tambahnya yang dibalas dengan senyum. Entah apa ia akan diterima jika ia mempromosikan kemampuan berbahasanya. Phil melipat tangannya di depan dada, memandangi menara itu dengan bingung sementara sepatunya mengetuk-ngetuk tanah dengan berirama. “Hei,” katanya, “ A dónde iremos a través?”
(OOC: Así que esto es?: There it is? Muchas gracias por la me: Thank you for showing me A dónde iremos a través?: Where will we go through?) |
|  | | Carol F. C. Forskina

Posts: 24
Biodata Posisi: Exorcist Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 21 y.o.
 | Subject: Re: [REGISTER] Firstly First 12th December 2009, 22:09 | |
| Sosok mungil di tengah kota. Tubuhnya cukup ramping dengan rambut panjang berombak yang menutupi punggungnya, kontras dengan mata hijau laut miliknya. Raut wajahnya cemas, tampak pucat, membuat kulitnya yang memang putih dari awal menjadi tambah putih. Tangan kiri dan kanannya bebas, tidak membawa apapun dalam genggamannya—padahal pakaiannya hitam, dengan lambang Black Order tersemat di dada kirinya. Usia gadis itu tampak seperti 18 tahun padahal aslinya 21 tahun. Mungkin karena wajahnya yang mungil dan selalu tampak malu sehingga hormon penuaannya agak terhambat. Carol Forskina berdiri kikuk di tengah kota Turki, mengalihkan pandangannya ke sana kemari mencari rekan sesama Exorcist-nya. Ia baru kembali dari misi dan kembali tersasar di kota karena hiasan rambut yang mengalihkan pandangannya—sekarang malah berharap menemukan hotel dan berharap rekannya dapat menemukannya. Wajahnya mulai memerah. Mata para pejalan kaki tertuju padanya, mungkin heran melihat gadis muda berdiri selama lebih dari 20 menit sendirian. Berusaha mengalihkan pandangannya agar tidak terlihat malu atau apa, menarik nafas dalam dan mencari siluet hitam di antara kerumunan itu. “Permisi, nona?” Terlonjak.“I—iya?” Alto dibalas sopran. Gadis itu menatap Carol yang kurang lebih seumuran dengannya, ia tersenyum, dan dengan heran bertanya, "itu temanmu?" "Ah..." terdiam.
Last edited by Carol F. C. Forskina on 17th December 2009, 11:42; edited 1 time in total |
|  | | Verghei R. Skender

Posts: 4
Biodata Posisi: Exorcist Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 21 y/o
 | Subject: Re: [REGISTER] Firstly First 16th December 2009, 22:17 | |
| "Vio! Viorica Rocrina Skender, din tine chiar acum!"* Agak ganjil menyebutkan nama seseorang yang marganya sama dengan dirimu. Tapi hal itu sekarang sudah tak dipikirkannya lagi. Rasa kesal meliputi hampir seluruh sanubarinya sekarang. Sialan dia, awas saja, lain kali akan ia potong sekalian tangannya agar tak melakukannya lagi. Ok, pertanyaan, mengapa seorang Verghei sepertinya tampak berjalan kesana kemari di Cabang Afrika Timur-Tengah ini, tak tentu arah yang penting menemukan sosok yang dicarinya sedari tadi. Ia yakin perempuan yang dicarinya itu pasti masih berada di sekitarnya dan sedang mentertawakan apa yang terjadi padanya tadi. Ok, pertanyaannya adalah mengapa ia bisa marah-marah seperti ini? Tak mungkin ia melepaskan emosi tak perlu seperti ini tanpa sebab apapun kan? Yeah, tanyakan saja pada sang saudara perempuannya itu. Kali ini perempuan jahil itu kembali berulah, ada saja hal-hal yang dilakukannya untuk berusaha membuat ia marah seperti ini. Memangnya dia tak punya kerjaan apa? Sialan kali ini begitu ketemu akan ia cincang nanti. Ok, perlu dijelaskan bahwa kejadian yang terjadi sebelumnya diawali dengan niat iseng, penuh kesengajaan tentunya, bukan seorang Viorica jika melakukan sesuatu yang menyenangkan hatinya dengan kata-kata 'maaf-aku-tidak-sengaja'. Bisa runtuh dunia saat itu juga jika mendengarnya berkata demikian, tulus dari lubuk hatinya. Hei kalau hanya berkata seperti itu siapapun juga bisa kan? Manis di mulut, suatu tindakan yang dengan mudah dapat dilakukan oleh seorang seperti adik kembarnya. Yeah, sengaja berlari menghampiri, terlihat sekali gestur tangannya yang mendorong tubuh Verghei sehingga kehilangan keseimbangan dan sontak jatuh ke belakang kehilangan keseimbangannya. Ok, perlu ditegaskan bahwa masing lebih baik jika ia jatuh tanpa ada apapun di belakangnya, tapi ia jatuh menimpa seorang gadis, yang kalau tidak salah merupakan staff bagian manajemen, membuatnya terjatuh dengan segala berkas-berkas yang sedang dipeluknya erat di depan dada. Sontak radar kelemahannya mendeteksi bahwa wajahnya tak akan sanggup lagi untuk menahan semburat merah atas phobianya terhadap perempuan. Bukan takut, hanya membuatnya salah tingkah.Bukannya menolong yang ada malah meninggalkan secara tidak bertanggung jawab gadis malang itu begitu saja yang tengah berbingung atas apa yang tengah terjadi dan mungkin berusaha menata kembali berkas-berkasnya. Kenapa ia pengecut seperti ini? Harusnya yang ia lakukan adalah menolongnya, bukannya lari tunggang langgang seperti melihat sesosok yang menyeramkan seperti itu! Ok, kejadian itu kembali membuatnya ingin sekali meremukkan gadis yang walau berbagi darah dengannya itu tetap saja batas emosi diperlukannya sebagai seorang manusia. Tapi ia sendiri tak mengerti. Apakah memang Vio sengaja melakukannya untuk mengurangi rasa kesepian akibat kematian kedua orang tua mereka? Kalau begitu mau bagaimana lagi, walau memang agak kelewatan tapi... Berhenti.Tangan kanannya terangkat, membuka satu-dua kancing seragam exorcist yang mengikat bagian paling atas, lehernya. Menarik keluar sebuah benda hiasan pemberian terakhir yang ia dapat ketika itu. Menatapnya dalam keheningan. Ia tak pernah menyangka kejadian seperti itu akan menimpa dirinya dan Viorica, bahkan waktu itu ia hanya sekadar berjalan-jalan sebentar saja untuk menemani Viorica, tapi tiba-tiba semuanya hancur, dengan kedua tubuh orang yang disayanginya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa lagi. Tak mengerti apa yang harus dilakukannya ketika melihat adiknya hampir gila karenanya ketika itu. Sekarang tinggal mereka berdua. Ia anggota keluarganya yang terakhir. Ia harus melindunginya. Seburuk apapun hanya Vioricalah yang tersisa untuk menemani kesendiriannya di dunia ini. Fuh, kalau saja ia bisa lebih tenang. Aneh, padahal juga perempuan tapi kalau bersama dia ia bukannya takut malah kesal. Maklum saja mengingat apa yang gadis itu lakukan pada dirinya selama ini. Lain kali akan ia rusak koleksi pitanya atau kuku yang ia pelihara layaknya nyawa keduanya itu. Memasukkan kembali hiasan yang ia jadikan kalung itu, mengikat kancingnya kembali dan memulai mengambil kembali langkah kaki. Sebaiknya ia cari saja dulu Viorica.
OOC: * din tine chiar acum!: Keluar kau sekarang juga! |
|  | | Mario C. Demeska
Posts: 8
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 24 y.o.
 | Subject: Re: [REGISTER] Firstly First 23rd December 2009, 18:49 | |
| It’s okay, it’s not a big deal. Punggung pria itu tersandar di dinding, tangan terlipat rapi di dada seolah sedang menunggu sesuatu. Kenyataannya dia memang menunggu sesuatu—menunggu sekumpulan orang yang sejak tadi berkerumun tidak jelas untuk menyingkir dari pintu ruang. Kau tahu pintu ruangan rekreasi hanya ada satu kecuali kau melompat dari jendela dan itupun hanya muat untuk dimasuki satu orang. Jadi, merasa bukan urusannya—lagipula ia tidak terburu-buru—Mario menunggu dalam diam, sekelompok orang yang sejak tadi meributkan sesuatu. Bukan sifatnya ikut campur tapi suara mereka yang sangat keras untuk ukuran pria—pemuda, oke—yang bergosip selayaknya perempuan. Menghela nafas, melihat jam. Ia tidak terburu-buru, lanjutkan saja. Dua puluh menit... Apa yang mereka bicarakan dengan begitu hebohnya, astaga. Matanya nyaris tertutup. Ia bukan orang sabar tapi berusaha sabar, berdecak. 20 menit terlalu lama baginya. Mereka kira pria yang sejak tadi menunggu itu akan sabar dan terus menunggu sampai besok subuh? Tidak, tidak akan. Bahkan mereka tidak sadar pria itu mendekat dan terus melanjutkan pembicaraan yang—seperti perempuan, ya. ”Hanya orang bodoh yang berburu di pegunungan,”Hm? Berhenti sebentar, melirik tajam kerumunan itu. ”Karena mereka jelas tidak memiliki otak yang cukup untuk melawan binatang buas itu jika mereka membalas dendam,”Tangan terangkat, mencengkram leher belakang pria barusan, kuat. “Tapi otak mereka cukup untuk bertahan hidup lebih lama,” suara bassnya yang tidak ia perdengarkan sejak tadi menggeram, melirik tajam pada 3 orang lainnya yang pucat melihat rekannya yang masih di tangan pria Etiopia itu. Berdecak pelan, menarik tangannya dengan kasar dan beranjak ke arah pintu yang sedikit terbuka. Sesama Finder tapi entah kenapa berbeda sekali. Mereka pengecut, begitu juga dia..mungkin. Kembali melirik jam, mendengus pelan seraya menutup pintu ruang rekreasi dengan cara normal, meninggalkan 4 wajah pucat di balik pintu. |
|  | | Viorica R. Skender

Posts: 6
Biodata Posisi: Exorcist Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 21 y/o
 | Subject: Re: [REGISTER] Firstly First 27th December 2009, 12:04 | |
| "Verg, în cazul în care Papa şi mama?"*"Papa şi mama.."*"De ce dracu '? Voi arunca o privire lungă!"*"Vio, nu!"*"Papa! Mam--"(terhenti) "Vio!"Suara Verghei tak dapat didengarnya lagi. Gelap. Semua terasa kosong. "Arggh!"
Terbangun. Bulir-bulir keringat dingin mengalir di selosor wajahnya yang saat ini menampakkan raut pucat. Dimana sekarang? Ah ya, ini kan ruangan kamarnya. Apa yang terjadi tadi? Kenangan lama yang kembali bangkit, membuatnya sontak hening sejenak di atas tempat tidurnya. Kedua kaki ia tekuk ke arah dada, yang dibalut dengan sebuah kain penghangat, selimut, sementara itu tangan kanan tertopang di atas kedua lutut yang sudah membentuk sebuah gestur untuknya membuat posisi duduk. Sejenak tangan kiri ia gunakan untuk menyingkap rambut panjang hitam kelam miliknya yang sekarang pastinya sudah berantakan tak beraturan. Sudah lama kejadian itu berlalu, tapi hingga kini terkadang masih tetap terlintas di mimpinya, maka dari itu ia membenci waktu larut seperti yang terjadi sekarang. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Ia tak mau kembali tertidur dan merasakan semua perasaan itu kembali. Tidak tidur? Bukan ide yang buruk sebenarnya, tapi ia tidak akan mempunyai cukup tenaga besok jikalau ada misi yang diserahkan untuknya kan? Bisa kembali dimarahi oleh Verg yang cerewet itu. Ah, ya apa Verg sudah tertidur sekarang? Kalau melihat waktunya sih pasti sudah, tapi ia sendiri tahu persis bahwa kakak kembarnya tersebut suka mengistirahatkan dirinya malam-malam, dan hebatnya tidak berdampak pada daya kantuknya esok harinya. Iri, dia benar-benar iri, jika bisa seperti itu juga mungkin akan enak sekali, dia bisa begadang semalaman bermain dengan koleksi pita dan kuku-kuku palsunya. Membaringkan dirinya di atas permukaan tempat tidur itu kembali, berguling kian kemari untuk mencari posisi yang nyaman walau hasil akhirnya adalah percuma. Mungkin sebaiknya ia berjalan-jalan keluar terlebih dahulu? Mengingat jam segini pasti akan sepi. Ia pun berdiri, suhu malam itu terkategori dingin, tapi ia tidak terlalu mempedulikan hal tersebut dan masih memakai pakaian tidurnya saat ini, celana mini cokelat auburn dengan kaus tanpa lengan berunsur warna krem, didominasi dengan kaus kaki panjang putih, biarlah, saat ini tubuhnya bahkan tidak merasakan rasa dingin sama sekali. Keluar dari kamarnya perlahan, tak ingin menganggu tetangganya yang lain. Ia memilih untuk pergi ke dapur, mungkin dapat mengambil segelas air putih? Atau teh, bagus juga. Dan dalam perjalanannya di lorong Cabang Afrika Timur-Selatan yang gelap dan sepi ini ia mendengar langkah kaki seseorang di jalan menuju tikungan, sempat mengira hantu dan hampir berteriak ketika mendapati sosok wajah yang sama dengannya, tak identik tentunya karena wajah tersebut lebih maskulin, dan lebih tinggi darinya. "Verg! Apa yang kau lakukan disini! Membuat kaget saja!" Mendapatkan lontaran balasan dengan tambahan bodoh di akhiran kata. Sial, dia mengatakan adiknya sendiri bodoh? Bagus. Melipat kedua tangannya di depan dada, cemberut, dan sepertinya kakak kembarnya menyadari bahwa Vio berpakaian minim di suhu sedingin ini hingga sebuah kehangatan melingkupi tubuhnya, semacam pakaian hangat milik kakaknya yang dibalutkan, lebih besar tentunya, tapi daripada protes dan mendapat ocehan kakaknya itu? Menyadari ada yang aneh, sosok dengan marga yang sama kembali menanyakan mengapa ia bisa berada disini. Terdiam. Ia lalu memilih posisi duduk di lantai dengan punggung menempel di dinding, melakukan hal serupa Verghei memilih berada di sampingnya. Menceritakan kembali apa yang terjadi. Kehenginan kembali melanda sampai ketika tangan Verghei itu menarik kepalanya untuk bersandar di tubuhnya. Sempat memprotes apa yang dilakukan karena mengira lagi-lagi dianggap anak kecil olehnya, tapi kemudian ia memilih diam, setidaknya berada dalam palungan kehangatan Verghei seperti ini lebih baik daripada sendirian di kamar tadi. Sentuhan lembut pada surainya. Dan ia pun memejamkan matanya. Verg, în cazul în care Papa şi mama?= Verg, mana papa dan mama? Papa şi mama.. = Papa dan mama.. De ce dracu '? Voi arunca o privire lungă! = Kenapa sih? Lama, biar aku yang mencarinya! Vio, nu! = Vio, jangan!_________________ We are twins. And no one will ever be able to separate us. Even though death ~Set by Mrs. Arisatou, thx Mom=))~ |
|  | | Abiel Nathanieth

Posts: 26 Pemilik: *vainGlory
Biodata Posisi: Finder Cabang: Afrika - Timur Tengah Umur: 22
 | Subject: Re: [REGISTER] Firstly First 28th December 2009, 17:26 | |
| “Aku tak pernah suka daun bawang, Jean…” Pemuda itu--Abiel nama depannya, Nicolo nama ayahnya--kembali ke posisinya yang semula. Tubuhnya masih duduk di atas kursi, salah satu dari beberapa meja makan yang tersedia di ruang kafetaria. Kedua sikunya bertumpu pada meja. Jangan nasihatinya kembali soal urusan manner dan peraturan bermeja makan yang sopan dan selamat, karena nyatanya toh ia sudah kenyang pengalaman soal itu. Jauh lebih kenyang daripada apa yang telah ia makan hari ini. “Jangan letakkan siku di atas meja”, begitukan? Well, katakanlah itu, nona—berani? Lalu? Nyatanya toh Abel, panggillah ia menggunakan nama itu jika ingin jadi lebih akrab, juga tak akan melakukan apa-apa kalau ujung-ujungnya kau katakana juga. Tidak ada pria mature yang memiting leher perempuan—hanya dengan masalah sepele, ia tahu. “…Juga seladanya… Kelihatannya mirip makanan kelinci.” Nyatanya juga, toh tak ada hal lain yang mampu dilakukannya. Tubuh yang tergolong mungil untuk ukuran laki-laki itu masih duduk rapi—jika tidak ingin dikatakan manis—di atas kursinya, belum juga beranjak. Piring porselen putih yang sedari awal tak kunjung kosong itu tak sampai hati ditinggalkan olehnya, bahkan sekalipun isinya bukan sama sekali makanan yang disukainya. Roti isi bertajuk sandwich, makanan khas yang dipopulerkan dari Inggris itu memang enak; hanya jika isinya daging tipis. Selapis saus tomat, atau mungkin juga bacon dan telur. Laki-laki itu memang tergolong pemilih, dan kehidupan di sini jujur saja membuatnya merasa serba susah. Kehidupan bersama di Black Order, berarti berbagi. Hidup bersama, makan bersama. Dan memilih-milih makanan bukanlah salah satu adab yang diperbolehkan di sini. Nyatanya toh ia sudah cukup kenyang walaupun hanya makan “adab” sekarang. Tangannya memain-mainkan ujung jemari ke atas meja kembali, satu kebiasaan yang tak pernah luput diakuinya sebagai suatu kebiasaan jelek. Tak ada yang melihat, sungguh. Dan kalau baru saja ia seolah-olah berharap serta memperlakukan bahwa baru saja Jean ada di sini, makan siang bersamanya sembari bercerita—bersenda gurau ringan juga, maka sekarang ia akan mencoba untuk mengelabui perasaannya sendiri. Apa yang barusan ia lakukan? Oh ya, bersikap seperti orang gila; menyebut-nyebut nama kakaknya padahal yang bersangkutan saja sudah tidak diketahui keberadaannya di dunia--yang jelas bukan di ruang kafetaria markas Black Order cabang Turki ini. Get a life. Anggaplah itu ditujukan pada dirinya sendiri, yang bahkan harus diakui belum cukup dewasa untuk menerima satu kenyataan itu saja. Beruntung Vanya tidak ada di sini sekarang— gloomy day, emo-ing day. Moody. Kedengaran identik dengan gadis belia yang tengah PMS. |
|  | | Eric Maxime-Olivier
Posts: 10
Biodata Posisi: Finder Cabang: Eropa Umur: 21 tahun
 | Subject: Re: [REGISTER] Firstly First 28th December 2009, 18:03 | |
| "Satu, dua, tiga--" Hal biasa bagi pria berambut hitam ini untuk terus menerus melakukan squat-jump berkali-kali, setidaknya bagi mereka yang sering melihat Finder dengan rambut hitam ini. Kalau dipikir-pikir, hal inilah yang dilakukan pertama kali oleh Eric setelah dirinya menginjakkan kakinya di kamar barunya. Kamar barunya... bicara soal itu, hidung pemuda ini sempat terasa gatal. Eric Maxime-Olivier berhenti melakukan hobi yang biasa tak sengaja keluar. Mata hitamnya menyisir kamar barunya--tempat tinggal barunya jauh dari tanah Prancis. Oh, mata hitam tersebut tentunya tidak menunjukkan rasa kesepian atau semacamnya--Eric lebih mengenal dekat apa yang dinamakan rasa optimistik. Karena itu, melihat debu yang menumpuk di tempat tidurnyda dan meja tempat tulis-menulis, Eric hanya bisa menyengir lebar. Ia melihat suatu prospek besar; sebuah kesempatan untuk bisa menjadi seorang bintang dalam ceritanya sendiri. Dirinya segera menghampiri meja sementara tangannya menyentuh permukaan yang tebal akan debu. Otot pipinya segera mengendur; sepertinya akan ada banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan sebelum ia dapat memulai sebuah petualangan baru-- "Hei! Kau! Ya, kau--"Kepala segera berpaling ke arah pintu kamar yang terbuka lebar. Jari yang tadinya menyentuh permukaan meja kini menunjuk mukanya. Ekspresi tanda heran (dan linglung) untuk memastikan bahwa orang yang dipanggil memang dirinya. Di depan pintu, seorang staff bagian manajemen bertengger--memanggilnya dengan sebutan kau; yah, baru sampai di tempat tersebut juga... tentunya Eric belum mengenal siapapun, bukan? "--ada misi terbaru untuk Finder baru sepertimu! Cepat melapor!"Dan staff tersebut berlalu, meninggalkan Eric yang masih keheranan dengan apa yang terjadi. Namun, cepat atau lambat, senyum tersebut pasti akan muncul kembali. Toh siapa lagi Eric, kalau bukan seorang Finder Black Order cabang Eropa dengan sikap seperti matahari? "BAIKLAAAAH! WAKTUNYA TAMPIL!" _________________ "One, and two, and three--" -- Eric Maxime-OlivierRavel Kohler's 7th ID, The Raven-blight Sunshine |
|  | | Katerina Efcileisthenes

Posts: 14
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Eropa Umur: 19 y.o.
 | Subject: Re: [REGISTER] Firstly First 29th December 2009, 00:14 | |
| "Kau punya perban?"Pintu infirmari terbuka, yang jelas membuat para staff medis menoleh kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya. Karena mereka tahu, Exorcist itu akan berhadapan dengan siapa kali ini. Luka dalam di tangan yang masih kotor, seakan pemuda itu terpeleset ke kubangan dan tertusuk benda tajam di sana. Pemuda itu terkekeh, menunjukan tangannya pada seorang staf medis yang sekarang memeriksa lukanya dengan teliti. "Aku hanya butuh perban, serius," katanya. Tapi wanita di depannya tidak membalas; hanya tersenyum maklum seraya mengambil baskom berisi air dan handuk kering untuk membersihkan luka kotor di tangan si Exorcist yang tampak menurut saja. Gadis itu hanya bisa tersenyum maklum untuk sekarang, mendesah, padahal ia belum genap setahun berada di Black Order tapi pekerjaan di sini lebih sulit daripada studinya di Skotlandia. Karena kebanyakan orang di sini tampak tidak bisa menjaga diri. "Lain kali berhati-hatilah," Katerina akhirnya membuka mulut sementara tangannya perlahan mengeringkan luka tersebut. Tidak dalam, hanya goresan. Ia hanya terdiam mengingat bagaimana pemuda ini hanya meminta perban tadi. Dasar. Mengambil antiseptik yang biasa mereka pakai agar luka cepat kering, mengoleskan di atas luka dan membalutnya dengan perban. Menepuk luka itu perlahan dengan senyum ramah di wajahnya. Gadis Yunani ini tersenyum lega; paling tidak lukanya akan cepat kering dengan ini. Beruntunglah luka pemuda itu bukan masalah serius. "Ini hanya goresan, tapi jangan menganggap remeh. Kecuali kalau kau cukup masokis dan membiarkan kumannya menyebar," berbalik mengembalikan peralatan p3k ke tempatnya. "Lagipula kau Exorcist," terdengar keras, meskipun kenyataannya cukup menyedihkan. Gadis itu menghela nafas, lagi. |
|  | | Secret C. Rozent

Posts: 6
Biodata Posisi: Finder Cabang: Eropa Umur: 16
 | Subject: Re: [REGISTER] Firstly First 4th January 2010, 10:50 | |
| Hari yang sangat biasa. Bagi Christ, semua hari tampak sangat biasa didepannya. Langit masih berwarna biru, dengan mungkin sesekali diselingi awan hitam atau putih. Daun juga masih tampak berwarna hijau, kecuali pigmen-pigmen tertentu merubah warnanya. Christ bahkan tak peduli semua itu. Baginya, di manapun tempatnya berada, semua akan tampak sama saja. Tetap berada di bumi, tetap melihat manusia, tetap menemui kematian, apa lagi? "Hari yang cerah bukan?"Christ tak mengalihkan perhatiannya dari buku dan mulai membalik halaman selanjutnya. Exorcist baru! Ya, tentu saja sang Exorcist di sebelahnya itu masih baru, karena tak ada seorangpun yang mau menegur Christ, apa lagi jika gadis itu sedang membaca. Mungkin Christ baik dan tanggap pada pekerjaannya, tapi Christ bukan teman bergaul yang baik. Dia bahkan tak begitu peduli dengan interaksi, dan hampir semua orang yang cukup lama bekerja bersamanya mengenal gadis itu dengan baik. Memberikan alasan bahwa mereka tak perlu beramah tamah padanya, tak akan ada gunanya! "Kudengar, kau Finder yang cukup baik."Ah, ternyata dia bukan Exorcist baru."Kenapa seorang Finder yang baik hanya duduk di sini membaca buku?" Dan orang yang sangat mengganggu.Christ bangkit dari duduknya, sang Exorcist tersenyum, berpikir kata-katanya yang jenaka membuahkan hasil. Namun Christ bahkan sama sekali tak memperdulikan Exorcist itu, dan berbalik. Melangkah meninggalkan sang Exorcist yang terheran-heran menatapnya. Bingung apa yang salah pada dirinya sendiri hingga Chirst meninggalkannya begitu saja. Tapi Christ sendiri tak peduli, dan terus melangkah, berjalan menuju kamarnya. Sudahkah Christ bilang, kalau dia membenci Exorcist? |
|  | | Marie Suede

Posts: 14 Pemilik: Chief
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Eropa Umur: 29
 | Subject: Re: [REGISTER] Firstly First 4th January 2010, 22:40 | |
| [OOT: Latar tempat masih di Amerika Serikat, saat Marie bekerja di Cabang Amerika Utara-Selatan]
"Hoahhhhm." Paginya dimulai dengan kuapan keras. Marie Suede memejamkan mata sekali lagi, sebelum kembali membukanya dengan lesu. Musim dingin yang menusuk tidak membantu mendongkrak semangatnya sama sekali; dengan enggan, kaki kanannya mengintip keluar dari balik dekapan selimut, sebelum menyentuh permukaan lantai dengan hati-hati, bagaikan memeriksa suhu air sebelum membenamkan diri dalamnya. Gadis berambut ikal itu menggigil, menemukan kedinginan sesuai dugaan. Kaki satunya menapakkan diri di atas permukaan lantai batu dengan lebih enggan. Akhirnya, sang wanita atraktif beranjak dari tempat tidur, diakhiri dengan kuapan terakhir. Tetap dengan langkah gontai, ia menghampiri wastafel. Siraman air es yang menusuk pori-porinya cukup untuk membangunkan dirinya sepenuhnya, walau bibirnya tidak berhenti bergetar hingga ia mengelap wajahnya dengan handuk kecil. Menuju lemari, ia membuka perabot kayu itu, dan mengeluarkan garmen sehari-harinya. Melingkari torso dengan overbust berbentuk jam pasir itu, wanita asal Quebec itu menarik erat tali korsetnya, mengencangkan busk di depan. Ia mengeluarkan engahan kecil, namun rasa sesak itu tidak mengganggunya lagi--tidak ketika hal itu sudah termasuk rutinitas paginya. Menduduki kursi di hadapan meja rias, ia mulai menyisir rambutnya. Menatap lurus wanita yang ada di cermin, ia mengangkat satu alis, dan memberikan senyuman menantang. Sisir kayu di genggamannya ditodongkan kepada lawan bicaranya. "Apa hari ini, Nona? Digerai, disanggul, atau...?" Yang didapatkan dari wanita yang dibencinya itu hanya senyuman yang sama. Betapa jauh lebih menyebalkannya senyuman itu ketika dipandang ketimbang diperagakan; Marie hanya menertawakan wanita malang itu. "Baiklah, digerai." Usai menyisir helaian rambut ikalnya, Marie meletakkan sisir kayunya di atas meja, tangannya mengganti keberadaan objek itu dengan silinder logam. Wanita bermata hijau itu membuka tutupnya, dan mendekatkan batangan merah legam itu ke mulut, memoles bibirnya dengan warna merah menyala, merah rambutnya. "Jadi," ia kembali menjalin pembicaraan, bernada kasual seperti biasa, "Ratu Victoria mengatakan bahwa penggunaan riasan itu setara dengan... pelacur." Bibir di cermin melingkar, membentuk huruf 'o', dan Marie Suede memastikan kesempurnaan polesannya. Dara Kanada itu mengangguk pelan, apresiatif atas hasil pekerjaannya sendiri. Ia menyentuhkan telunjuknya ke refleksi karyanya yang tetap tersenyum menyebalkan. Marie menggigit bibir bawahnya. "Kau benar. Siapa peduli kata Ratu? Wanita perlu terlihat cantik, kan?" "Oh, Marie-Elle... Tu as de très beaux lèvres." Bibir yang indah-- Bisikan, "Blaise." --dan tanpa senyuman yang sebelumnya terpajang padanya. "M'embrasser, Blaise." Memejamkan mata, Marie mengusap tetesan air di pinggiran matanya. Ia tidak boleh mengingat itu, ia tidak boleh jatuh. Sekali lagi, ia memberikan senyuman percaya diri kepada wanita di cermin, wanita yang rapuh itu. "Adieu," gumamnya pelan. "Adieu..." Adieu, mon amour de ma vie. Marie Suede pun memulai harinya.
Arti istilah bahasa Perancis: | Spoiler: | | | Oh, Marie-Elle... Tu as de très beaux lèvres: Oh, Marie-Elle... Kau memiliki bibir yang indah
M'embrasser, Blaise: Cium aku, Blaise
Adieu, mon amour de ma vie: Selamat tinggal, cinta hidupku
[Yaa, kalau diterjemahin jadi gombal tenan...] |
Last edited by Marie Suede on 6th January 2010, 12:08; edited 1 time in total |
|  | | Nellie Barker

Posts: 7 Umur: 16 Pemilik: Woof
Biodata Posisi: Section Staff Cabang: Amerika Utara - Selatan Umur: 30
 | Subject: Re: [REGISTER] Firstly First 6th January 2010, 11:21 | |
| Bangunan kapel di Minggu pagi selalu dipenuhi oleh umat beragama yang percaya akan sosok adikuasa bernama Tuhan. Entah apa yang begitu menarik dari-Nya, Nellie tidak begitu mengerti dan kurang begitu tertarik untuk mengerti. Banyak orang di Markas Cabang Amerika Utara-Selatan terlihat sangat religius, dan mungkin beberapa di antaranya adalah fanatik, dan setiap Minggu pagi pasti menghadiri sebuah acara di bangunan kapel yang merupakan sedikit bangunan yang berada sepenuhnya di atas tanah. Entah pahala apa yang akan didapatkan mereka, Nellie juga tidak mengerti, yang jelas bukan karena hal itulah Nellie sekarang berada di dalam kapel. Dan hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah hari ini bukan Minggu pagi; ini adalah hari Senin yang sibuk dan bisa dipastikan bangunan kapel ini adalah bangunan berpenghuni yang paling sepi di seluruh Markas Cabang Amerika Utara-Selatan, apalagi melihat jam dinding raksasa transparan yang menempel di dinding belakang kapel yang masih menunjukkan pukul dua pagi. Di salah satu barisan kursi, Nellie terduduk lesu. Jas laboratorium berwarna putih masih membalut badannya sejak bekerja lembur kemarin malam, dan meskipun tubuhnya sudah pegal-pegal dan matanya sudah memerah, tetapi dia tetap tidak bisa tertidur. Jangan sarankan Nellie untuk mencoba berbaring, dia sudah melakukannya sejak satu jam yang lalu dan mimpi tak kunjung membawanya pergi. Biasanya teh akan menenangkan pikirannya, tetapi Nellie telah menenggak dua gelas teh tadi dan gambar-gambar yang menghantui benaknya masih belum menghilang. Harus diakui, dia telah melihat sesuatu yang mengerikan, dan dengan bantuan imajinasinya, “melihat” apa yang tengah terjadi di balik kata-kata yang tertulis rapi di atas kertas yang tersimpan rapi di laci meja Supervisor Lupus Corwin; tentang proyek gila untuk menggabungkan Akuma dan manusia tanpa merusak tubuh si manusia. Bagaimana caranya? Demikianlah semua hitung-hitungan rumit yang mengikuti judul penelitian yang terangkum dalam map hitam dengan label “CLOSED”. Ditutup, dihentikan; demikianlah arti label itu. Bahkan setelah melihat halaman pertama dari tiap bundel proyek, Nellie yakin cap merah “FORBIDDEN” layak ditempelkan di sudut atas semua halaman itu. Dan entah mengapa, map hitam itu sekarang berada di laci meja Supervisor. Benar-benar mencurigakan, dan untuk itulah Nellie mendapatkan surat perintah beberapa dua tahun yang lalu. Yang perlu dilakukannya hanyalah mengirimkan pesan dengan stempel “CONFIDENTIAL” ke Markas Pusat dan sekarang Nellie sudah bisa membayangkan surat yang akan dikirimkannya. Dimulai dari rangkaian formalitas sebuah surat formal, lalu diikuti oleh tanggal “3 Januari 1879”, dilanjutkan oleh isi surat dan beberapa kutipan referensi, serta sebuah tanda tangan dan stempel Markas Cabang Amerika Utara-Selatan sebagai penutup. “Hei, ada orang di sana?” Suara itu sangat lebih dari cukup untuk menyentakkan Nellie hingga wanita itu melonjak dari kursi panjangnya. Dipalingkannya kepalanya ke arah sumber suara untuk mendapatkan seorang staf internal lainnya tengah berdiri sambil membawa secangkir minuman yang mengepulkan asap putih samar; kopi, dari baunya. Nellie dapat mengenali jas laboratorium yang juga menutupi badan staf internal yang meskipun lebih muda 5 tahun darinya tetapi tetap lebih tinggi darinya. Setelah mengenali lawan bicaranya, Nellie pun tersenyum hangat dan menjawab, “Yup, ini aku, Nellie! Kau juga tidak bisa tidur Elías?” Ah, sepertinya wanita berambut pirang itu harus menunggu sejenak sebelum bisa mengirimkan surat laporannya ke Markas Pusat. |
|  | | Wilhelm U. Smith

Posts: 67 Umur: 16 Pemilik: Indigo
Biodata Posisi: Exorcist Cabang: Amerika Utara - Selatan Umur: 17
 | Subject: Re: [REGISTER] Firstly First 8th January 2010, 16:38 | |
| A Totally Ordinary Day of A Totally Ordinary Guy Time: Antara pagi dan siang, hari pertama Wilhelm di markas Setting: Markas Cabang Amerika Utara - Selatan
Dengan wajah gugup Wilhelm U. Smith menatap bangunan Markas Black Order Cabang Amerika Utara - Selatan. Tempat yang akan menjadi rumahnya mulai sekarang. Arsitektur gedungnya yang menakjubkan benar-benar membuat Wilhelm kagum. Tentu saja, karena "rumahnya" yang sebelumnya, Panti Asuhan St. Joseph tidak semegah, seindah, dan sebesar bangunan ini. St. Joseph, itu mengingatkannya akan kehidupannya sebelumnya, kehidupan yang biasa. Kehidupan di mana setiap hari ia akan pergi bermain dengan kawan-kawannya, atau kadang pergi ke Toko Roti Tuan Carlos untuk mencuri satu atau dua bongkah roti tawar, yang akan dinikmati sore harinya, setelah mereka lolos dari kejaran polisi. Kehidupan itu terasa sangat jauh darinya sekarang. Begitu ia melangkah masuk ke bangunan ini, semua akan berubah. Permainan keliling kota akan digantikan latihan intensif sinkronisasi Innocence, dan misi-misi memberantas Akuma. Mulai sekarang ia juga harus bersikap sopan, mengikuti aturan, dll. Sekarang hidupnya pasti akan menjadi "tidak biasa", seperti yang selalu ia inginkan. Meski begitu, tetap saja ia takut -SANGAT takut- menghadapi kehidupan "tidak biasa" ini. Sambil meneguk ludahnya untuk terakhir kalinya, Wilhelm membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam Markas Black Order Cabang Amerika Utara - Selatan. Pemandangan yang dia lihat di balik pintu kayu besar itu tidak seperti yang ia bayangkan. Ia membayangkan muka-muka seram orang dewasa yang sedang berdiskusi serius tentang persebaran jumlah Akuma dan relasinya dengan insiden-insiden penyerangan baru-baru ini, atau topik super-sulit-sekali semacam itu. Tapi yang ia lihat adalah aktivitas biasa, orang-orang lalu lalang, anak-anak seumurannya mengobrol di sekitar ruangan sambil sesekali tertawa. "Hmm... Kau pasti William, eh, Wilhelm Ulysses Smith?" seseorang berbaju hitam menghampirinya. Sepertinya baju hitam itu adalah seragam mereka. "Uh.. Iya." jawab Wilhelm pelan sambil menjabat tangannya. Setelah perkenalan singkat itu, ia membawa Wilhelm -tepatnya menyeret tangannya- berkeliling bangunan. Selama staff markas itu melakukan monolog panjang dan membosankan seperti seorang tour guide, Wilhelm mengabaikannya dan memusatkan perhatiannya untuk melihat-lihat sekelilingnya. Bangunan itu memang besar, ada ruang rekreasi, di mana banyak orang mengobrol dan bahkan bermain catur, beberapa bahkan melambai padanya. Wilhelm dibawa melalui dapur, di mana para koki sedang memasak sesuatu yang baunya seperti ayam, hingga ke arena latihan di mana beberapa orang sedang berlatih, atau hanya duduk di bawah pohon. Semuanya terasa sangat familiar. Tanpa disadari, mereka telah menyelesaikan tur singkatnya. "Jadi...apa pendapatmu tentang tempat ini Wilhelm?" tanya staff markas itu kepadanya. Wilhelm terdiam sebentar, tampaknya mencari kata yang tepat. "...Normal, biasa." ia menjawab. Pria setengah baya itu mengerutkan keningnya, sepertinya tidak puas dengan jawaban Wilhelm. "Persis seperti rumah," Wilhelm menambahkan. Saat itu Wilhelm mulai menganggap keadaan normal dan damai ini tidak begitu buruk. _________________ "Jack of all trades, but Ace of none... Then i'll just train 'till i become Ace of all trades!" Wilhelm Ulysses Smith
-The 1st Indigo: The Absurdly Normal Boy-
|
|  | | |
| Page 2 of 4 | Goto page : 1, 2, 3, 4  |
| | Permissions of this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
|
|